Perintah Untuk Berbakti Kepada Kedua Orangtua

Perintah Birul Walidain
Perintah berbakti kepada kedua orangtua

Segala puji bagi Allah dengan segala bentuk kenikmatannya. Kenikmatan menjadi seorang muslim dan beriman kepada hari akhir. Kenikmatan menjadi seorang anak dengan kesempatan untuk berbakti kepada orangtuanya. Dan kenikmatan-kenikmatan lainnya yang tak terkira.

Shalawat serta salam tercurah kepada nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم yang tak lain adalah seorang hamba dan utusan-Nya. Yang perlu kita tauladani dan kita ikuti sebagai bukti cinta kita kepadanya dan Rabbnya.

Pecinta Al-Iman

Mencintai Allah dan rasul-Nya belumlah lengkap, apabila seorang mukmin belum cinta dan berbakti kepada kedua orangtuanya. Mereka adalah bukti cinta Allah kepada hamba-Nya, sehingga kita bisa merasakan manisnya Islam. Mereka adalah kunci seseorang bisa masuk ke dalam surga-Nya.

Agungnya Kedudukan Orangtua

Sesungguhnya kedudukan kedua orangtua adalah tinggi dan hak-haknya amatlah besar. Hingga Allah mengingatkannya di dalam Qurannya. Allah تعالى berfirman

وَقَضٰى رَبُّكَ اَلَّا تَعْبُدُوْٓا اِلَّآ اِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ اِحْسٰنًاۗ اِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ اَحَدُهُمَآ اَوْ كِلٰهُمَا فَلَا تَقُلْ لَّهُمَآ اُفٍّ وَّلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَّهُمَا قَوْلًا كَرِيْمًا ۞ وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُلْ رَّبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيٰنِيْ صَغِيْرًاۗ

“Dan Rabbmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik. Dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah, “Wahai Tuhanku! Sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku pada waktu kecil.” (Al-Isyra’ 23-24)

Allah تعالى memerintahkan hambanya untuk menjauhi syirik dan mengesakan-Nya. Lantas tidak berhenti di situ saja, akan tetapi seorang hamba haruslah berbuat baik dan berbakti kepada orangtuanya. Allah تعالى pun melarang seorang anak untuk menyakiti kedua orangtuanya bahkan melalui lisannya.

Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan perintah untuk tidak menyembah selain Allah dipasangkan dengan perintah untuk berbuat baik kepada kedua orangtua sebagaimana ayat yang lainnya.

اَنِ اشْكُرْ لِيْ وَلِوَالِدَيْكَۗ اِلَيَّ الْمَصِيْرُ

“Dan bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orangtuamu. Hanya kepada-Kulah kembali.” (Luqman 14)

Maka ketika perkataan yang buruk hingga perlakuan yang tidak layak kepada orangtua seorang muslim diperintahkan untuk selalu berkata yang baik kepada mereka bagaimanapun. Dan Allah  تعالى juga memerintahkan agar selalu mendoakan kedua orangtua atas jerih payah dan penuh kasih sayang kedua orangtua kepada anaknya.

Hingga perkara tentang infaq yang seharusnya seseorang keluarkan. Maka Allah تعالى juga menjelaskan bahwa yang di sebutkan pertama kali ada orangtua. Allah تعالى berfirman

يَسْـَٔلُوْنَكَ مَاذَا يُنْفِقُوْنَ ۗ قُلْ مَآ اَنْفَقْتُمْ مِّنْ خَيْرٍ فَلِلْوَالِدَيْنِ وَالْاَقْرَبِيْنَ وَالْيَتٰمٰى وَالْمَسٰكِيْنِ وَابْنِ السَّبِيْلِ ۗ وَمَا تَفْعَلُوْا مِنْ خَيْرٍ فَاِنَّ اللّٰهَ بِهٖ عَلِيْمٌ

“Mereka bertanya kepadamu (Muhammad) tentang apa yang harus mereka infakkan. Katakanlah, “Harta apa saja yang kamu infakkan, hendaknya diperuntukkan bagi kedua orang tua, kerabat, anak yatim, orang miskin dan orang yang dalam perjalanan.” Dan kebaikan apa saja yang kamu kerjakan, maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahui.” (Al-Baqarah 215)

Dan banyak lagi ayat-ayat Allah yang menjelaskan tentang kedudukan orangtua dalam Islam. Dan dari hal yang agung adalah kedudukan orangtua. Bahwasanya seorang muslim wajib untuk berbuat baik kepada mereka berdua dan berlemah lembut kepadanya bahkan ketika mereka berdua bukanlah orang Islam ataupun telah berbuat syirik kepada Allah selama bukan bentuk ketaatan untuk berbuat maksiat. Allah تعالى berfirman

وَوَصَّيْنَا الْاِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ حُسْنًا ۗوَاِنْ جَاهَدٰكَ لِتُشْرِكَ بِيْ مَا لَيْسَ لَكَ بِهٖ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا ۗاِلَيَّ مَرْجِعُكُمْ فَاُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَ

“Dan Kami perintahkan kepada manusia agar (berbuat) kebaikan kepada kedua orang tuanya. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang engkau tidak mempunyai ilmu tentang itu, maka janganlah engkau patuhi keduanya. Hanya kepada-Ku tempat kembalimu, dan akan Aku beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” (Al-Ankabut 8)

Perintah Birrul Walidain

Sebelumnya telah disebutkan contoh-contoh ayat yang menjelaskan kedudukan berbakti kepada orangtua. Maka kita bisa perhatikan bahwa nash atau pernyataan yang ada dalam nash dalil Al-Quran ialah berbentuk perintah. Firman Allah تعالى 

وَوَصَّيْنَا الْاِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ اِحْسَانًا ۗحَمَلَتْهُ اُمُّهٗ كُرْهًا وَّوَضَعَتْهُ كُرْهًا ۗوَحَمْلُهٗ وَفِصٰلُهٗ ثَلٰثُوْنَ شَهْرًا ۗ

“Dan Kami perintahkan kepada manusia agar berbuat baik kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Masa mengandung sampai menyapihnya selama tiga puluh bulan..” (Al-Ahqaf 15)

Dimana selain perintah atau kewajiban berbakti kepada kedua orangtua. Dalil-dalil dalam Al-Quran menjelaskan akan berbuat baik dari seorang anak adalah hak untuk orangtuanya.

Adapun bukti atau dalil yang berasal dari hadits nabi pun banyak. Sebagai contoh sabda baginda nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah رضي الله عنه

جاء رجل إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم فقال : يا رسول الله من أحق الناس بحسن صحابتي؟ قال : أمك، قال : ثم من؟ قال أمك؟ ثم من؟ قال : أمك، ثم من؟ قال : أبوك

Datang seorang pemuda kepada Rasulullah صلى الله عليه وسلم dan bertanya, “ Wahai rasulullah siapakah yang paling berhak aku bermuamalah baik kepadanya?” Rasulullah menjawab “Ibumu”. “Lalu siapa setelahnya?” “Ibumu”, “Lalu siapa setelahnya?”, “Ibumu”, “Lalu siapa setelahnya?” “Bapakmu”. (HR. Ahmad dalam Musnadnya)

Jihad atau Berbakti Kepada Orangtua

Jihad dalam Islam adalah perkara agung. Membela agamanya membela tanah airnya dari serangan negara lain atau penjajah lainnya. Akan tetapi ternyata dalam Islam “Berbakti Kepada Orangtua” adalah lebih utama daripada jihad. Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda

ما رواه عبد الله بن مسعود رضي الله عنه قال : سألت رسول الله صلى الله عليه وسلم أي الأعمال أحب إلى الله تعالى؟ قال : الصلاة على وقتها، قلت : ثم أي؟ قال : بر الوالدين قلت : ثم أي؟ قال : الجهاد في سبيل الله

Diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud رضي الله عنه berkata, “Aku bertanya kepada Rasulullah صلى الله عليه وسلم apakah amalan yang paling dicintai oleh Allah ? Beliau صلى الله عليه وسلم menjawab “Sholat tepat waktunya”, “kemudian apalagi?, “birrul walidain (berbuat baik kepada orangtua)”, “kemudian apalagi?”, “Jihad di atas jalan Allah” (Muttafaqun Alaih)

Maka pecinta Al-Iman, inilah kesempatan kita sebagai orang beriman adalah berbakti kepada kedua orangtua kita, tidak menyakitinya dan tidak merendahkannya. Karena sejatinya salah satu bukti keimanan ialah dengan birrul walidain.

Wallahu Ta’ala A’lam


Dikutip dari Kitab Mualimu fii Birr al-Walidain buah karya Syeikh Abdul Aziz bin Muhammad as-Sadhan

Total
0
Shares
Tinggalkan Balasan
Previous Post
Tanya Jawab Islam Patuh Terhadap Pemimpin

Seberapa Penting Patuh Terhadap Pemimpin?2 min read

Next Post
Kewajiban Utama Mengenal Allah

Kewajiban Utama Untuk Mengenal Allah3 min read

Related Posts
Motivasi Mendalami Ilmu

Motivasi Mendalami Ilmu

Para nabi hanya mewariskan ilmu. Para ulama lalu mencarinya dan mengikuti jalannya sehingga mereka mendapatkan bagian yang melimpah ruah. Maka sangatlah sia-sia upaya mereka ketika buah yang matang pun tak dipetik.
Baca Selengkapnya
Merdeka Atau Nikmat Syukur

Merdeka Atau Nikmat Syukur

Kemerdekaan tak lain adalah salah satu bentuk kenikmatan yang Allah berikan kepada bangsa Indonesia. Dan sebuah kenikmatan haruslah tersambung dengan rasa syukur. Jangan sampai dengan hadiah kemerdekaan ini kita salah bertindak
Baca Selengkapnya