Segala puji bagi Allah Subhanahu wa Ta'ala. Kita memuji-Nya, memohon pertolongan dan ampunan-Nya. Kita berlindung kepada Allah dari keburukan diri dan amal perbuatan kita.
Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad ﷺ, keluarga beliau, para sahabat, dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik hingga hari kiamat.
Islam datang untuk mengeluarkan manusia dari kegelapan jahiliyah menuju cahaya tauhid, ilmu, iman, dan ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Namun, hilangnya zaman jahiliyah dengan diutusnya Rasulullah ﷺ bukan berarti seluruh sifat dan perangai jahiliyah otomatis hilang dari manusia. Sebagian sifat jahiliyah masih dapat muncul pada seseorang apabila ia menyimpang dari petunjuk Al-Qur'an dan Sunnah.
Table of Contents
Rasulullah ﷺ Memperingatkan Umat dari Mengikuti Jalan Umat Terdahulu
Rasulullah ﷺ telah mengabarkan bahwa akan ada sebagian umat Islam yang mengikuti jalan umat-umat terdahulu.
Beliau ﷺ bersabda:
لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى تَأْخُذَ أُمَّتِي بِأَخْذِ الْقُرُونِ قَبْلَهَا، شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ
“Tidak akan terjadi kiamat sampai umatku mengikuti jalan orang-orang terdahulu, sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta.”
Para sahabat bertanya, apakah yang dimaksud adalah Persia dan Romawi? Nabi ﷺ menjawab:
وَمَنِ النَّاسُ إِلَّا أُولَئِكَ
“Siapa lagi kalau bukan mereka?” (HR. Bukhari no. 7319)
Hadits ini merupakan peringatan agar kaum muslimin tidak mengikuti kebiasaan dan jalan hidup yang bertentangan dengan petunjuk Rasulullah ﷺ.
Apa yang Dimaksud dengan Jahiliyah?
Jahiliyah bukan sekadar nama suatu masa sebelum datangnya Islam. Dalam nash-nash syariat, istilah jahiliyah juga digunakan untuk menyebut berbagai perkataan, perbuatan, keyakinan, atau perangai yang merupakan karakter jahiliyah dan bertentangan dengan petunjuk Islam.
Di antara contohnya adalah fanatisme terhadap kelompok atau golongan yang menyebabkan seseorang membela kebatilan.
Perhatikan bagaimana Rasulullah ﷺ mengingkari hal tersebut ketika terjadi perselisihan antara seorang Muhajirin dan seorang Anshar. Ketika masing-masing menyeru kelompoknya, Rasulullah ﷺ bersabda:
مَا بَالُ دَعْوَى الْجَاهِلِيَّةِ؟
“Ada apa dengan seruan jahiliyah ini?”
Kemudian beliau ﷺ bersabda:
دَعُوهَا فَإِنَّهَا مُنْتِنَةٌ
“Tinggalkanlah seruan tersebut karena ia adalah sesuatu yang busuk.” (HR. Bukhari no. 4905 dan Muslim)
Ini merupakan pelajaran penting bahwa nama atau identitas yang pada asalnya baik tidak boleh digunakan untuk membela kebatilan atau menumbuhkan fanatisme yang tercela.
Fanatisme Golongan Termasuk Perkara yang Harus Dihindari
Islam tidak mengajarkan seseorang untuk membela kelompoknya hanya karena kelompok tersebut adalah kelompoknya.
Ukuran kebenaran adalah Al-Qur'an dan Sunnah sesuai pemahaman para sahabat, bukan semata-mata kelompok, suku, keluarga, daerah, organisasi, atau tokoh yang diikuti. Karena itu, seorang muslim hendaknya bersikap adil.
Jika orang yang kita cintai benar, kita mendukung kebenarannya. Jika ia salah, kita menasihatinya dengan cara yang baik.
Fanatisme yang membuat seseorang membela kesalahan hanya karena “ini kelompok saya” atau “ini orang saya” merupakan sikap yang harus dijauhi.
Perangai Jahiliyah Bisa Muncul dalam Akhlak
Rasulullah ﷺ juga pernah menegur Abu Dzarr radhiyallahu ‘anhu ketika beliau mencela seseorang dengan menyebut ibunya.
Nabi ﷺ bersabda:
يَا أَبَا ذَرٍّ أَعَيَّرْتَهُ بِأُمِّهِ؟ إِنَّكَ امْرُؤٌ فِيكَ جَاهِلِيَّةٌ
“Wahai Abu Dzarr, apakah engkau mencelanya dengan menyebut ibunya? Sesungguhnya engkau adalah orang yang masih memiliki perangai jahiliyah.” (HR. Bukhari no. 30).
Perhatikan, Abu Dzarr radhiyallahu ‘anhu adalah seorang sahabat Nabi ﷺ. Namun ketika muncul sebuah perangai jahiliyah dalam ucapannya, Rasulullah ﷺ langsung mengingkarinya.
Ini menunjukkan bahwa seorang muslim tetap harus melakukan muhasabah terhadap dirinya. Jangan merasa aman hanya karena telah mengaku sebagai seorang muslim.
Jangan Sampai Ibadah Tercampur dengan Perkara Jahiliyah
Perkara paling berbahaya adalah ketika seseorang meninggalkan tauhid atau mencampurkan ibadahnya dengan kesyirikan.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ
“Sungguh, Kami telah mengutus seorang rasul kepada setiap umat dengan seruan: Sembahlah Allah dan jauhilah thaghut.” (QS. An-Nahl: 36)
Inilah inti dakwah seluruh rasul: mentauhidkan Allah dalam ibadah dan menjauhi kesyirikan.
Maka seorang muslim harus menjaga ibadahnya agar hanya ditujukan kepada Allah.
Doa, isti'anah dalam perkara yang hanya mampu dilakukan Allah, istighatsah dalam perkara gaib, penyembelihan, nadzar, dan berbagai bentuk ibadah lainnya wajib ditujukan kepada Allah semata.

Perkara Jahiliyah Juga Bisa Masuk dalam Muamalah
Jahiliyah tidak hanya berkaitan dengan akidah dan ibadah. Seorang muslim juga harus menjauhi perangai jahiliyah dalam bermuamalah.
Allah Ta'ala mengharamkan riba:
وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا
“Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.” (QS. Al-Baqarah: 275)
Demikian pula seorang muslim tidak boleh melakukan kezhaliman, penipuan, mengambil harta orang lain secara batil, atau melakukan transaksi yang diharamkan syariat. Karena itu, keislaman seseorang tidak hanya terlihat dari ibadah ritualnya, tetapi juga dari bagaimana ia bermuamalah dengan manusia.
Naskah sumber juga menekankan pentingnya membersihkan muamalah dari riba, kezhaliman, penipuan, gharar, dan berbagai bentuk transaksi yang bertentangan dengan syariat.
Perangai Jahiliyah dalam Kehidupan Keluarga
Perkara jahiliyah juga dapat muncul dalam kehidupan keluarga.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَىٰ
“Dan janganlah kalian berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang jahiliyah yang dahulu.” (QS. Al-Ahzab: 33)
Ayat ini menunjukkan bahwa Allah melarang kaum wanita melakukan tabarruj sebagaimana tabarruj jahiliyah.
Maka seorang muslimah wajib memperhatikan batasan-batasan syariat dalam berpakaian dan menjaga kehormatan dirinya.
Demikian pula seorang muslim hendaknya tidak mengikuti berbagai kebiasaan yang bertentangan dengan syariat hanya karena kebiasaan tersebut populer di masyarakat.
Bagaimana Cara Menjauhi Perangai Jahiliyah?
Ada beberapa perkara penting yang dapat dilakukan seorang muslim.
1. Memohon Hidayah kepada Allah
Hidayah adalah karunia Allah. Karena itu kita harus senantiasa memohon agar Allah menunjukkan kita kepada jalan yang lurus.
Allah Ta'ala berfirman:
اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ
“Tunjukilah kami jalan yang lurus.” (QS. Al-Fatihah: 6)
Doa ini kita baca setiap hari dalam shalat.
2. Belajar Agama
Jangan sampai seseorang ingin meninggalkan keburukan tetapi tidak mengetahui mana yang benar dan mana yang salah.
Allah Ta'ala berfirman:
فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ
“Maka bertanyalah kepada orang yang berilmu jika kalian tidak mengetahui.” (QS. An-Nahl: 43)
Dengan belajar Al-Qur'an, Sunnah, aqidah, fikih, akhlak, dan berbagai ilmu agama, seorang muslim akan lebih mudah membedakan antara petunjuk Islam dan perkara yang menyelisihinya.
3. Mempelajari Perkara Jahiliyah
Mengetahui keburukan bukan berarti menyukainya. Justru seseorang perlu mengetahui keburukan agar dapat menghindarinya.
Naskah sumber juga menekankan pentingnya mempelajari perkara-perkara jahiliyah agar seorang muslim dapat mengenalinya dan menjauhinya.
Di antara kitab yang dikenal dalam pembahasan ini adalah Masā'ilul Jāhiliyyah karya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah, yang membahas berbagai karakteristik jahiliyah yang perlu diketahui dan dihindari.
4. Bertanya kepada Ahli Ilmu
Tidak semua persoalan dapat diputuskan berdasarkan perasaan atau kebiasaan masyarakat.
Seorang muslim hendaknya bertanya kepada orang yang berilmu ketika menghadapi perkara yang tidak diketahuinya.
Dengan demikian, keputusan yang diambil lebih dekat kepada kebenaran dan tidak sekadar mengikuti hawa nafsu.
Naskah sumber juga menekankan pentingnya menjaga hubungan dengan para ulama dan ahli ilmu agar berbagai persoalan dikembalikan kepada ilmu dan tuntunan syariat.
Jangan Merasa Aman dari Perangai Jahiliyah
Pelajaran penting dari pembahasan ini adalah bahwa seorang muslim tidak boleh merasa dirinya sudah terbebas dari seluruh perangai jahiliyah.
Bahkan para sahabat pun mendapatkan teguran ketika muncul kesalahan dalam perkataan atau perbuatan mereka.
Karena itu, seorang muslim hendaknya selalu melakukan muhasabah:
Apakah ibadah saya sudah sesuai Sunnah?
Apakah saya masih fanatik kepada kelompok atau golongan?
Apakah lisan saya menyakiti orang lain?
Apakah muamalah saya sudah sesuai syariat?
Apakah keluarga saya sudah diarahkan kepada ketaatan kepada Allah?
Apakah saya lebih mengikuti kebiasaan masyarakat atau mengikuti petunjuk Rasulullah ﷺ?
Pertanyaan-pertanyaan seperti ini penting agar kita senantiasa memperbaiki diri.
Kesimpulan
Jahiliyah bukan hanya sebuah masa yang telah berlalu. Sebagian perangai jahiliyah masih dapat muncul pada manusia setelah datangnya Islam.
Rasulullah ﷺ telah memperingatkan umatnya dari mengikuti jalan umat terdahulu. Beliau juga mengingkari fanatisme jahiliyah dan menegur sahabat ketika muncul perangai jahiliyah dalam perkataan maupun perbuatannya.
Maka kewajiban kita adalah kembali kepada Al-Qur'an dan Sunnah, mempelajari agama dengan benar, memahami ajaran Islam sebagaimana dipahami generasi terbaik umat ini, serta menjauhi berbagai bentuk penyimpangan dalam aqidah, ibadah, akhlak, dan muamalah.
Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala memberikan kepada kita hidayah untuk mengenal kebenaran, mengamalkannya, dan menjauhkan kita dari berbagai perangai jahiliyah.
Wallahu a'lam.



