“Tahukah Anda bahwa akhlak yang baik bisa menyaingi pahala orang yang rajin puasa dan shalat malam?“
Banyak yang fokus pada ibadah fisik—seperti shalat, puasa, atau haji namun lupa bahwa dalam Islam, akhlak yang mulia memiliki kedudukan yang sangat tinggi. Bahkan, Rasulullah ﷺ menjadikan akhlak sebagai salah satu tolok ukur kesempurnaan iman.
Di tengah dunia yang kerap dipenuhi kekasaran, ego, dan ucapan menyakitkan, akhlak baik adalah cahaya yang menenangkan. Artikel ini akan membimbing kita memahami betapa pentingnya akhlak, melalui dalil-dalil sahih dan teladan dari para sahabat serta salafus shalih.
Daftar Isi
Keutamaan Akhlak dalam Al-Qur’an dan Hadits
- Akhlak sebagai Cermin Kemuliaan Nabi ﷺ
Sesungguhnya diantara amalan yang paling mulia yang syariat menyeru kepadanya dan memotivasi umatnya adalah berakhlak yang baik, itulah karunia yang paling agung yang Allah anugerahkan kepada hamba-hamba-Nya. Allah berfirman kepada Nabi Muhammad shallallahu’alaihi wa sallam,
وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٍ
Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung. (QS al Qolam: 4)
- Akhlak Baik Menjadi Amal Terberat di Hari Kiamat
Sebuah hadis dari sahabat Abu Darda’ radhiyallahu’anhu dia berkata, bahwa Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,
ما من شيءٍ أثقلُ في ميزانِ المؤمنِ يومَ القيامةِ من خُلقٍ حسنٍ وإنَّ اللهَ يُبغضُ الفاحشَ البذيءَ
Tidak ada yang lebih berat di timbangan seorang mukmin pada hari kiamat melebihi akhlak yang baik, dan Allah membenci seorang yang bengis dan kasar di dalam perkataan dan perbuatannya. (HR at Tirmidzi)
- Akhlak dan Ketakwaan: Dua Sayap Kesuksesan
Diantara pula yang diwasiatkan Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam kepada dua orang sahabatnya Abu Dzar dan Mu’adz radhiyallahu’anhuma bahwa beliau bersabda,
– اتَّقِ اللهَ حيثُما كنتَ ، وأتبِعِ السَّيِّئةَ الحسَنةَ تَمْحُهَا ، وخالِقِ النَّاسَ بخُلُقٍ حَسنٍ
Bertakwalah kepada Allah dimanapun engkau berada, ikutilah setelah berbuat salah dengan melakukan kebaikan, dan pergaulilah manusia dengan akhlak yang baik. (HR at Tirmidzi).
Ibnul Qayyim mengatakan dalam bukunya al fawaid ketika membawakan hadis tersebut bahwa dalam hadis ini Nabi shallallahu’alaihi wa sallam mengumpulkan takwa kepada Allah dengan akhlak yang baik. Karena ketakwaan kepada Allah akan memperbaiki hubungan antara hamba dan Rabb-Nya, adapun akhlak yang baik akan memperbaiki hubungan antara ia dan sesamanya. Takwa kepada Allah menyebabkan mendapatkan cinta Allah, adapun akhlak yang baik akan menyebabkan ia dicintai oleh manusia.
- Kesempurnaan Iman Tergantung Akhlak
Tidak akan sempurna iman seorang hamba jika ia tidak diberikan taufik untuk berakhlak yang baik. Sebuah hadis diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu bahwa Nabi shallallahu’alaihi wa sallam pernah bersabda,
أكمَلُ المؤمنين إيمانًا أحسَنُهم خُلقًا Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah orang yang paling baik akhlaknya. (HR at Tirmidzi)
Sebagian para salaf mengatakan bahwa akhlak yang baik itu terbagi menjadi dua, yaitu:
- Akhlak yang baik kepada Allah, yaitu engkau mengetahui bahwa apa yang timbul dari dirimu berupa perbuatan atau amalan maka harus dibarengi dengan permintaan uzur kepadanya (istighfar), adapun apa yang engkau dapatkan dari karunia dan nikmat Allah harus dibarengi dengan bersyukur kepada-Nya.
- Akhlak yang baik kepada manusia, yang secara umum dapat dikategori kedalam dua hal yakni berbuat kebaikan kepada mereka baik dalam perkataan maupun perbuatan, yang kedua adalah menahan dan mencegah keburukan kepada mereka baik dalam perkataan maupun perbuatan.
- Meraih derajat Orang yang Gemar Puasa dan Shalat Sunnah
Seorang yang memegang erat hal ini yaitu berakhlak mulia layak untuk dapat meraih derajat seperti orang yang gemar mengerjakan puasa sunnah dan berdiri shalat malam sebagaimana sabda Nabi shallallahu’alaihi wa sallam :
إن المؤمنَ لَيُدْرِكُ بحُسْنِ خُلُقِه درجةَ الصائمِ القائمِ
“sesungguhnya seorang mukmin bisa meraih derajat orang yang rajin berpuasa dan salat dengan sebab akhlaknya yang luhur.” (HR Abu Daud).g
Baca Juga: 5 Adab Seorang Muslim di Jalan: Kunci Aman dan Tertib
Definisi dan Bentuk Akhlak yang Baik
Menurut Ibnu Mubarak, akhlak mulia meliputi:
- Wajah ceria
- Memulai kebaikan
- Menahan lisan dan tangan dari menyakiti
- Sabar atas gangguan manusia
Akhlak yang baik mencakup ucapan, perbuatan, dan sikap hati. Baik kepada Allah (dengan syukur dan istighfar), maupun kepada manusia (dengan berkata baik dan tidak membalas keburukan dengan keburukan). Seorang muslim pastinya akan menghadapi berbagai macam keadaan dalam fase kehidupannya, jika ia tidak beraklah yang baik dalam kehidupannya maka ia akan kalah dan gagal dalam menjalani fase-fase tersebut.
Akhlak yang baik melingkupi berbagai sisi kehidupan seorang muslim, baik dalam berbicara maupun perbuatannya, baik mencakup peribadahannya kepada Allah ataupun pergaulannya dengan sesama hamba-hamba-Nya. Allah berfirman,
وَقُل لِّعِبَادِي يَقُولُوا الَّتِي هِيَ أَحْسَنُ ۚ إِنَّ الشَّيْطَانَ يَنزَغُ بَيْنَهُمْ ۚ إِنَّ الشَّيْطَانَ كَانَ لِلْإِنسَانِ عَدُوًّا مُّبِينًا
Dan katakanlah kepada hamba-hamba-Ku: “Hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik (benar). Sesungguhnya setan itu menimbulkan perselisihan di antara mereka. Sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia. (QS al Isra: 53)
Allah berfirman pula di ayat yang lain,
وَقُولُوا لِلنَّاسِ حُسْنًا
Dan ucapkanlah perkataan yang baik kepada manusia (QS al Baqarah: 83)
وَلَا تَسْتَوِي الْحَسَنَةُ وَلَا السَّيِّئَةُ ۚ ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ فَإِذَا الَّذِي بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ كَأَنَّهُ وَلِيٌّ حَمِيمٌ
Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia. (QS Fussilat: 34)
Sahabat Ibnu Abbas memberikan penjelasan ketika menafsirkan ayat ini:
أمر الله المؤمنين بالصبر عند الغضب، والحلم عند الجهل، والعفو عند الإساءة، فإذا فعلوا ذلك عصمهم الله من الشيطان، وخضع لهم عدوهم كأنه ولي حميم
(Dalam ayat ini) Allah memerintahkan orang-orang yang beriman untuk bersabar ketika dalam keadaan marah, tenang tidak grusa-grusu ketika tidak tahu, meminta maaf ketika berbuat salah. Jika mereka melakukan hal tersebut maka Allah akan menjaga mereka dari setan akan menaklukkan orang yang memusuhi mereka dan menjadikan mereka layaknya teman setia.
Kaidah umum yang dapat diamalkan dan dipraktekkan dalam hal ini adalah hendaklah jangan cepat merespon dengan celaan dan hinaan kepada orang yang berbuat jelek kepadamu, atau tidak meremehkan hak-hakmu, namun hendaknya engkau berinteraksi kepadanya dengan baik sangka dan mencarikan uzur untuknya.
Sebaliknya janganlah engkau mengucapkan suatu perkataan atau melakukan perbuatan yang mengharuskan engkau untuk meminta uzur dan maaf darinya. Dalam sebuah hadis dari Anas bin Malik radhiyallahu’anhu berkata, bahwa Nabi shallallahu’alaihi wa sallam pernah bersabda,
وإيَّاكَ وما يُعتَذرُ منهُ
Berhati-hati lah jagalah dirimu dari setiap perkara yang menyebabkan engkau untuk minta uzur dan maaf karenanya (HR Suyuthi dalam Jami Shaghir).

Teladan Akhlak Mulia dari Nabi ﷺ dan Para Salaf
- Nabi ﷺ tidak pernah berkata “uff” kepada pembantunya.
Nabi shallallahu’alaihi wa sallam adalah orang yang paling agung akhlaknya, dan barangsiapa yang menginginkan untuk diberi petunjuk kepada akhlak yang tinggi hendaklah ia meniru Muhammad shallallahu’alaihi wa sallam. Anas bin Malik pernah bercerita bahwa dahulu ia melayani Nabi shallallahu’alaihi wa sallam selama sepuluh tahun, tidak pernah beliau mengatakan kepadanya, uff sama sekali, tidak pula mengatakan kepadanya dalam hal apa yang ia telah lakukan, kenapa kamu melakukannya?, tidak pula padahal yang aku meninggalkannya, kenapa kamu tinggalkan?. (HR at Tirmidzi)
- Nabi ﷺ digambarkan dalam Taurat sebagai pribadi pemaaf, tidak keras, tidak membalas kejahatan dengan kejahatan.
Seorang tabi’in bernama ‘Atha bin Yasar berkata, aku bertemu dengan Abdullah ibn ‘Amr ibn ‘Ash lantas aku memintanya, “Kabarkan kepadaku tentang sifat Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam yang ada di dalam Taurat?, lantas ia menjawab, “baiklah, sungguh beliau itu disifati di dalam Taurat dengan beberapa sifat yang terdapat dalam al Quran. Seperti dalam firman Allah,
يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ إِنَّا أَرْسَلْنَاكَ شَاهِدًا وَمُبَشِّرًا وَنَذِيرًا
Hai Nabi, sesungguhnya Kami mengutusmu untuk jadi saksi, dan pembawa kabar gemgira dan pemberi peringatan (QS al Ahzab: 45), yaitu sebagai penjaga bagi kaum yang tidak bisa menulis dan membaca, engkau adalah hamba-Ku dan utusan-Ku, aku menamaimu sebagai al mutawakkil yaitu orang yang bertawakal menyerahkan perkara kepada-Ku, bukan sebagai seorang yang kasar, dan bengis, bukan seorang yang suka teriak-teriak di pasar, bukan seorang yang suka membalas keburukan dengan keburukan namun seorang yang pemaaf dan pengampun.
Seorang yang Allah tidak akan mencabut nyawanya hingga Allah meluruskan kembali jalan yang telah menyimpang agar mereka berkata لا إله إلا الله bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembak kecuali hanya Allah. Allah membuka dengan risalahnya mata-mata yang buta, telinga-telinga yang tuli, dan hati-hati yang terkunci.
- Ali bin Husein membalas hinaan dengan hadiah, bukan kemarahan.
Diantara contoh praktek nyata dari penerapan akhlak yang mulia yang berbuah manis adalah dahulu ada seorang yang bertemu kemudian mencel Ali bin Husein, sehingga menyebabkan budaknya Ali marah kepadanya karena hal tersebut, namun Ali bin Husein mengatakan kepada budaknya tadi, “Tahan tenanglah!,” lantas ia pun menemui laki-laki yang mencelanya tadi kemudian ia berkata kepadanya, “Apa yang engkau tidak tahu banyak duduk perkara(yang membuatmu mencelaku), apakah engkau memiliki hujjah bukti yang mendukung (perbuatan)mu?,” laki-laki itu pun akhirnya malu, lalu Ali bin Husein pun memberikan kepadanya sebuah kain yang saat itu ia tengah pakai dan memerintahkan orang-orangnya untuk memberikan kepada laki-laki tadi uang sebesar seribu dirham.
Laki-laki tadi setelah itu mengatakan, “Aku bersaksi engkau adalah diantara anak keturunan Rasulullah -shallallahu’alaihi wa sallam-. Semua ini menunjukkan bahwa akhlak tinggi bukan sekadar teori ia adalah laku hidup.
Akhlak yang mulia bukan sekadar adab sosial, tapi bentuk iman yang hidup. Ia menenangkan jiwa, memperbaiki hubungan, dan menjadi sebab kedekatan dengan Allah serta kecintaan manusia.
Mari kita berlatih menahan amarah, berbicara lembut, memaafkan, dan berbaik sangka. Karena siapa tahu, satu kebaikan kecil hari ini akan mengangkat derajat kita kelak di akhirat.
Dinukil, diringkas, diterjemahkan dari kitab ad Durrar al Muntaqah karya Syaikh Amin Abdullah As Syaqawiy hafizhahullah oleh Catur Baro Hapsako, S.Pd., M.Sos.



