Daftar isi
Kita hidup di dunia ini dengan berbagai macam ujiannya, dengan berbagai macam hal yang akan memalingkan kita dari tujuan kita diciptakan oleh Allah Subḥanahu wa ta‘ala. Kita mengetahui bersama bahwasanya Allah menciptakan manusia dan jin hanya untuk beribadah kepada-Nya. Namun apa-apa yang ada di dunia ini, demikian pula setan, akan memalingkan kita semua dari mengingat Allah Subḥanahu wa ta‘ala dan senantiasa membuat diri kita lupa dari tujuan kita diciptakan oleh Allah Subḥanahu wa ta‘ala.
Mari kita coba renungi firman Allah Subḥanahu wa ta‘ala di dalam Surah Faṭir ayat kelima sampai keenam. Allah berfirman:
يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ إِنَّ وَعۡدَ ٱللَّهِ حَقّٞۖ فَلَا تَغُرَّنَّكُمُ ٱلۡحَيَوٰةُ ٱلدُّنۡيَا وَلَا يَغُرَّنَّكُم بِٱللَّهِ ٱلۡغَرُورُ ٥ إِنَّ ٱلشَّيۡطَٰنَ لَكُمۡ عَدُوّٞ فَٱتَّخِذُوهُ عَدُوًّاۚ إِنَّمَا يَدۡعُواْ حِزۡبَهُۥ لِيَكُونُواْ مِنۡ أَصۡحَٰبِ ٱلسَّعِيرِ ٦
“Wahai manusia! Sungguh, janji Allah itu benar, maka janganlah kehidupan dunia memperdayakan kamu dan janganlah (setan) yang pandai menipu, memperdayakan kamu tentang Allah.
Sungguh, setan itu musuh bagimu, maka perlakukanlah ia sebagai musuh, karena sesungguhnya setan itu hanya mengajak golongannya agar mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala.”
Ayat ini sangat jelas bagi kita semua bahwasanya setan dan pernak-pernik kehidupan dunia yang menipu kita akan senantiasa memalingkan kita, menipu kita, dan membelokkan kita dari jalan kita, di mana Allah Subḥanahu wa ta‘ala menciptakan kita semua untuk beribadah kepada-Nya.

Jalan Kembali dari Kelalaian dan Ghaflah
Oleh karena itu, kami ingin menyampaikan beberapa perkara yang akan mengingatkan kembali kita dari kelalaian, dari ghaflah, dari lupa, di mana manusia ini memang tempatnya lupa dan lalai, agar mereka senantiasa berada di jalur yang lurus. Berada di jalan yang diridai oleh Allah Subḥanahu wa ta‘ala. Jalan yang telah dibuka oleh Nabi ‘alaihiṣṣalatu wassalam, sehingga kita selamat di dalam kehidupan dunia dan selamat di dalam kehidupan akhirat kelak.
1. Tafakur atas Kebesaran Allah Subḥanahu wa ta‘ala
Jalan yang pertama yang akan mengingatkan kita semua kepada Allah dan tujuan diciptakannya manusia adalah senantiasa bertafakur dengan melihat keagungan serta kebesaran Allah Subḥanahu wa ta‘ala, baik yang nampak di hadapan mata ataupun yang termaktub di dalam Al-Qur’anul Karim. Allah Subḥanahu wa ta‘ala berfirman di dalam Surah Ali ‘Imran ayat 190 sampai 191:
إِنَّ فِي خَلۡقِ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ وَٱخۡتِلَٰفِ ٱلَّيۡلِ وَٱلنَّهَارِ لَأٓيَٰتٖ لِّأُوْلِي ٱلۡأَلۡبَٰبِ ١٩٠ ٱلَّذِينَ يَذۡكُرُونَ ٱللَّهَ قِيَٰمٗا وَقُعُودٗا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمۡ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلۡقِ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ رَبَّنَا مَا خَلَقۡتَ هَٰذَا بَٰطِلٗا سُبۡحَٰنَكَ فَقِنَا عَذَابَ ٱلنَّارِ ١٩١
“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berakal,
(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), ‘Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia; Mahasuci Engkau, lindungilah kami dari azab neraka.’”
Ayat ini mengajarkan kepada kita semua tanda-tanda kebesaran Allah Subḥanahu wa ta‘ala yang nampak di hadapan mata kita, bahkan di dalam diri kita sendiri. Bukti bahwa Allah Subḥanahu wa ta‘ala menegakkan langit dan bumi ini agar setiap makhluk beribadah kepada Allah Subḥanahu wa ta‘ala. Agar setiap makhluk-Nya senantiasa mengingat tujuannya: bahwa mereka diciptakan oleh Allah dari sesuatu yang tidak ada, dalam rangka untuk beribadah kepada Allah. Maka jangan kemudian dia lalai, lupa, dan tertipu dengan kehidupan yang dia berada saat ini, sehingga ia lebih mementingkan dunia daripada akhiratnya.
2. Qira’atul Qur’an
Kemudian yang kedua yaitu qira’atul Qur’an, memperbanyak membaca Al-Qur’anul Karim. Dengan itu ia akan mengetahui, melihat, membaca, dan memahami betapa Allah Subḥanahu wa ta‘ala menjadikan Al-Qur’an sebagai surat cinta dari Allah kepada hamba-Nya, sebagai bentuk kasih sayang-Nya agar kita tidak berpaling, tidak lalai, dan selalu teringat kepada Allah Subḥanahu wa ta‘ala. Maka jangan sampai kehidupan dunia melalaikan kita dari membaca Al-Qur’an. Allah Subḥanahu wa ta‘ala berfirman dalam Surah Ṭaha:
مَآ أَنزَلۡنَا عَلَيۡكَ ٱلۡقُرۡءَانَ لِتَشۡقَىٰٓ ٢ إِلَّا تَذۡكِرَةٗ لِّمَن يَخۡشَىٰ ٣
“Kami tidak menurunkan Al-Qur’an ini kepadamu (Muhammad) agar engkau menjadi susah; melainkan sebagai peringatan bagi orang yang takut (kepada Allah).” (QS. Ṭaha: 2–3)
Demikian pula Allah Subḥanahu wa ta‘ala menceritakan banyak kisah di dalam Al-Qur’an, sehingga tidak perlu bagi kita untuk mencari kisah-kisah yang lainnya kecuali bertafakkur dan bertadabbur dengan kisah-kisah yang terdapat di dalam Al-Qur’an. Allah berfirman dalam Surah Al-A‘raf:
…فَٱقۡصُصِ ٱلۡقَصَصَ لَعَلَّهُمۡ يَتَفَكَّرُونَ ١٧٦
“Maka sampaikanlah kisah-kisah tersebut agar mereka bertafakur.” (QS. Al-A‘raf: 176)
Maka sebagai manusia, sebagai ayah, sebagai guru, tidak patut kita mencari kisah-kisah lain kecuali kita kembali mentadabburi kisah dalam Al-Qur’an dan hadis Nabi ‘alaihiṣṣalatu wassalam. Cukuplah semua kisah tersebut agar kita lurus di jalan Allah Subḥanahu wa ta‘ala.
3. Mengingat Kematian dan Alam Kubur
Yang ketiga, peringatan yang akan senantiasa mengingatkan kita dari kelalaian adalah al-maut wal-qabar: kematian dan alam kubur. Nabi ‘alaihiṣṣalatu wassalam bersabda:
أَكْثِرُوا ذِكْرَ هَادِمِ اللَّذَّاتِ
“Perbanyaklah kalian mengingat pemutus segala kenikmatan.” (HR. An-Nasa’ī)
Ketika kematian datang, segala kenikmatan dunia tidak lagi terasa. Maka ingatlah perkara ini agar kita tidak terpukau oleh gemerlap dunia.
4. Mengingat Azab Neraka
Yang keempat adalah mengingat tentang azab neraka. Dikisahkan dalam sebuah hadis bagaimana seseorang yang paling menikmati dunia lalu menjadi penduduk neraka.
يُؤْتَى بِأَنْعَم أَهْلِ الدُّنْيَا مِنْ أَهْلِ النَّارِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ، فَيُصْبَغُ فِي النَّارِ صِبْغَةً ، ثُمَّ يُقَالُ : يَا ابْنَ آدَمَ؛ هَلْ رَأَيْتَ خَيْرًا قَطٌّ؟ هَلْ مَرَّ بِكَ نَعِيْمٌ قَطٌّ؟ فَيَقُوْلُ: لَا وَ اللهِ يَا رَبِّ.
“Pada hari kiamat akan dihadirkan orang yang paling merasakan nikmat di dunia dari kalangan penduduk neraka. Kemudian ia dicelupkan sekali ke dalam neraka lantas ditanyakan padanya, ‘Hai manusia, apakah kamu pernah melihat kebaikan, apakah kamu pernah merasakan kenikmatan?’
Ia menjawab, ‘Tidak, demi Allah wahai Rabb-ku.’
Maka peringatan tentang azab di neraka adalah peringatan bagi kita semua. Orang beriman akan merasakan betapa sehebat apa pun nikmat yang ada di dunia ini, tidak akan menandingi nikmat dibebaskannya kita dari azab neraka dan dimasukkan ke surga Allah Subḥanahu wa ta‘ala. Inilah nikmat yang hakiki, yang dinantikan oleh orang-orang beriman. Bukan malah berleha-leha dengan nikmatnya dunia, dilalaikan dari mengingat Allah, mengikuti sunnah Nabi. Maka betapa banyak kita melihat manusia di zaman ini disibukkan dengan perkataan ini dan itu, mereka tidak mengambil sunnah Nabinya ‘alaihiṣṣalatu wassalam.
5. Keutamaan Majelis Ilmu sebagai Peringatan
Kemudian, di antara perkara yang bermanfaat bagi seseorang yang kelima adalah mendatangi majelis ilmu, majelis yang di dalamnya disampaikan qala Allah wa qala rasuluhu (Al-Qur’an dan As-Sunnah). Allah Subḥanahu wa ta‘ala berfirman:
وَذَكِّرۡ فَإِنَّ ٱلذِّكۡرَىٰ تَنفَعُ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ ٥٥
“Dan tetaplah memberi peringatan, karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang mukmin.” (QS. Adz-Dzariyat: 55)
Peringatan dan pengingat itu akan mengembalikan kita kepada kodrat kita sebagai manusia, sebagai orang beriman, sebagai umat Nabi Muḥammad ‘alaihiṣṣalatu wassalam. Bahwasanya kita punya misi dan tujuan yang telah ditentukan. Maka jangan berpaling dari jalan tersebut. Jangan kita menjadi orang-orang yang lalai, lupa, dan terlupakan dengan pernak-pernik dunia, godaan setan, harta benda, dan hal lain sebagainya. Maka kembalilah, wahai orang-orang yang beriman, kepada jalan Allah dan jalan Nabi Muḥammad ‘alaihiṣṣalatu wassalam.

Peringatan Allah di dalam Al-Qur’an ada banyak sekali, begitu pula peringatan Nabi Muḥammad ‘alaihiṣṣalatu wassalam di hadis-hadis beliau. Namun memang godaan dan cobaan itu datang silih berganti. Allah Subḥanahu wa ta‘ala berfirman dalam Surah Al-Ḥadīd ayat 20:
ٱعۡلَمُوٓاْ أَنَّمَا ٱلۡحَيَوٰةُ ٱلدُّنۡيَا لَعِبٞ وَلَهۡوٞ وَزِينَةٞ وَتَفَاخُرُۢ بَيۡنَكُمۡ وَتَكَاثُرٞ فِي ٱلۡأَمۡوَٰلِ وَٱلۡأَوۡلَٰدِۖ كَمَثَلِ غَيۡثٍ أَعۡجَبَ ٱلۡكُفَّارَ نَبَاتُهُۥ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَىٰهُ مُصۡفَرّٗا ثُمَّ يَكُونُ حُطَٰمٗاۖ وَفِي ٱلۡأٓخِرَةِ عَذَابٞ شَدِيدٞ وَمَغۡفِرَةٞ مِّنَ ٱللَّهِ وَرِضۡوَٰنٞۚ وَمَا ٱلۡحَيَوٰةُ ٱلدُّنۡيَآ إِلَّا مَتَٰعُ ٱلۡغُرُورِ ٢٠
“Ketahuilah, sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan senda gurauan, perhiasan dan saling berbangga di antara kamu serta berlomba dalam kekayaan dan anak keturunan, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian (tanaman) itu menjadi kering, dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridaan-Nya. Dan kehidupan dunia tidak lain hanyalah kesenangan yang palsu.”
Maka marilah kita kembali ke jalan Allah dan jalan Nabi-Nya ‘alaihiṣṣalatu wassalam, agar kita pulang menuju kampung akhirat, kampung yang kekal abadi, kampung di mana orang-orang beriman akan minum dari telaga Nabi ‘alaihiṣṣalatu wassalam.
Baca juga: Pengaruh Tauhid Dalam Kehidupan



