spot_img
BerandaKhutbah Jumat5 Pelajaran Aqidah di Balik Peristiwa Lailatul Qadar

5 Pelajaran Aqidah di Balik Peristiwa Lailatul Qadar

Berbicara tentang Lailatul Qadar yang ma‘ruf di kalangan kita semua, ada perkara yang jauh lebih penting untuk kita yakini di dalam hati. Kita katakan penting karena ini menyangkut perkara aqidah, yaitu perkara keyakinan yang menjadi asas dan pondasi dalam beragama kepada Allah Subhanahu wa Ta‘ala.

Para ulama telah menjelaskan rahasia di balik malam Lailatul Qadar ditinjau dari sisi aqidah seorang muslim. Setidaknya ada lima perkara aqidah di balik peristiwa Lailatul Qadar yang harus kita yakini sebagai hamba Allah yang mentauhidkan-Nya. Dengan memahami hal ini, diharapkan keimanan kita semakin meningkat dan tauhid kita kepada Allah ‘Azza wa Jalla menjadi semakin sempurna.

1. Penetapan Sifat ‘Uluw (Tingginya Allah)

Perkara aqidah pertama yang terdapat dalam peristiwa Lailatul Qadar adalah penetapan sifat ‘uluw, yaitu sifat tingginya Allah Subhanahu wa Ta‘ala di atas seluruh makhluk-Nya.

Allah Ta‘ala berfirman:

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ

“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam Lailatul Qadar.” (QS. Al-Qadr: 1)

Ketika Allah mengatakan أَنْزَلْنَاهُ (Kami menurunkannya), ini menunjukkan bahwa Al-Qur’an diturunkan dari Allah. Hal ini menunjukkan bahwa Allah berada di atas, di atas ‘Arsy-Nya, di atas seluruh makhluk-Nya.

Sifat ini merupakan sifat dzatiyyah dari Allah yang wajib kita tetapkan sebagaimana Allah tetapkan dalam Al-Qur’an dan sebagaimana dijelaskan oleh Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam. Tidak sempurna tauhid seseorang sampai dia menetapkan sifat-sifat Allah sebagaimana yang Allah tetapkan untuk diri-Nya.

2. Penetapan Bahwa Al-Qur’an Adalah Firman Allah

Perkara aqidah kedua adalah menetapkan bahwa Al-Qur’an yang diturunkan pada malam Lailatul Qadar adalah firman Allah, perkataan Allah ‘Azza wa Jalla.

Allah berfirman:

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ

Kata ganti هُ (hu) dalam ayat ini merujuk kepada Al-Qur’an Al-Karim.

Para ulama tafsir dari kalangan salaf telah menjelaskan hal ini. Di antaranya Imam Ibnu Jarir Ath-Thabari rahimahullah yang mengatakan:

إِنَّا أَنْزَلْنَا هَذَا الْقُرْآنَ جُمْلَةً وَاحِدَةً إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ

“Sesungguhnya Kami menurunkan Al-Qur’an ini secara sekaligus ke langit dunia pada malam Lailatul Qadar.”

Penafsiran ini juga dinukil dari sahabat Abdullah bin ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma.

Al-Qur’an tidak lain adalah kalamullah, firman Allah. Hal ini ditegaskan oleh Allah dalam firman-Nya:

وَإِنْ أَحَدٌ مِنَ الْمُشْرِكِينَ اسْتَجَارَكَ فَأَجِرْهُ حَتَّىٰ يَسْمَعَ كَلَامَ اللَّهِ

“Jika ada seorang dari kaum musyrikin meminta perlindungan kepadamu, maka lindungilah dia sampai ia mendengar firman Allah.” (QS. At-Taubah: 6)

Yang dimaksud kalamullah di sini adalah Al-Qur’an Al-Karim yang Allah turunkan kepada Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam.

5 Pelajaran Aqidah di Balik Peristiwa Lailatul Qadar

3. Al-Qur’an Benar-Benar Berasal dari Allah

Perkara aqidah ketiga adalah menetapkan bahwa Al-Qur’an benar-benar berasal dari Allah, bukan dari makhluk.

Allah berfirman:

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ

“Sesungguhnya Kami yang menurunkan Adz-Dzikr (Al-Qur’an) dan Kami pula yang menjaganya.” (QS. Al-Hijr: 9)

Allah juga menantang manusia dan jin dalam firman-Nya:

أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ وَلَوْ كَانَ مِنْ عِنْدِ غَيْرِ اللَّهِ لَوَجَدُوا فِيهِ اخْتِلَافًا كَثِيرًا

“Maka tidakkah mereka mentadabburi Al-Qur’an? Sekiranya Al-Qur’an itu bukan dari sisi Allah, tentu mereka akan mendapati banyak pertentangan di dalamnya.” (QS. An-Nisa: 82)

Bahkan Allah menegaskan lagi:

قُلْ لَئِنِ اجْتَمَعَتِ الْإِنْسُ وَالْجِنُّ عَلَىٰ أَنْ يَأْتُوا بِمِثْلِ هَٰذَا الْقُرْآنِ لَا يَأْتُونَ بِمِثْلِهِ

“Katakanlah: Jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa dengan Al-Qur’an ini, mereka tidak akan mampu membuat yang serupa dengannya.” (QS. Al-Isra’: 88)

Ini menunjukkan bahwa Al-Qur’an adalah wahyu yang datang dari Allah, bukan perkataan manusia.

4. Penetapan Sifat Al-‘Afwu (Maha Pemaaf)

Perkara aqidah keempat adalah penetapan sifat Al-‘Afwu, yaitu sifat Allah Yang Maha Pemaaf.

Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan doa khusus ketika seseorang mendapatkan Lailatul Qadar. Hal ini diriwayatkan dari Ummul Mukminin ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha:

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَرَأَيْتَ إِنْ عَلِمْتُ أَيُّ لَيْلَةٍ لَيْلَةُ الْقَدْرِ مَا أَقُولُ فِيهَا؟ قَالَ قُولِي: اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي

Artinya: “Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf dan Engkau mencintai pemaafan, maka maafkanlah aku.” (HR. Tirmidzi)

Doa ini menunjukkan bahwa Allah memiliki sifat Al-‘Afwu, yaitu Maha Menghapus dosa hamba-hamba-Nya.

5. Keimanan kepada Takdir Allah

Perkara aqidah kelima adalah keimanan kepada takdir Allah, yang merupakan salah satu rukun iman.

Allah berfirman:

فِيهَا يُفْرَقُ كُلُّ أَمْرٍ حَكِيمٍ

“Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah.” (QS. Ad-Dukhan: 4)

Para ulama tafsir menjelaskan bahwa pada malam Lailatul Qadar Allah menetapkan berbagai takdir tahunan, seperti:

  • ajal seseorang
  • rezeki hamba
  • berbagai peristiwa yang akan terjadi selama satu tahun

Para ulama menyebutnya sebagai التقدير السنوي (takdir tahunan) yang Allah tetapkan pada malam Lailatul Qadar.

5 Pelajaran Aqidah di Balik Peristiwa Lailatul Qadar

Perkara-perkara yang disebutkan oleh para ulama di atas merupakan asas dan pondasi aqidah yang tidak boleh diremehkan. Tidak ada manfaatnya seseorang mengejar Lailatul Qadar namun menolak sifat-sifat Allah, menolak kalamullah, atau mengingkari takdir Allah.

Semua ibadah harus dibangun di atas aqidah yang benar. Sebagaimana kita ketahui, rukun Islam yang pertama adalah syahadat, yaitu:

لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ

Setelah itu barulah datang ibadah-ibadah lainnya seperti shalat, zakat, puasa, dan haji. Artinya, tidak mungkin ibadah seorang hamba diterima oleh Allah jika dibangun di atas aqidah yang keliru. Oleh karena itu, hendaknya kita memperbaiki aqidah kita, mentauhidkan Allah dengan benar, sehingga amal ibadah yang kita lakukan — termasuk dalam mencari Lailatul Qadar — benar-benar diterima oleh Allah Subhanahu wa Ta‘ala dan bermanfaat bagi kita di dunia dan di akhirat.

Baca Juga: Ramadan dan Ketakwaan

ARTIKEL TERKAIT

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

spot_img