spot_img
BerandaAqidah dan ManhajMenjaga Sunnah, Memurnikan Niat, dan Menghormati Kaum Dhuafa: Jalan Meraih Ridha Allah

Menjaga Sunnah, Memurnikan Niat, dan Menghormati Kaum Dhuafa: Jalan Meraih Ridha Allah

Segala puji bagi Allah ﷻ yang telah memberikan hidayah kepada hamba-hamba-Nya menuju jalan kebenaran. Di antara nikmat terbesar yang Allah berikan kepada umat Islam adalah terjaganya sunnah Rasulullah ﷺ hingga hari kiamat. Melalui perjuangan para sahabat, tabi'in, dan para ulama ahli hadis, perkataan, perbuatan, dan ketetapan Nabi ﷺ sampai kepada kita dengan sanad yang jelas dan terjaga.

Oleh karena itu, mempelajari dan mengamalkan sunnah merupakan kemuliaan besar bagi seorang muslim. Tidak cukup hanya mengetahui ilmu, namun seorang hamba harus berusaha mengamalkannya dengan ikhlas karena Allah dan sesuai dengan tuntunan Rasulullah ﷺ.

Keutamaan Menjaga dan Menyampaikan Sunnah Rasulullah ﷺ

Dari Abu Sa‘id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:

نَضَّرَ اللَّهُ امْرَأً سَمِعَ مِنَّا حَدِيثًا فَحَفِظَهُ حَتَّى يُبَلِّغَهُ غَيْرَهُ، فَرُبَّ حَامِلِ فِقْهٍ إِلَى مَنْ هُوَ أَفْقَهُ مِنْهُ، وَرُبَّ حَامِلِ فِقْهٍ لَيْسَ بِفَقِيهٍ

“Semoga Allah memberikan cahaya dan keindahan pada wajah seseorang yang mendengar hadis dari kami, kemudian ia menghafalnya hingga menyampaikannya kepada orang lain. Betapa banyak orang yang membawa ilmu fikih kepada orang yang lebih memahami darinya, dan betapa banyak pembawa ilmu yang sebenarnya tidak memahami ilmu tersebut.” (HR. Abu Dawud no. 3660, At-Tirmidzi no. 2656, Ibnu Majah no. 230. Dishahihkan oleh Al-Albani)

Hadis yang agung ini menunjukkan tingginya kedudukan orang-orang yang menjaga dan menyampaikan ilmu syariat.

Para sahabat Nabi ﷺ telah menjadi generasi pertama yang mengemban amanah tersebut. Mereka menghafalkan hadis, memahami maknanya, lalu menyampaikannya kepada generasi setelah mereka.

Kemudian Allah ﷻ memuliakan umat ini dengan munculnya para imam hadis seperti Imam Al-Bukhari, Imam Muslim, Imam Abu Dawud, Imam At-Tirmidzi, Imam An-Nasa’i, dan Imam Ibnu Majah yang mengumpulkan hadis-hadis Nabi ﷺ dengan penelitian yang sangat teliti.

Maka seorang muslim hendaknya bersyukur karena sunnah Rasulullah ﷺ masih bisa dipelajari hingga hari ini.

Baca Juga: 5 Hal dalam Meraih Keikhlasan dalam Ibadah

Tidak Semua Pembawa Ilmu Memiliki Pemahaman yang Sama

Dalam hadis di atas, Rasulullah ﷺ menjelaskan:

فَرُبَّ حَامِلِ فِقْهٍ إِلَى مَنْ هُوَ أَفْقَهُ مِنْهُ، وَرُبَّ حَامِلِ فِقْهٍ لَيْسَ بِفَقِيهٍ

Betapa banyak orang yang membawa ilmu, namun ada orang lain yang lebih dalam pemahamannya. Ini menunjukkan bahwa dalam agama terdapat tingkatan kemampuan manusia.

Ada yang Allah berikan kemampuan untuk menghafal dan menyampaikan ilmu. Ada pula yang Allah karuniakan kemampuan untuk menggali hukum, memahami dalil, dan menjelaskan kepada manusia.

Karena itu, seorang penuntut ilmu harus memiliki sifat tawadhu’ dan tidak merasa cukup dengan sekadar banyak membaca atau menghafal.

Ikhlas: Syarat Utama Diterimanya Amal

Allah ﷻ berfirman:

الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا

“Yang menciptakan mati dan hidup untuk menguji kalian, siapa di antara kalian yang paling baik amalnya.” (QS. Al-Mulk: 2)

Al-Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah berkata:

أَخْلَصُهُ وَأَصْوَبُهُ

Amal yang paling baik adalah yang paling ikhlas dan paling benar.

Beliau menjelaskan:

  • Ikhlas yaitu amal dilakukan hanya karena Allah.
  • Benar yaitu amal dilakukan sesuai tuntunan Rasulullah ﷺ.

Maka, diterimanya suatu ibadah memiliki dua syarat:

1. Ikhlas karena Allah semata.

2. Mengikuti sunnah Rasulullah ﷺ.

Seseorang mungkin bersungguh-sungguh melakukan banyak ibadah, tetapi apabila niatnya rusak atau caranya menyelisihi sunnah, maka amal tersebut tidak diterima.

Menjaga Sunnah, Memurnikan Niat

Tiga Perkara yang Menjaga Hati Seorang Mukmin

Rasulullah ﷺ bersabda:

ثَلَاثٌ لَا يُغِلُّ عَلَيْهِنَّ قَلْبُ مُسْلِمٍ: إِخْلَاصُ الْعَمَلِ لِلَّهِ، وَمُنَاصَحَةُ وُلَاةِ الْأَمْرِ، وَلُزُومُ جَمَاعَةِ الْمُسْلِمِينَ

“Tiga perkara yang tidak akan membuat hati seorang muslim menyimpang: ikhlas beramal karena Allah, menasihati para pemimpin kaum muslimin, dan berpegang bersama jamaah kaum muslimin.” (HR. Ahmad, At-Tirmidzi, dan dishahihkan oleh Al-Albani)

Hadis ini mengajarkan pentingnya menjaga kemurnian hati, mencintai persatuan kaum muslimin, serta memberikan nasihat kepada para pemimpin dengan cara yang benar sesuai tuntunan syariat.

Kemuliaan Kaum Dhuafa di Sisi Allah

Dari Sa’ad bin Abi Waqqash radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:

هَلْ تُنْصَرُونَ وَتُرْزَقُونَ إِلَّا بِضُعَفَائِكُمْ

“Tidaklah kalian mendapatkan pertolongan dan rezeki kecuali karena orang-orang lemah di antara kalian.” (HR. Al-Bukhari no. 2896)

Dalam riwayat lain disebutkan:

بِدُعَائِهِمْ وَصَلَاتِهِمْ وَإِخْلَاصِهِمْ

“Karena doa mereka, shalat mereka, dan keikhlasan mereka.” (HR. An-Nasa’i dan dinilai shahih oleh Al-Albani)

Hadis ini mengajarkan bahwa kemuliaan seseorang di sisi Allah tidak diukur dengan harta, kedudukan, atau popularitas.

Bisa jadi seorang fakir yang tidak dikenal manusia justru memiliki kedudukan tinggi di sisi Allah karena keikhlasan, doa, dan ibadahnya.

Maka janganlah seorang muslim meremehkan kaum dhuafa.

Bahaya Syirik dan Riya yang Menghapus Amal

Dalam hadis qudsi, Allah Ta’ala berfirman:

أَنَا أَغْنَى الشُّرَكَاءِ عَنِ الشِّرْكِ، مَنْ عَمِلَ عَمَلًا أَشْرَكَ فِيهِ مَعِي غَيْرِي تَرَكْتُهُ وَشِرْكَهُ

“Aku adalah Dzat yang paling tidak membutuhkan sekutu. Barang siapa melakukan suatu amalan lalu menyekutukan Aku dengan selain-Ku, maka Aku tinggalkan dia bersama kesyirikannya.” (HR. Muslim no. 2985)

Riya adalah melakukan amal agar dilihat manusia, sedangkan sum’ah adalah melakukan amal agar didengar dan dipuji manusia.

Keduanya merupakan penyakit hati yang sangat berbahaya. Seorang salaf berkata bahwa tidak ada sesuatu yang lebih berat untuk diperangi selain niat, karena niat terus berubah-ubah dalam hati manusia.

Manusia Selalu Membutuhkan Allah

Allah ﷻ berfirman:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَنْتُمُ الْفُقَرَاءُ إِلَى اللَّهِ ۖ وَاللَّهُ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ

“Wahai manusia, kalian adalah orang-orang yang membutuhkan Allah, sedangkan Allah Dialah Yang Maha Kaya lagi Maha Terpuji.” (QS. Fathir: 15)

Setiap nikmat yang kita miliki, mulai dari kesehatan, harta, ilmu, hingga kemampuan beribadah, semuanya berasal dari Allah.

Karena itu, seorang mukmin tidak boleh merasa bangga dengan amal dan keberhasilannya. Hendaknya ia selalu mengakui nikmat Allah dan mengucapkan:

الحمد لله رب العالمين

Penutup

Dari hadis-hadis yang mulia ini kita mengambil banyak pelajaran berharga:

  • Menjaga dan menyebarkan sunnah Rasulullah ﷺ adalah kemuliaan besar.
  • Ilmu harus dibarengi dengan pemahaman dan sikap tawadhu’.
  • Amal tidak diterima kecuali dengan ikhlas dan sesuai sunnah.
  • Kaum dhuafa memiliki kedudukan yang tinggi di sisi Allah.
  • Syirik, riya, dan sum’ah dapat menghancurkan pahala amal.
  • Seorang muslim harus senantiasa merasa membutuhkan pertolongan Allah.

Pada hakikatnya, keberhasilan seorang hamba bukan diukur dari banyaknya amal yang terlihat oleh manusia, tetapi dari sejauh mana amal tersebut ikhlas karena Allah dan mengikuti tuntunan Rasulullah ﷺ.

Semoga Allah ﷻ menjadikan kita termasuk hamba-hamba yang menjaga sunnah Nabi ﷺ, memperbaiki niat, menjauhi riya, serta istiqamah di atas jalan para sahabat dan salafus shalih.

ARTIKEL TERKAIT

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

spot_img