spot_img
BerandaKhutbah JumatYang Akan Menemani Manusia di Alam Kubur

Yang Akan Menemani Manusia di Alam Kubur

Manusia selama hidup di dunia sering kali begitu antusias terhadap urusan duniawi. Begitu besar rasa cinta kepada keluarga, anak, pasangan, dan kerabatnya. Begitu pula manusia sangat mencintai harta benda dengan berbagai bentuk dan jenisnya.

Namun kita harus mengingat sebuah hadis agung yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

يَتْبَعُ الْمَيِّتَ ثَلَاثَةٌ، فَيَرْجِعُ اثْنَانِ وَيَبْقَى مَعَهُ وَاحِدٌ، يَتْبَعُهُ أَهْلُهُ وَمَالُهُ وَعَمَلُهُ، فَيَرْجِعُ أَهْلُهُ وَمَالُهُ، وَيَبْقَى عَمَلُهُ

“Yang mengikuti mayit sampai ke kubur ada tiga. Dua akan kembali dan satu akan tetap bersamanya. Yang mengikutinya adalah keluarga, harta, dan amalnya. Maka keluarga dan hartanya akan kembali, sedangkan amalnya akan tetap bersamanya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini mengingatkan kita bahwa seluruh hal yang selama ini kita banggakan di dunia pada akhirnya akan meninggalkan kita. Keluarga yang dicintai, harta yang dikumpulkan, jabatan yang dibanggakan, semuanya akan berhenti pada batas kehidupan dunia. Yang benar-benar menemani seseorang di alam kubur hanyalah amal ibadah.

Ibnu Hibban juga meriwayatkan hadis dari Anas bin Malik bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

لِابْنِ آدَمَ ثَلَاثَةُ أَخِلَّاءَ
فَأَمَّا خَلِيلٌ فَيَقُولُ: مَا أَنْفَقْتَ فَلَكَ، وَمَا أَمْسَكْتَ فَلَيْسَ لَكَ، فَهَذَا مَالُهُ
وَأَمَّا خَلِيلٌ فَيَقُولُ: أَنَا مَعَكَ، فَإِذَا أَتَيْتَ بَابَ الْمَلِكِ تَرَكْتُكَ وَرَجَعْتُ، فَذَلِكَ أَهْلُهُ وَحَشَمُهُ
وَأَمَّا خَلِيلٌ فَيَقُولُ: أَنَا مَعَكَ حَيْثُ دَخَلْتَ وَخَرَجْتَ، فَهَذَا عَمَلُهُ
فَيَقُولُ: إِنْ كُنْتَ لَأَهْوَنَ الثَّلَاثَةِ عَلَيَّ

“Anak Adam memiliki tiga kekasih. Satu kekasih berkata: ‘Apa yang engkau infakkan, maka itulah milikmu. Sedangkan apa yang engkau tahan, maka itu bukan milikmu.’ Itulah hartanya. Kekasih yang lain berkata: ‘Aku akan bersamamu. Namun ketika engkau sampai di pintu raja (kubur), aku akan meninggalkanmu dan kembali.’ Itulah keluarga dan kerabatnya. Sedangkan kekasih yang lainnya berkata: ‘Aku akan selalu bersamamu ke mana pun engkau pergi.’ Itulah amalnya. Lalu manusia itu berkata: ‘Dahulu engkau adalah yang paling aku remehkan di antara ketiganya.’”

Betapa sering manusia lebih sibuk mengurus dunia dibandingkan memperhatikan amal ibadahnya. Padahal amal itulah yang akan terus bersamanya ketika semua yang lain telah pergi meninggalkannya.

Inilah keadaan kita selama hidup di dunia. Betapa kita meremehkan amal ibadah dan betapa perhatiannya kita kepada hal-hal yang bersifat duniawi. Padahal Rasul ﷺ telah tegas menerangkan kepada kita, harta yang kita kumpulkan, keluarga yang kita bersamai, anak yang kita bangga-banggakan, mereka semua tidak bisa menemani kita ketika kita telah dipanggil oleh Allah ﷻ. Hanya satu yang akan menemani kita, yaitu amal ibadah kita.

Karena itulah Allah ﷻ memerintahkan hamba-Nya untuk beramal dan beribadah kepada-Nya. Allah Ta‘ala berfirman:

وَقُلِ ٱعْمَلُوا۟ فَسَيَرَى ٱللَّهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُولُهُۥ وَٱلْمُؤْمِنُونَ ۖ وَسَتُرَدُّونَ إِلَىٰ عَٰلِمِ ٱلْغَيْبِ وَٱلشَّهَٰدَةِ فَيُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ

“Dan katakanlah: ‘Beramallah kalian, maka Allah akan melihat amal kalian, begitu pula Rasul-Nya dan orang-orang mukmin. Dan kalian akan dikembalikan kepada Allah Yang Mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu Dia memberitakan kepada kalian apa yang telah kalian kerjakan.’” (QS. At-Taubah: 105)

Allah ﷻ juga menjanjikan balasan yang besar bagi orang-orang yang beramal saleh. Allah Ta‘ala berfirman:

إِنَّ ٱلْمُتَّقِينَ فِى جَنَّٰتٍ وَنَعِيمٍ فَٰكِهِينَ بِمَآ ءَاتَىٰهُمْ رَبُّهُمْ وَوَقَىٰهُمْ رَبُّهُمْ عَذَابَ ٱلْجَحِيمِ كُلُوا۟ وَٱشْرَبُوا۟ هَنِيٓـًٔۢا بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ

“Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa berada dalam surga dan kenikmatan. Mereka bergembira dengan apa yang diberikan Rabb mereka kepada mereka, dan Rabb mereka menjaga mereka dari azab neraka. Dikatakan kepada mereka: ‘Makan dan minumlah dengan penuh kenikmatan sebagai balasan atas apa yang dahulu kalian kerjakan.’” (QS. At-Tur: 17-19)

Allah ﷻ juga berfirman:

وَتِلْكَ ٱلْجَنَّةُ ٱلَّتِىٓ أُورِثْتُمُوهَا بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ

“Itulah surga yang diwariskan kepada kalian disebabkan amal-amal yang dahulu kalian kerjakan.” (QS. Az-Zukruf: 72)

Amal ibadah adalah kekasih sejati seorang mukmin. Adapun harta dan keluarga, semuanya akan berpisah dengan kita.

Allah ﷻ telah memperingatkan:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لَا تُلْهِكُمْ أَمْوَٰلُكُمْ وَلَآ أَوْلَٰدُكُمْ عَن ذِكْرِ ٱللَّهِ ۚ وَمَن يَفْعَلْ ذَٰلِكَ فَأُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلْخَٰسِرُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah harta-harta kalian dan anak-anak kalian melalaikan kalian dari mengingat Allah. Barang siapa berbuat demikian, maka mereka itulah orang-orang yang merugi.” (QS. AL-Munafiqun: 9)

Betapa banyak manusia yang waktunya habis untuk mengejar dunia, tetapi lalai dalam salat, malas membaca Al-Qur’an, berat untuk bersedekah, dan enggan menghadiri majelis ilmu. Padahal seluruh kenikmatan dunia akan terputus, sedangkan amal saleh akan terus menyertainya hingga ke akhirat.

Amal yang Akan Menemani Manusia di Alam Kubur

Amal yang Diterima di Sisi Allah

Agar amal diterima di sisi Allah ﷻ, para ulama menjelaskan bahwa ada dua syarat utama.

1. Ikhlas karena Allah

Allah memerintahkan kita untuk beramal dengan amal ibadah, dengan amal yang terbaik. Dan sifat dari amal yang terbaik adalah amal yang dikerjakan dengan penuh keikhlasan. Dia memaksudkan dari apa yang dia kerjakan hanya kepada Allah ﷻ. Dia mampu menjaga amalnya dari pandangan manusia sebagaimana dia mampu menjaga keburukannya dari pengetahuan manusia. Dan inilah hakikat orang yang ikhlas. Orang yang ikhlas adalah orang yang menyembunyikan amal ibadahnya sebagaimana dia menyembunyikan keburukannya.

Disebutkan oleh salah seorang yang bernama Ya'qub Al-Maktuf:

الْمُخْلِصُ مَنْ يَكْتُمُ حَسَنَاتِهِ كَمَا يَكْتُمُ سَيِّئَاتِهِ

“Orang yang ikhlas adalah orang yang menyembunyikan kebaikan-kebaikannya sebagaimana ia menyembunyikan keburukan-keburukannya.”

Allah ﷻ memerintahkan kita semua agar ikhlas di dalam beramal. Allah ﷻ berfirman:

إِنَّآ أَنْزَلْنَآ إِلَيْكَ ٱلْكِتَٰبَ بِٱلْحَقِّ فَٱعْبُدِ ٱللَّهَ مُخْلِصًا لَّهُ ٱلدِّينَ

“Sesungguhnya Kami menurunkan Kitab kepadamu dengan membawa kebenaran. Maka sembahlah Allah dengan memurnikan ketaatan hanya kepada-Nya.” (QS. Az-Zumar: 2)

2. Mengikuti Tuntunan Rasulullah ﷺ

Agama Islam adalah agama yang sempurna. Semua ajaran Islam telah dijelaskan oleh Rasulullah ﷺ. Bahkan di dalam sebuah hadis Rasulullah ﷺ menerangkan, Tidak ada satupun yang mampu mendekatkan seseorang kepada surganya Allah dan mampu menjauhkan seseorang dari nerakanya Allah, melainkan semuanya telah diterangkan oleh Rasulullah ﷺ.

Amalan yang dikerjakan tanpa dasar dari tuntunan Rasulullah ﷺ, maka amalan itu tertolak. Sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ,

مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

“Barang siapa melakukan suatu amalan yang tidak ada tuntunannya dari kami, maka amalan itu tertolak.” (HR. Muslim)

Hari-hari ini adalah hari yang sangat agung di sisi Allah ﷻ, yaitu 10 hari pertama bulan Zulhijah.

Rasulullah ﷺ bersabda:

مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيهَا أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ هَذِهِ الْأَيَّامِ يَعْنِي أَيَّامَ الْعَشْرِ
قَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، وَلَا الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ؟
قَالَ: وَلَا الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ، إِلَّا رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ فَلَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذَلِكَ بِشَيْءٍ

“Tidak ada hari-hari yang amal saleh di dalamnya lebih dicintai Allah daripada hari-hari ini, yaitu 10 hari pertama Zulhijah.” Para sahabat bertanya, “Tidak juga jihad di jalan Allah?” Beliau menjawab, “Tidak juga jihad di jalan Allah, kecuali seseorang yang keluar berjihad dengan jiwa dan hartanya lalu tidak kembali sedikit pun.” (HR. Abu Dawud)

Karena itu, hendaknya seorang muslim memanfaatkan hari-hari tersebut dengan memperbanyak salat, puasa, sedekah, zikir, membaca Al-Qur’an, dan amal-amal saleh lainnya.

Di antara hari yang paling mulia dalam 10 hari Zulhijah adalah hari Arafah.

Rasulullah ﷺ menjelaskan tentang keutamaan puasa Arafah:

صِيَامُ يَوْمِ عَرَفَةَ، إِنِّي أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ وَالسَّنَةَ الَّتِي بَعْدَهُ

“Puasa pada hari Arafah, aku berharap kepada Allah agar dapat menghapus dosa setahun sebelumnya dan setahun sesudahnya.” (HR. Muslim)

Selain puasa, Rasulullah ﷺ juga menganjurkan untuk memperbanyak doa pada hari Arafah. Beliau bersabda:

خَيْرُ الدُّعَاءِ دُعَاءُ يَوْمِ عَرَفَةَ، وَخَيْرُ مَا قُلْتُ أَنَا وَالنَّبِيُّونَ مِنْ قَبْلِي:
لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

“Sebaik-baik doa adalah doa pada hari Arafah. Dan sebaik-baik ucapan yang aku dan para nabi sebelumku ucapkan adalah: Lā ilāha illallāhu waḥdahu lā syarīka lah, lahul mulku wa lahul ḥamdu wa huwa ‘alā kulli syai’in qadīr.” (HR. Tirmidzi)

Inilah hari-hari yang sangat berharga. Jangan sampai seorang muslim melewatinya dalam keadaan lalai dan sibuk hanya dengan urusan dunia. Karena pada akhirnya, yang akan menemani kita di alam kubur bukanlah harta dan keluarga, tetapi amal saleh yang kita persembahkan untuk Allah Subhanahu wa Ta‘ala.

Amal yang Akan Menemani Manusia di Alam Kubur

Baca juga: 10 Hari Pertama Dzulhijah: Musim Kebaikan yang Paling Mulia

ARTIKEL TERKAIT

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

spot_img