Daftar Isi
Allah subhanahu wa ta’ala menciptakan makhluk dan alam semesta dengan kebenaran, tidak ada yang terjadi tiba-tiba atau tanpa tujuan yang utama. Tidak ada yang sia-sia dalam ciptaan Allah subhanahu wa ta’ala. Bahkan manusia yang dimuliakan dan disempurnakan penciptaannya oleh Allah subhanahu wa ta’ala, memiliki tujuan yang mulia dan hikmah yang agung yaitu untuk ber-ubudiyyah (beribadah) kepadaa Allah subhanahu wa ta’ala.
اَفَحَسِبۡتُمۡ اَنَّمَا خَلَقۡنٰكُمۡ عَبَثًا وَّاَنَّكُمۡ اِلَيۡنَا لَا تُرۡجَعُوۡنَ فَتَعٰلَى اللّٰهُ الۡمَلِكُ الۡحَـقُّ ۚ لَاۤ اِلٰهَ اِلَّا هُوَ رَبُّ الۡعَرۡشِ الۡـكَرِيۡمِ
“Maka apakah kamu mengira bahwa Kami menciptakan kamu main-main (tanpa ada maksud) dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami? Maka Mahatinggi Allah, Raja yang sebenarnya; tidak ada tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Tuhan (yang memiliki) Arasy yang mulia.” (Qs. Al-Mu’minun: 115-116)
Dalam ayat yang lain Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,
اَيَحۡسَبُ الۡاِنۡسَانُ اَنۡ يُّتۡرَكَ سُدًىؕ
“Apakah manusia mengira, dia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggung-jawaban)?” (Qs. Al-Qiyamah: 36)
Kata Al-Imam Asy-Syafi’i, tidak ada perintah yang datang dari Allah untuk dilaksanakan dan larangan dari Allah untuk ditinggalkan. Mereka mengira tidak akan dihisab dan tidak diberikan sangsi terhadap kejahatan mereka atau pahala terhadap amalan baik mereka kelak.
Allah menciptakan kita untuk tujuan yang mulia yaitu untuk beribadah kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan ibadah adalah perintah dan syariat Allah, sehingga melaksanakan perintah dan menjauhi larangan Allah merupakan ibadah.
Banyak perintah Allah dan begitu juga banyak larangan Allah. Yang menjadi pertanyaan adalah apa kewajiban kita terhadap perintah dan larangan tersebut?
Inilah pertanyaan yang wajib kita jawab. Agar tujuan hidup kita di dunia ini betul-betul terlaksana sebagaimana diharapkan oleh Allah dan tentunya di akhirat menghasilkan buah yang manis. Meka kita bisa melihat dari apa yang disampaikan oleh para ulama, para ulama kita menjelaskan ada tujuh kewajiban yang harus kita ketahui dan kita laksanakan di dalam menjalankan syariat Islam, tujuh poin tersebut adalah:
1. Mempelajari syariat Allah
Mempelajari syariat Allah adalah dengan mempelajari perintah dan larangan-larangan Allah. Allah perintahkan kita untuk beriman kepad-Nya, para malaikat, para Rasul, hari akhir, qada dan qadar. Maka kita pelajari perintah tersebut, yang mana itu merupakan landasan keimanan kita. Allah perintahkan kita untuk melaksanakan syariat Islam, yaitu mengucapkan dua kalimat syahadat, mendirikan sholat, menunaikan zakat, berpuasa di bulan ramadan, dan berhaji jika memiliki kemampuan.
Kita pelajari dua kalimat syahadat, kita pelajari bagaimana salat dan segala hal yang berkaitan dengan syarat sahnya shalat, kita pelajari bagaimana menunaikan zakat bagi mereka yang memiliki harta dan memenuhi syarat, kita pelajari bagaimana puasa bulan Ramadan dan puasa-puasa sunnah yang lainnya, kita pelajari haji bagi mereka mendapat kesempatan untuk berhaji. Kita pelajari larangan-larangan Allah, kesyirikan yang paling utama dan terbesar dari larangan Allah. Selain itu durhaka kepada orang tua, makan harta haram, riba, sogok-menyogok, korupsi, itu semua dipelajari bagaimana hukumnya dan ancamannya bagi mereka yang melakukannya untuk ditinggalkan.
2. Mencintai syariat Allah
Kewajiban yang kedua adalah mencintai syariat Allah. Perintah Allah kita cintai karena datang dari Allah. Larangan Allah kita yakini bahwa itu larangan dari Allah. Sehingga kita membenci ada orang yang melanggar larangan dan kita membenci ada orang yang meninggalkan perintah tersebut. Jangan sampai terdapat dalam diri kita ada kebencian kepada syariat Allah yang demikian itu menjadi sebab hancur dan binasanya amalan kita. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,
ذٰلِكَ بِاَنَّهُمۡ كَرِهُوۡا مَاۤ اَنۡزَلَ اللّٰهُ فَاَحۡبَطَ اَعۡمَالَهُمۡ
“Yang demikian itu karena mereka membenci apa (Alquran) yang diturunkan Allah, maka Allah menghapus segala amal mereka.” (Qs. Muhammad: 9)
Di dalam hadis Nabi Sallallahu ‘alaihi wasallam di antara doa beliau memohon kecintaan kepada Allah, kecintaan kepada orang yang mencintai Allah dan kecintaan kepada syariat Allah,
اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْألُكَ حُبَّكَ وَحُبَّ مَنْ يُحِبُّكَ ، وَالعَمَلَ الَّذِي يُبَلِّغُنِي حُبَّكَ . اللَّهُمَّ ! اِجْعَلْ حُبَّكَ أَحَبَّ إِليَّ مِنْ نَفْسِيْ وَأَهْلِي ، وَمِنَ المَاءِ البَارِدِ
“Ya Allah, sesungguhnya aku meminta kepada-Mu untuk selalu cinta kepada-Mu, mencintai orang yang selalu mencintai-Mu, dan amal yang dapat menyampaikanku untuk mencintai-Mu. Ya Allah, jadikanlah cinta kepada-Mu melebihi cintaku terhadap diriku sendiri, keluarga, dan air yang dingin” (HR. Tirmidzi)

3. Memiliki tekad kuat
Kewajiban kita yang ketiga adalah kita harus memiliki tekad yang bulat “Iradah qawiyyah ‘azimah” untuk melaksanakan perintah Allah dan meninggalkan larangan-Nya. Sehingga dalam hadis Nabi sallahui wasallam berdoa,
اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الثَّبَاتَ فِي الْأَمْرِ وَالْعَزِيمَةَ عَلَى الرُّشْدِ
“Ya Allah, aku mohon kepada-Mu keteguhan dalam semua urusan dan keteguhan hati di atas petunjuk”
Seseorang jika tidak memiliki ‘azimah yang akan menggerakkan hatinya sebelum kaki melangkah dan sebelum segala anggota badannya bergerak untuk melakukan ibadah, maka tidak ada yang akan mendorong dia untuk melakukan ibadah tersebut. Maka harus ada ‘azimah.
Bacajuga: Pedoman Dalam Memperbaiki Diri
4. Melaksanakan perintah dan meninggalkan larangan Allah
Kewajiban yang keempat adalah melaksanakan perintah Allah dan meninggalkan larangan-Nya. Perintah Allah dilaksanakan sesuai dengan kemampuan kita dan larangan ditinggalkan tanpa persyaratan, karena meninggalkan tidak membutuhkan kemampuan, cukup meninggalkan sudah terlaksana. Adapun perintah memiliki syarat yaitu Istito’ah (kemampuan), apakah kita mampu melaksanakannya.
مَا نَهَيْتُكُمْ عَنْهُ فَاجْتَنِبُوْهُ، وَمَا أَمَرْتُكُمْ بِهِ فَأْتُوا مِنْهُ مَا اسْتَطَعْتُمْ
“Apa saja yang aku larang, maka jauhilah. Dan apa saja yang aku perintahkan, maka kerjakanlah semampu kalian.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Salah satu syarat untuk melaksanakan perintah adalah istitho’ah (kemampuan). Adapun larangan tidak dikaitkan dan tidak disyaratkan dengan istitho’ah, karena sekadar meninggalkan sesuatu yang dilarang sudah terlaksana apa yang dimaksud dengan meninggalkan.
5. Ikhlas dan sesuai tuntunan
Di dalam pelaksanaan kewajiban, hendaklah kita memperhatikan dua hal, yaitu bagaimana amalan tersebut dilandasi keikhlasan hanya mengharapkan ridha dan pahala di sisi Allah. Dan yang kedua adalah sesuai dengan tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Harus dipastikan bahwa amalan kita sesuai dengan tuntunan Rasulullah, jangan mengada-ngada dalam agama.
Jangan iri dan sum’ah, jangan berbuat bid’ah, khurafat, tapi berbuat lah berdasarkan syariat Allah karena Allah menciptakan kita untuk diuji kesalehan dan kebaikan amalan kita dan siapa yang terbaik amalannya. Dan yang terbaik adalah yang ikhlas di atas tauhid dan sesuai dengan tuntunan Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wasallam.
Ini harus dipastikan sebelum hal itu terlaksana jangan memberanikan diri untuk melakukan sesuatu yang tidak dipastikan ada keikhlasan di sana dan tidak sesuai dengan tuntunan Rasul karena semuanya tidak ada nilainya di sisi Allah subhanahu wa taala. Yang berbuat riya, tidak ikhlas, berbuat syirik, besar atau kecilnya maka sirna amalannya dan tidak ada artinya. Allah tidak butuh kepada amalan kita dan tidak butuh kepada kita semua. Kalaupun semua berbuat syirik, Allah tidak akan merugi dan tidak akan berkurang kemuliaannya dan keagunganNya. Allah tetap Mulia dan Allah tetap Maha kaya.
Kita juga harus memastikan, jangan sampai ada amalan yang mengada-ngada. Maka di sini akan membangun semangat dalam diri kita untuk memastikan, mengontrol, mengevaluasi, dan muhasabah diri, apakah kita ikhlas atau riya’, berdasarkan ilmu atau hanya kebiasaan, selera, dan keinginan kita? Agama bukan selera kita, bukan perasaan kita, agama bukan tradisi dan budaya kita, agama adalah syariat Allah yang diturunkan kepada nabi Muhammad sallallahu ‘alaihi wasallam.
6. Waspada terhadap amalan yang membatalkan ibadah
Yang menjadi kewajiban kita selanjutnya adalah waspada terhadap amalan-amalan yang akan membatalkan ibadah kita. Di antaranya adalah kesyirikan, riya, bid’ah, menyebut-nyebut kebaikan dan hal-hal yang lain, ini harus dipastikan dan diwaspadai. Beramal lah karena Allah karena manusia tidaklah bisa memberikan kebaikan sekecil apapun terhadap amalan kita, karena manusia yang lain juga seperti kita, mereka diciptakan untuk beribadah, mereka dituntut juga untuk ikhlas dan mewaspadai jangan sampai amalan mereka riya’, syirik, dan hal-hal lain yang membatalkan.
7. Memohon kepada Allah agar tetap teguh dan istiqomah
Berusaha dan selalu mohon kepada Allah agar tetap teguh dan istiqomah di atas perintah dan syariat Allah sampai ajal datang menghampiri kita.
رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِن لَّدُنكَ رَحْمَةً ۚ إِنَّكَ أَنتَ ٱلْوَهَّابُ
“Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (karunia)”
Kita berdoa kepada Allah setiap saat, terutama di waktu sujud agar kita diteguhkan di atas agama Allah karena sesungguhnya yang menentukan kebaikan dan kemuliaan kita di sisi Allah adalah bagaimana kita mengakhiri ibadah tersebut.

Inilah tujuh hal yang menjadi kewajiban kita terhadap perintah Allah mudah-mudahan Allah subhanahu wa taala memberikan taufik, kemudahan, dan pertolongan kepada kita untuk memahami ketujuh perkara tersebut kemudian melaksanakan dalam kehidupan kita sampai akhir hayat kita.
Ketujuh perkara tersebut tidak akan terlaksana dan tidak akan mendapatkan kemudahan kecuali bila Allah selalu membimbing dan memberikan pertolongan kepada kita. Maka penting bagi kita untuk memahami faktor utama untuk mendapatkan kemudahan tersebut. Pertama adalah pertolongan dari Allah subhanahu wa taala. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,
اِيَّاكَ نَعۡبُدُ وَاِيَّاكَ نَسۡتَعِيۡنُؕ
“Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan.”
Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam juga pernah berwasiat,
احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلاَ تَعْجِزْ
“Bersemangatlah atas hal-hal yang bermanfaat bagimu. Minta tolonglah pada Allah, jangan engkau lemah.” (HR. Muslim)
Jangan sampai kita lupa mengucapkan di penghujung salat doa permohonan pertolongan kepada Allah,
اللَّهُمَّ أَعِنِّى عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ
“Ya Allah, tolonglah aku agar selalu berdzikir/mengingat-Mu, bersyukur pada-Mu, dan memperbagus ibadah pada-Mu” (HR. Abu Daud dan Ahmad)
Ingat pula doa yang selalu dibaca oleh Rasulullah di pagi dan di petang hari
يَا حَيُّ يَا قَيُّوْمُ بِرَحْمَتِكَ أَسْتَغِيْثُ، وَأَصْلِحْ لِيْ شَأْنِيْ كُلَّهُ وَلاَ تَكِلْنِيْ إِلَى نَفْسِيْ طَرْفَةَ عَيْنٍ
“Wahai Rabb Yang Maha Hidup, wahai Rabb Yang Berdiri Sendiri tidak butuh segala sesuatu, dengan rahmat-Mu aku minta pertolongan, perbaikilah segala urusanku dan jangan diserahkan kepadaku sekali pun sekejap mata tanpa mendapat pertolongan dari-Mu”
Mudah-mudahan Allah senantiasa memberikan pertolongan kepada kita semua sehingga kita dimudahkan untuk melaksanakan syariat Allah secara Kafah dalam kehidupan kita.
Oleh: Ustadz Dr. Muhammad Nur Ihsan, Lc., M.A.



