وَأَنَّ هَٰذَا صِرَٰطِي مُسۡتَقِيمٗا فَٱتَّبِعُوهُۖ وَلَا تَتَّبِعُواْ ٱلسُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمۡ عَن سَبِيلِهِۦۚ ذَٰلِكُمۡ وَصَّىٰكُم بِهِۦ لَعَلَّكُمۡ تَتَّقُونَ
“Sungguh, inilah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah! Jangan kamu ikuti jalan-jalan (yang lain) sehingga mencerai-beraikanmu dari jalan-Nya. Demikian itu Dia perintahkan kepadamu agar kamu bertakwa.” [Surah Al-An’am : 153].
Berkata Syaikh Sa’di tentang ayat
وَأَنَّ هَٰذَا صِرَٰطِي مُسۡتَقِيمٗا فَٱتَّبِعُوهُۖ وَلَا تَتَّبِعُواْ ٱلسُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمۡ عَن سَبِيلِهِۦۚ
Maknanya adalah semua hukum Allah ini yang termasuk didalamnya Akidah, Ibadah dan selainnya serta apa yang serupa dengannya dari apa saja yang telah Allah jelaskan didalam kitabnya, dan sudah diterangkan kepada para hambanya ini merupakan Jalan Allah yang menghantarkan seseorang kepada Allah dan kepada Surga Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Dan Jalan Allah ini merupakan jalan yang lurus, mudah dan singkat. Maka dari itu Agama Allah ini mudah. Maka ikutilah Supaya kalian meraih kemenangan dan keberuntungan. Dan juga mendapatkan kebahagian serta suatu hal yang telah diangan-angan.
Tidak megikuti jalan-jalan yang menyelisihi dari jalan yang lurus ini. Maka jalan tersebut menjadikan kalian tersesat dari jalan yang lurus. Dan semua jalan yang banyak itu jika kalian mengikuti, maka kalian akan berpencaran ke kanan dan kiri. Dan jika kalian tersesat dari jalan yang lurus itu, maka tidak ada jalan selain jalan yang menghantarkan kalian kepada Neraka. (Abdurrahman Bin As-Sa’di , Taisir Al-Karim Ar-Rahman).
إِنَّ الدِّينَ يُسْرٌ
“Sesungguhnya agama itu mudah” (HR. Bukhari 38).
Dan Allah juga berfirman terkait hal tersebut
يُرِيدُ ٱللَّهُ بِكُمُ ٱلۡيُسۡرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ ٱلۡعُسۡرَ
“Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesukaran.” (Surah Al-Baqarah : 185).
Melalui ayat ini Allah menjelaskan bahwasannya Agama Allah ini mudah, akan tetapi tidak bermudah-mudahan didalamnya. Dan berkata Abdullah Ibnu Mas’ud Radiyallahu ‘Anhu “Pada suatu ketika Rasulallah Shalallahu Alaihi Wasallam membuat suatu garis, kemudian beliau berkata “ini Jalan Allah” dan kemudian Rasulallah Shalallahu Alaihi Wasallam membuat garis dibagian kanan dan kiri dari garis yang lurus tersebut. Lalu beliau berkata “Ini adalah jalan-jalan yang menyimpang yang mana ada pada setiap jalan tersebut Syaiton yang menyeru untuk mengikuti jalan yang menyimpang tersebut.” (HR. Ahmad dan Darimi) Kemudian membaca surah Al-Baqarah ayat 153.
Dan berkata Al-Imam Thabariy Rahimahullah Ta’ala dengan sanadnya dari Aban bertanya kepada Abdullah Ibnu Mas’ud “Apa itu Shiratal Mustaqim?” kemudian beliau menjawab “kami ditinggalkan oleh Nabi Shalallahu Alaihi Wasallam dipinggir suatu jalan yang mana ujung akhir jalan tersebut adalah surga” yakni jika seseorang mengikuti jalan ini maka akan ke Surga. “dan disamping kanan dan kiri jalan tersebut ada yang seorang yang menyeru untuk menyimpang dari jalan yang lurus tersebut, maka bagi siapa yang mengikuti jalan-jalan tersebut maka ujung dari jalan yang menyimpang tersebut ke Neraka, adapun yang mengikuti jalan yang lurus ini maka ujung dari jalan tersebut ke surga Allah Subhanahu Wa Ta’ala” kemudian Abdullah Ibnu Mas’ud membaca Surah Al-An’am 153 (Al-Imam Thabariy, Tafsir Thabariy).
قُلۡ هَٰذِهِۦ سَبِيلِيٓ أَدۡعُوٓاْ إِلَى ٱللَّهِۚ عَلَىٰ بَصِيرَةٍ أَنَا۠ وَمَنِ ٱتَّبَعَنِيۖ وَسُبْحٰنَ اللّٰهِ وَمَآ اَنَا۠ مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ
“Katakanlah (Nabi Muhammad), “Inilah jalanku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (seluruh manusia) kepada Allah dengan bukti yang nyata..” (Surah Yusuf Ayat 108).
Ini merupakan bukti bahwasannya Agama Allah ini dibangun diatas Ilmu, maka seluruh amal perbuatan mereka dilandasi ilmu dan dalil dari Al-Qur’an dan Sunnah serta bukan dengan perasaan, mimpi dan lain sebagainya.
Dan berkata Al-Imam Thabariy Rahimahullah Ta’ala, Allah Subhanahu Wa Ta’ala berkata kepada Nabi Shalallahu Alaihi Wasallam Katakanlah wahai muhammad, ini adalah dakwah yang aku menyerukan manusia untuk mengikutinya yang mencakup didalamnya mentauhidkan Allah dan memurnikan ibadah hanya kepada Allah serta tidak menyerukan manusia untuk beribadah kepada berhala atau sesembahan yang lain, dan dan menyeru mereka untuk taat kepada Allah dan meninggalkan kemaksiatan. Dan ini adalah jalanku dan dakwahku. Yang tidak ada sekutu bagi Allah Subahanu Wa Ta’ala. Yang aku menyerukan kepadanya diatas Ilmu serta yakin atas jalan ini.
Aku menyerukan mereka kepada jalan yang lurus ini dan orang-orang yang mengikuti juga menyerukan mereka pada jalan tersebut. Dan orang-orang yang mengikuti Nabi mereka beriman dan yakin kepadanya. Dan Allah memerintahkan kepada Nabinya untuk mensucikan Allah dari berbagai sifat-sifat yang tercela dan pengagungan kepada Allah bahwasannya tidak ada sekutu baginya. Dan aku berlepas diri dari pada ahli syirik dan aku bukan dari bagian mereka. (Al-Imam Thabariy, Tafsir Thabariy).

Berkata Al-Imam Al-Bagawiy Rahimahullah Ta’ala tentang tafsir ayat ini “Katakanlah Muhammad, ini adalah dakwah yang aku menyerukan manusia kepadanya dan metode beragama ini yang aku ada diatasnya maka inilah jalanku, sunnahku dan jalan hidupku.” Dan berkata Al-Kalbiy dan Ibnu Zaid “Aku menyerukan manusia kepada Allah diatas Al-Bashirah atau dalam keyakinan”. Dan Makna Al-Bashirah adalah pengetahuan yang bisa dengannya membedakan mana yang Haq dan Kebatilan. Dan mereka yang mengikuti Nabi Shalallahu Alahi Wasallam ialah mereka yang beriman kepada Nabi serta membenarkan Nabi dan menyerukan manusia kepada Allah Sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi Shalallahu Alaihi Wasallam.
Dan Berkata Al-Imam Al-Bagawiy Rahimahullah Ta’ala. Sebagian Para Ulama Tafsir berkata Kalimat dari Firman Allah Ta’ala
أَدۡعُوٓاْ إِلَى ٱللَّهِۚ
Merupakan kalimat yang sudah sempurna, adapun ayat yang setelahnya merupakan bentuk kalimat yang baru. Dan makna dari
عَلَىٰ بَصِيرَةٍ أَنَا۠ وَمَنِ ٱتَّبَعَنِيۖ
Ialah Aku diatas Al-Bashirah atau diatas Ilmu dari Rabbku dan setiap orang yang mengikuti aku mereka semua diatas Al-Bashirah atau diatas Ilmu dari Rabbku. Dan berkata Ibnu Abbas Makna dari mereka yang mengikuti Nabi Adalah Para Sahabat Nabi Shalallahu Alaihi Wasallam yang mana mereka berada dijalan atau metode yang baik dalam beragama dan pada petunjuk yang benar. Dan mereka Para Sahabat merupakan sumbernya ilmu serta mereka menyimpan keimanan dalam diri mereka dan mereka juga termasuk dalam bala tentara Allah yang maha pengasih (Al-Imam Al-Bagawiy, Tafsir Al-Bagawiy).
عَنِ العِرْبَاضِ بْنِ سَارِيَةَ – رضي الله عنه- عن النبي -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- قال: “فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشُ مِنْكُمْ يَرَى بَعْدِي اخْتِلَافًا كَثِيرًا، فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ الْمَهْدِيِّيْنَ، وَعَضُوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِدِ، وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الْأُمُورِ، فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ ، وَإِنَّ كُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ
Dari Al-‘Irbadh Bin Sariyah Radiyallahu Anhu dari Nabi Shalallahu Alahi Wasallam berkata “Sesungguhnya siapa yang hidup setelahku diantara kalian, maka akan melihat setelahku perpecahan yang banyak. Maka hendaknya kalian berpegang teguh pada Sunnahku dan Sunnah Para Khalifah yang mereka mendapatkan petunjuk serta mereka diatas petunjuk. Dan gigitlah kalian Sunnahku dan Sunnah Para Khalifah dengan gigi geraham. Dan berhati-hatilah kalian dengn perkara-perkara yang baru yang diada-adakan pada agama ini, karena setiap perkara-pekara yang baru didalam agama itu Bid’ah dan semua Bid’ah itu merupakan kesesatan” (HR. Ahmad, Abu Daud, Tarmidz dan Ibnu Majah. Hadist ini dishahihkan Syaikh Al-Bani didalam Shahihnya 2735).
Sahabat Nabi Al-‘Irbadh Bin Sariyah Radiyallahu Anhu yang memiliki nama Abu Nujaih yang mana dia adalah seorang yang berasal dari negeri Suffah. Dan dia termasuk sahabat yang menjadi sebab turun firman Allah Ta’ala
وَّلَا عَلَى الَّذِيْنَ اِذَا مَآ اَتَوْكَ لِتَحْمِلَهُمْ قُلْتَ لَآ اَجِدُ مَآ اَحْمِلُكُمْ عَلَيْهِ ۖتَوَلَّوْا وَّاَعْيُنُهُمْ تَفِيْضُ مِنَ الدَّمْعِ حَزَنًا اَلَّا يَجِدُوْا مَا يُنْفِقُوْنَۗ
“Tidak (ada dosa) pula bagi orang-orang yang ketika datang kepadamu (Nabi Muhammad) agar engkau menyediakan kendaraan kepada mereka, lalu engkau berkata, “Aku tidak mendapatkan kendaraan untuk membawamu.” Mereka pergi dengan bercucuran air mata karena sedih sebab tidak mendapatkan apa yang akan mereka infakkan (untuk ikut berperang).” (At-Taubah:92)
Ayat ini diturun ketika peristiwa Perang Tabuk yang terjadi pada musim paceklik, yang mana Nabi Shalallahu Alahi Wasallam menyerukan kepada Sahabat untuk berjihad dijalan Allah Ta’ala. Maka disaat itu ada orang yang mampu dan tidak dikarenakan zaman dahulu jika terjadi peperangan, maka setiap orang yang ingin ikut membawa perbekalan mereka masing-masing. Dan pada saat itu ada beberapa orang yang datang kepada Nabi Shalallahu Alaihi Wasallam yang mereka tidak memiliki perbekalan untuk berjihad dan termasuk dari mereka adalah Al-‘Irbadh Bin Sariyah Radiyallahu Anhu, maka sahabat ini sampai menangis ketika turunnya ayat ini (Al-Hafidz Ibn Hajar, Al-Isbah Fi Ash-Shahabah).
Pada Hadist diatas menjelaskan bahwasannya Nabi Shalallahu Alaihi Wasallam jika menjelaskan suatu penyakit atau permasalahan, maka Nabi akan menjelaskan penawar dari penyakit tersebut atau jalan keluar dari penyakit tersebut. Dan yang termasuk penyakit atau permasalahan dalam hadits diatas ada pada kalimat “Sesungguhnya siapa yang hidup setelahku diantara kalian, maka akan melihat setelahku perpecahan yang banyak” yang mana ini akan dijumpai ketika wafatnya Nabi Shalallau Alaihi Wasallam. Dan dalam lanjutan hadist tersebut disebutkan penawar atau jalan keluar dari penyakit tersebut yang terletak pada kalimat “Maka hendaknya kalian berpegang teguh pada Sunnahku dan Sunnah Para Khalifah yang mereka mendapatkan petunjuk serta mereka diatas petunjuk”.
Adapun yang dimaksud dari sunnah Para Khalifah ialah sunnah Nabi Shalallahu Alaihi Wasallam. Nabi juga memperintahkan untuk menggigit sunnah tersebut dengan gigi geraham yang mana pada bagian gigi tersebut itu termasuk bagian yang sangat kuat jika menggigit sesuatu. Serta beliau juga memperingatkan umat dari perkara-perkara yang baru dan yang diada-adakan.
Baca Juga : Sifat dan Wasiat Rasulullah
Dan yang dimaksud dengan perkara baru atau yang diada-adakan ini adalah segala sesuatu yang dibuat-buat didalam agama yang mana perkara tersebut tidak ada contohnya dari Nabi Shalallahu Alaihi Wasallam. Sebagaimana firman Allah yang menjelaskan bahwasannya Agama Allah telah sempurna tidak kurang dan tidak lebih,
اَلْيَوْمَ اَكْمَلْتُ لَكُمْ دِيْنَكُمْ وَاَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِيْ وَرَضِيْتُ لَكُمُ الْاِسْلَامَ دِيْنًاۗ
“Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu, telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagimu, dan telah Aku ridai Islam sebagai agamamu” (Al-Maidah:3)
Adapun dunia senantiasa butuh kepada hal-hal yang baru tersebut dikarenakan dunia belum sempurna. Dan bisa jadi perkembangan yang terjadi didunia ini menjadi penemuan yang luar biasa.
وعن أبي هريرة – رضي الله عنه – قال: قال رسول الله صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- خَلَّفْتُ فِيكُمْ شَيْئَيْنِ لَنْ تَضِلُّوْا بَعْدَهُمَا: كِتَابُ اللَّهِ وَسُنَّتِي، وَلَنْ يَفْتَرِقَا حَتَّى يَرِدَا عَلَيَّ الْحَوْضَ
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu berkata bahwasanya Rasulallah Shalallahu Alaihi Wasallam bersabda “Aku tinggalkan dua perkara bagi kalian yang mana kalian tidak akan tersesat selama berpegangteguh pada kedua perkara tersebut, yaitu: Kitabullah; Al-Quran dan sunnahku! Kedua perkara tersebut tidak akan pernah berpisah sampai datang kepadaku kelak di telaga” (Dishahihkan Syakh Al-Bani, Shahih Al-Jami’).
وقال قَوَّامُ السُّنَّةِ أَبُو الْقَاسِمِ التَّيْمِيُّ الْأَصْبَهَانِي : قال أهل اللغة : السُّنَّةُ : السِّيرَةُ وَالطَّرِيقَةُ. فقولهم: «فُلَانٌ عَلَى السُّنَّةِ» و «مِنْ أَهْلِ السُّنَّةِ»، أي: هو موافق لِلتَّنْزِيلِ والأَثَرِ في الفعل والقول، وَلِأَنَّ السُّنَّةَ لَا تَكُوْنُ مَعَ مُخَالَفَةِ اللَّهِ ومُخَالَفَةِ رسوله.
Berkata Abul Qasim At-Taimi Al-Asbahaniy beliau merupakan Al-Imam Al-Hafidz Syaikh Islam Rahimahullah Ta’ala. Dan memiliki julukan “Qowamus sunnah” Lahir pada tahun 457 Hijriyah dan ibunya termasuk dari keturunan sahabat Nabi Thalhah bin Ubaidillah At-Taimi Radhiyallahu ‘Anhu yang mana dia termasuk dari salah satu sahabat yang dijamin masuk kedalam surga.
Dan berkarta Al-Hafidz Yahya bin Mandah “bahwansannya Abul Qasim merupakan orang yang akidahnya benar serta cara beragama yang baik mengikuti Nabi Shalallahu Alaihi Wasallam dan tidak banyak bicara, jadi tidak ada yang bisa memanfaatkan waktu seperti beliau” dan wafat di kota Asbahan pada saat hari raya Idul Adha tahun 535 Hijriyah (https://dorar.net/history) : “Para Ulama Bahasa mengatakan Sunnah secara bahasa adalah Sirah atau Jalan. Maka dikatakan pada mereka “Fulan diatas Sunnah” atau “Fulan termasuk dari Ahlussunnah” atau orang yang sesuai dengan Al-Atsar (Al-Qur’an dan Sunnah) didalam beramal dan berkata, karena sunnah itu tidak mungkin bisa sejalan dengan orang-orang yang menyelisihi Allah dan Rasulnya.” (Abul Qasim At-Taimi Al-Asbahaniy, Al-Hujjah Fii Bayani Al-Mahajjah).
Jadi orang-orang yang mengakui dirinya Ahlussunnah adalah mereka yang tidak menyelisihi Allah dan Rasulnya dan ini merupakan salah satu definisi sunnah dan para ahlinya. Baik itu dalam perbuatan dan ucapan.
وقال ابْنُ رَجَب : (وَالسُّنَّةِ : هِيَ الطَّرِيقُ الْمَسْلُوْكُ، فَيَشْمَلُ ذَلِكَ التَّمَسُّكَ بِمَا كَانَ عَلَيْهِ هُوَ وَخُلَفَاؤُهُ الرَّاشِدُوْنَ مِنَ الْإِعْتِقَادَاتِ وَالْأَعْمَالِ وَالْأَقْوَالِ، وَهَذِهِ هِيَ السُّنَّةُ الْكَامِلَةُ، ولهذا كان السلف قديما لا يُطْلِقُوْنَ اسْمَ السُّنَّةِ إِلَّا عَلَى مَا يَشْمَلُ ذَلِكَ كُلَّهُ، وروي معنى ذلك عن الحسن والأوزاعي والفضيل بن عياض، وكثير من العلماء المتأخرين يَخُصُّ اسْمَ السُّنَّةِ بِمَا يتعلق بالاعتقاد لأنها أَصْلُ الدِّينِ ، وَالْمُخَالِفُ فِيهَا عَلَى خَطَرٍ عَظِيمٍ)
Berkata Al-Imam Ibnu Rajab Al-Hambali, Sunnah adalah jalan yang ditempuh, maka ini termasuk kepada orang yang berpegang teguh kepada apa yang Nabi dan Para Khalifah didalam masalah keyakinan, amalan dan ucapan. Dan inilah makna sunnah yang sempurna. Maka dari itu, dahulu para salaf tidak mudah dalam mengatakan seseorang ahli sunnah, kecuali akidah dan ibadah benar sesuai dengan sunnah Nabi Shalallahu Alaihi Wasallam.
Dan yang mengucapkan kalimat bahwasannya tidak mudah mengatakan seperti itu adalah Al-Imam Hasan Al-Basriy, Al-Imam Al-‘Uzai’ dan Fudail bin Iyyadh serta kebanyakan dari Ulama Mutakhir yang mereka mengkhususkan sunnah dengan mereka yang berakidah yang sesuai dengan Al-Qur’an dan Sunnah, karena ini merupakan landasan agama. Dan orang yang menyelisihi keyakinan tersebut mereka dalam bahaya yang sangat besar ( Al-Imam Al-Hafidz Ibnu Rajab Al-Hambali, Kitab Jami’ Ulum Wal Hikam).
وَقَالَ ابْنُ حَزْمٍ : (وَأَهْلُ السُّنَّةِ الَّذِينَ تَذْكُرُ هُمْ أَهْلُ الْحَقِّ، وَمَنْ عَدَاهُمْ فَأَهْلُ الْبِدْعَةِ، فَإِنَّهُمُ الصَّحَابَةُ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُم ، وَكُلُّ مَنْ سَلَكَ نعْجَهُمْ مِنْ خِيَارِ التَّابِعِينَ رَحْمَةُ الله عَلَيْهِم ، ثمَّ أَصْحَابُ الحَدِيثِ وَمَنِ اتَّبَعَهُمْ مِنَ الْفُقَهَاءِ جِيْلاً فَجِيْلاً إِلَى يَوْمِنَا هَذَا، أَوْ مَنِ اقْتَدَى بِهِمْ مِنَ الْعَوَامِ فِي شَرْقِ الْأَرْضِ وَغَرْبِهَا رَحْمَةُ اللهِ عَلَيْهِمْ
Berkata Ibnu Hajm Rahimahullahu Ta’ala yang mana beliau merupakan ulama yang berasal dari negeri Andalus yang lahir pada tahun 384 Hijriyah dan wafat pada tahun 456 Hijriyah. “Yang dimaksud Ahlussunnah yang mana kami menyebutnya mereka Ahli Haq, sedangkan yang menyelisihi mereka adalah Ahli Bid’ah. Maka mereka itulah para sahabat Radhiyallahu ‘Anhu. Dan semua orang yang mereka menempuh suatu jalan dari kalangan Tabi’in Rahmatullah Alaihi, kemudian para Ashabul Hadist dan siapa saja yang mengikuti mereka dari golongan Ulama Fikih termasuk didalamnya 4 Ulama besar didalam ilmu fikih. Dari generasi ke generasi sampai kepada kita sekarang ini.
Atau yang termasuk Ahlussunnah itu adalah orang-orang yang mereka mengikuti para sahabat, tabi’in dan para ulama fikih tersebut baik mereka yang berada ditimur dan dibarat dari dunia ini Rahmatullah Alaihim ( Al-Imam Ibnu Hajm Al-Andalusiy, Al-Fashl Fil Milal Wal Ahwa Wan Nihal).
Pokok penting pembahasan Bab ini :
- Bahwasannya Sunnah adalah jalan atau metode Nabi Shalallah Alaihi Wasallam baik itu bentuk ucapan maupun perbuatan. Dan sunnah merupakan metode Nabi Shalallahu Alaihi Wasallam dalam menjalankan kehidupan yang mana Alla Ta’ala wajibkan kepada hamba-hambanya untuk mengikuti, meneladani dan menjadikan Nabi panutan dalam menjalankan kehidupan. Sebagaimana firman Allah Ta’ala
قُلْ اِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّوْنَ اللّٰهَ فَاتَّبِعُوْنِيْ يُحْبِبْكُمُ اللّٰهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ ۗ وَاللّٰهُ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ
“Katakanlah (Nabi Muhammad), “Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah akan mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Surah Ali-Imran Ayat 31).
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِيْ رَسُوْلِ اللّٰهِ اُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَنْ كَانَ يَرْجُوا اللّٰهَ وَالْيَوْمَ الْاٰخِرَ وَذَكَرَ اللّٰهَ كَثِيْرًاۗ
“Sungguh, pada (diri) Rasulullah benar-benar ada suri teladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat serta yang banyak mengingat Allah.” (Surah Al-Ahzab Ayat 21).
أَيْنَ نَحْنُ مِنَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ؟ وَقدْ غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ وَمَا تَأَخَّرَ. قَالَ أَحَدُهُمْ: أَمَّا أَنَا فَأُصَلِّيْ اللَّيْلَ أَبَداً، وَقَالَ الْآخَرُ: وَأَنَا أَصُوْمُ الدَّهْرَ أَبَداً وَلَا أُفْطِرُ، وَقَالَ الْآخَرُ: وَأَنَا أَعْتَزِلُ النِّسَاءَ فَلَا أَتَزَوَّجُ أَبَداً فَجَاءَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَيْهِمْ، فَقَالَ: أَنْتُمُ الَّذِيْنَ قُلْتُمْ كَذَا وَكَذَا ؟ أَمَا وَاللهِ إِنِّيْ لَأَخْشَاكُمْ لِلهِ وَأَتْقَاكُمْ لَهُ، لَكِنِّيْ أَصُوْمُ وَأُفْطِرُ، وَأُصَلِّي وَأَرْقُدُ، وَأَتَزَوَّجُ النِّسَاءَ، فَمَنْ رَغِبَ عَنْ سُنَّتِيْ فَلَيْسَ مِنِّيْ
Dari Anas Radhiyallahu ‘Anhu ia berkata, “Ada tiga orang mendatangi rumah istri-istri Nabi Shalallahu Alaihi Wasallam untuk bertanya tentang ibadah Beliau Shalallahu Alaihi Wasallam. Lalu setelah mereka diberitahukan (tentang ibadah Beliau Shalallahu Alaihi Wasallam), mereka menganggap ibadah Beliau itu sedikit sekali. Mereka berkata, “Kita ini tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan Nabi Shalallahu Alaihi Wasallam! Beliau Shallallahu Alaihi Wasallam telah diberikan ampunan atas semua dosa-dosanya baik yang telah lewat maupun yang akan datang.” Salah seorang dari mereka mengatakan, “Adapun saya, maka saya akan shalat malam selama-lamanya.” Lalu orang yang lainnya menimpali, “Adapun saya, maka sungguh saya akan puasa terus menerus tanpa berbuka.” Kemudian yang lainnya lagi berkata, “Sedangkan saya akan menjauhi wanita, saya tidak akan menikah selamanya.”
Kemudian, Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam mendatangi mereka, seraya bersabda, “Benarkah kalian yang telah berkata begini dan begitu? Demi Allâh! Sesungguhnya aku adalah orang yang paling takut kepada Allah dan paling takwa kepadanya di antara kalian. Akan tetapi aku berpuasa dan aku juga berbuka (tidak puasa), aku shalat (malam) dan aku juga tidur, dan aku juga menikahi wanita. Maka, barangsiapa yang tidak menyukai sunnahku, maka ia tidak termasuk golonganku.” (HR. Bukhari 5063).
Dan bahkan orang yang tidak menyukai karna benci kepada sunnah Nabi Shalallahu Alaihi Wasallam itu bisa jatuh kepada kekufuran. Akan tetapi jika tidak dikarenakan kebencian, Maka dia hanya termasuk orang yang menyelisihi jalan Nabi Shalallahu Alaihi Wasallam yang mudah dan gampang ini, Karena Agama Islam itu agama yang mudah tidak sulit.
- Bahwasannaya amalan Para Sahabat sudah termasuk kedalam Sunnah Nabi Shalallahu Alaihi Wasallam
- Ahlussunnah adalah mereka yang mengikuti jejak Nabi Shalallahau Alaihi Wasallam dan para sahabatnya baik didalam masalah pokok yaitu berupa akidah dan keyakinan dan sebagainya dan juga dalam masalah yang cabang
- Hubungan yang kuat antara Al-Qur’an dengan Sunnah dan juga sebaliknya yang tidak bisa dipisahkan diantara keduanya dikarenakan Al-Qur’an dan Sunnah merupakan sumber syariat Allah Ta’ala dan sumber hukum yang terpancar darinya. Adapun semua dalil dan sumber yang bermacam-macam, maka itu semua kembali kepada keduanya
Ustadz Mubarak Bamualim, Lc., M.H.I



