spot_img
BerandaKhutbah JumatBukti Kecintaan Seorang Mukmin Kepada Nabinya

Bukti Kecintaan Seorang Mukmin Kepada Nabinya

Bukti pada diri kita Apakah kita cinta kepada Allah atau tidak ?, Maka dapat kita ukur dengan melihat seberapa jauh kita mengikuti petunjuk Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam.

Sebaik-baik nasihat dan pengingat adalah Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala, Allah berfirman,

قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

“Katakanlah (Muhammad): ‘Jika kalian mencintai Allah, maka ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu.' Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” QS. Ali Imran: 31

Disini Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam deperintahkan oleh Allah untuk mengatakan, “Jika kalian benar-benar cinta kepada Allah, maka ikutilah aku!!” Lalu apa balasannya?? Yang pertama adalah Allah akan mencintai kalian, dan yang kedua adalah Allah akan mengampuni kalian, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Pada ayat yang mulia ini, surah Ali Imran ayat 31 mengandung banyak pelajaran dan petunjuk yang hendaknya kita ambil ibrah dalam perjalanan kita di dunia menuju hari akhir, dalam kehidupan kita di dunia menuju Allah Subhanahu wa Ta’ala. Di antara pelajaran penting yang dapat kita ambil dari ayat tersebut adalah :

Pelajaran Pertama

Bahwasanya cinta kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala itu tidak sekedar kalimat yang diucapkan, tidak pula sekedar dakwaaan, akan tetapi cinta kepada Allah yang didakwakan oleh setiap manusia itu membutuhkan bukti untuk menunjukkan apakah cinta seorang hamba kepada Allah jujur atau tidak. Maka Allah mengingatkan,

قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ

Jika kalian benar-benar cinta kepada Allah,

فَاتَّبِعُونِي

Maka ikutilah aku (Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam)

Semua orang mengaku cinta kepada Allah, sampai orang-orang musyrikin dahulu mengaku cinta kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, Allah berfirman,

وَمِنَ النَّاسِ مَن يَتَّخِذُ مِن دُونِ اللَّهِ أَندَادًا يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللَّهِ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِلَّهِ

“Dan di antara manusia ada orang-orang yang menjadikan tandingan-tandingan selain Allah, mereka mencintainya sebagaimana mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman sangat besar cintanya kepada Allah.”  QS. Al-Baqarah: 165

Orang-orang musyrikin tatkala mereka mengaku cinta kepada Allah, tidak dianggap cintanya oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, tidak diterima cintanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, kenapa? Karena mereka mengaku cinta kepada Allah, ternyata mereka menjadikan selain Allah sebagai sekutu. Mereka menyekutukan Allah dengan menyembah selain Allah Subhanahu wa Ta’ala dan tidak mengikuti ajaran Islam dan tauhid yang dibawa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.

Sehingga ketika kita mengaku cinta kepada Allah, maka perlu bukti pada diri kita “Apakah kita cinta kepada Allah atau tidak?” Maka dapat kita ukur dengan melihat seberapa jauh kita mengikuti petunjuk Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam. Kalau kita hanya mengaku cinta kepada Allah, tapi ternyata perbuatan kita menyelisihi perintah Allah dan petunjuk Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam, maka kita dusta dalam mengaku cinta kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

ادَّعَى قَوْمٌ مَحَبَّةَ اللَّهِ فَابْتَلَاهُمُ اللَّهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى

Dengan ayat tadi, sebagian kaum mengaku cinta kepada Allah. Maka Allah uji dengan ayat tadi, apakah benar-benar cinta kepada Allah atau tidak? Diukur dengan mengikuti tuntunan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Semakin seorang mengikuti Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam berarti itulah patokan cintanya kepada Allah meningkat. Semakin berkurang mengikuti Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam, berarti cintanya kepada Allah menurun dan rendah. Ketika seorang tidak mengikuti ajaran Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam dan dia lebih memilih ajaran yang lainnya, berarti cintanya kepada Allah adalah kecintaan yang dusta.

Bukti Kecintaan Seorang Mukmin Kepada Nabinya

Pelajaran Kedua

Diantara pelajaran dari ayat ini adalah bahwasanya perintah mengikuti Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam sifatnya adalah mutlak dalam segala urusan yang dapat mendekatkan kita kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, yang mengatarkan kita ke surganya. Tidak ada jalan kecuali dengan jalan yang dilalui Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam.

Al Imam Ibnul Qoyyim rahimahullahu Ta’ala mengatakan,

كُلُّ طَرِيقٍ إِلَى اللَّهِ مَسْدُودٌ مُغْلَقٌ إِلَّا الطَّرِيقَ الَّذِي يَمُرُّ عَلَىه النَّبِيّ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

“Setiap jalan menuju Allah itu tertutup dan terkunci, kecuali jalan yang melalui Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam”

Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam meletakkan kaidah dalam ittiba kepadanya dan kita diperintahkan mengikutinya dalam perkara akidah. Kita diajarkan akan mengimani semua berita yang datang dari Allah, diperintahkan mengimani semua berita dari Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam berkaitan rukun iman yang enam kita wajib mengimaninya, berkaitan adanya nikmat kubur, adanya azab kubur kita wajib mengimaninya.

Di sana ada kebangkitan, ada timbangan amal, ada pembalasan, ada surga dan ada neraka, semua berkaitan dengan gaibiyat (hal yang ghaib) yang dikabarkan oleh rasul-Nya, kita wajib mengikuti Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam dalam akidah yang ditanamkan dan diajarkan Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam. Begitu pula dalam masalah ‘amaliah (masalah amal), dalam masalah ibadah, Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam menanamkan kaidah ini kepada para sahabatnya. Kita juga diperintahkan mengikutinya dalam masalah haji, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam naik kendaraannya supaya dilihat manusia dan diikuti. Beliau mengatakan,

خُذُوا عَنِّي مَنَاسِكَكُمْ

Ambillah dariku cara Haji kalian

Ini adalah ibadah. Maka tidak boleh seorang kemudian mengarang-ngarang sendiri, tidak boleh seorang kemudian membuat-buat sendiri. Karena Nabi telah mencontohkan seorang muslim yang baik mengikuti Nabinya yang diagungkan dan dicintainya, yaitu Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.

Dalam masalah sholat, Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam pernah naik ke atas mimbar, kemudian beliau mengatakan,

إنما فعلتُ هذا لتَحْتَمُوابي كيف تكون صلاتي

Sesungguhnya aku melakukan ini supaya kalian tahu bagaimana salatku.

Agar kalian mencontoh aku.

صَلُّوا كَمَا رَأَيْتُمُونِي أُصَلِّي

“Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat.”

Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam mengajarkan salat di berbagai macam hadisnya. Bahkan dalam hadis yang dikenal Musii’ ash-sholah, mengajarkan salat dari takbir sampai salam, sehingga para ulama yang menulis semua sifat salat Nabi pasti mengambil hadis musii’ ash-sholah. Ini menunjukkan bagaimana gamblangnya masalah salat,. Tinggal seorang muslim apakah dia mau belajar tentang sifat salat Nabi atau tidak? Apakah dia sekedar ikut-ikutan? Apa sekedar dia ikut orang lain? Maka kita perlu mendekatkan diri dengan ilmu Islam dan al-qur'an mendekatkan diri kepada sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,

مَنْ تَوَضَّأَ نَحْوَ وُضُوئِي هَذَا، ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ لَا يُحَدِّثُ فِيهِمَا نَفْسَهُ غَفَرَ اللهُ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Barangsiapa yang berwudhu seperti wudhuku ini kemudian ia shalat dua rakaat, tidak membicarakan pada dirinya (yang dimaksud dengan “tidak berbicara dalam dirinya” yaitu tentang urusan dunia) maka Allah akan ampuni dosa-dosanya yang telah berlalu.”

Maka salah satu jaminan Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam untuk mendapatkan ampunan Allah adalah dengan mengikuti Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam.

Kalau kita mengikuti selain ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, siapa yang akan menjamin itu menjadi sebab diampuni oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala? Bahkan bisa jadi itu menjadi sebab akan datangnya dosa kepada kita karena membuat suatu yang tidak diajarkan oleh Allah dan rasulnya Shallallahu ‘alaihi Wasallam.

Pelajaran Ketiga

Diantara pelajaran penting dari ayat tadi adalah bahwasanya seorang muslim di dalam ittiba mengikuti Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam, maka dia berusaha berjalan di belakangnya. Yang namanya mengikuti itu berjalan di belakangnya, tidak melancangi dan tidak mendahului Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam, dan itulah pesan Allah,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُقَدِّمُوا بَيْنَ يَدَيِ اللَّهِ وَرَسُولِهِ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya, dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui.

Allah mengatakan “Wahai orang-orang yang beriman”, ini pesan buat orang-orang yang beriman, Allah memanggil dengan panggilan kasih sayang,

“Wahai orang-orang yang beriman jangan kalian mendahului Allah dan rasulnya”, maka dalam melakukan ibadah apapun, hendaknya seorang muslim berusaha mengikuti ajaran Allah dan ajaran Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam termasuk pula dalam kegiatan-kegiatan kita, juga berkaitan kelahiran Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam, termasuk dalam kematian Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.

Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam mencontohkan, begitu pula para sahabat, apabila ada suatu amal yang dimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak melakukan, padahal sangat mungkin dilakukan pada zaman itu. Pada zaman Abu Bakar tidak melakukan, padahal mereka sangat mungkin melakukan hal itu. Pada zaman sahabat Umar, mereka tidak melakukan, padahal sangat mungkin untuk melakukan. Pada zaman sahabat Utsman mereka tidak melakukan, padahal sangat mungkin melakukan dan mudah bagi mereka, begitu pula generasi berikutnya. Apakah kemudian kita merasa lebih dekat kepada Allah?? Apakah kita kemudian lebih tahu tentang tuntunan Allah?? Apakah kita lebih tahu tentang jalan yang mendekatkan diri kita kepadaNya?? Apakah kita lebih tahu tentang jalan yang mendekatkan kita ke surga Allah Subhanahu wa Ta’ala??

لَوْ كَانَ خَيْرًا لَسَبَقُوكَ إِلَيْهِ

Seandainya ada sebuah amal itu baik mendekatkan kepada Allah mengantarkan ke surganya niscaya mereka telah mendahului kita. Mereka kaum yang sangat semangat ke surga Allah, mereka kaum yang semangat mengikuti Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam. Maka kita diperintahkan untuk mengikuti Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam.

Baca Juga : Pengenalan Sunnah dan Ahlinya

Pelajaran Keempat

Di antara faedah penting dari ayat tadi adalah bahwasanya seorang muslim perintahkan menjalani sebab-sebab yang mendatangkan kecintaan Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

Maka salah satu sebab yang dapat mendangkat kecintaan Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah mengikuti Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam.

إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ

“Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertobat dan mencintai orang-orang yang mensucikan diri.” Maka tobat adalah sebab mendatangkan cintanya Allah Subhanahu wa Ta’ala. Begitu pula bersuci dari perbuatan-perbuatan yang rusak, bersuci dari hal yang najis, maka itu merupakan sebab mendatangkan cintanya Allah Subhanahu wa Ta’ala begitu pula menjalankan kewajiban-kewajiban yang paling agung, yaitu rukun Islam yang 5. Yang paling Agung setelah dua kalimat syahadat adalah salat, itu adalah yang paling Agung yang dapat mendatangkan kecintaan Allah Subhanahu wa Ta’ala, Apalagi ditambah dengan amal-amal yang sunnah, ditambah dengan rawatib, ditambah dengan salat malam, ditambah dengan salat witir. Maka itu akan menjadi sebab datangnya cinta Allah Subhanahu wa Ta’ala. Baginda Nabi shallallahu ‘alaihi Wasallam bersabda, Allah berfirman dalam hadist qudsi,

وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِشَيْءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُهُ عَلَيْهِ

“Dan tidaklah hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai daripada apa yang telah Aku wajibkan atasnya.”

وَلَا يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ

Dan hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan-amalan sunnah hingga Aku mencintainya

فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِي يَسْمَعُ بِهِ، وَبَصَرَهُ الَّذِي يُبْصِرُ بِهِ، وَيَدَهُ الَّتِي يَبْطِشُ بِهَا، وَرِجْلَهُ الَّتِي يَمْشِي بِهَا، وَلَئِنْ سَأَلَنِي لَأُعْطِيَنَّهُ، وَلَئِنِ اسْتَعَاذَنِي لَأُعِيذَنَّهُ

“Jika Aku mencintainya, maka Aku akan menjadi pendengarannya yang ia mendengar dengannya, penglihatannya yang ia melihat dengannya, tangannya yang ia gunakan untuk memukul, dan kakinya yang ia gunakan untuk berjalan. Jika ia meminta kepada-Ku, sungguh Aku akan memberinya, dan jika ia memohon perlindungan kepada-Ku, sungguh Aku akan melindunginya.”

Ini menunjukkan bagaimana agungnya mendapatkan kecintaan Allah Subhanahu wa Ta’ala, yang menjadi sebab dirahmati Allah Subhanahu wa Ta’ala diijabahi doa-doa oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Para pembaca yang budiman rahimani wa rahimakumullah

Kita ambil pelajaran dari ujung ayat tadi, yang mana Allah menjanjikan buat orang-orang yang Allah cintai dan yang cinta kepada Allah

قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ

“Katakanlah (Muhammad), ‘Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu.'”  Qs. Ali ‘Imran: 31.

Ketika kita cinta kepada Allah dan mengikuti Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam. Allah Sebutkan dua balasan. Yang pertama, Allah akan mencintai kita. Yang kedua, Allah akan mengampuni kita. Allah tutup dengan FirmanNya, Allah maha pengampun lagi maha penyayang. Manusia senantiasa membutuhkan ini, manusia senantiasa membutuhkan rahmat Allah, supaya dia tidak jatuh dalam dosa. Akan tetapi seandainya jatuh, dia butuh ampunan Allah. Sehingga Allah Sudah sebutkan wallahu ghafuurun rohiimun.

Ustadz Abdurrahman Hadi, Lc., M.H

ARTIKEL TERKAIT

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

spot_img