Kajian bersama Ustadz Fadlan Fahamsyah Lc., M.H.I merupakan kajian Kitab Tauhid pada bab yang ke-18. Yaitu bab nabi tidak bisa memberi hidayah kecuali dengan kehendak Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Dengan kata lain tema kajian ini “Hidayah hanya ditangan Allah Subhanahu Wa Ta’ala”

Allah Ta’ala berfirman dalam surat Al qasas ayat 56

إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَٰكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَن يَشَاءُ ۚ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ

Artinya: Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk. Dalam surat Al qasas ayat 56 ini , menunjukkan bahwa Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam tidak bisa memberi hidayah kepada seseorang karena pemilik Hidayah adalah Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Macam Hidayah Menurut Penjelasan Para Ulama

Para ulama menjelaskan bahwa hidayah itu ada dua yaitu hidayatut taufiq dan ada hidayatul bayan wal irsyad. Hidayat Taufik itu hanya milik Allah karena yang mengubah hati seseorang itu hanya Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Hidayat Taufik hanya milik Allah ini yang dimaksud dalam Surat Al qasas ayat 56. Yang berbunyi bahwa engkau wahai Muhammad tidak bisa memberi Hidayah kepada orang yang kau cintai. Rasulullah tidak bisa memberi Hidayah kepada Paman beliau Abu Thalib yang wafat dalam kondisi kafir. Rasul tidak bisa memberi hidayah. Hidayah yang dimaksud disini adalah Hidayat Taufik yang mengubah hati manusia, yang bisa cuma Allah. Tetapi Rasul Shallallahu Alaihi Wasallam memiliki daya yang lain yang namanya Hidayatul Bayan Wal Irsyad.

Allah berfirman dalam surat asy-syura ayat 52:

وَإِنَّكَ لَتَهْدِي إِلَىٰ صِرَاطٍ مُّسْتَقِيمٍ

Artinya:Sesungguhnya engkau Muhammad benar-benar bisa memberi hidayah menuju jalan yang lurus. Ini harus kita merujuk ke perkataan para ulama karena kalau kita pahami sendiri maka Terkesan di sana ada kontradiktif ada kontradiksi antara surat al-Qasas ayat 56 dengan surat as-syura ayat yang ke 52. Tetapi setelah kita lihat penjelasan para ulama ternyata di sana tidak ada kontradiksi. Karena yang dimaksud “engkau wahai Muhammad tidak bisa memberi Hidayah kepada orang yang kamu cintai” maksudnya disini adalah Hidayat At Taufiq. Yan maksudnya hanya ditangan Allah. Sedangkan dalam surat as-syura ayat 52 “Sesungguhnya engkau bisa memberi Hidayah ke jalan yang lurus” maksudnya ini adalah hidayah bimbingan nasehat arahan dan seterusnya

Simak:   Tauhid Adalah Jalan Keselamatan Dunia dan Akhirat

Penjelasan ulama pada dalil Al Qur’an mengenai hidayah

Merujuk ke perkataan para ulama karena kalau kita pahami sendiri maka Terkesan di sana ada kontradiktif ada kontradiksi antara surat al-Qasas ayat 56 dengan surat as-syura ayat yang ke 52. Tetapi setelah kita lihat penjelasan para ulama ternyata di sana tidak ada kontradiksi. Karena yang dimaksud “engkau wahai Muhammad tidak bisa memberi Hidayah kepada orang yang kamu cintai” maksudnya disini adalah Hidayat At Taufiq. Yan maksudnya hanya ditangan Allah. Sedangkan dalam surat as-syura ayat 52 “Sesungguhnya engkau bisa memberi Hidayah ke jalan yang lurus” maksudnya ini adalah hidayah bimbingan nasehat arahan dan seterusnya.

Hadits Yang Menunjukkan Hidayah Hanya Ditangan Allah

Dalam hadits yang sahih dikeluarkan Al Imam Al Bukhari dan imam muslim dari syair Abdul Muhyi dari bapak Beliau berkata ketika Abu Tholib dalam kondisi hampir meninggal dunia Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam mendatangi Paman beliau. Tujuannya untuk agar pamannya bisa mendapatkan hidayah sebelum kematiannya. Maka Rasulullah datang ke rumahnya Abu Tholib. Ternyata di sisi Abu Tholib sudah ada dua orang kafir, yang pertama namanya Abdullah bin Abi Umayyah yang kedua Abu Jahal.

Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam mendekat ke paman beliau dan Rasulullah berkata “Wahai paman ucapkanlah Laa Ilaha Illallah. Sebuah kalimat paman yang aku akan berhujah dihadapan Allah untuk membela mu. Membawa hujah ini untuk menolong Paman dihadapan Allah Subhanahu Wa Ta’ala, ucapkan paman sebelum terlambat. Maka Abdullah bin Abi Umayyah dan Abu Jahal langsung menyahut agar Abu Thalib tidak ikut Nabi Muhammad. Abu Jahal mengatakan “wahai Abu Tholib apakah kamu benci dengan ajaran Bapak mu sendiri Abdul Mutholib? Apakah kamu akan meninggalkan ajaran Bapakmu sendiri Abdul Muthalib kemudian kamu ikut keponakan mu ini membawa agama baru?

Simak:   Faedah Kajian: Tipu Daya Syaiton

Abu Tholib bingung, kemudian akhirnya beliau menjawab bahwa dia tetap berada di ajaran bapaknya nenek moyangnya itu Abdul Muthalib. Kemudian meninggal lah Abu Tholib pamannya Nabi. Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam sedih karena Abu Tholib enggan mengucap Laailahailallah. Dan Rasulullah mengatakan wahai paman aku akan senantiasa memohon ampunan kepada Allah untukmu selama aku tidak dilarang. Aku akan mendoakanmu supaya Allah mengampuni dosamu. Maka Allah Subhanahu Wa Ta’ala langsung menurunkan ayat dari langit menegur Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam. Dalam surat at-taubah ayat 112 Allah langsung menegur nabi nya.

مَا كَانَ لِلنَّبِيِّ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَن يَسْتَغْفِرُوا لِلْمُشْرِكِينَ وَلَوْ كَانُوا أُولِي قُرْبَىٰ مِن بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُمْ أَصْحَابُ الْجَحِيمِ

Artinya: Tiadalah sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum kerabat(nya), sesudah jelas bagi mereka, bahwasanya orang-orang musyrik itu adalah penghuni neraka jahanam.

Pelajaran Dari Bab “Hidayah Hanya Ditangan Allah”

Apa saja pelajaran pelajaran yang bisa diambil dari bab “Hidayah Hanya Ditangan Allah? Yang pertama dianjurkan untuk menjenguk orang sakit meskipun kafir dalam rangka mendakwahinya. Dan ini dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam meskipun paman yang menyembah berhala. Pelajaran yang kedua yaitu pentingnya mendakwahi keluarga dan ini dilakukan Rasulullah. Rasulullah sangat perhatian dengan keluarganya. Kemudian pelajaran yang nomor tiga adalah dianjurkan untuk menuntun orang yang sakaratul maut dengan kalimat Lailahaillallah. Yang dianjurkan jadi mentalqin itu sebelum orangnya mati bukan setelah orangnya mati. Rasulullah juga mengatakan dalam riwayat Imam Abu Dawud Siapa yang akhir ucapannya Laailahaillallah dia masuk surga.

Pelajaran nomor 4 bahwa kekerabatan tidak bisa hilang karena sebab kekafiran. Mana dalilnya? Dalilnya adalah Rasulullah mendampingi pamannya dan Rasulullah mengatakan wahai Paman ku ucapkan Laailahaillallah meskipun pamannya kafir tetap dipanggil paman. Ini dalil bahwa kekerabatan tidak bisa hilang karena kekafiran. Kemudian pelajaran nomor 5 adalah agungnya kalimat tauhid sampai-sampai kalimat ini yang dijadikan oleh Rasul untuk mentalqin pamannya. Karena kalimat inilah pembuka seseorang itu menjadi orang beragama Islam dan merupakan kunci menuju surga. Pelajaran keenam adalah tauhid merupakan syarat dari syafaat. Pelajaran ke tujuh adalah bahayanya teman yang jelek. Seperti Abu Jahal yang melarang Abu Tholib masuk kedalam ajaran Islam.

Simak:   Istiqomah Sampai Mati

Selanjutnya yang nomor 8 yaitu larangan mendoakan dan memohonkan ampunan untuk orang yang mati dalam keadaan kafir. Pelajaran nomor 9 adalah, sesungguhnya ketaatan dan amal baik tidak ada gunanya kalau orang itu melakukan syirik. Pelajaran nomor 10 tentang bahayanya fanatik terhadap ajaran bapak atau nenek moyang. Kemudian yang terakhir yang paling penting dan paling inti sebenarnya ini al-hidayat ubi Adillah hidayah itu hanya di tangan Allah. Tugasnya nabi, tugasnya ustadz, kiai adalah hidayatu al-irsyad. Hidayah yang berupa petunjuk berupa berupa bimbingan nasehat arahan tapi yang membalikkan hati cuma Allah. Kita harus selalu minta Hidayah “Wahai Dzat yang membolak balikan hati tetapkan hatiku diatas agama-Mu” karena hidayah hanya ditangan Allah. Dan semoga kita bisa Husnul Khotimah dan kita bisa wafat nanti dalam kebaikan dalam mengucapkan Lailahaillallah. Semoga apa yang di sampaikan bermanfaat.

simak juga kajian: Makna Kalimat Tauhid, Keutamaan Kalimat Tauhid

Topics #agama islam #ceramah agama #hidayah #kajian agama #kajian tauhid #tauhid