Hujan Seluruhnya adalah Kebaikan

Hujan yang Allah turunkan dari langit merupakan kebaikan bagi para penduduk bumi, bahkan seluruh rintik-rintik air hujan berisi kebaikan, sebagaimana yang pernah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sabdakan ketika emberikan perumpamaan tentang umat beliau:

مَثَلُ أُمَّتِي مَثَلُ المَطَارِ لاَيُدْرَى أَوَّلُهُ خَيْرٌ أَمْ آخِرُهُ

“Permisalan umatku adalah seperti air hujan, tidak diketahui mana yang lebih baik, awalnya atau akhirnya.” (HR. at-Turmudzy dan dishahihkan oleh Syaikh al-Albany)

Berkata al-Baidhowy dalam kitabnya Tuhfatul Abrar menjelaskan tentang hadits di atas: “Sebagaimana dalam setiap tetes air hujan, seluruhnya memiliki faedah dalam pertumbuhan dan perkembangan, kita tidak bisa mengingkari hal ini atau menolak manfaat yang dikandungnya.”

Membaca Doa Turun Hujan

Di antara Sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang beliau ajarkan kepada umatnya ketika turun hujan adalah membaca doa ketika turun hujan. Ada beberapa lafazh doa yan diriwayatkan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, di antaranya:

عَنْ عَائِشَةَ: أَنَّ رَسُولَ اللَّهُ عَلَيهِ وسَلَّمَ كَانَ إِذَا رَأَى المَطَارَو قَلَ: اللَّهُمَّ صّيِّبًا نَافِعًا

Dari ‘Aisyah radhiallahu’anha, dahulu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila melihat hujan, beliau mengucapkan: ‘Allahumma shayyiban naafi’an (Ya Allah jadikanlah hujan yang bermanfaat). (HR. al-Bukhary)

Di dalam riwayat yang lain disebutkan dengan beberapa lafazh lain, di antaranya:

اللَّهُمَّ اجْعَلْهُ نَافِعًا

(Allahummaj’alhu naafi’an) Ya Allah jadikanlah hujan yang bermanfaat. (HR. an-Nasa’iy dan dishahihkan oelh Syaikh al-Albany)

اللَّهُمَّ صّيِّبًا هَنِيْعًا

(Allahumma shayyiban hanii’an) Ya Allah jadikanlah hujan yang menyenangkan. (HR. Abu Daud dan dishahihkan oleh Syaikh al-Albany)

Berdoa meminta kepada Allah

Sunnah lainnya yang dituntunkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada kita adalah berdoa kepada Allah meminta apa saja dari kebaikan dunia dan akhirat. Hali itu karena doa ketika rintik hujan sedang menetes adalah doa yang tidak tertolak, sebagaimana yang pernah disabdakan oelh Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam:

ثِنْتَانِ مَا تُرَدَّانِ : الدُّعَاءُ عِنْدَ النِّدَاءِ ، وَ تَحْتَ المَطَرِ

Dua hal yang tidak tertolak: doa ketika adzan dan doa ketika hujan. (HR. al-Hakim dan dihasankan oleh Syaikh al-Albany)

Di dalam hadits yang lain beliau bersabda:

اُطْلُبُوا اسْتِجَابَةَ الدُّعَاءِ عِنْدَ ثَلَاثٍ : عِنْدَ الْتِقَاءِ الْجُيُوشِ ، وَإِقَامَةِ الصَّلَاةِ ، وَنُزُولِ الْمَطَارِ

“Carilah kesempatan dikabulkannya doa kalian pada saat pasukan telah berhadapan (dalam peperangan), dan pada saat akan didirikan shalat, dan pada saat turun hujan.” “(HR. asy-Syafi’iy dalam kitab al-Umm dan dihasankan oleh Syaikh al -Albany)

Oleh karena itu mari kita perbanyak doa kita, memohon kepada Allah subhanhu wa ta’ala ketika hujan sedang turun.

Ketika Hujan disertai Suara Guntur

Terkadang hujan turun disertai kilat dan suara guntur yang menggelegar, maka para salaf dahulu apabila mendengar suara guntur mereka segera bertasbih seperti apa yang diriwayatkan dalam atsar-atsar berikut ini:

عَنْ عِكْرِمَةَ قَلَ: كَانَ ابْنُ عَبَّاسٍ – رَضِيَ اللَّهُ عَنهُمَا – إِِذَا سَمِعَ صَوتَ الرَّعْدِ قَالَ: سُبْحَانَ الَّذِي سَبَّحَتْ لَهُ, قَالَ: إِنَّ يَنْعِقُ الرَّعدَ مَلَكٌ بِالغَيْثِ, كَمَا يَنْعِقُ الرَّاعِيْ بِغَنَمِهِ

Dari Ikrimah berkata: Dahulu Ibnu ‘Abbas radhiallahu’anhuma apabila mendengar suara guntur dia mengucapkan: (Subhanalladzi sabbahat lahu) Maha Suci Allah yang guntur bertasbih untuk-Nya, Ibnu ‘Abbas berkata: Sesungguhnya guntur adalah malaikat yang berteriak mengatur awan, seperti penggembala yang berteriak mengatur dombanya. (HR. al-Bukhary dalam kitab al-Abab al-Mufrad dan dishahihkan oleh Syaikh al-Albany)

Dalam atsar yang lain disebutkan:

عَنْ عَبدِ اللَّهِ بْنِ الزُّبَيرِ أَنَّهُ كَانَ إِذَا سَمِعَ الرَّعْدَ تَرَكَ الْحَدِيْثَ, وَقَالَ: سُبْحَانَ الَّذِي يُسَبِّحُ الرَّعْدُ بِحَمْدِهِ والمَلَائِكَةُ مِنْ خِيْفَتِهِ, ثُمَّ يَقُولُ: إِنَّ هَذَا لَوَ عِيْدٌ لِأَهْلِ الْأَرْضِ شَدِيْدٌ

Dari Abdillah bin Zubair bahwasanya dahulu apabila dia mendengar guntur, dia menghentikan pembicaraannya lalu mengucapkan: Maha Suci Allah yang guntur bertasbih dengan pujiannya dan para malaikat karena takut kepada-Nya, lalu Abdullah bin Zubair berkata: sesungguhnya guntur ini adalah peringatan keras terhadap para penduduk bumi. (HR. al-Bukhary dalam al-Adab al-Mufrad dan disahihkan oleh Syaikh al-Albany)

ِApabila Hujan Terus Menerus dan Menimbulkan Kerusakan

Apabila hujan turun terus-menerus lalu menyebabkan banjir dan kerusakan baik pada ladang pertanian maupun rumah-rumah hunian, maka disunnahkan untuk berdoa kepada Allah agar hujan tersebut dialihkan ke daerah lain yang tidak menimbulkan bahaya dan kerusakan, sebagaimana apabila hujan tidak turun-turun disunnahkan untuk shalat Istisqa’ dan berdoa kepada Allah meminta turunnya hujan. Hal ini sebagaimana yang pernah terjadi pada zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang diriwayatkan dalam hadits berikut ini:

عن أنس بن مالك: أنَّ رَجُلًا جاءَ إلى النبيِّ ﷺ يَومَ الجُمُعَةِ، وهو يَخْطُبُ بالمَدِينَةِ، فَقالَ: قَحَطَ المَطَرُ، فاسْتَسْقِ رَبَّكَ. فَنَظَرَ إلى السَّماءِ وما نَرى مِن سَحابٍ، فاسْتَسْقى، فَنَشَأَ السَّحابُ بَعْضُهُ إلى بَعْضٍ، ثُمَّ مُطِرُوا حتّى سالَتْ مَثاعِبُ المَدِينَةِ، فَما زالَتْ إلى الجُمُعَةِ المُقْبِلَةِ ما تُقْلِعُ، ثُمَّ قامَ ذلكَ الرَّجُلُ أوْ غَيْرُهُ، والنبيُّ ﷺ يَخْطُبُ، فَقالَ: غَرِقْنا، فادْعُ رَبَّكَ يَحْبِسْها عَنّا، فَضَحِكَ ثُمَّ قالَ: اللَّهُمَّ حَوالَيْنا ولا عَلَيْنا مَرَّتَيْنِ أوْ ثَلاثًا، فَجَعَلَ السَّحابُ يَتَصَدَّعُ عَنِ المَدِينَةِ يَمِينًا وشِمالًا، يُمْطَرُ ما حَوالَيْنا ولا يُمْطِرُ منها شيءٌ، يُرِيهِمُ اللَّهُ كَرامَةَ نَبِيِّهِ ﷺ وإجابَةَ دَعْوَتِهِ

Dari Anas radhiallahu’anhu datang seorang lelaki kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada hari Jum’at, saat itu beliau sedang berkhutbah di kota Madinah, lelaki tersebut berkata: hujan tidak turun, maka mohonkanlah hujan kepada Rabbmu. Maka beliaupun melihat ke arah langit, dan kami tidak melihat ada awan sedikitpun, lalu beliau berdoa meminta hujan, maka bermunculanlah awan yang satu berkumpul dengan yang lain, kemudian turunlah hujan hingga mengaliri saluran-saluran air di Madinah, dan terus hujan turun hingga Jum’at selanjutnya tanpa terhenti, kemudian bangkitlah lelaki yang sebelumnya atau lelaki yang lain ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang khutbah, lalu lelaki itu berkata: kami tenggelam, maka berdoalah kepada Rabbmu agar menahan hujan dari kami. Lalu beliaupun tertawa kemudia berdoa: (Allahumma hawalaynaa wa laa’aynaa) Ya Allah turunkanlah di sekeliling kami dan jangan di atas kami, dua atau tiga kali beliau ucapkan. Maka mulailah awan terpencar dari kota Madinah ke sebelah kanan dan kiri, turun hujan di sekeliling kami dan tidak ada setetespun air yang jatuh di kota Madinah, Allah memperlihatkan kemuliaan Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam dan jawaban-Nya atas doa Nabi (HR. al-Bukhary)

Di dalam riwayat lain Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berdoa dengan lafazh:

اللَّهُمَّ حَوَالَيْنَا, وَلَا عَلَيْنَا, اللَّهُمَّ عَلَى الآكَامِ وَالجِبَالِ وَالآجَامِ وَالظِّرَابِ وَالأَوْدِيَةِ وَمَنَابِتِ الشَّجَر

“Ya Allah, turunkanlah di sekitar kami dan jangan turunkan di atas kami, Ya Allah turunkanlah di perbukitan, pegunungan, hutan belantara, lembah-lembah dan tempat tumbuhnya pohon.” (HR. al-Bukhary)

Hadits yang mulia tersebut menunjukkan tentang kebesaran Allah dan kemuliaan yang Allah berikan kepada Rasul-Nya dengan mengabulkan doanya ketika meminta hujan.

Hadits yang agung tersebut juga menunjukkan kesempurnaan Islam, karena hadits ini berisi petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam akan pentingnya untuk menjaga keseimbangan ekosistem. Dalam sabdanya, beliau menyebutkan tempat-tempat yang harus dijaga kelestariannya seperti gunung, hutan, lembah, pepohonan, yang merupakan daerah resapan air hujan dan daerah aliran sungai. Apabila tempat-tempat tersebut rusak, maka air hujan tidak terserap dan menyebabkan banjir, longsor dan kerusakan lingkungan lainnya seperti yang kita saksikan saat ini.

Membuka Pakian Agar Terkena Air Hujan

Di antara sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika turun hujan adalah membuka pakaian kita agar tubuh kita terkena tetesan rintik air hujan. Amalan sunnah yang satu ini berdasarkan hadits shahih berikut ini:

عن أنس بن مالك: أَصابَنا وَنَحْنُ مع رَسولِ اللهِ ﷺ مَطَرٌ، قالَ: فَحَسَرَ رَسولُ اللهِ ﷺ ثَوْبَهُ، حتّى أَصابَهُ مِنَ المَطَرِ، فَقُلْنا: يا رَسولَ اللهِ، لِمَ صَنَعْتَ هذا؟ قالَ: لأنَّهُ حَديثُ عَهْدٍ برَبِّهِ تَعالى.

Berkata Anas: “Dahulu kami pernah terkena hujan ketika bersama dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membuka pakaian beliau. Maka kami bertanya: ‘Wahai Rasulullah, kenapa engkau melakukan hal ini?’ Beliau menjawab: ‘karena air hujan ini baru saja turun dari Rabbnya ta’ala'”. (HR. Muslim)

Hal ini menunjukkan keberkahan yang dikandung air hujan yang telah Allah turunkan kepada manusia di bumi, sesuai dengan yang apa Allah firmankan di dalam Al-Qur’an:

…وَنَزَّلْنَا مِنَ السَّمَاۤءِ مَاۤءً مُّبٰرَكًا

“Dan Kami turunkan dari langit air yang penuh berkah …” (QS. Qaaf: 9)

Hujan Merupakan Udzur Bagi Laki-laki Untuk Tidak Shalat Berjemaah di Masjid

Ketika hujan turun, maka diperbolehkan bagi kaum pria untuk shalat di rumahnya dan tidak berangkat ke masjid untuk shalat berjemaah. Di antara dalil yang menunjukkan hal ini adalah:

عن نافع مولى ابن عمر: أنَّ ابنَ عمرَ أذَّنَ بالصَّلاةِ في ليلةٍ ذاتِ بردٍ وريحٍ، فقالَ: ألا صلُّوا في الرِّحالِ؛ فإنَّ رسولَ اللَّهِ كانَ يأمرُ المؤذِّنَ إذا كانَت ليلةٌ باردةٌ ذاتُ مَطرٍ، يقولُ: ألا صلُّوا في الرِّحالِ

Dari Naafi’, bahwasanya Ibnu Umar pernah mengumandangkan adzan untuk shalat di suatu malam yang sangat dingin dan berangin kencang, kemudian dia mengucapkan: (Alaa shalluu firrihaal) Shalatlah kalian di rumah, kemudian dia berkata: sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dahulu pada saat malam yang dingin dan hujan, maka beliau memerintahkan muadzin untuk mengucapkan: (Alaa shalluu firrihaal) Shalatlah kalian di rumah. (HR. al-Bukhary)

Hadits di atas menunjukkan bahwa hujan adalah udzur bagi kaum pria untuk tidak menghadiri shalat jamaah, namun lebih utama bagi kita untuk mendatangi shalat jamaah di masjid, sebagaimana yang dilakukan oleh suri tauladan kita Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam beliau tetap mengimami para sahabat meskipun hujan turun dengan deras dan membasahi lantai masjid.

عن أبي سعيد الخدري: سَأَلْتُ أبا سَعِيدٍ الخُدْرِيَّ، فَقالَ: جاءَتْ سَحابَةٌ، فَمَطَرَتْ حتّى سالَ السَّقْفُ، وكانَ مِن جَرِيدِ النَّخْلِ، فَأُقِيمَتِ الصَّلاةُ، فَرَأَيْتُ رَسولَ اللَّهِ ﷺ يَسْجُدُ في الماءِ والطِّينِ، حتّى رَأَيْتُ أثَرَ الطِّينِ في جَبْهَتِهِ

Berkata Abu Sa’id al-Khudry: Awan datang, kemudian turunlah hujan hingga mengalirlah dari atap masjid yang dahulu terbuat dari pelepah kurma, lalu didirikanlah shalat, maka aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersujud di atas air dan tanah becek, hingga aku melihat bekas tanah di dahi beliau. (HR. al-Bukhary)

Boleh Menjama’ Shalat Pada Saat Turun Hujan Deras Ketika Sedang Shalat Berjamaah di Masjid

Faidah lainnya yang berkaitan dengan turunnya hujan adalah bolehnya bagi imam dan para makmum yang melaksanakan shalat berjamaah di masjid untuk menjama’ shalat seperti ketika sedang safar. Hal ini berdasarkan hadits:

عن عبدالله بن عباس: جَمع رَسولُ اللهِ صَلّى اللَّهُ عليه وسلَّمَ بيْنَ الظُّهْرِ والْعَصْرِ، والْمَغْرِبِ والْعِشاءِ بالمَدِينَةِ، في غيرِ خَوْفٍ، وَلا مَطَرٍ

Dari Ibnu ‘Abbas berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dahulu pernah menjama’ shalat Zhuhur dengan Ashr, lalu Maghrib dengan Isya’, di kota Madinah, tidak dalam keadaan takut, dan tidak dalam keadaan hujan. (HR. Muslim)

Hadits di atas menunjukkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam terkadang menjama’ shalat dengan alasan hujan, dan inilah juga yang diamalkan oleh para sahabat dan orang-orang sholeh setelah mereka, sebagai mana disebutkan dalam atsar berikut ini:

عن نافع مولى ابن عمر: أنَّ ابنَ عمرَ كان إذا جمع الأمراءَ بينَ المغربِ والعشاءِ في المطرِ جمع معَهم

Dari Naafi’, bahwasanya Abdullah bin Umar dahulu apbila para penguasa menjama’ shalat Maghrib dengan Isya’ karena hujan, maka dia juga ikut menjama’ bersama mereka. (HR. Thabrany)

Demikian Sedikit faedah yang berkaitan dengan turunnya hujan, mudah-mudahan Allah memberikan kepada kita manfaat dari ilmu yang telah kita peroleh ini, dan mudah-mudahan Allah memberikan keberkahan di dalam hujan yang diturunkan-Nya kepada kita. Allahumma aamiin.

Di tulis oleh Ustadz Askar Wardhana, Lc., M.Pd.

Topics #al-iman #Al-Iman TV #artikel islam #dia turun hujan #doa hujan #Faidah hujan #faidah turunnya hujan #hadit nabi #islam #Radio Suara Al-Iman 846 AM #rintik hujan #sunnah #sunnah nabi #turun hujan #Ustadz Askar Wardhana