Ketahuilah bahwasanya kenikmatan yang kita rasakan di dunia ini akan berbanding lurus terhadap rasa syukur kita kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Jikalau seorang hamba merasakan kenikmatan yang banyak di dunia ini, boleh jadi itu karena tingkat rasa syukurnya kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala begitu tinggi. Perhatikanlah firman Allah Ta'ala:
لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ
“Dan jikalau engkau wahai manusia betul-betul mensyukuri nikmat yang datang dari Allah, maka Aku akan tambahkan nikmat tersebut.”
(QS. Ibrahim: 7)
Namun apabila seorang hamba merasakan sedikit kenikmatan di dunia, merasa kehidupannya sempit, boleh jadi itu disebabkan karena kurangnya rasa syukur seorang hamba kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Dalam lanjutan ayat tersebut, Allah Ta'ala berfirman:
وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ
“Dan jikalau kalian wahai manusia itu kufur, tidak mau bersyukur kepada Allah, maka sesungguhnya azab-Ku adalah azab yang pedih.”
(QS. Ibrahim: 7)
Mempelajari Nama dan Sifat Allah, Ibadah yang Mulia
Salah satu ibadah yang paling mulia di sisi Allah Subhanahu wa Ta'ala adalah mempelajari nama-nama serta sifat-sifat Allah Azza wa Jalla, karena hampir di setiap lembaran Al-Qur'an yang kita baca, Allah Subhanahu wa Ta'ala memperkenalkan diri-Nya dengan menyebut nama-nama serta sifat-sifat-Nya yang mulia.
Kita sebagai hamba Allah wajib untuk mempelajari nama-nama serta sifat-sifat Sang Pencipta. Sebagaimana pepatah mengatakan “Tak kenal maka tak sayang”, para ulama terdahulu juga mengatakan:
مَنْ كَانَ بِاللَّهِ أَعْرَفْ كَانَ مِنْهُ أَخْوَفْ وَفِي عِبَادَتِهِ أَطْلَبْ وَعَنْ مَعْصِيَتِهِ أَبْعَدْ
“Barang siapa paling mengenal Allah Azza wa Jalla, maka dia akan menjadi hamba yang paling takut kepada-Nya, semakin bersemangat dalam beribadah, dan semakin menjauhi kemaksiatan.”
Di antara nama-nama Allah Subhanahu wa Ta'ala yang mulia, terdapat salah satu nama yang paling indah yaitu Al-Ghani (Maha Kaya). Tak kurang dari 18 kali Allah menyebutkan nama ini dalam Al-Qur’an. Allah Ta'ala berfirman:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَنتُمُ الْفُقَرَاءُ إِلَى اللَّهِ وَاللَّهُ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ
“Wahai manusia, sesungguhnya kalian fakir, butuh kepada Allah. Dan Allah Dialah Dzat Yang Maha Kaya lagi Maha Terpuji.”
(QS. Fathir: 15)
Sejatinya kita manusia membutuhkan Allah Azza wa Jalla di setiap aspek kehidupan. Karena Allah adalah Dzat Yang Maha Kaya. Bahkan saking kayanya Allah, Dia tidak membutuhkan istri maupun anak. Allah Ta'ala berfirman:
قَالُوا اتَّخَذَ اللَّهُ وَلَدًا سُبْحَانَهُ هُوَ الْغَنِيُّ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ
“Mereka (kaum Yahudi dan Nasrani) mengatakan Allah memiliki anak. Maha Suci Allah! Dialah Dzat Yang Maha Kaya. Kepunyaan-Nyalah apa yang di langit dan di bumi.”
(QS. Yunus: 68)
Allah Tidak Butuh Kita dan Ibadah Kita

Ketahuilah bahwasanya Allah Subhanahu wa Ta'ala itu Maha Kaya dan tidak butuh dengan kita, bahkan tidak butuh dengan ketakwaan kita sebaik apa pun. Dalam hadis qudsi Allah berfirman:
يَا عِبَادِي لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ كَانُوا عَلَى أَتْقَى قَلْبِ رَجُلٍ وَاحِدٍ مِنْكُمْ مَا زَادَ ذَلِكَ فِي مُلْكِي شَيْئًا
“Wahai hamba-hamba-Ku, sekiranya orang-orang terdahulu sampai yang terakhir dari kalian, baik manusia maupun jin, semuanya memiliki tingkat ketakwaan setinggi hati satu orang yang paling bertakwa di antara kalian, itu tidak akan menambah sedikit pun kekuasaan-Ku.”
(HR. Muslim)
يَا عِبَادِي لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ كَانُوا عَلَى أَفْجَرِ قَلْبِ رَجُلٍ وَاحِدٍ مَا نَقَصَ ذَلِكَ مِنْ مُلْكِي شَيْئًا
“Wahai hamba-hamba-Ku, sekiranya orang-orang terdahulu sampai yang terakhir dari kalian, baik manusia maupun jin, semuanya durhaka seperti hati satu orang yang paling durhaka di antara kalian, itu tidak akan mengurangi sedikit pun kekuasaan-Ku.”
(HR. Muslim)
Allah bahkan tidak membutuhkan rasa syukur kita. Allah Ta'ala berfirman:
وَمَن شَكَرَ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِ وَمَن كَفَرَ فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ حَمِيدٌ
“Barang siapa yang bersyukur, maka sesungguhnya dia bersyukur untuk dirinya sendiri. Dan barang siapa yang kufur, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji.”
(QS. Luqman: 12)
Di dalam Al-Qur’anul Karim, Allah Subhanahu wa Ta'ala menggandengkan nama Al-Ghani dengan beberapa nama-Nya yang lain.
1. Al-Ghani dan Ar-Rahmah
Salah satunya adalah dengan nama Ar-Rahmah (Maha Kasih Sayang). Allah Ta'ala berfirman:
وَرَبُّكَ الْغَنِيُّ ذُو الرَّحْمَةِ
“Dan Tuhanmu Dialah Dzat Yang Maha Kaya lagi memiliki kasih sayang.”
(QS. Al-An’am: 133)
Betapa banyak kita dapati orang-orang kaya di dunia ini, tetapi mereka tidak memiliki sifat kasih sayang. Mereka tidak peduli kepada orang-orang miskin di sekitarnya, padahal dengan hartanya ia bisa membantu.
Sebaliknya, ada pula orang-orang yang penuh kasih sayang, namun tidak memiliki harta sedikit pun untuk menolong. Adapun Allah Subhanahu wa Ta'ala adalah Dzat Yang Maha Kaya sekaligus Maha Pemurah. Dengan kasih sayang-Nya, Allah memberikan rezeki kepada hamba-hamba-Nya yang Dia kehendaki.
2. Al-Ghani dan Al-Hamid
Allah juga menggandengkan nama Al-Ghani dengan Al-Hamid (Maha Terpuji). Allah Ta'ala berfirman:
وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ حَمِيدٌ
“Dan ketahuilah, sesungguhnya Allah itu Maha Kaya lagi Maha Terpuji.”
(QS. Al-Baqarah: 267)
Banyak manusia yang kaya di muka bumi ini, tetapi tidak memiliki sifat yang terpuji. Mereka angkuh, sombong, bahkan mengambil harta orang lain dengan cara yang batil. Sedangkan Allah Subhanahu wa Ta'ala adalah Dzat Yang Maha Kaya sekaligus Maha Terpuji.
3. Al-Ghani dan Al-Halim
Kemudian Allah Subhanahu wa Ta'ala juga menggandengkan nama Al-Ghani dengan Al-Halim (Maha Penyantun). Allah Ta'ala berfirman:
قَوْلٌ مَعْرُوفٌ وَمَغْفِرَةٌ خَيْرٌ مِّن صَدَقَةٍ يَتْبَعُهَا أَذًى
“Perkataan yang baik dan pemberian maaf itu lebih baik daripada sedekah yang diiringi dengan perbuatan atau ucapan yang menyakiti penerima sedekah.”
(QS. Al-Baqarah: 263)
Betapa banyak orang kaya yang bersedekah namun sambil merendahkan orang yang menerima. Sedangkan Allah Subhanahu wa Ta'ala, meskipun hamba-hamba-Nya senantiasa berbuat dosa, Dia tetap memberikan rezeki dari kekayaan-Nya kepada siapa saja yang Dia kehendaki, dengan sifat pemaaf dan penyantun-Nya.
Itulah Rabb kita, Allah Azza wa Jalla, Dzat Yang Maha Kaya. Maka hendaknya kita sebagai seorang hamba betul-betul hanya bersandar kepada Allah. Sesungguhnya kitalah yang membutuhkan Allah Subhanahu wa Ta'ala, dan Allah sama sekali tidak butuh kepada kita.

Manusia Kaya tapi Tetap Fakir
Ketahuilah bahwasanya memang manusia memiliki sifat kaya, akan tetapi kekayaan manusia itu bersifat relatif. Di satu sisi manusia memiliki harta, di sisi lain tetap fakir. Allah Ta'ala berfirman:
نَحْنُ قَسَمْنَا بَيْنَهُم مَّعِيشَتَهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَرَفَعْنَا بَعْضَهُمْ فَوْقَ بَعْضٍ دَرَجَاتٍ لِّيَتَّخِذَ بَعْضُهُم بَعْضًا سُخْرِيًّا وَرَحْمَتُ رَبِّكَ خَيْرٌ مِّمَّا يَجْمَعُونَ
“Kami telah menetapkan di antara mereka penghidupan dalam kehidupan dunia, dan Kami meninggikan sebagian mereka di atas sebagian yang lain beberapa derajat agar sebagian dapat mempekerjakan sebagian yang lain. Dan rahmat Rabb-mu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.”
(QS. Az-Zukhruf: 32)
Kekayaan manusia itu terbatas dan bisa habis. Tak heran jika sebagian orang kaya pelit karena sadar hartanya terbatas.
Sedangkan Allah, kekayaan-Nya tidak terbatas. Dalam hadis qudsi Allah berfirman:
يَا عِبَادِي لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَإِنسَكُمْ وَجِنَّكُمْ قَامُوا فِي صَعِيدٍ وَاحِدٍ فَسَأَلُونِي فَأَعْطَيْتُ كُلَّ وَاحِدٍ مَسْأَلَتَهُ مَا نَقَصَ ذَلِكَ مِمَّا عِندِي إِلَّا كَمَا يَنْقُصُ الْمِخْيَطُ إِذَا أُدْخِلَ الْبَحْرَ
“Wahai hamba-hamba-Ku, sekiranya seluruh manusia dan jin sejak awal hingga akhir berdiri di satu tempat lalu meminta kepada-Ku, kemudian Aku berikan semuanya, itu tidak akan mengurangi kekayaan-Ku kecuali seperti jarum yang dimasukkan ke dalam laut.”
(HR. Muslim)
Mintalah Semua Hajat kepada Allah
Oleh karena itu, ketika seorang hamba meminta kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala, Allah justru semakin cinta kepada hamba tersebut. Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:
لِيَسْأَلْ أَحَدُكُمْ رَبَّهُ حَاجَتَهُ كُلَّهَا حَتَّى يَسْأَلَ شِسْعَ نَعْلِهِ إِذَا انْقَطَعَ
“Hendaknya salah seorang dari kalian meminta kepada Rabb-nya seluruh kebutuhannya, bahkan hingga meminta tali sandal yang putus.”
(HR. Tirmidzi)
Dalam hadis qudsi, Allah Ta'ala juga berfirman:
يَا عِبَادِي كُلُّكُمْ جَائِعٌ إِلَّا مَنْ أَطْعَمْتُهُ فَاسْتَطْعِمُونِي أُطْعِمْكُمْ، وَيَا عِبَادِي كُلُّكُمْ عَارٍ إِلَّا مَنْ كَسَوْتُهُ فَاسْتَكْسُونِي أَكْسُكُمْ
“Wahai hamba-hamba-Ku, sesungguhnya kalian semua lapar kecuali orang yang Aku beri makan, maka mintalah makan kepada-Ku niscaya Aku beri makan. Wahai hamba-hamba-Ku, kalian semua telanjang kecuali orang yang Aku beri pakaian, maka mintalah pakaian kepada-Ku niscaya Aku beri pakaian.”
(HR. Muslim)
Al-Imam Ibnu Rajab Al-Hambali rahimahullah berkata: “Dalil ini menunjukkan bahwa manusia hendaknya meminta seluruh hajatnya kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala, baik yang besar maupun yang kecil. Karena Allah Maha Kaya. Jika Allah berkehendak, cukup mengatakan Kun! (Jadilah), maka yang miskin bisa menjadi kaya seketika.”
Maka hendaknya kita senantiasa meminta hanya kepada Allah, takut hanya kepada Allah, beribadah hanya kepada Allah, dan menjauhi kemaksiatan karena Allah Subhanahu wa Ta'ala. Niscaya Allah akan mengabulkan seluruh hajat kita, baik di dunia maupun di akhirat.
Baca juga: 5 Cara Menjaga Keimanan Kepada Allah



