Adab seorang Muslim dalam kehidupan sehari-hari sangatlah penting, termasuk adab saat berada di jalan. Syaikh Shalih bin Abdullah bin Hamad Al-Ushaimi Hafizhahullah Ta’ala dalam kitab Al-Adab Asy-Asyarah menjelaskan beberapa prinsip dasar yang menjadi pedoman etika ketika berada di jalan. Prinsip-prinsip ini didasarkan pada dalil syar’i dan kebiasaan baik yang telah dikenal dalam masyarakat Muslim.
Daftar Isi
Hak-Hak Jalan
أعط الطريق حقه، فغض بصرك، وكف الأذى، ورد السلام، وامر بالمعروف، وانه عن المنكر
“Berikanlah setiap jalan itu haknya yaitu dengan menundukkan pandanganmu, tidak mengganggu (orang lain), menjawab salam, dan memerintahkan kepada kebaikan serta melarang kemungkaran.”
Penjelasan ini mencakup prinsip-prinsip dasar dalam menggunakan jalan yang wajib diketahui dan dipatuhi oleh seluruh umat Islam. Sayangnya, masih banyak kaum Muslimin yang lalai terhadap adab ini. Padahal, pemerintah di banyak negara telah menetapkan aturan terkait hak dan kewajiban pengguna jalan.
Sebagai contoh di Indonesia, ketika dibangun jalan dua arah dengan jalur terpisah untuk arah kanan dan kiri, maka setiap pengguna jalan wajib mengikuti arah yang telah ditetapkan. Menggunakan jalur secara terbalik bukan hanya pelanggaran hukum negara, tapi juga bertentangan dengan hak-hak jalan menurut syariat.
Hal ini sejalan dengan kaidah fikih:
الأصل في العادات الإباحة
“Hukum asal untuk masalah adat (kebiasaan manusia) adalah boleh.”
Adab Menundukkan Pandangan di Jalan
Termasuk adab jalan yang penting adalah menundukkan pandangan, yakni tidak melihat hal-hal yang bukan haknya. Allah Ta’ala berfirman:
قُلْ لِّلْمُؤْمِنِيْنَ يَغُضُّوْا مِنْ اَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوْا فُرُوْجَهُمْۗ ذٰلِكَ اَزْكٰى لَهُمْۗ اِنَّ اللّٰهَ خَبِيْرٌۢ بِمَا يَصْنَعُوْنَ
“Katakanlah kepada laki-laki yang beriman, hendaklah mereka menjaga pandangannya dan memelihara kemaluannya. Demikian itu lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya Allah Mahateliti terhadap apa yang mereka perbuat.” (QS. An-Nur: 30)
Tafsir Ibnu Katsir menjelaskan:
هذا أمر من الله تعالى لعباده المؤمنين أن يغضوا من أبصارهم عما حرم عليهم، فلا ينظروا إلا إلى ما أباح لهم النظر إليه ، وأن يغضوا أبصارهم عن المحارم
“Ini adalah perintah dari Allah Ta’ala kepada hamba-hambaNya yang beriman untuk menjaga (menahan) pandangan mereka dari hal-hal yang diharamkan atas mereka. Maka janganlah memandang kecuali kepada hal-hal yang diperbolehkan. Dan tahanlah pandanganmu dari hal-hal yang diharamkan.” (Tafsir Ibnu Katsir, Jilid 6, Hal. 41)
Baca Juga: Adab dalam Bermajelis: Menjaga Etika Seorang Penuntut Ilmu
Tidak Mengganggu dan Menjawab Salam
Adab lainnya adalah tidak mengganggu orang lain dan menjawab salam. Tidak mengganggu berarti tidak menyakiti atau memberikan hal yang tidak disukai oleh orang lain. Nabi Shalallahu Alaihi Wasallam bersabda:
إِيَّاكُمْ وَالْجُلُوسَ عَلَى الطُّرُقَاتِ… قَالَ: فَإِذَا أَبَيْتُمْ إِلَّا الْمَجَالِسَ فَأَعْطُوا الطَّرِيقَ حَقَّهَا… قَالَ: غَضُّ الْبَصَرِ وَكَفُّ الْأَذَى وَرَدُّ السَّلَامِ وَأَمْرٌ بِالْمَعْرُوفِ وَنَهْيٌ عَنْ الْمُنْكَرِ
“Janganlah kalian duduk-duduk di (tepi) jalanan.” Mereka berkata, “Kami perlu duduk-duduk untuk berbincang-bincang.” Beliau bersabda, “Jika kalian harus duduk, maka berilah hak jalan tersebut.” Mereka bertanya, “Apa hak jalan tersebut, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Menundukkan pandangan, tidak mengganggu, menjawab salam, memerintahkan kebaikan, dan mencegah kemungkaran.” (HR. Bukhari)
Menjawab salam adalah kewajiban yang disebutkan dalam firman Allah Ta’ala:
وَاِذَا حُيِّيْتُمْ بِتَحِيَّةٍ فَحَيُّوْا بِاَحْسَنَ مِنْهَآ اَوْ رُدُّوْهَا ۗ اِنَّ اللّٰهَ كَانَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ حَسِيْبًا
“Apabila kamu dihormati dengan suatu penghormatan (salam), balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik daripadanya atau balaslah dengan yang sepadan. Sesungguhnya Allah Maha Memperhitungkan segala sesuatu.” (QS. An-Nisa: 86)

Memerintahkan Kebaikan dan Melarang Kemungkaran di Jalan
Adab jalan yang terakhir adalah amar ma’ruf nahi munkar. Allah Ta’ala berfirman:
وَلْتَكُنْ مِّنْكُمْ اُمَّةٌ يَّدْعُوْنَ اِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ ۗ وَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ
“Hendaklah ada di antara kamu segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh berbuat yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar. Mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Ali-Imran: 104)
Perintah ini menghasilkan banyak kebaikan sebagaimana Allah nyatakan dalam ayat lain:
….كُنْتُمْ خَيْرَ اُمَّةٍ اُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُوْنَ بِاللّٰهِ
“Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia (selama) kamu menyuruh berbuat yang makruf, mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah…” (QS. Ali-Imran: 110)
Penutup Demikianlah beberapa adab yang harus diperhatikan oleh setiap Muslim saat berada di jalan. Semoga Allah memberikan taufik dan kemudahan kepada kita semua untuk mengamalkan sunnah Nabi Shalallahu Alaihi Wasallam dalam kehidupan sehari-hari.
Wallahu a’lam.



