BerandaAdab dan AkhlakAdab-adab dalam Berdoa

Adab-adab dalam Berdoa

Pada pembahasan kali ini akan membicarakan tentang apa saja yang dianjurkan bagi seorang muslim tatkala ia hendak berdoa. Di antaranya adalah,

Berdoa Dalam Kondisi Suci (Sudah Berwudhu)

Hal ini berdasarkan sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Sahabat Abu Musa Al-Asy’Ari Radhiyallahu ‘Anhu, tentang kisah pamannya Abu Amir Radhiyallahu ‘Anhu.  Tatkala Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam mengutusnya dalam sebuah pasukan Autos. Dalam hadis tersebut dikatakan bahwa pamannya Abu Musa Al-Asy’ari yaitu Abu Amir terbunuh. Kemudian pamannya tersebut memberi wasiat kepada Abu Musa Al-Asy’ari untuk memberikan salam kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam. Kemudian Abu Musa berkata, “Maka Aku kabarkan kabar kami dan juga kematian Abu Amir”. Kemudian aku sampaikan bahwa Abu Amir meminta agar Rasulullah memintakan ampunan untukku (Abu Amir). Ketika mengetahui hal tersebut, Rasulullah meminta untuk dibawakan air untuk berwudhu dan kemudian beliau berdoa sembari mengangkat tangannya,

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِعُبَيْدٍ أَبِي عَامِرٍ

“Ya Allah Ampunilah Ubaid, yaitu Abu Amir”

Kemudian Abu Musa mengatakan beliau sampai melihat putihnya ketiak Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam, kemudian Rasulullah melanjutkan,

اللَّهُمَّ اجْعَلْهُ يَومَ القِيَامَةِ فَوْقَ كَثِيرٍ مِن خَلْقِكَ، أَوْ مِنَ النَّاسِ

“Ya Allah jadikanlah Abu Amir pada hari kiamat berada lebih tinggi di atas manusia seluruhnya” Syahid dari hadis ini adalah ketika Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam meminta untuk dibawakan air untuk berwudhu tatkala diminta untuk mendoakan Abu Amir.

Menghadap Kiblat Ketika Berdoa

Dalilnya adalah hadis yang diriwayatkan oleh sahabat ‘Abdullah bin ‘Abbas Radhiyallahu‘anhuma, beliau berkata bahwa Umar bin Khottob berkata tatkala perang badr,

نَظَرَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى الْمُشْرِكِينَ وَهُمْ أَلْفٌ وَأَصْحَابُهُ ثَلَاثُ مِائَةٍ وَتِسْعَةَ عَشَرَ رَجُلًا فَاسْتَقْبَلَ نَبِيُّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْقِبْلَةَ ثُمَّ مَدَّ يَدَيْهِ فَجَعَلَ يَهْتِفُ بِرَبِّهِ اللَّهُمَّ أَنْجِزْ لِي مَا وَعَدْتَنِي اللَّهُمَّ آتِ مَا وَعَدْتَنِي اللَّهُمَّ إِنْ تُهْلِكْ هَذِهِ الْعِصَابَةَ مِنْ أَهْلِ الْإِسْلَامِ لَا تُعْبَدْ فِي الْأَرْضِ فَمَا زَالَ يَهْتِفُ بِرَبِّهِ مَادًّا يَدَيْهِ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ حَتَّى سَقَطَ رِدَاؤُهُ عَنْ مَنْكِبَيْهِ فَأَتَاهُ أَبُو بَكْرٍ فَأَخَذَ رِدَاءَهُ فَأَلْقَاهُ عَلَى مَنْكِبَيْهِ ثُمَّ الْتَزَمَهُ مِنْ وَرَائِهِ وَقَالَ يَا نَبِيَّ اللَّهِ كَفَاكَ مُنَاشَدَتُكَ رَبَّكَ فَإِنَّهُ سَيُنْجِزُ لَكَ مَا وَعَدَكَ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melihat pasukan orang-orang Musyrik berjumlah seribu pasukan, sedangkan para sahabat beliau hanya berjumlah tiga ratus Sembilan belas orang. Kemudian Nabi Allah shallallahu ‘alaihi wasallam menghadapkan wajahnya ke arah kiblat sambil menengadahkan tangannya, beliau berdo'a: “ALLAHUMMA ANJIS LII MAA WA'ADTANI, ALLAHUMMA AATI MAA WA'ADTANI, ALLAHUMMA IN TUHLIK HAADZIHIL ‘ISHAABAH MIN AHLIL ISLAM LA TU'BAD FIL ARDLI (Ya Allah, tepatilah janji-Mu kepadaku. Ya Allah, berilah apa yang telah Engkau janjikan kepadaku. Ya Allah, jika pasukan Islam yang berjumlah sedikit ini musnah, niscaya tidak ada lagi orang yang akan menyembah-Mua di muka bumi ini).' Demikianlah, beliau senantiasa berdo'a kepada Rabbnya dengan mengangkat tangannya sambil menghadap ke kiblat, sehingga selendang beliau terlepas dari bahunya. Abu Bakar lalu mendatangi beliau seraya mengambil selendang dan menaruhnya di bahu beliau, dan dia selalu menyeratai di belakang beliau.” Abu Bakar kemudian berkata, “Ya Nabi Allah, cukuplah kiranya anda bermunajat kepada Allah, karena Dia pasti akan menepati janji-Nya kepada anda.” [HR. Muslim]

Mengangkat Kedua Tangan

Yang menjadi dasar dari poin ini adalah hadis Ibnu ‘Abbas yang telah dibacakan di poin nomor dua tadi. Dalam hadis tersebut dijelaskan bahwa tatkala Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam menghadap kiblat beliau mengangkat tangan beliau ketika berdoa. Hadis yang menjadi landasan poin ini sangatlah banyak sekali. Di antaranya adalah sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam,

إنَّ ربكم تبارك وتعالى حَيِيٌّ كريم يستحي من عبده إذا رفع يديه إليه أن يردهما صفراً

“Sesungguhnya Rabb kalian Tabaraka wa Ta’ala yang Maha Pemalu, merasa malu terhadap hambaNya jika dia mengangkat kedua tangannya kepadaNya, dia mengembalikan kedua tangannya dalam keadaan kosong.” [H.R. At Tirmidzi No. 3556, katanya: hasan gharib. Al Hakim dalam Al Mustadrak No. 1830, katanya: sanadnya shahih sesuai syarat Bukhari-Muslim. Dishahihkan Syaikh Al Albani dalam Shahihul Jami’ No. 1757]

Memulai Doa Dengan Memuji Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan Bershalawat Kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam

    Landasan poin ini adalah hadis yang diriwayatkan oleh sahabat Fadholah bin ‘Ubaidillah Radhiyallahu Ta’ala ‘Anhu, beliau bercerita bahwa ketika Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam sedang duduk, datanglah seorang lelaki kemudian dia berdoa dan berkata, “Wahai Allah Ampuni aku dan sayangilah aku”. Maka ketika Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam mendengar orang tersebut langsung berdoa dan tidak memuji Allah dan shalawat terlebih dahulu, maka Nabi bersabda,

    عجِلتَ أيُّها المصلِّي ، إذا صلَّيتَ فقعدتَ فاحمَدِ اللهَ بما هو أهلُه ، ثمَّ صَلِّ عليَّ ، ثمَّ ادْعُه

    “Wahai orang yang berdoa, kamu terburu-buru, jika engkau telah duduk untuk berdoa maka pujilah Allah dengan pujian yang pantas bagi-Nya, kemudain bershalawatlah atasku, barulah engkau berdoa.” [HR. Abu Dawud]

    Adab-adab dalam Berdoa

    Memanggil Allah Ta’ala dengan Asmaul Husna

    Maka seseorang tatkala berdoa, hendaknya memanggil Allah Ta’ala dengan nama-nama-Nya yang sesuai dengan doa dan permintaan orang tersebut. Sebagai perumpamaan tatkala seseorang ingin meminta rezeki maka ia memanggil Allah Ta’ala dengan “Ya Razzaq”, dan yang semisalnya.

    Memanggil Allah Ta’ala dengan Asmaul Husna adalah bentuk tawassul yang syar’i. Dan inilah yang Allah Ta’ala perintahkan kepada kita,

    وَلِلَّهِ ٱلۡأَسۡمَآءُ ٱلۡحُسۡنَىٰ فَٱدۡعُوهُ بِهَاۖ

    “Hanya milik Allah asmaa-ul husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaa-ul husna itu.” [Al A’raf 7:180]

    Mengulang-ulang Doa dan Merengek di dalam Berdoa

    Landasan poin ini adalah hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu Ta’ala ‘Anhuma yang berada di dalam poin kedua, tatkala Rasulullah merengek kepada Allah agar Allah merealisasikan janji-Nya kepada Rasul Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam.

    Pengulangan doa ini disunnahkan sebanyak tiga kali, sebagaimana dijelaskan dalam hadis Ibnu Mas’ud Radhiyallahu ‘Anhu berkata,

    كَانَ إِذَا دَعَا دَعَا ثَلَاثًا ، وَإِذَا سَأَلَ سَأَلَ ثَلَاثًا

    “Dahulu jika Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam berdoa, beliau mengulangi sebanyak 3 kali, dan jika beliau meminta, beliau meminta sebanyak tiga kali” [HR. Muslim]

    Melirihkan Doa

    Landasan poin ini adalah firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala,

    ٱدۡعُواْ رَبَّكُمۡ تَضَرُّعٗا وَخُفۡيَةًۚ إِنَّهُۥ لَا يُحِبُّ ٱلۡمُعۡتَدِينَ  ٥٥

    “Berdoalah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” [Al-A’raf 7:55]

    Karena melirihkan doa ini akan lebih mendekatkan diri kepada keikhlasan. Dan juga Allah Ta’ala memuji Nabi Zakariyya ‘Alaihissalam dalam firman-Nya,

    إِذۡ نَادَىٰ رَبَّهُۥ نِدَآءً خَفِيّٗا  ٣

    “yaitu tatkala ia berdoa kepada Tuhannya dengan suara yang lembut.” [Maryam 19:3]

    Diantara hal-hal yang hendaknya dihindari dalam berdoa

    1. Doa untuk permusuhan
    2. Memberatkan diri dengan membuat sajak
    3. Ingin segera diijabahi do’anya
    4. Doa dengan tujuan kemaksiatan atau memutuskan tali silaturahmi
    5. Memakan harta yang haram, akan menghalangi ijabah doa
    6. Ragu-ragu dalam berdo’a
    7. Menggantungkan doa dengan masyi’ah seperti mengatakan, “Kabulkan lah ya Allah jika engkau berkehendak”

    Ustadz Askar Wardhana, Lc., M.Pd

    Baca Juga: Berdoalah Dengan Kegigihan Karena..

    ARTIKEL TERKAIT

    TINGGALKAN KOMENTAR

    Silakan masukkan komentar anda!
    Silakan masukkan nama Anda di sini

    spot_img