spot_img
BerandaAdab dan AkhlakSebab-Sebab Kelapangan Dada dalam Islam Menurut Al-Qur’an dan Sunnah

Sebab-Sebab Kelapangan Dada dalam Islam Menurut Al-Qur’an dan Sunnah

Pasti setiap orang atau seorang muslim pernah tertimpa dengan kesempitan jiwa, serta apa saja yang ada di pikiran dan perasaannya baik kegundahan, kecemasan, ataupun kesedihan.

Demikian yang dikatakan oleh Ibnu Hazm. Ia mengatakan, “Aku amati pada setiap orang, maka aku dapati bahwa usaha yang mereka lakukan semuanya adalah untuk satu tujuan yang diinginkan, walaupun cara yang mereka tempuh berbeda-beda dalam mewujudkannya. Aku lihat mereka semua tujuan usaha yang mereka lakukan adalah dalam rangka menghindarkan atau menghilangkan perasaan mereka dari kecemasan dan kegundahan. Diantara mereka untuk mewujudkannya dengan makan dan minum, diantara mereka adanya menyibukkan diri dengan bisnis dan usaha perdagangan, ada pula yang dengan menikah, ada pula yang sibuk dengan permainan dan senda gurau serta yang lainnya.

Namun aku amati setiap cara ini tidak ada cara yang tepat untuk sampai kepada tujuan tersebut, bahkan banyak dari cara-cara tersebut malah sebaliknya menambah cemas dan kegundahan pada dada-dada mereka.”

Lantas bagaimanakah cara yang tepat untuk menggapai kelapangan dada tersebut?

Sebab-Sebab Kelapangan Dada

Ibnul Qayyum menyebutkan beberapa cara yang dapat melapangkan hati seseorang.

1. Tauhid

Dengan mempelajari dan mengimplementasikan tauhid dalam kehidupan. Karena semakin tauhid itu sempurna, kuat dan tumbuh besar dalam hati seseorang maka semakin akan menyebabkan semakin lapang dadanya dia. Allah berfirman:

أَفَمَن شَرَحَ اللَّهُ صَدْرَهُ لِلْإِسْلَامِ فَهُوَ عَلَىٰ نُورٍ مِّن رَّبِّهِ ۚ فَوَيْلٌ لِّلْقَاسِيَةِ قُلُوبُهُم مِّن ذِكْرِ اللَّهِ ۚ أُولَٰئِكَ فِي ضَلَالٍ مُّبِينٍ (22)

Maka apakah orang-orang yang dibukakan Allah hatinya untuk (menerima) agama Islam lalu ia mendapat cahaya dari Tuhannya (sama dengan orang yang membatu hatinya)? Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka yang telah membatu hatinya untuk mengingat Allah. Mereka itu dalam kesesatan yang nyata. 

 ومن يرد أن يضله يجعل صدره ضيقا حرجا كأنما يصعد في السماء

Dan barang siapa yang dikehendaki Allah kesesatannya, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit.

Hidayah petunjuk dan mentauhidkan Allah menjadi sebab­­­ terbesar yang dapat melapangkan hati, sebaliknya kesirikan dan kesesatan menjadi sebab terbesar sempitnya dada.

2. Cahaya dari Allah

Cahaya yang Allah berikan di dalam hati seorang hamba, itulah cahaya ilmu. Cahaya itulah yang menyebabkan kelapangan dada, meluaskan dada, membahagiakan hati. Jika cahaya ini hilang dari hati seorang maka ia akan merasa sempit dan kegalauan, sehingga ia seolah berada di penjara yang paling sempit dan paling menderita. Sehingga kadar kelapangan dada seseorang sesuai kadar cahaya ini ada pada dalam hatinya.

أَوَمَن كَانَ مَيْتًا فَأَحْيَيْنَاهُ وَجَعَلْنَا لَهُ نُورًا يَمْشِي بِهِ فِي النَّاسِ كَمَن مَّثَلُهُ فِي الظُّلُمَاتِ لَيْسَ بِخَارِجٍ مِّنْهَا ۚ كَذَٰلِكَ زُيِّنَ لِلْكَافِرِينَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ (122)

Dan apakah orang yang sudah mati kemudian dia Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia, serupa dengan orang yang keadaannya berada dalam gelap gulita yang sekali-kali tidak dapat keluar dari padanya? Demikianlah Kami jadikan orang yang kafir itu memandang baik apa yang telah mereka kerjakan. (QS Al An’am:122)

Baca Juga: Siraman Hati dan Istiqomahnya Hati

3. Ilmu

Ilmu akan melapangkan dada, ilmu akan melapangkan dada seseorang sehingga serasa lebih luas dari dunia, adapun kejahilan akan mewariskan kesempitan, keterbatasan, dan ketersiksaan. Tiap kali ilmu seorang hamba semakin luas semakin lapang. Namun keutamaan ini tidak ada pada setiap ilmu, ilmu yang mendatangkan kelapangan dada adalah ilmu yang diwarisi dari Nabi shallallahua’alaihi wa sallam, itulah ilmu yang bermanfaat. Pemilik ilmu tersebut orang yang paling lapang dadanya, orang yang paling luas hatinya, orang yang akhlaknya paling baik, dan orang yang terbaik kehidupannya.

4. Inabah kembali kepada Allah

Mencintai Allah dengan sepenuh hati, menikmati beribadah kepada-Nya. Tidak ada yang dapat menyebabkan dada lebih lapang dari hal tersebut. Sebagaimana Allah berfirman :

مَنْ عَمِلَ صَٰلِحًا مِّن ذَكَرٍ أَوْ أُنثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُۥ حَيَوٰةً طَيِّبَةً ۖ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُم بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا۟ يَعْمَلُونَ

Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan. (QS An Nahl: 97).

Kecintaan dalam beribadah memiliki pengaruh yang luar biasa dalam memberikan kelapangan dada, dan kenikmatan di hati, yang kenikmatan ini tidak bisa dirasakan kecuali orang yang indra untuk merasakan hal tersebut. Semakin kuat kecintaan beribadah dalam dada seseorang maka semakin luas dan lapang dadanya.

Sebaliknya, diantara sebab terbesar kesempitan dada adalah berpaling dari Allah, dan bergantungnya hati kepada selain-Nya, lalai dari mengingatnya, serta mencintai selain-Nya ِ Allah berfirman:

وَمَنْ أَعْرَضَ عَن ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَىٰ (124)

Dan barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta. (QS Thaha: 124).

Barang siapa yang mencintai sesuatu selain Allah maka akan mendatangkan azab kepadanya, dan hatinya akan terbelenggu dalam kecintaannya.

5. Berdzikir

Senantiasa berzikir mengingat-Nya dalam segala keadaan, dan segala tempat. Berzikir mengingat Allah memiliki pengaruh yang luar biasa dalam mendatangkan kelapangan hati dan kenikmatan dalam hati. Sebaliknya kelalaian memiki pengaruh yang luar biasa pada kesempitan dada, kegalauan dan perasaan terbelenggu.

الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ اللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ (28)

(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram. ( ar Ra’d: 28).

Sebab-Sebab Kelapangan Hati

6. Berbuat baik

Berbuat baik kepada makhluk dan berbagi manfaat kepada orang lain, baik dengan harta, kedudukan, ataupun dengan tenaga. Karena orang yang dermawan dan murah hati merekalah orang yang paling luas dadanya, orang yang paling baik jiwanya, dan orang yang paling merasakan kenikmatan dalam hatinya. Sebaliknya orang yang bakhil yang tidak berbuat baik serta berbagi kepada selainnya adalah orang yang paling sempit hatinya, orang yang paling murung kehidupannya. Dalam hadis sahih yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim terdapat sebuah hadis yang diriwayatkan dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, bahwa Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,

مَثَلَ البَخِيلِ والْمُتَصَدِّقِ، كَمَثَلِ رَجُلَيْنِ عليهما جُنَّتانِ مِن حَدِيدٍ، قَدِ اضْطُرَّتْ أيْدِيهِما إلى ثُدِيِّهِما وتَراقِيهِما، فَجَعَلَ المُتَصَدِّقُ كُلَّما تَصَدَّقَ بصَدَقَةٍ انْبَسَطَتْ عنْه، حتَّى تُغَشِّيَ أنامِلَهُ وتَعْفُوَ أثَرَهُ، وجَعَلَ البَخِيلُ كُلَّما هَمَّ بصَدَقَةٍ قَلَصَتْ، وأَخَذَتْ كُلُّ حَلْقَةٍ مَكانَها. قالَ: فأنا رَأَيْتُ رَسولَ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عليه وسلَّمَ يقولُ: بإصْبَعِهِ في جَيْبِهِ فلوْ رَأَيْتَهُ يُوَسِّعُها ولا تَوَسَّعُ

“Perumpamaan orang yang bakhil dan orang yang menafkahkan hartanya bagaikan dua orang yang memakai baju besi, tetapi baju besi itu telah mengimpit kedua tangannya dan buah dadanya hingga tulang selangkanya. Adapun baju besi yang dipakai oleh orang yang bersedekah, setiap kali ia bersedekah maka baju besinya akan melonggar, hingga akhirnya menutupi seluruh badan hingga jari-jari kakinya, bahkan dapat menghapus bekas jejak kakinya. Sedangkan jubah besi yang dipakai oleh orang yang bakhil, maka setiap kali ia menolak untuk menafkahkan hartanya, niscaya baju besi itu akan menyempit sehingga menempel ketat di kulitnya.”

Abu Hurairah berkata: Saya melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dengan memberi isyarat menggunakan jari-jemarinya di dalam kantong bajunya: “Sekiranya kalian melihatnya ia berusaha untuk meluaskannya, namun perisai itu tetap saja tidak dapat melonggar.

7. Meninggalkan hal yang berlebihan

Berlebihan dalam makan, minum, melihat, berbicara, mendengar dan pergaulan. Karena berlebihan seperti ini akan menimbulkan luka, resah, gundah di dalam hati, sehingga hal tersebut membuatnya susah, sempit dan terbelenggu. Betapa sempitnya orang yang terjebak pada lubang-lubang bahaya tersebut dan betapa luasnya orang yang dapat mengamalkan sifat-sifat tersebut.

Nabi shallallahu’alaihi wa sallam adalah orang yang paling mulia dalam sifat atau perilaku yang dapat mendatangkan kelapangan dada, dan keluasan hati. Barang siapa yang paling semangat mengikuti beliau maka ia akan mendapatkan kelapangan dada, dan kelezatan ruh hidup di dunia. Semoga Allah memudahkan kita untuk mengamalkan hal-hal tersebut dan mengaruniakan kepada kita kelapangan dada, keluasan hati, dan kehidupan yang bahagia. Dapatkan tulisan-tulisan bermanfaat, artikel islami yang dapat menyuburkan iman di aliman.id. Yuk, bagikan artikel ini kepada yang lainnya. Baarakallah fiikum

Dinukil, diringkas, diterjemahkan dari kitab ad Durrar al Muntaqah karya Syaikh Amin Abdullah As Syaqawiy hafizhahullah  oleh Catur Baro Hapsako, S.Pd., M.Sos.

ARTIKEL TERKAIT

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

spot_img