Musim-musim kebaikan telah berlalu. Sepuluh hari pertama bulan Zulhijah yang penuh keutamaan telah meninggalkan kita. Hari Tarwiyah telah berlalu, hari Arafah telah berlalu, Hari Raya Iduladha telah berlalu, demikian pula hari-hari tasyrik dan musim haji. Para jamaah haji pun mulai kembali ke negeri masing-masing.
Namun, ada satu pertanyaan penting yang patut kita renungkan: apakah berlalunya musim kebaikan berarti berakhir pula amal shalih kita?
Amal Shalih Tidak Berakhir Bersama Musimnya
Seorang muslim tidak boleh menjadikan musim-musim ibadah sebagai satu-satunya waktu untuk mendekat kepada Allah. Justru musim-musim tersebut merupakan sarana untuk melatih diri agar tetap istiqamah dalam beribadah sepanjang hayat.
Al-Imam Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah berkata:
الْعَمَلُ لَا يَنْتَهِي بِانْتِهَاءِ مَوَاسِمِهِ، وَإِنَّمَا يَنْتَهِي بِانْتِهَاءِ الْأَجَلِ
“Amal shalih tidak berakhir dengan berakhirnya musimnya. Amal shalih baru berakhir ketika ajal telah tiba.”
Selama nyawa masih dikandung badan, selama itu pula seorang mukmin diperintahkan untuk terus beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Allah Ta'ala berfirman,
وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّىٰ يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ
“Dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu al-yaqin.” (QS. Al-Hijr: 99)
Al-Imam Al-Qurthubi rahimahullah menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan اليقين dalam ayat tersebut adalah kematian. Artinya, ibadah seorang hamba tidak memiliki masa pensiun. Selama ajal belum menjemput, selama itu pula ia harus terus beramal shalih.
Memang sepuluh hari pertama Zulhijah telah berlalu. Akan tetapi, kesempatan beramal shalih masih terbentang luas.
Salat lima waktu masih terus kita tegakkan. Zakat masih bisa kita tunaikan. Sedekah masih dapat kita berikan kepada yang membutuhkan. Al-Qur'an masih bisa kita baca setiap hari. Berbagai bentuk kebaikan lainnya pun tetap dapat kita lakukan.
Karena itu, jangan biarkan semangat beribadah ikut hilang bersama berlalunya musim-musim utama.

Tanda Diterimanya Amal adalah Dimudahkan Beramal Lagi
Para ulama salaf memberikan sebuah kaidah yang sangat indah:
إِنَّ مِنْ ثَوَابِ الْحَسَنَةِ الْحَسَنَةَ بَعْدَهَا
“Sesungguhnya di antara balasan suatu kebaikan adalah dimudahkan untuk melakukan kebaikan berikutnya.”
Apabila seseorang bersungguh-sungguh menghidupkan sepuluh hari pertama Zulhijah dengan berbagai amal shalih, kemudian setelahnya Allah tetap memberinya taufik untuk terus beribadah, maka itu merupakan salah satu tanda bahwa amalnya diterima.
Karena itulah, jangan sampai semangat ibadah hanya muncul pada musim-musim tertentu, lalu menghilang setelah musim tersebut berakhir.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
أَحَبُّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ
“Amalan yang paling dicintai Allah adalah amalan yang dilakukan secara terus-menerus meskipun sedikit.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini mengajarkan bahwa kualitas seorang hamba tidak diukur dari besarnya amal sesaat, tetapi dari kesinambungan amal tersebut. Sedikit namun rutin lebih dicintai Allah daripada banyak tetapi hanya dilakukan sesekali.
Karamah Terbesar adalah Istiqamah
Sebagian orang menganggap karamah seorang wali adalah mampu berjalan di atas air, terbang di udara, atau melakukan perkara-perkara luar biasa.
Padahal para ulama menjelaskan bahwa karamah terbesar bukanlah hal-hal semacam itu, melainkan istiqamah di atas agama Allah.
Al-Imam Asy-Syafi'i rahimahullah berkata:
إِذَا رَأَيْتُمُ الرَّجُلَ يَمْشِي عَلَى الْمَاءِ أَوْ يَطِيرُ فِي الْهَوَاءِ فَلَا تَغْتَرُّوا بِهِ، حَتَّى تَنْظُرُوا كَيْفَ وَقُوفُهُ عِنْدَ الْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ
“Apabila kalian melihat seseorang berjalan di atas air atau terbang di udara, maka janganlah kalian langsung tertipu. Lihatlah terlebih dahulu bagaimana komitmennya terhadap Al-Qur'an dan As-Sunnah.”
Para ulama juga mengatakan,
أَفْضَلُ الْكَرَامَاتِ الِاسْتِقَامَةُ فِي الدِّينِ
“Karamah yang paling agung adalah istiqamah di atas agama.”
Maka keberhasilan terbesar seorang mukmin bukanlah mendapatkan perkara luar biasa, melainkan tetap teguh menjalankan perintah Allah hingga akhir hayatnya.
Ada sebuah kisah yang sangat menyentuh.
Seorang laki-laki pernah bertanya kepada Al-Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah,
مَتَى الرَّاحَةُ
“Kapankah seorang mukmin dapat beristirahat?”
Beliau menjawab,
عِنْدَ أَوَّلِ قَدَمٍ يَضَعُهَا فِي الْجَنَّةِ
“Ketika pertama kali ia menginjakkan kakinya di dalam surga.”
Jawaban ini mengandung pelajaran yang sangat dalam. Selama kita masih hidup di dunia, belum saatnya bermalas-malasan dalam beribadah. Dunia adalah tempat beramal, sedangkan surga adalah tempat beristirahat dan menikmati balasan dari Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Berlalunya Ramadan maupun sepuluh hari pertama Zulhijah bukanlah tanda berakhirnya amal shalih Justru seorang mukmin menjadikan musim-musim kebaikan sebagai bekal untuk terus meningkatkan kualitas ibadahnya sepanjang tahun.
Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala menganugerahkan kepada kita hati yang senantiasa istiqamah, memudahkan kita untuk terus beramal shalih hingga akhir hayat, serta mengumpulkan kita bersama para penghuni surga-Nya.

Baca Juga: Balasan Sesuai Amal



