spot_img
BerandaKhutbah JumatAkidah Ahlus Sunnah tentang Sahabat Nabi ﷺ

Akidah Ahlus Sunnah tentang Sahabat Nabi ﷺ

Hal penting yang harus menjadi prioritas seorang mukmin adalah mengetahui akidah yang benar, memiliki keyakinan yang lurus, dan keimanan yang sahih. Inilah yang senantiasa kita mohon dalam setiap salat kita. Kita berdoa:

ٱهْدِنَا ٱلصِّرَٰطَ ٱلْمُسْتَقِيمَ

“Ya Allah, tunjukilah kami jalan yang lurus.”

Apa Itu Jalan yang Lurus??

Salah seorang ulama tabi‘in, Al-Imam Abul ‘Aliyah Ar-Riyahi rahimahullah, menafsirkan:

هُوَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَصحابَهُ مِنْ بَعْدِهِ

“Yang dimaksud dengan jalan yang lurus adalah jalannya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan dua sahabat beliau setelahnya (Abu Bakar dan Umar).”

Akidah Terhadap Para Sahabat dalam Al-Quran dan As-Sunnah

Di antara akidah yang wajib dipahami seorang muslim adalah akidah terhadap para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Seorang muslim wajib mencintai sahabat, memuliakan mereka, mendoakan mereka.

Allah Subhanahu wa Ta‘ala berfirman:

وَٱلسَّٰبِقُونَ ٱلْأَوَّلُونَ مِنَ ٱلْمُهَٰجِرِينَ وَٱلْأَنصَارِ وَٱلَّذِينَ ٱتَّبَعُوهُم بِإِحْسَٰنٍ رَّضِىَ ٱللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا۟ عَنْهُ

“Orang-orang yang terdahulu lagi pertama-tama (masuk Islam) dari kalangan Muhajirin dan Anshar serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada-Nya.”
(QS. At-Taubah: 100)

Ayat ini menunjukkan bahwa Allah telah ridha kepada para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Demikian pula Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kepada kita untuk mencintai para sahabat, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

آيَةُ الْإِيمَانِ حُبُّ الْأَنْصَارِ، وَآيَةُ النِّفَاقِ بُغْضُ الْأَنْصَارِ

“Tanda keimanan adalah mencintai Anshar, dan tanda kemunafikan adalah membenci Anshar.”

Dalam riwayat lain:

لَا يُحِبُّهُمْ إِلَّا مُؤْمِنٌ، وَلَا يُبْغِضُهُمْ إِلَّا مُنَافِقٌ

“Tidaklah mencintai mereka kecuali orang beriman, dan tidaklah membenci mereka kecuali orang munafik.”

Dan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ أَحَبَّهُمْ أَحَبَّهُ اللهُ وَمَنْ أَبْغَضَهُمْ أَبْغَضَهُ اللهُ

“Siapa yang mencintai mereka, Allah akan mencintainya. Sebaliknya, siapa yang membenci mereka, Allah akan membencinya.”

Dan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam juga melarang kita umatnya untuk membenci, mencela, mencaci maki sahabat Rasulullah sallallahu alaihi wasallam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لَا تَسُبُّوا أَصْحَابِي، فَلَوْ أَنَّ أَحَدَكُمْ أَنْفَقَ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا مَا بَلَغَ مُدَّ أَحَدِهِمْ وَلَا نَصِيفَهُ

“Janganlah kalian mencela sahabatku. Seandainya salah seorang di antara kalian menginfakkan emas sebesar Gunung Uhud, tidak akan menyamai satu mud sedekah mereka, bahkan tidak pula setengahnya.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Demikianlah akidah yang diajarkan oleh baginda Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam dan diajarkan turun-temurun hingga para ulama generasi kita di zaman ini. Satu akidah yang sama mulai dari zamannya Rasul hingga zaman kita ini, yaitu senantiasa menghormati, memuliakan, mendoakan kebaikan kepada para sahabat radhiallahu ‘anhum ajmain.

Akidah Ahlus Sunnah tentang Sahabat Nabi

Pemahaman Salaf Tentang Kedudukan Para Sahabat

Ini juga merupakan akidah yang pernah disampaikan oleh Abdullah bin Mas'ud yang wafat pada tahun 32 Hijriah. Akidah Islam pada abad pertama tentang para sahabat. Beliau mengatakan,

مَنْ كَانَ مِنْكُمْ مُتَأَسِّيًا فَلْيَتَأَسَّ بِأَصْحَابِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

“Barang siapa di antara kalian ingin meneladani, maka hendaknya ia meneladani sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.”

Beliau melanjutkan:

فَإِنَّهُمْ كَانُوا أَبَرَّ هَذِهِ الْأُمَّةِ قُلُوبًا، وَأَعْمَقَهَا عِلْمًا، وَأَقَلَّهَا تَكَلُّفًا، وَأَقْوَمَهَا هَدْيًا، وَأَحْسَنَهَا حَالًا

“Karena mereka adalah umat yang paling baik hatinya, paling dalam ilmunya, paling sedikit takalluf (berlebihan), paling lurus petunjuknya, dan paling baik keadaannya.”

قَوْمًا اخْتَارَهُمُ اللَّهُ لِصُحْبَةِ نَبِيِّهِ وَلِإِقَامَةِ دِينِهِ

“Mereka adalah kaum yang Allah pilih untuk menemani Nabi-Nya dan menegakkan agama-Nya.”

فَاعْرِفُوا لَهُمْ فَضْلَهُمْ وَاتَّبِعُوهُمْ فِي آثَارِهِمْ فَإِنَّهُمْ كَانُوا عَلَى الْهُدَى الْمُسْتَقِيمِ

“Maka kenalilah keutamaan mereka dan ikutilah jejak mereka, karena mereka berada di atas petunjuk yang lurus.”

Inilah akidah Islam yang juga pernah disampaikan oleh Al Imam Abu Zur'ah Ar-Razi yang wafat pada tahun 200-an Hijriah. Al-Imam Abu Zur‘ah Ar-Razi rahimahullah berkata:

إِذَا رَأَيْتَ الرَّجُلَ يَنْتَقِصُ أَحَدًا مِنْ أَصْحَابِ رَسُولِ اللَّهِ فَاعْلَمْ أَنَّهُ زِنْدِيقٌ

“Jika engkau melihat seseorang mencela sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka ketahuilah bahwa ia adalah zindiq.”

Beliau menjelaskan:

وَذَلِكَ أَنَّ الرَّسُولَ حَقٌّ وَالْقُرْآنَ حَقٌّ، وَإِنَّمَا أَدَّى إِلَيْنَا هَذَا الْقُرْآنَ وَالسُّنَنَ أَصْحَابُ رَسُولِ اللَّهِ

“Karena Rasul itu benar dan Al-Qur’an itu benar, dan yang menyampaikan Al-Qur’an serta Sunnah kepada kita adalah para sahabat.”

Kemudian beliau menjelaskan lebih lanjut:

إِنَّمَا يُرِيدُونَ أَنْ يَجْرَحُوا شُهُودَنَا لِيُبْطِلُوا الْكِتَابَ وَالسُّنَّةَ

“Sesungguhnya mereka ingin mencela para saksi (yaitu para sahabat) agar mereka bisa membatalkan Al-Qur’an dan sunnah.”

وَالْجَرْحُ بِهِمْ أَوْلَى وَهُمْ زَنَادِقَةٌ

“Maka justru merekalah yang lebih layak dicela, dan mereka adalah orang-orang zindiq.”

Inilah akidah yang juga pernah disampaikan oleh Al-Imam Abu Muhammad Al-Barbahari rahimahullahu ta‘ala, yang wafat pada abad ketiga Hijriah. Ini menunjukkan bahwa akidah tentang para sahabat terus diwariskan dari generasi ke generasi.

Beliau berkata:

فَمَنْ خَالَفَ أَصْحَابَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي شَيْءٍ مِنْ أَمْرِ الدِّينِ فَقَدْ كَفَرَ

“Barang siapa yang menyelisihi para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam suatu perkara agama, maka sungguh ia telah terjatuh pada kekafiran (atau jalan menuju kekafiran).”

Ini menunjukkan betapa agungnya kedudukan para sahabat dalam agama ini. Mereka adalah generasi yang paling memahami agama, paling lurus jalannya, dan paling benar dalam memahami wahyu.

Oleh karena itu, akidah Ahlus Sunnah menghormati dan memuliakan para sahabat, tidak mencela mereka, serta tidak menyelisihi mereka dalam perkara agama.

Karena merekalah yang membawa Al-Qur’an dan As-Sunnah kepada kita. Tanpa mereka, tidak akan sampai kepada kita ajaran Islam yang murni.

Maka wajib bagi setiap muslim untuk memiliki keyakinan yang benar terhadap para sahabat radhiyallahu ‘anhum ajma‘in.

Inilah akidah Islam yang bersumber dari Al-Qur’an dan As-Sunnah, yang diajarkan sejak zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, kemudian diwariskan oleh para sahabat, tabi‘in, dan para ulama setelahnya hingga sampai kepada kita hari ini.

Akidah Ahlus Sunnah tentang Sahabat Nabi

Sikap Ahlus Sunnah dan Peringatan dari Penyimpangan

Dan ini semua juga dirangkum oleh al Imam Abu Jafar Ath-Thahawi rahimahullah di dalam kitab beliau Al-Aqidah At-Thahawiyah, beliau mengatakan:

وَنُحِبُّ أَصْحَابَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَلَا نُفْرِطُ فِي حُبِّ أَحَدٍ مِنْهُمْ

“Kami mencintai para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan tidak berlebihan dalam mencintai salah seorang dari mereka.”

وَلَا نَتَبَرَّأُ مِنْ أَحَدٍ مِنْهُمْ

“Kami tidak berlepas diri dari seorang pun di antara mereka.”

وَلَا نَذْكُرُهُمْ إِلَّا بِخَيْرٍ

“Kami tidak menyebut mereka kecuali dengan kebaikan.”

وَحُبُّهُمْ دِينٌ وَإِيمَانٌ وَإِحْسَانٌ

“Mencintai mereka adalah bagian dari agama, iman, dan ihsan.”

وَبُغْضُهُمْ كُفْرٌ وَنِفَاقٌ وَطُغْيَانٌ

“Membenci mereka adalah kekufuran, kemunafikan, dan kesesatan.”

Inilah sikap kita terhadap para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Yaitu sikap yang dibangun di atas akidah yang lurus: mencintai, memuliakan, menghormati, serta mendoakan mereka radhiyallahu ‘anhum ajma‘in.

Dan inilah pula sikap kita terhadap orang-orang yang mencela, menghina, bahkan mengkafirkan para sahabat. Kita berlepas diri dari sikap tersebut, karena itu bertentangan dengan ajaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan akidah Ahlus Sunnah wal Jama‘ah yang telah diwariskan dari generasi ke generasi hingga hari ini.

Kita meyakini bahwa mencintai para sahabat adalah bagian dari keimanan, dan membenci mereka termasuk tanda penyimpangan. Oleh karena itu, kita juga meyakini kesesatan kelompok-kelompok yang mencela para sahabat, seperti Syiah Rafidhah, Syiah Imamiyyah, dan Syiah Itsna ‘Asyariyyah.

Di antara sebab kesesatan mereka adalah karena mereka membuat-buat ajaran dan keyakinan yang tidak pernah diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Bahkan mereka mencela para sahabat agar dapat merusak dan menyusupkan akidah-akidah batil ke dalam agama ini.

Oleh karena itu, hendaknya kita berhati-hati dan tidak tertipu dengan berbagai tampilan atau narasi yang seolah-olah membela Islam, padahal hakikatnya menyelisihi ajaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Terlebih di zaman ini, ketika media sering menggambarkan mereka sebagai pihak yang benar, bahkan sebagai “pahlawan” bagi kaum muslimin. Maka wajib bagi kita untuk tetap berpegang teguh kepada akidah yang benar, sebagaimana yang diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan dipahami oleh para sahabatnya.

Baca Juga: Makna dan Kedudukan Para Sahabat dalam Islam

ARTIKEL TERKAIT

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

spot_img