Daftar isi:
Jika bulan Ramadan telah berlalu, maka bukan berarti amalan kebaikan ikut berlalu bersamanya. Karena sesungguhnya selama nyawa masih berada dalam jasad, maka seorang hamba dituntut untuk terus menaati Allah dan beribadah kepada-Nya.
Allah Subhanahu wa Ta‘ala berfirman:
وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّىٰ يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ
“Dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu yang diyakini (yaitu ajal).” (QS. Al-Hijr: 99)
Ayat ini menunjukkan bahwa kewajiban beribadah tidak terbatas pada bulan Ramadan saja. Selama hidup masih dikandung badan, maka selama itu pula kewajiban taat kepada Allah tetap berlaku.
Allah juga berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.” (QS. Ali ‘Imran: 102)
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:
إِذَا مَاتَ الإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلاَثَةٍ: صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ
“Apabila manusia meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga hal: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak shalih yang mendoakannya.” (HR. Muslim)
Menjaga Puasa Sunnah Setelah Ramadan
Salah satu bentuk istiqamah setelah Ramadan adalah dengan menjaga puasa-puasa sunnah. Di antaranya adalah puasa enam hari di bulan Syawal. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ، ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِّنْ شَوَّالٍ، كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ
“Barang siapa berpuasa Ramadan kemudian mengikutinya dengan enam hari di bulan Syawal, maka seperti berpuasa sepanjang tahun.” (HR. Muslim)
Hadis ini menjelaskan bahwa orang yang berpuasa Ramadan secara penuh, lalu menambahnya dengan puasa enam hari di bulan Syawal, maka dia akan mendapatkan pahala seolah-olah puasa selama satu tahun penuh. Ini karena satu kebaikan dibalas dengan sepuluh kali lipat. Maka, puasa Ramadan setara dengan sepuluh bulan, dan puasa enam hari setara dengan dua bulan.
Tentang pelaksanaannya, para ulama menyatakan bahwa boleh dikerjakan secara berurutan maupun terpisah, selama masih dalam bulan Syawal. Namun, yang lebih utama adalah dilakukan secara berurutan dan langsung setelah hari raya, karena hal itu lebih cepat dalam menyambut kebaikan dan tidak menunda-nunda amal.
Puasa ini juga bisa dilakukan setelah menyelesaikan qadha Ramadan terlebih dahulu bagi yang masih memiliki utang puasa. Hal ini berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ…
“Barang siapa yang berpuasa Ramadan…”
Ini menunjukkan bahwa puasa enam hari Syawal dilakukan setelah menyempurnakan puasa Ramadan.
Selain puasa Syawal, ada juga puasa-puasa sunnah lainnya, seperti:
- Puasa Senin-Kamis
- Puasa Ayyamul Bidh (tanggal 13, 14, dan 15 tiap bulan Hijriyah)
- Puasa hari Arafah (9 Dzulhijjah)
- Puasa hari Asyura (10 Muharram)

Qiyamullail
Salah satu amalan utama di bulan Ramadan adalah shalat malam (qiyamullail), atau yang dikenal dengan shalat tarawih. Namun, setelah Ramadan berlalu, bukan berarti qiyamullail juga ditinggalkan. Justru hendaknya tetap dilanjutkan sepanjang tahun.
Allah Subhanahu wa Ta‘ala memuji orang-orang yang rajin shalat malam:
كَانُوا قَلِيلًا مِّنَ اللَّيْلِ مَا يَهْجَعُونَ وَبِالْأَسْحَارِ هُمْ يَسْتَغْفِرُونَ
“Mereka sedikit sekali tidur di waktu malam; dan di akhir malam mereka memohon ampun (kepada Allah).” (QS. Adz-Dzariyat: 17–18)
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam sendiri tidak pernah meninggalkan qiyamullail. Bahkan dalam satu hadis disebutkan bahwa beliau shalat malam sampai bengkak kakinya. Dari Ummul mukminin Aisyah radhiallahu taala anha, bahwasanya Beliau berkata,
كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُومُ مِنَ اللَّيْلِ حَتَّى تَتَفَطَّرَ قَدَمَاهُ ، فَقُلْتُ لَهُ : لِمَ تَصْنَعُ هَذَا ، يَا رَسُولَ الله ، وَقَدْ غُفِرَ لَكَ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِكَ وَمَا تَأخَّرَ ؟ قَالَ : أفَلاَ أكُونُ عَبْداً شَكُوراً!
“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa melakukan shalat malam sampai kedua kakinya bengkak, maka aku berkata kepadanya, ‘Kenapa engkau melakukan seperti ini, wahai Rasulullah? Padahal dosa-dosamu yang telah lalu dan akan datang telah diampuni.’ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, ‘Tidak bolehkah aku menjadi hamba yang bersyukur.’” (HR. Bukhari dan Muslim)
Shalat malam sangat dianjurkan, terutama di sepertiga malam terakhir, karena Allah Subhanahu wa Ta‘ala turun ke langit dunia dan mengabulkan doa hamba-hamba-Nya:
يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا …
“Rabb kita turun ke langit dunia setiap malam pada sepertiga malam terakhir, lalu berfirman: Siapa yang berdoa kepada-Ku, Aku akan kabulkan; siapa yang meminta, Aku beri; dan siapa yang memohon ampun, Aku ampuni.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Menjaga Shalat Sunnah Rawatib
Amalan lainnya yang dianjurkan untuk dijaga setelah Ramadan adalah shalat sunnah rawatib. Yaitu shalat-shalat sunnah yang mengiringi shalat fardhu.
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:
مَنْ صَلَّى ثِنْتَيْ عَشْرَةَ رَكْعَةً فِي يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ بُنِيَ لَهُ بِهِنَّ بَيْتٌ فِي الْجَنَّةِ
“Barang siapa shalat dua belas rakaat dalam sehari semalam, maka dibangunkan baginya sebuah rumah di surga.” (HR. Muslim)
Rinciannya adalah:
- 2 rakaat sebelum Subuh
- 4 rakaat sebelum Dzuhur
- 2 rakaat setelah Dzuhur
- 2 rakaat setelah Maghrib
- 2 rakaat setelah Isya
Menjaga shalat-shalat ini termasuk bagian dari istiqamah dalam ibadah setelah Ramadan.

Membaca Al-Qur’an Setiap Hari
Di bulan Ramadan, semangat membaca Al-Qur’an meningkat pesat. Namun seharusnya kebiasaan tersebut tetap dilanjutkan setelah Ramadan.
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:
اقْرَؤُوا الْقُرْآنَ، فَإِنَّهُ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيعًا لِأَصْحَابِهِ
“Bacalah Al-Qur’an, karena ia akan datang pada hari kiamat memberi syafaat bagi para pembacanya.” (HR. Muslim)
Semoga Allah Subhanahu wa Ta‘ala memberi kita taufik dan kekuatan untuk istiqamah dalam ketaatan. Ramadan telah berlalu, namun Rabb Ramadan tidak pernah berlalu. Mari kita lanjutkan amalan-amalan kebaikan sebagai tanda bahwa ibadah kita di bulan Ramadan membuahkan hasil. Karena salah satu tanda diterimanya suatu amal kebaikan adalah dengan dilanjutkannya kebaikan setelahnya.
Allah Ta‘ala berfirman:
مَنْ عَمِلَ صَٰلِحًا مِّن ذَكَرٍ أَوْ أُنثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَوٰةً طَيِّبَةً ۖ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُم بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا۟ يَعْمَلُونَ
“Barang siapa mengerjakan amal shalih, baik laki-laki maupun perempuan, dalam keadaan beriman, maka pasti Kami akan berikan kepadanya kehidupan yang baik dan akan Kami beri balasan dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. An-Nahl: 97)
Baca juga: Adab Membaca Al-Qur'an



