Al-Qur’an adalah kalamullah, firman Allah Subhanahu wa Ta’ala yang diturunkan sebagai petunjuk, cahaya, dan rahmat bagi seluruh manusia. Maka tidak selayaknya seorang muslim memperlakukan Al-Qur’an sebagaimana ia memperlakukan perkataan manusia biasa. Ia harus dibaca dengan adab, dimuliakan dengan hati, dan diamalkan dalam kehidupan.
Allah Ta’ala berfirman:
ذَٰلِكَ وَمَن يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللَّهِ فَإِنَّهَا مِن تَقْوَى الْقُلُوبِ
“Demikianlah (perintah Allah). Dan barangsiapa mengagungkan syi’ar-syi’ar Allah, maka sesungguhnya itu berasal dari ketakwaan hati.” (QS. Al-Hajj: 32)
Mengagungkan Al-Qur’an termasuk bagian dari mengagungkan syi’ar Allah. Dan salah satu bentuk pengagungan tersebut adalah dengan beradab ketika membaca dan mendengarkannya.
Daftar Isi
1. Bersuci dari Hadats
Di antara adab yang pertama adalah seorang muslim membaca Al-Qur’an dalam keadaan suci dari hadats kecil maupun besar.
Allah Ta’ala berfirman:
لَا يَمَسُّهُ إِلَّا الْمُطَهَّرُونَ
“Tidak menyentuhnya kecuali orang-orang yang disucikan.” (QS. Al-Waqi’ah: 79)
Rasulullah ﷺ juga bersabda:
لَا يَمَسُّ الْقُرْآنَ إِلَّا طَاهِرٌ
“Tidak menyentuh Al-Qur’an kecuali orang yang suci.” (HR. Malik dan lainnya)
Walaupun terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama tentang rincian hukumnya, namun dalam konteks adab, hendaknya seorang muslim berusaha dalam keadaan suci sebagai bentuk penghormatan terhadap firman Allah.
2. Menjaga Kebersihan Tubuh dan Pakaian
Tidak cukup hanya suci, tetapi juga bersih. Seorang muslim hendaknya membaca Al-Qur’an dalam keadaan tubuh dan pakaian yang bersih serta rapi.
Allah Ta’ala berfirman:
يَا بَنِي آدَمَ خُذُوا زِينَتَكُمْ عِندَ كُلِّ مَسْجِدٍ
“Wahai anak Adam, pakailah pakaian terbaik kalian di setiap (memasuki) masjid.”
(QS. Al-A’raf: 31)
Sebagian ulama menafsirkan ayat ini mencakup seluruh ibadah, termasuk membaca Al-Qur’an.
3. Membersihkan Mulut (Bersiwak)
Karena mulut adalah tempat keluarnya ayat-ayat Allah, maka hendaknya dibersihkan terlebih dahulu.
Rasulullah ﷺ bersabda:
السِّوَاكُ مَطْهَرَةٌ لِلْفَمِ مَرْضَاةٌ لِلرَّبِّ
“Siwak itu membersihkan mulut dan mendatangkan keridhaan Rabb.” (HR. An-Nasa’i)
4. Menghadap Kiblat
Disunnahkan bagi pembaca Al-Qur’an untuk menghadap kiblat, karena itu adalah arah yang paling mulia dalam ibadah.
5. Membaca dengan Khusyu’, Tadabbur, dan Tafakkur
Tujuan utama membaca Al-Qur’an bukan sekadar melafalkan, tetapi merenungi maknanya.
Allah Ta’ala berfirman:
كِتَابٌ أَنزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الْأَلْبَابِ
“Ini adalah Kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh berkah agar mereka mentadabburi ayat-ayatnya dan agar orang-orang yang berakal mengambil pelajaran.” (QS. Shad: 29)
Tanpa khusyu’, seseorang tidak akan mampu mentadabburi Al-Qur’an.
Baca Juga : Adab dalam Bermajelis: Menjaga Etika Seorang Penuntut Ilmu
6. Menghadirkan Hati saat Membaca
Seorang pembaca harus menghadirkan hati, sehingga ia terpengaruh dengan apa yang dibaca.
Allah Ta’ala berfirman:
إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَذِكْرَىٰ لِمَن كَانَ لَهُ قَلْبٌ
“Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat pelajaran bagi orang yang mempunyai hati.” (QS. Qaf: 37)
Para sahabat radhiyallahu ‘anhum ketika membaca ayat tentang surga, mereka memohon kepada Allah. Ketika membaca ayat tentang azab, mereka menangis dan berlindung kepada-Nya.
7. Membaca dengan Suara yang Baik dan Sesuai Tajwid
Rasulullah ﷺ bersabda:
زَيِّنُوا الْقُرْآنَ بِأَصْوَاتِكُمْ
“Hiasilah Al-Qur’an dengan suara kalian.” (HR. Abu Dawud)
Dan juga sabda beliau:
لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَمْ يَتَغَنَّ بِالْقُرْآنِ
“Bukan termasuk golongan kami orang yang tidak memperindah bacaan Al-Qur’an.”
(HR. Bukhari)
Memperindah di sini bukan hanya suara, tetapi juga membaca sesuai kaidah tajwid yang benar.
8. Menjaga Adab dan Sikap saat Membaca
Seorang muslim tidak boleh membaca Al-Qur’an sambil bercanda, tertawa, makan, atau melakukan hal yang melalaikan.
Allah Ta’ala berfirman:
أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ
“Tidakkah mereka mentadabburi Al-Qur’an?” (QS. An-Nisa: 82)
9. Berpakaian Layak dan Sopan
Sebagaimana seseorang berhias untuk shalat, maka membaca Al-Qur’an pun lebih pantas dilakukan dengan pakaian yang baik dan sopan.

Adab Mendengarkan Al-Qur’an
Allah Ta’ala berfirman:
وَإِذَا قُرِئَ الْقُرْآنُ فَاسْتَمِعُوا لَهُ وَأَنْصِتُوا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ
“Apabila Al-Qur’an dibacakan, maka dengarkanlah dan diamlah agar kalian mendapatkan rahmat.” (QS. Al-A’raf: 204)
Mendengarkan bukan hanya dengan telinga, tetapi juga dengan hati yang khusyu’ dan penuh perhatian.
Adab Terpenting: Ikhlas
Rasulullah ﷺ bersabda tentang tiga golongan pertama yang diadili pada hari kiamat, salah satunya adalah pembaca Al-Qur’an yang riya:
…وَرَجُلٌ تَعَلَّمَ الْعِلْمَ وَعَلَّمَهُ وَقَرَأَ الْقُرْآنَ… فَأُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ حَتَّى أُلْقِيَ فِي النَّارِ
“…Seorang yang belajar ilmu dan membaca Al-Qur’an… namun ia melakukannya agar dipuji, maka ia diseret ke neraka.” (HR. Muslim)
Ini menunjukkan bahwa ikhlas adalah adab yang wajib, bukan sekadar anjuran.
Membaca dengan Tartil
Allah Ta’ala berfirman:
وَرَتِّلِ الْقُرْآنَ تَرْتِيلًا
“Dan bacalah Al-Qur’an dengan tartil.” (QS. Al-Muzzammil: 4)
Tartil adalah membaca dengan benar sesuai kaidah, bukan sekadar lambat.
Penutup
Al-Qur’an adalah kitab yang penuh berkah:
وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ تِبْيَانًا لِّكُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً
“Kami turunkan kepadamu Al-Kitab sebagai penjelas segala sesuatu, petunjuk, dan rahmat.” (QS. An-Nahl: 89)
Maka hendaknya kita tidak hanya membaca, tetapi juga memuliakan, memahami, dan mengamalkannya dengan adab yang benar.
Semoga Allah menjadikan kita termasuk أهل القرآن، الذين هم أهل الله وخاصته.
Wallahu a’lam bish-shawab



