Kajian bersama Ustadz Dr. Syafiq Riza Basalamah, MA. mengangkat tema “Apakah Ini Takdirku?”. Kita semua hadir dimuka bumi ini bukan karena keinginan kedua orang tua kita. Walaupun memang orang tua kita menginginkannya akan tetapi harus dipahami bahwa kita lahir dimuka bumi ini karena kehendak Allah. Ketika memahami mengenai takdir dalam kehidupan maka itu bukan hanya yang buruk saja akan tetapi hal baik yang terjadi pada diri kita pun adalah takdir dalam kehidupan. Berbicara mengenai takdir dalam kehidupan maka berbicara mengenai keyakinan. Rasulullah Shalallahu’alaihi Wassalam mengingatkan para sahabatnya mengenai masalah takdir dalam kehidupan. Bahwasannya walaupun seluruh manusia didunia ini bersatu padu berkumpul untuk memberi mudharat kepadamu, maka mereka tidak akan bisa memberi mudharat kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tentukan untukmu. Sebaliknya andaikata mereka semua bersatu padu untuk memberikan manfaat bagimu, akan tetapi Allah tidak tidak menghendakinya maka tidak akan terjadi. Engkau tidak akan mendapat manfaat kecuali yang sudah ditetapkan untukmu. Pena sudah diangkat dan lembaran-lembaran kitab telah kering, kita hanya tiggal menjalani saja.

Dalam riwayat Abu Daud dikisahkan seorang tabi’in yang bernama Ibn Dalimy bertanya kepada Sahabat Ubay bin Kaab tentang takdir dalam kehidupan. Kemudian dijawab bahwasannya apabila Allah mengadzab seluruh penduduk langit dan dibumi, maka Allah mengadzab mereka tanpa melakukan kedholiman kepada mereka. Dan apabila Allah merahmati semua yang ada dilangit dan dibumi maka ketahuilah rahmat Allah jauh lebih baik daripada amalan mereka. Untuk itu janganlah kita merasa sudah banyak beramal, merasa jadi orang baik dan pantas mendapatkan rahmat Allah. Karena sesungguhnya jika Allah menjatuhkan adzab kepada kita Allah tidak dholim, dan rahmat Allah jauh lebih baik dari amalan yang kita lakukan. Andaikata engkau bersedekah emas sebesar gunung uhud, Allah tidak akan menerimanya hingga engkau beriman dengan takdir. Perlu diketahui bahwa apa yang menimpamu tidak mungkin meleset darimu. Apabila engkau mati dalam keadaan tidak meyakini takdir maka engkau akan masuk neraka karena engkau belum beriman.

Simak:   Dauroh Masyayikh ke-19

Ada empat unsur keimanan dengan takdir dalam kehidupan yang perlu kita dalami. Tingkatan pertama dalam keimanan terhadap takdir adalah ilmu Allah meliputi segala sesuatu. Allah mengetahui keadaan segala sesuatu dari yang terdahulu dan yang akan datang. Allah tau tentang apa yang belum terjadi, bagaimana akan terjadi, kapan akan terjadi bahkan sikap apa yang akan kita ambil ketika hal itu menimpa kita Allah sudah mengetahuinya. Kemudian tingkatan yang kedua adalah Allah telah mencatat semua takdir dari awal hingga hari kiamat. Tingkatan yang ketiga adalah mengimani bahwa semua yang terjadi adalah berdasarkan kehendak Allah. Dan yang keempat adalah mengimani bahwa Allah yang menciptakan segala sesuatu. Setelah kita mengimani tentang takdir dalam kehidupan maka sikap kita yang pertama adalah kita harus memahami bahwa segala kebaikan dalam hidup kita adalah karena Allah. Sedangkan segala keburukan itu datangnya dari diri kita. Sikap yang kedua adalah perbanyak berdo’a. Tidak ada yang bisa menolak takdir kecuali dengan do’a, sehingga ketika musibah datang hendaknya perbanyaklah berdo’a memohon kepada Allah tanpa mempersekutukannya dengan sesuatu apapun.

Simak juga kajian: Adab Para Salaf Dalam Menuntut Ilmu, Wahai Yang Berselimut Bangkit dan Sampaikan

Topics #aqidah #beriman kepada takdir #Takdir #ustadz syafiq basalamah