spot_img
BerandaAdab dan AkhlakAdab dalam Bermajelis: Menjaga Etika Seorang Penuntut Ilmu

Adab dalam Bermajelis: Menjaga Etika Seorang Penuntut Ilmu

Adab dalam bermajelis merupakan salah satu akhlak yang sepatutnya diketahui dan diamalkan oleh setiap muslim, terlebih lagi bagi para penuntut ilmu. Hal ini sebagaimana yang dijelaskan oleh Syaikh Shalih bin Abdullah bin Hamad Al-Ushaimi hafizhahullah dalam kitab beliau “Al-Adab Asy-Asyarah” yang membahas tentang adab-adab seorang muslim dalam kehidupan sehari-hari.

Mengucapkan Salam Saat Masuk Majelis

Syaikh Al-Ushaimi menyebutkan:

“Apabila engkau datang kepada suatu majelis maka ucapkanlah salam kemudian duduklah di tempat kosong dari majelis. Jangan duduk di antara sinar matahari dan bayangan. Jangan memisahkan antara dua orang kecuali dengan izin keduanya. Jangan menyuruh seseorang bangun dari tempat duduknya. Berilah kelapangan bagi orang yang baru datang. Berdzikirlah kepada Allah, dan minimal bacalah doa kafaratul majelis.”

Hal ini sesuai dengan hadits dari Imran bin Hushain radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan ganjaran yang berbeda sesuai dengan kesempurnaan salam:

عَنْ عِمْرَانَ بْنِ حُصَيْنٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِىِّ صَلَّى الله عَلَيهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ. فَرَدَّ عَلَيْهِ السَّلاَمَ ثُمَّ جَلَسَ، فَقَالَ النَّبِىُّ  صَلَّى الله عَلَيهِ وَسَلَّمَ : «عَشْرٌ ». ثُمَّ جَاءَ آخَرُ فَقَالَ: السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ. فَرَدَّ عَلَيْهِ فَجَلَسَ، فَقَالَ: « عِشْرُونَ ». ثُمَّ جَاءَ آخَرُ فَقَالَ: السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ. فَرَدَّ عَلَيْهِ فَجَلَسَ، فَقَالَ « ثَلاَثُونَ » صحيح رواه أبو داود والترمذي وغيرهما.

Dari ‘Imran bin Hushain Radhiyallahu anhu dia berkata: Seorang laki-laki datang kepada Rasulallah Shalallahu Alaihi Wasallam lalu berkata: Assalamu‘alaikum (semoga keselamatan dari Allah tercurah untukmu). Lalu Rasulallah Shalallahu Alaihi Wasallam membalas salam orang tersebut, kemudian orang tersebut duduk dan Rasulallah Shalallahu Alaihi Wasallam bersabda: “(Dia mendapatkan) sepuluh kebaikan”.

Kemudian datang orang lain kepada Beliau Shalallahu Alaihi Wasallam lalu berkata: Assalamu‘alaikum Warahmatullahi (semoga keselamatan dan rahmat dari Allah tercurah untukmu). Lalu Beliau Shalallahu Alaihi Wasallam membalas salam orang tersebut kemudian orang tersebut duduk dan Shalallahu Alaihi Wasallam bersabda: “(Dia mendapatkan) dua puluh kebaikan”. Kemudian datang lagi orang lain kepada Beliau Shalallahu Alaihi Wasallam lalu berkata: Assalamu‘alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh (semoga keselamatan, rahmat dan keberkahan dari Allah tercurah untukmu). Lalu Beliau Shalallahu Alaihi Wasallam membalas salam orang tersebut, kemudian orang tersebut duduk dan Shalallahu Alaihi Wasallam bersabda: “(Dia mendapatkan) tiga puluh kebaikan” (HR. Abu Daud)

Allah Ta'ala juga berfirman:

وَاِذَا حُيِّيْتُمْ بِتَحِيَّةٍ فَحَيُّوْا بِاَحْسَنَ مِنْهَآ اَوْ رُدُّوْهَا ۗ اِنَّ اللّٰهَ كَانَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ حَسِيْبًا

“Apabila kamu dihormati dengan suatu penghormatan (salam), balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik daripadanya atau balaslah dengan yang sepadan.” (QS. An-Nisa: 86).

Adab dalam Bermajelis

Duduk di Tempat Kosong dan Tidak Memaksa di Depan

Adab lainnya adalah memilih tempat duduk yang tersedia tanpa memaksa untuk berada di depan. Duduklah di tempat kosong atau akhir barisan sebagai bentuk penghormatan terhadap orang lain. Dalam budaya Arab, duduk merapat dan bersama adalah bentuk kesungguhan dalam menyimak ilmu, bukan menyendiri atau duduk menyebar.

Larangan Duduk di Antara Tempat yang Terkena Sinar dan Teduh

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا كَانَ أَحَدُكُمْ فِي الشَّمْسِ فَقَلَصَ عَنْهُ الظِّلُّ، فَصَارَ بَعْضُهُ فِي الشَّمْسِ وَبَعْضُهُ فِي الظِّلِّ فَلْيَقُمْ

“Jika kalian berada di tempat yang panas, lalu bayangan menutupi sebagian tubuh dan sebagian lagi terkena sinar, maka hendaknya ia pindah.” (HR. Abu Daud)

Dalam riwayat lain disebutkan:

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ نَهَى أَنْ يُجْلَسَ بَيْنَ الضِّحِّ وَ الظِّلِّ وَ قَالَ مَجْلِسُ الشَّيْطَانِ

“Rasulullah melarang duduk di antara panas dan naungan. Beliau bersabda, itu adalah tempat duduknya setan.” (HR. Ahmad)

Namun, menurut Syaikh Al-Ushaimi, hadits yang menyatakan “tempat duduk setan” tersebut tidak shahih, sedangkan larangan secara umum tetap berlaku berdasarkan hadits shahih lainnya.

Tidak Memisahkan Dua Orang atau Mengusir dari Tempat Duduk

Islam melarang seseorang untuk memisahkan dua orang yang sedang duduk tanpa izin atau menyuruh seseorang bangkit demi menempati tempat tersebut. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لا يُقِيمُ الرجلُ الرجلَ من مَجْلِسِهِ، ثم يجلس فيه، ولكن تَفَسَّحُوا، وتَوَسَّعُوا

“Janganlah seseorang membangunkan orang lain dari tempat duduknya lalu dia duduk di situ. Tapi berlapang-lapanglah.” (HR. Bukhari)

Melapangkan Tempat Bagi yang Datang

Allah Ta'ala berfirman:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِذَا قِيْلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوْا فِى الْمَجٰلِسِ فَافْسَحُوْا يَفْسَحِ اللّٰهُ لَكُمْۚ

“Wahai orang-orang yang beriman, apabila dikatakan kepadamu “Berilah kelapangan di dalam majelis-majelis,” lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu” (QS. Al-Mujadalah:11)

Kelapangan di sini mencakup kelapangan fisik dan kelapangan hati, yang akan dibalas oleh Allah dengan ketenangan dan kemuliaan.

Baca Juga : Adab Meminta Izin Masuk Rumah Menurut Islam: Etika yang Sering Diabaikan

Berdzikir dan Membaca Doa Kafaratul Majelis

Syaikh Al-Ushaimi menyatakan pentingnya berdzikir dalam majelis. Minimal bacalah doa kafaratul majelis:

“Subhanakallahumma wa bihamdika, asyhadu allaa ilaaha illaa anta, astaghfiruka wa atuubu ilaik.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadikan doa ini sebagai penebus terhadap kelalaian atau kesalahan yang mungkin terjadi dalam majelis:

“Itu adalah penebus (penghapus dosa) atas apa yang terjadi dalam majelis.” (HR. Abu Hurairah)

Adapun majelis yang tidak disertai dengan dzikrullah akan menjadi penyesalan:

“Setiap kaum yang bangkit dari majelis tanpa menyebut nama Allah, maka majelis itu seperti bangkai keledai dan akan menjadi penyesalan bagi mereka.” (HR. Abu Daud dan Ahmad)

Penutup

Demikianlah beberapa adab bermajelis yang seharusnya diperhatikan dan diamalkan oleh setiap muslim, terutama para penuntut ilmu. Majelis ilmu adalah ladang keberkahan dan kemuliaan, maka hendaknya kita menjaga etika dan adab di dalamnya demi meraih keberkahan tersebut. Wallahu a'lam.

ARTIKEL TERKAIT

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

spot_img