Daftar Isi
Pernikahan bukan hanya menjadi raja dan ratu sehari, pernikahan itu bukan hanya seragam bersama dari keluarga, pernikahan itu bukan gedung yang mewah, bukan makanan yang enak yang disuguhkan, bukan undangan yang ramai yang didatangkan, Allah Ta’ala mengatakan tentang pernikahan.
وَأَخَذۡنَ مِنكُم مِّيثَٰقًا غَلِيظٗا
Dan mereka (istri-istrimu) telah mengambil perjanjian yang kuat (ikatan pernikahan) dari kamu. (QS. An-Nisa’: 21)
Pernah suatu ketika Utsman bin ‘Affan bertemu dengan Abdullah bin Mas’ud yang sudah tua, kemudian dikatakan “Apakah kamu tidak mau kami menikahkan kamu?”, Abdullah pun menjawab: “Aku mendengar dari Rasulullah Shalllallahu ‘alaihi wa sallam tentang hadits, Wahai para pemuda, barangsiapa yang mampu menikah maka hendaknya menikah,
karena sesungguhnya ia membuat kita bisa menjaga pandangan mata, dan lebih menjaga kemaluan”, sampai-sampai Abdullah mengatakan: “Jika Aku tau umurku hanya tersisa 10 hari dan aku tidak memiliki istri maka aku akan menikah”. Cerita ini menunjukkan betapa pentingnya pernikahan, tetapi pernikahan bukan hanya berbicara tentang kelezatan semata, pernikahan itu adalah tentang tanggung jawab yang besar.
Mengenai ayat di atas, Allah Ta’ala menyebutkan “Perjanjian yang besar” di dalam ayat tersebut, dan Allah Subhanahu wa Ta’ala di dalam Al-Qur’an hanya menyebutkan “Perjanjian yang berat” pada 3 hal dalam Al-Qur’an, yang pertama perjanjian Allah kepada para nabi-Nya, yang kedua kepada bani Israil, dan yang ketiga perjanjian suami kepada istri.
Sehingga pernikahan itu memerlukan ilmu, bukan hanya sekedar punya uang, bukan hanya sekedar punya nafsu kemudian ia menikah, karena kalau tidak dengan ilmu, maka nanti istri kita bukan menanti kita di pintu surga melainkan berdiri ketika hisab dijalankan. Pada hari itu akan ada manusia-manusia yang bangkrut, ia banyak mengerjakan sholat, setiap tahun umroh di bulan Ramadhan, sedekahnya banyak di berbagai tempat, tapi bisa jadi dia merugi karena pernah menyakiti manusia, maka bagaimana lagi jika yang disakiti tersebut adalah istrinya sendiri.
Baca Juga: Jagalah Diri dan Keluarga Kita dari Api Neraka
Allah Azza wa Jalla berfirman:
وَيۡلٞ لِّلۡمُطَفِّفِينَ١ ٱلَّذِينَ إِذَا ٱكۡتَالُواْ عَلَى ٱلنَّاسِ يَسۡتَوۡفُونَ ٢ وَإِذَا كَالُوهُمۡ أَو وَّزَنُوهُمۡ يُخۡسِرُونَ٣
“Celakalah bagi orang-orang yang curang (dalam menakar dan menimbang)!, (yaitu) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dicukupkan, dan apabila mereka menakar atau menimbang (untuk orang lain), mereka mengurangi.” (QS. Al-Muthaffifin: 1-3)
Dalam ayat di atas Allah menyebutkan kecurangan dalam perdagangan, dan kecurangan seperti ini juga terjadi di dalam rumah tangga, ada suami yang selalu menuntut haknya sebagai suami kepada istrinya, ia mengatakan bahwa istri harus ta’at kepada suami, memang surganya istri ada pada ketaatannya kepada suami, tapi jangan lupa suami juga bisa masuk neraka karena tidak memberikan hak-hak istri, tidak mengajarkan agama kepada istrinya, tidak mengajarkan yang mana yang halal dan haram, bahkan sampai membawa yang haram ke rumah, dan juga ketika marah selalu berkata kasar, kelak semua itu pada hari kiamat akan dihisab dan dipertanyakan, meskipun keburukan itu sekecil biji sawi.
Ketika membicarakan pernikahan, maka pernikahan adalah tanggung jawab, Allah Azza wa Jalla mengatakan kepada para suami:
وَعَاشِرُوهُنَّ بِٱلۡمَعۡرُوفِۚ فَإِن كَرِهۡتُمُوهُنَّ فَعَسَىٰٓ أَن تَكۡرَهُواْ شَيۡـٔٗا وَيَجۡعَلَ ٱللَّهُ فِيهِ خَيۡرٗا كَثِيرٗا ١٩
“Dan bergaullah dengan mereka (para istri) menurut cara yang patut. Jika kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena boleh jadi kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan kebaikan yang banyak padanya.” (QS. An-Nisa’: 19)
Sebuah rumah tangga bisa sampai ke surga tatkala tiap pasangan mengetahui kewajibannya masing-masing, karena kebanyakan pasangan hanya tau haknya daripada kewajibannya.
Lelaki dan wanita itu tidak sama, wanita itu dalam segala perbuatannya sangat mengedepankan perasaan, itulah alasan mengapa hak cerai tidak pada istri. Jika ada yang ingin menyetarakan antara laki-laki dan wanita itu merupakan bentuk kezholiman manusia terhadap para wanita, karena wanita atau Ibu itu derajatnya 3x di atas seorang bapak. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika ditanya:
“Wahai Rasulullah siapakah yang paling berhak mendapatkan pengabdianku?”, Rasulullah menjawab: “Ibumu”, kemudian ditanya kembali: “Setelah itu siapa?”, Rasulullah menjawab: “Setelah itu Ibumu”, kemudian ditanya kembali: “Setelah itu siapa?”, Rasulullah menjawab: “Setelah itu Ibumu”, kemudian ditanya lagi: “Setelah itu siapa?, Rasulullah menjawab: “Setelah itu Bapakmu.”

Keluarga yang Sholeh di Surga
Suami harus selalu sabar menghadapi istri dan istri harus selalu bersyukur kepada suami jika ingin saling menunggu di pintu surga, Allah Ta’ala berfirman:
وَعَاشِرُوهُنَّ بِٱلۡمَعۡرُوفِۚ فَإِن كَرِهۡتُمُوهُنَّ فَعَسَىٰٓ أَن تَكۡرَهُواْ شَيۡـٔٗا وَيَجۡعَلَ ٱللَّهُ فِيهِ خَيۡرٗا كَثِيرٗا
“Dan bergaullah dengan mereka menurut cara yang patut. Jika kamu tidak menyukai mereka (istri kalian), (maka bersabarlah) karena boleh jadi kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan kebaikan yang banyak padanya.” (QS. An-Nisa’: 19)
Terdapat sebuah hadits dari Abdullah bin Abi Aufa yang mengatakan bahwa Rasullullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
لو كنت آمرا أحدا أن يسجد لغير الله لأمرت المرأة أن تسجد لزوجها، وَالَّذِى نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَا تُؤَدِّي الْمَرْأةُ حَقَّ رَبِّها حَتَّى تُؤَدِّى حَقَّ زَوْجِهَا حَتَّى لَوْ سَأَلَهَا عَلَى ظَهْر قَتبٍ أَعْطَتْهُ
“Seandainya aku boleh menyuruh seorang sujud kepada seseorang, maka aku akan perintahkan seorang wanita sujud kepada suaminya. Dan demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangannya, seorang perempuan tidak akan pernah menunaikan hak Rabbnya sampai dia menyelesaikan hak suaminya. Andaikata seorang suami meminta istrinya untuk melayani dirinya dan istrinya sedang berada di atas pelana, maka ia harus memenuhi permintaan suaminya.” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Hibban)
Jadi perempuan jika ingin masuk surga, maka harus taat kepada suaminya, kalau ingin Allah ridho kepadanya maka harus taat kepada suaminya, laksanakan tugasnya sebagai seorang istri, bantu suaminya berbakti kepada orang tuanya. Ketika sama-sama ingin masuk surga, maka suami, istri, orang tua, dan mertua harus bekerja sama dengan cara setiap orang mengetahui kewajibannya, istri taat kepada suami, suami sebagai anak berbakti kepada orang tua.
Pintu surga itu jumlahnya ada delapan, yang mana lebarnya seperti jarak dari Mekkah ke Hajjah yang berkisar kira-kira 1.200 km, nanti pintu itu akan penuh berdesak-desakan, dan pintu surga itu akan dibuka ketika datang nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, mereka berdesak-desakan menunggu pintu itu dibuka akan tetapi ketika menunggu di depan surga itu mereka sudah bahagia, melihat suami atau istri juga ada di depan surga. Dan ketika di dalam surga kelak maka umur kita sama yaitu 33 tahun, dan tinggi kita 60 hasta dan lebarnya 7 hasta.
Allah berfirman di surah At-Thur ayat ke 21,
وَٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَٱتَّبَعَتۡهُمۡ ذُرِّيَّتُهُم بِإِيمَٰنٍ أَلۡحَقۡنَا بِهِمۡ ذُرِّيَّتَهُمۡ وَمَآ أَلَتۡنَٰهُم مِّنۡ عَمَلِهِم مِّن شَيۡءٖۚ كُلُّ ٱمۡرِيِٕۭ بِمَا كَسَبَ رَهِينٞ
“Dan orang-orang yang beriman, beserta anak cucu mereka yang mengikuti mereka dalam keimanan, Kami pertemukan mereka dengan anak cucu mereka (di dalam surga), dan Kami tidak mengurangi sedikit pun pahala amal (kebajikan) mereka. Setiap orang terikat dengan apa yang dikerjakannya.” (QS. At-Thur: 21)
Ibnu Abbas mengatakan: “Sesungguhnya Allah mengangkat anak keturunan orang yang beriman di derajat siapa yang paling tinggi derajatnya”. Contohnya anak berada di derajat 20 dan ayahnya berada di derajat 1, maka sang ayah tadi bisa mengangkat derajat anaknya, akan tetapi ada juga sebagian ulama yang mengatakan tidak bisa, hanya saja mereka bisa saling ziarah (saling berkunjung) ketika di surga.
Di dalam surah Ar-Ra’d ayat 23, Allah berfirman:
جَنَّٰتُ عَدۡنٖ يَدۡخُلُونَهَا وَمَن صَلَحَ مِنۡ ءَابَآئِهِمۡ وَأَزۡوَٰجِهِمۡ وَذُرِّيَّٰتِهِمۡۖ وَٱلۡمَلَٰٓئِكَةُ يَدۡخُلُونَ عَلَيۡهِم مِّن كُلِّ بَابٖ
“(yaitu) surga-surga ‘Ādn, mereka masuk ke dalamnya bersama dengan orang yang saleh dari nenek moyangnya, pasangan-pasangannya dan anak cucunya, sedangkan para malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu.” (QS. Ar-Ra’d: 23)
Ibnu Qoyyim mengatakan: “Semua orang yang berakal dari semua sekte, dari semua kalangan, dari semua agama sepakat, bahwa kenikmatan tidak mungkin bisa didapat dengan kenikmatan”.
Orang-orang yang sekarang sukses tidak mencapai sukses merekan dengan kehidupan yang nyaman mereka harus bertahun-tahun berjuang untuk mencapai kesuksesan tersebut. Barang siapa yang memilih hidup di dunia berleha-leha, selalu ingin kenyamana dan beristirahat, maka dia akan kehilangan waktu istirahat yang sebenarnya, karena dunia ini bukan tempat peristirahatan terakhir, dunia ini seperti rest area yang kita hanya singgah sebentar di sana untuk beritirahat, menyiapkan bekal dan berangkat kembali untuk menuju tujuan kita.
Dan di surat Az-Zukhruf Allah berfirman,
ٱدۡخُلُواْ ٱلۡجَنَّةَ أَنتُمۡ وَأَزۡوَٰجُكُمۡ تُحۡبَرُونَ
Masuklah kamu ke dalam surga, kamu dan pasanganmu akan digembirakan.” (QS. Az-Zukhruf: 70)
Saling Membantu Untuk Mencapai Surga
Suami istri harus saling membantu agar bisa masuk surga bersama, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
رَحِمَ اللهُ رَجُلاً قَامَ مِنَ اللَّيْلِ فَصَلَّى وَأَيْقَظَ اِمْرَأَتَهُ، فَإِنْ أَبَتْ نَضَحَ فِي وَجْهِهَا المَاءَ، رَحِمَ اللهُ اِمْرَأَةً قَامَتْ مِنَ اللَّيْلِ فَصَلَّتْ وَأَيْقَظَتْ زَوْجَهَا، فَإِنْ أَبَى نَضَحَتْ فِي وَجْهِهِ المَاءَ
“Allah merahmati seorang lelaki yang bangun pada malam hari, lalu ia shalat dan membangunkan istrinya. Jika istrinya menolak, ia memercikkan air pada wajahnya. Allah merahmati seorang perempuan yang bangun pada malam hari, lalu ia shalat dan membangunkan suaminya. Jika suaminya menolak, ia memercikkan air pada wajahnya.” (HR. AbuDawud)
Ini merupakan bentuk usaha untuk masuk surga bersama, dan ini adalah contoh romantis yang benar, sang suami istiqomah membangunkan istrinya sepanjang tahun, maka Allah akan merahmati suami dan istri tersebut, sebaliknya istri yang bangun malam sholat dan membangunkan suaminya.
Kerena ada sebagian suami yang bisa untuk bangun malam akan tetapi untuk nonton bola, kenapa kita lebih bisa untuk bangun malam untuk tujuan dunia?, karena neraka itu dekelilingi oleh syahwat manusia, dan surga itu dikelilingi oleh hal-hal yang dibenci oleh jiwa manusia, jika kita pikir dengan baik apa bedanya bangun tengah malam untuk sholat dan bangun tengah malam untuk nonton bola?, perbedaannya ada pada nafsu, karena ketika mengerjakan kebaikan kita tidak ada keinginan untuk melakukannya.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَأَمَّا مَنۡ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِۦ وَنَهَى ٱلنَّفۡسَ عَنِ ٱلۡهَوَىٰ ٤٠ فَإِنَّ ٱلۡجَنَّةَ هِيَ ٱلۡمَأۡوَىٰ
“Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari (keinginan) hawa nafsunya, maka sungguh, surgalah tempat tinggal-(nya).” (QS. An-Nazi’at: 40-41)
Juga firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
فَأَمَّا مَن طَغَىٰ ٣٧ وَءَاثَرَ ٱلۡحَيَوٰةَ ٱلدُّنۡيَا ٣٨ فَإِنَّ ٱلۡجَحِيمَ هِيَ ٱلۡمَأۡوَىٰ
Maka adapun orang yang melampaui batas, dan lebih mengutamakan kehidupan dunia, maka sungguh, nerakalah tempat tinggalnya. (QS. An-Nazi’at: 37-39)
Kemudian cerita ketika sudah di dalam surga, Allah Ta’ala menceritakan di dalam surah As-Shafat 50-61, yang mana Allah Ta’ala berfirman:
فَأَقۡبَلَ بَعۡضُهُمۡ عَلَىٰ بَعۡضٖ يَتَسَآءَلُونَ ٥٠ قَالَ قَآئِلٞ مِّنۡهُمۡ إِنِّي كَانَ لِي قَرِينٞ ٥١ يَقُولُ أَءِنَّكَ لَمِنَ ٱلۡمُصَدِّقِينَ٥٢ أَءِذَا مِتۡنَا وَكُنَّا تُرَابٗا وَعِظَٰمًا أَءِنَّا لَمَدِينُونَ ٥٣ قَالَ هَلۡ أَنتُم مُّطَّلِعُونَ٥٤ فَٱطَّلَعَ فَرَءَاهُ فِي سَوَآءِ ٱلۡجَحِيمِ ٥٥ قَالَ تَٱللَّهِ إِن كِدتَّ لَتُرۡدِينِ٥٦ وَلَوۡلَا نِعۡمَةُ رَبِّي لَكُنتُ مِنَ ٱلۡمُحۡضَرِينَ ٥٧ أَفَمَا نَحۡنُ بِمَيِّتِينَ٥٨ إِلَّا مَوۡتَتَنَا ٱلۡأُولَىٰ وَمَا نَحۡنُ بِمُعَذَّبِينَ٥٩ إِنَّ هَٰذَا لَهُوَ ٱلۡفَوۡزُ ٱلۡعَظِيمُ ٦٠ لِمِثۡلِ هَٰذَا فَلۡيَعۡمَلِ ٱلۡعَٰمِلُونَ
“Lalu mereka berhadap-hadapan satu sama lain sambil bercakap-cakap. Berkatalah salah seorang di antara mereka, “Sesungguhnya aku dahulu (di dunia) pernah mempunyai seorang teman, yang berkata, “Apakah sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang membenarkan (hari berbangkit)?, Apabila kita telah mati dan telah menjadi tanah dan tulang-belulang, apakah kita benar-benar (akan dibangkitkan) untuk diberi pembalasan?”, Dia berkata, “Maukah kamu meninjau (temanku itu)?”,
Maka dia meninjaunya, lalu dia melihat (teman)nya itu di tengah-tengah neraka yang menyala-nyala. Dia berkata, “Demi Allah, engkau hampir saja mencelakakanku, dan sekiranya bukan karena nikmat Tuhanku pastilah aku termasuk orang-orang yang diseret (ke neraka).” Maka apakah kita tidak akan mati? Kecuali kematian kita yang pertama saja (di dunia), dan kita tidak akan diazab (di akhirat ini)?” Sungguh, ini benar-benar kemenangan yang agung. Untuk (kemenangan) serupa ini, hendaklah beramal orang-orang yang mampu beramal.” (QS. As-Shaffat: 50 -61)
Ini lah kesuksesan yang sebenarnya, yaitu dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, jadi kesuksesan itu bukan ketika kita mendapatkan gelar S1, S2, atau S3, iya memang itu kesuksesan, akan tetapi hanya kesuksesan yang fana/sementara, karena ketika mati ijazah mereka tidak dibawa.
Agar kita ingat bahwa pertanyaan di kuburan itu tidak menggunakan ijazah, akan tetapi pertanyaan di kuburan itu adalah tentang apa yang kita percayai dan dan apa yang kita amalkan, maka persiapkanlah hal itu, dan jangan lupa untuk selalu memperbanyak doa untuk keluarga, salah satunya dengan membaca doa yang diambil dari Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
رَبَّنَا هَبۡ لَنَا مِنۡ أَزۡوَٰجِنَا وَذُرِّيَّٰتِنَا قُرَّةَ أَعۡيُنٖ وَٱجۡعَلۡنَا لِلۡمُتَّقِينَ إِمَامًا
“Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Furqan: 74)
Wallahu A’lamu bishowab



