Daftar Isi
Sepantasnya kita senantiasa mensyukuri Allah atas segala nikmat-Nya: nikmat iman, nikmat afiah, serta nikmat dipertemukan dengan bulan Ramadan. Kita termasuk hamba-hamba yang dipilih oleh Allah untuk bertemu dengan bulan Ramadan dan menghidupkannya dengan berbagai ketaatan kepada-Nya. Maka sejatinya kita terus mensyukuri Allah, meningkatkan ketaatan kepada-Nya, menjaga kewajiban-kewajiban yang telah Allah wajibkan, serta memperbanyak amalan sebagai bentuk taqarrub ilallah.
Hakikat Puasa yang Sering Dilalaikan
Ada satu hal yang banyak dilalaikan oleh kaum muslimin saat berpuasa, yaitu hakikat puasa itu sendiri. Puasa dalam bahasa Arab disebut الصَّوْمُ (jamaknya: الصِّيَامُ). Secara bahasa, الصَّوْمُ berarti الإِمْسَاكُ (menahan).
Allah ‘Azza wa Jalla mengisahkan tentang Maryam ‘alaihas-salam dalam firman-Nya:
إِنِّي نَذَرْتُ لِلرَّحْمَٰنِ صَوْمًا فَلَنْ أُكَلِّمَ الْيَوْمَ إِنسِيًّا
“Sesungguhnya aku telah bernazar berpuasa untuk Tuhan Yang Maha Pemurah, maka aku tidak akan berbicara dengan seorang manusiapun pada hari ini”. (Qs. Maryam: 26)
Maryam bernazar untuk berpuasa, yaitu menahan diri dari berbicara dengan siapa pun. Inilah makna puasa secara bahasa.
Adapun puasa secara syariat adalah menahan diri dari makan, minum, hubungan badan, dan hal-hal yang membatalkan puasa sejak terbit fajar shadiq hingga terbenam matahari, dengan niat taqarrub kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Dan ini adalah tingkatan puasa yang paling ringan.
Maimun bin Mihran rahimahullahu ta‘ala berkata:
إِنَّ أَهْوَنَ الصَّوْمِ تَرْكُ الطَّعَامِ وَالشَّرَابِ
“Sesungguhnya puasa yang paling ringan adalah meninggalkan makan dan minum.”
Betul sekali, bahkan anak-anak kita mampu menahan makan dan minum. Namun Allah mensyariatkan puasa bukan sekadar itu. Allah berfirman dalam Surah Al-Baqarah ayat 183:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa” (Qs. Al-Baqarah: 183)
Agar kalian bertakwa kepada Allah. Inilah hikmah utama puasa: meraih ketakwaan.
Peringatan Nabi ﷺ tentang Puasa yang Sia-Sia
Rasulullah ﷺ bersabda:
مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ
“Siapa yang tidak meninggalkan ucapan dusta dan perbuatan dusta, maka Allah tidak butuh ia meninggalkan makan dan minumnya.” (HR. Bukhari)
Dalam hadis lain beliau ﷺ bersabda:
رُبَّ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إِلَّا الْجُوعُ، وَرُبَّ قَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ قِيَامِهِ إِلَّا السَّهَرُ
“Betapa banyak orang berpuasa, namun tidak mendapatkan apa-apa kecuali rasa lapar. Betapa banyak orang salat malam, namun tidak memperoleh apa-apa kecuali begadang.” (HR. Ibnu Majah; hasan)
Ahlul ilmi menjelaskan, di antara sebabnya:
لَمْ يُخْلِصْ لِلَّهِ، لَمْ يَحْفَظْ جَوَارِحَهُ عَنِ الْآثَامِ، لَمْ يَتَجَنَّبْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْكَذِبِ وَالْبُهْتَانِ وَالْغِيبَةِ
“Karena tidak ikhlas, tidak menjaga anggota badan dari dosa, serta tidak menjauhi dusta, kebohongan, dan ghibah.”
Teladan Para Sahabat dalam Menjaga Puasa
Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu berkata:
لَيْسَ الصِّيَامُ مِنَ الشَّرَابِ وَالطَّعَامِ، وَلَكِنْ مِنَ الْكَذِبِ وَالْبَاطِلِ وَاللَّهْوِ
“Bukanlah puasa itu sekadar menahan makan dan minum, tetapi menahan diri dari dusta, kebatilan, dan perkara sia-sia.”
Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu berkata:
إِذَا صُمْتَ فَلْيَصُمْ سَمْعُكَ وَبَصَرُكَ وَلِسَانُكَ عَنِ الْكَذِبِ وَالْمَعَاصِي
“Jika engkau berpuasa, maka puasalah juga pendengaranmu, penglihatanmu, dan lisanmu dari dusta dan maksiat.”
Beliau juga berkata:
وَلَا تَجْعَلْ يَوْمَ صَوْمِكَ وَفِطْرِكَ سَوَاءً
“Jangan samakan hari puasamu dengan hari ketika engkau tidak berpuasa.”

Puasanya Anggota Badan
Ibnu Al-Jauzi rahimahullahu ta‘ala berkata:
مَا مِنْ جَارِحَةٍ مِنْ بَدَنِ الْإِنْسَانِ إِلَّا وَيَلْزَمُهَا الصَّوْمُ
“Tidak ada satu pun anggota badan manusia kecuali wajib atasnya berpuasa.”
Ibnu Qayyim rahimahullahu berkata:
الصَّائِمُ هُوَ الَّذِي صَامَتْ جَوَارِحُهُ عَنِ الْآثَامِ، وَلِسَانُهُ عَنِ الْكَذِبِ وَالْفُحْشِ، وَبَطْنُهُ عَنِ الطَّعَامِ وَالشَّرَابِ، وَفَرْجُهُ عَنِ الرَّفَثِ
“Orang yang benar-benar berpuasa adalah yang anggota badannya turut berpuasa dari dosa-dosa, lisannya dari dusta dan ucapan keji, perutnya dari makan dan minum, serta kemaluannya dari perbuatan keji.”
Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullahu juga menegaskan:
يَجِبُ أَنْ يَصُومَ الْإِنْسَانُ عَنِ الْمَعَاصِي لِأَنَّهُ هُوَ الْمَقْصُودُ الْأَوَّلُ فِي الصَّوْمِ
“Wajib bagi setiap orang untuk berpuasa dari maksiat-maksiat, karena itulah tujuan utama dari ibadah puasa.”
Dan beliau berkata:
فَمَنْ صَامَ صَوْمًا ظَاهِرِيًّا جَسَدِيًّا وَلَكِنَّهُ لَمْ يَصُمْ صَوْمًا قَلْبِيًّا فَإِنَّ صَوْمَهُ نَاقِصٌ جِدًّا، لَا نَقُولُ إِنَّهُ بَاطِلٌ وَلَكِنْ نَقُولُ إِنَّهُ نَاقِصٌ
“Maka barang siapa berpuasa secara lahiriah dan jasmani saja, namun tidak berpuasa secara hati, maka sesungguhnya puasanya itu sangat kurang. Kita tidak mengatakan bahwa puasanya batal, tetapi kita mengatakan bahwa puasanya itu kurang (tidak sempurna).”
Bagaimana kita bisa menahan anggota badan kita agar juga ikut berpuasa? Dikatakan oleh ahlul ilmi, di antara hal-hal yang bisa mewujudkan kita untuk anggota badan kita ikut berpuasa ialah dengan kita meyakini bahwasanya anggota badan kita ini adalah amanah. Anggota badan adalah amanah dari Allah dan akan dimintai pertanggungjawaban. Allah berfirman:
إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْؤُولًا
“Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan dimintai pertanggungjawaban.” (QS. Al-Isra’: 36)
Dan pada hari kiamat nanti:
الْيَوْمَ نَخْتِمُ عَلَىٰ أَفْوَاهِهِمْ وَتُكَلِّمُنَا أَيْدِيهِمْ وَتَشْهَدُ أَرْجُلُهُم بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ
“Pada hari ini Kami tutup mulut mereka, dan tangan mereka akan berbicara kepada Kami, serta kaki mereka menjadi saksi atas apa yang dahulu mereka kerjakan.” (QS. Yasin: 65)
يَوْمَ تَشْهَدُ عَلَيْهِمْ أَلْسِنَتُهُمْ وَأَيْدِيهِمْ وَأَرْجُلُهُم بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
“Pada hari ketika lidah, tangan, dan kaki mereka menjadi saksi atas apa yang dahulu mereka kerjakan.” (An-Nur: 24)
Rasulullah ﷺ juga mengajarkan doa kepada salah seorang sahabat:
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ سَمْعِي، وَمِنْ شَرِّ بَصَرِي، وَمِنْ شَرِّ لِسَانِي، وَمِنْ شَرِّ قَلْبِي، وَمِنْ شَرِّ مَنِيِّي
“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari keburukan pendengaranku, dari keburukan penglihatanku, dari keburukan lisanku, dari keburukan hatiku, dan dari keburukan kemaluanku.” (HR. Abu Dawud)
Semua ini menunjukkan bahwa puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi menahan seluruh anggota badan dari maksiat agar puasa menjadi sempurna di sisi Allah.

Marilah kita menjaga hakikat puasa sebagaimana yang diajarkan oleh Nabi ﷺ dan para sahabatnya. Bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi juga menahan lisan, pandangan, pendengaran, hati, serta seluruh anggota badan dari maksiat kepada Allah. Semoga Allah ‘Azza wa Jalla memudahkan kita meningkatkan ibadah di bulan Ramadan, menerima amal-amal kita, serta meneguhkan kita di atas ketaatan hingga ajal menjemput. Aamiin.
Baca juga: Istiqamah Setelah Ramadan



