spot_img
BerandaAdab dan AkhlakAdab Seorang Ulama Terhadap Dirinya Sendiri

Adab Seorang Ulama Terhadap Dirinya Sendiri

Di antara adab yang wajib diperhatikan oleh seorang ulama adalah menjaga adab terhadap dirinya sendiri. Hal ini dilakukan dengan menjaga syiar-syiar Islam, mengajarkannya, serta mengamalkannya. Syi’ar yang paling tampak dan mudah dilihat oleh manusia adalah shalat berjamaah di masjid serta menyebarkan salam kepada sesama Muslim.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Kalian tidak akan masuk surga sampai kalian beriman. Dan kalian tidak beriman hingga kalian saling mencintai. Maukah kalian aku tunjukkan sesuatu yang jika kalian melakukannya kalian akan saling mencintai? Sebarkanlah salam di antara kalian.” (HR. Muslim).

Sudah selayaknya seorang alim dan penuntut ilmu menjaga syiar agama yang tampak di tengah masyarakat, sehingga masyarakat dapat mengambil faedah dari ilmu yang ia miliki. Jika seorang yang berilmu justru enggan menampakkan syiar Islam, maka itu merupakan musibah besar.

Shalat Berjamaah sebagai Syiar Seorang Alim

Shalat berjamaah adalah amalan yang tampak dan dilakukan lima kali sehari. Meskipun sebagian ulama berpendapat bahwa hukum shalat berjamaah adalah fardhu kifayah, hal itu tidak menggugurkan kewajiban shalat berjamaah di masjid bagi setiap Muslim. Para ulama sangat menjaga takbir pertama dan shaf pertama.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Seandainya manusia mengetahui keutamaan adzan dan shaf pertama, lalu tidak mendapatkannya kecuali dengan cara diundi, niscaya mereka akan mengundi untuk mendapatkannya.” (HR. Muslim)

Menyebarkan Salam

Termasuk syiar Islam adalah menyebarkan salam. Dari Abdullah bin Amr radhiyallahu ‘anhuma, seseorang bertanya kepada Nabi:

“Islam apakah yang paling baik?”

Beliau menjawab: “Engkau memberi makan dan mengucapkan salam kepada orang yang engkau kenal maupun tidak.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Ucapan salam paling sempurna adalah “Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh”, namun ucapan “Assalamu’alaikum” juga sah. Orang yang mendengarnya wajib menjawab salam dengan jawaban yang lebih baik atau serupa, sebagaimana firman Allah:

“Apabila kamu diberi penghormatan dengan suatu salam, maka balaslah dengan yang lebih baik atau yang serupa.” (QS. An-Nisa: 86)

Amar Ma’ruf Nahi Munkar

Seorang ulama harus memerintahkan kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran. Hal ini hanya bisa dilakukan oleh orang-orang yang berilmu. Jika ulama tidak melakukan amar ma’ruf nahi munkar, bagaimana mungkin masyarakat yang awam mampu melakukannya?

Meskipun amar ma’ruf nahi munkar terkadang menimbulkan gejolak, seorang alim harus bersabar sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabar dalam dakwahnya.

Baca Juga : 5 Adab Seorang Muslim di Jalan: Kunci Aman dan Tertib

Adab Menasihati Penguasa

Jika seorang pemimpin berlaku zalim, maka tidak boleh menasihatinya dengan cara terang-terangan, apalagi membuat kekacauan. Cara menasihati pemimpin adalah:

“Barangsiapa ingin menasihati penguasa, janganlah ia tampakkan di hadapan umum. Hendaklah ia pegang tangannya lalu menyendiri dengannya…”. (HR. Bukhari)

Jika nasihat tidak diterima, ulama telah menunaikan kewajibannya.

Menjadi Teladan dan Tempat Bertanya

Seorang ulama adalah rujukan umat. Maka ia harus menjadi teladan dalam kebaikan, perilaku, dan kesungguhan dalam ibadah. Segala perkara yang tidak diketahui harus dikembalikan kepada ahlinya, sebagaimana firman Allah:

“Maka bertanyalah kepada orang-orang berilmu jika kalian tidak mengetahui.” (QS. Al-Anbiya:7)

adab

Menjaga dan Mengamalkan Ilmunya

Termasuk adab seorang ulama adalah mengamalkan ilmu yang telah dipelajarinya, terutama dalam menjaga hafalan Al-Qur’an.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Hafalkanlah Al-Qur’an, demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, sungguh ia lebih mudah lepas daripada unta dari tali ikatannya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Para ulama seperti Imam Ahmad sangat menjaga waktunya untuk muraja’ah Al-Qur’an dan mengkhatamkannya secara rutin.

Penutup

Inilah beberapa adab seorang alim atau penuntut ilmu terhadap dirinya sendiri. Adab-adab ini menjadikan mereka teladan yang baik bagi masyarakat dalam perkara ibadah, akhlak, dan syiar Islam.

Wallahu a’lam.

ARTIKEL TERKAIT

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

spot_img