spot_img
BerandaFiqih dan MuamalahKeutamaan Bulan Ramadhan

Keutamaan Bulan Ramadhan

Alhamdulillah was sholatu was salamu ‘ala Rasulillah wa ‘ala alihi wa shohbihi ajma’in.

Saudaraku, bulan yang mulia telah menaungi kita, bulan yang Allah Ta’ala agungkan, yang padanya terdapat kebaikan yang berlimpah ruah dan Allah Ta’ala membuka pintu-pintu kebaikan bagi setiap hamba-Nya yang menginginkannya, inilah bulan yang penuh dengan kebaikan dan keberkahan, Allah Ta’ala berfirman:

شَهۡرُ رَمَضَانَ ٱلَّذِيٓ أُنزِلَ فِيهِ ٱلۡقُرۡءَانُ هُدٗى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَٰتٖ مِّنَ ٱلۡهُدَىٰ وَٱلۡفُرۡقَانِۚ

“(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil).” [Al-Baqarah 2:185]

Bulan ramadhan adalah bulan yang penuh dengan rahmat dan ampunan serta pembebasan dari api neraka. Awalnya adalah rahmat, pertengahannya adalah ampunan dan akhirnya adalah pembebasan dari api neraka.

Bulan ramadhan adalah bulan yang penuh dengan rahmat dan ampunan serta pembebasan dari api neraka. Awalnya adalah rahmat, pertengahannya adalah ampunan dan akhirnya adalah pembebasan dari api neraka.

Dalil-Dalil Keutamaan Bulan Ramadhan

Banyak nash-nash yang menunjukkan keutamaan bulan Ramadhan, di dalam ash-shahihain, dari sahabat yang mulia Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, bahwasannya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِذا جَاءَ رَمَضَانُ، فُتِّحَتْ أَبْوَابُ الجنَّةِ، وغُلِّقَت أَبْوَابُ النَّارِ، وصُفِّدتِ الشياطِينُ

“Bila telah masuk bulan Ramadan, maka pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup dan setan-setan pun dibelenggu.” [Muttafaqun ‘alaihi]

Dibukakannya pintu-pintu surga di bulan ini karena banyaknya amalan ketaatan yang dikerjakan di dalamnya, dan sebagai motivasi agar manusia mau beramal. Dan ditutupnya pintu-pintu neraka karena merosotnya jumlah kemasiatan yang dilakukan oleh orang-orang beriman di bulan ini. Dan dibelenggunya setan-setan di bulan ini sehingga mereka tidak bebas melakukan hal-hal yang biasanya mereka dapat melakukannya di bulan yang lainnya.

Baca Juga: Puasa Ramadhan dan Tauhid

Lima Keistimewaan Umat Nabi Muhammad di Bulan Ramadhan

Diriwayatkan dari Imam Ahmad, dari sahabat Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu bahwasannya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

عْطِيَتْ أُمَّتِي خمسَ خِصَالٍ في رَمَضَانَ لَمْ تُعْطَهُنَّ أمَّةٌ dari الأُمَمِ قَبْلَهاَ خُلُوْفُ فَمِ الصَّائِمِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللهِ مِنْ رِيْحِ اْلمِسْكِ وَتَسْتَغْفرُ لَهُمْ اْلمَلاَئِكَةُ حَتىَّ يُفْطِرُوْا وَيُزَيِّنُ اللهُ لَهُمْ كُلَّ يَوْمٍ جَنَّتَهُ، ثُمَّ يَقُوْلُ :يُوْشِكُ عِبَادِيْ الصَّائِمُوْنَ أَنْ يُلْقُوْا عَنْهُمْ الْمَئُونَةَ وَاْلأَذَى وَيَصِيْرُوْنَ إِلَيْكَ وَتُصَفَّدُ فِيْهِ مَرَدَّةُ الشَّياَطِيْنِ ، وَلاَ يُخْلِصُوْنَ فِيْهِ إِلَى مَا كاَنُوْا يُخْلِصُوْنَ فِي غَيْرِه وَيَغْفِرُ لَهُمْ فِيْ آخِرِ لَيْلَةٍ قِيْلَ :يَا رَسُوْلَ اللهِ :اَهِيَ لَيْلَةُ اْلقَدَرِ ؟ قَالَ :لاَ ، وَلَكِنَّ الْعَامِلَ إِنَّمَا يُوَفَّى أَجْرُهُ إِذَا قَضَى عَمَلَهُ

“Di bulan Ramadhān umatku diberi lima keistimewaan yang tidak diberikan kepada umat-umat sebelumnya: bau mulut orang yang berpuasa di hadapan Allah lebih baik dari pada minyak misk; orang-orang yang berpuasa semuanya dimintakan ampunan oleh para malāikat hingga mereka berbuka; setiap hari di bulan Ramadhān Allāh memperindah surga untuk orang-orang yang berpuasa. Kemudian Allāh berfirman:

“Para hamba-Ku yang melakukan puasa hampir menemukan hasil dan jerih payahnya hingga sampai kepadamu (wahai surga); di bulan ini para setan-setan dibelenggu yang semuanya tidak bisa lepas seperti di bulan lainnya; dan akan diampuni dosa-dosa mereka (orang-orang yang berpuasa) di akhir malam bulan Ramadhan. Kemudian Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam ditanya, “Apakah itu malam Lailatul Qadar?”, Beliau menjawab: “Tidak demikian, akan tetapi orang yang beramal akan diganjar jika telah selesai melakukan amalannya.”

Lima keistimewaaan ini Allah Subhanahu Wa Ta’ala persiapkan untuk kaum muslimin dan tidak didapati lima keistimewaan ini pada semua umat-umat terdahulu. Allah Ta’ala mengaruniakannya kepada kaum muslimin untuk menyempurnakan nikmatnya, betapa banyak nikmat dan karunia yang telah Allah curahkan kepada kita, Allah berfirman:

كُنْتُمْ خَيْرَ اُمَّةٍ اُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُوْنَ بِاللّٰهِ ۗ

“Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia (selama) kamu menyuruh (berbuat) yang makruf, mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah.” [Ali Imron 3:110]

Keistimewaan Pertama: Aroma Mulut Orang Berpuasa

Aroma mulut orang yang berpuasa lebih wangi di sisi Allah Ta’ala dibandingkan dengan aroma minyak wangi misk. Yang dimaksud dengan aroma mulut di sini adalah aroma yang disebabkan karena kosongnya perut dari makanan dan pada dasarnya aroma ini tidak disukai oleh manusia, akan tetapi bagi Allah Ta’ala aroma mulut orang yang berpuasa lebih wangi dibandingkan minyak misk, hal ini dikarenakan aroma tersebut disebabkan oleh puasa yang merupakan ketaatan dan ibadah kepada Allah Ta’ala, dan setiap yang dihasilkan dari ketaatan dan ibadah dicintai oleh Allah Ta’ala. Allah Subhanahu Wa Ta’ala akan mengganjar orang yang memiliki bau mulut dikarenakan berpuasa dengan balasan yang lebih baik dan lebih afdhol.

Sebagaimana orang yang mati syahid di medan perang di jalan Allah, orang yang mati syahid ini memiliki tujuan meninggikan kalimat Allah, pada hari kiamat orang yang mati syahid ini akan datang dengan luka yang bercucuran darah, warnanya merah layaknya darah pada umumnya akan tetapi wanginya adalah wangi minyak misk.

Hal yang serupa dalam ibadah haji, Allah Subhanahu Wa Ta’ala membangga-banggakan orang yang wuquf di hadapan para malaikat dan Allah Ta’ala berfirman dalam hadist:

“Lihatlah kepada hamba-hamba-Ku mereka datang dalam kondisi lusuh dan berdebu.” (HR. Ahmad dan dishahihkan Syaikh Al-Albani)

Dalam keadaan ini, Allah mecintai lusuhnya orang-orang yang datang menunaikan haji dikarenakan hal tersebut muncul karena ketaatan kepada Allah Ta’ala dengan menjauhi larangan-larangan ihram dan menjauhi bermewah-mewahan.

Ramadhan

Keistimewaan Kedua: Istighfar Para Malaikat

Malaikat memohonkan ampun bagi orang-orang yang berpuasa sampai mereka berbuka. Malaikat merupakan hamba-hamba Allah yang mulia, Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

لَّا يَعْصُوْنَ اللّٰهَ مَآ اَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُوْنَ مَا يُؤْمَرُوْنَ

“Mereka tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepadanya dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” [At Tahrim 66:6]

Dengan kemuliaan inilah maka sudah selayaknya doa mereka bagi orang-orang yang berpuasa dikabulkan oleh Allah Ta’ala yang mana Allah mengizinkan hal tersebut. Allah Ta’ala mengizinkan para malaikat untuk memohonkan ampun bagi orang-orang yang berpuasa dari ummat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai bentuk agungnya perkara puasa, mengangkat derajat orang yang berpuasa dan besarnya keutamaan puasa.

Keistimewaan Ketiga: Surga yang Diperindah

Allah Subhanahu Wa Ta’ala memperindah surga setiap harinya untuk orang-orang yang berpuasa. Allah Subhanahu Wa Ta’ala menghiasi surga setiap harinya, untuk disiapkan bagi hamba-hambanya yang salih dan sebagai dorongan agar mereka bersemangat mencapai surga. Kemudain Allah Ta’ala mengatakan, “Para hamba-Ku yang melakukan puasa hampir menemukan hasil dan jerih payahnya hingga sampai kepadamu (wahai surga)”.

Keistimewaan Keempat: Dibelenggunya Gembong Setan

Gembong-gembong setan dibelenggu di bulan Ramadhan dengan rantai dan belenggu sehingga mereka tidak mampu menyesatkan hamba-hamba Allah yang salih. Ini merupakan pertolongan Allah Ta’ala kepada hamba-hamba-Nya dengan memenjarakan para musuh mereka. Hal inilah yang menyebabkan sering kita dapati bahwa orang-orang salih di bulan ini lebih mudah melakukan ketaatan dan menjauhi keburukan dibandingkan bulan-bulan yang lainnya.

Keistimewaan Kelima: Ampunan di Akhir Malam

Allah mengampuni umat Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam di akhir dari bulan Ramadhan. Hal ini akan terjadi jika seandainya kita melakukan amalan-amalan ketaatan yang sudah semestinya di bulan ini seperti puasa dan salat malam sebagai bentuk karunia dari Allah Ta’ala di mana Allah mengganjar orang-orang yang telah beramal di bulan ini. Ibarat seorang pekerja yang diberi upah tatkala ia telah selesai mengerjakan pekerjaannya.

Penutup

Demikianlah keutamaan bulan Ramadhan yang harus dimanfaatkan semua hamba-hamba Allah untuk menggapai ridho-Nya di akhirat kelak.

Wa Shallallahu ‘Ala Nabiyyinia Muhammad Wa ‘Ala Alihi wa Shohbihi Ajma’in.

ARTIKEL TERKAIT

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

spot_img