BerandaAdab dan AkhlakKumpulan Hadits tentang Hati

Kumpulan Hadits tentang Hati

Sangat penting bagi kita untuk mempelajari hal yang berkaitan dengan hati kita. Sehingga kita mulai memperhatikan tentang kesolehannya, kebersihanya, dan kesuciannya dari berbagai macam aib. Begitu pula penting bagi kita untuk mempelajari bagaimana mengobatinya dari penyakit-penyakit hati jika sudah terjangkit dengan penyakit hati. Maka dari itu tidak diragukan lagi Bahwa pembahasan tentang masalah hati itu adalah pembahasan yang sangat penting sekali.

Hati adalah Rajanya Anggota Tubuh

Begitu banyak kitab-kitab para ‘Ulama yang membahas mengenai pentingnya masalah hati. Para pecinta Al-Iman yang semoga selalu dijauhkan dari kemaksiatan. Dalam kitab Al-Arba’un Al-Qalbiyyah karya Syaikh Sholeh Al-Munajjid, tidak diragukan lagi, bahwa hati itu merupakan tuan dan pemimpin bagi seluruh anggota badan yang lainnya. Apabila hati sebagai pemimpin ini sholeh, dan baik. Maka seluruh anggota badan yang lainnya akan baik.

Sebaliknya apabila hati rusak maka seluruh anggota badan yang lainnya akan rusak. Ketika baiknya perbuatan hamba dengan anggota badannya, dia bisa menjauhi yang diharamkan Allah ﷻ. Meninggalkan syubhat-syubhat itu tergantung dengan kesholehan perbuatan hatinya. Ini menunjukkan perhatian terhadap hati itu sangat penting. Sebagaimana hadits dari An-Nu’man bin Basyir radhiyallahu ‘anhuma, Nabi ﷺ bersabda,

أَلاَ وَإِنَّ فِى الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ . أَلاَ وَهِىَ الْقَلْبُ

“Ingatlah bahwa di dalam jasad itu ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baik pula seluruh jasad. Jika ia rusak, maka rusak pula seluruh jasad. Ketahuilah bahwa ia adalah hati (jantung)” (HR. Imam Bukhari no. 52 dan Muslim no. 1599).

Maka dari itu berkata Syaikh Sholeh Al-Munajjid,

القَلْبُ مَلِكُ الاَعْضَاءِ، وَبَقيَّةُ جُنُوْدُهُ، وَهُمْ -مَعَ هَذَا- جُنُوْدٌ طَائِعُوْنَ لَهُ، مُنبَعِثُونَ فِي طَاعَتِهِ، وَتَنْفِيذِ أَوَامِرِهِ، لاَ يُخَالِفُوْنَهُ فِي شَيْءٍ من ذلك فإن كان الملك صالحًا، كانت هذه الجنود صالحةٌ، وإن كان فاسدًا، كانت جُنُودُهُ – بهذه المثابة – فاسدةٌ، ولا يَنْفَعُ عِنْدَ اللهِ إِلاَّ القَلْبُ السَّلِيْمُ

“Hati merupakan rajanya anggota badan dan sisanya adalah pasukannya. Maka bersama dengan hal ini, sebuah pasukan akan mengikuti rajanya, menjadi pengikutnya dalam kesetiaan, melaksanakan segala macam perintahnya, tidak menyelisihinya dalam segala macam perkara. Dengan demikian, jika tuannya dalam kebaikan maka pasukannya berada dalam kebaikan pula. Sedangkan apabila rajanya dalam keburukan maka pasukannya akan ikut dalam keburukan. Dan tiada sesuatu yang bermanfaat disisi Allah ﷻ, melainkan hati yang selamat.”

Maka ketika seseorang membuka dadanya, dia akan menjumpai seorang raja yang agung. Dia duduk diatas singgasana kerajaannya yang nyaman, dia menyuruh, melarang, mengangkat, memecat, dia dikelilingi oleh seluruh pemimpinya, jajaran menterinya, dan seluruh pasukannya. Seluruhnya melayani rajanya dengan patuh dan tunduk. Inilah gambaran hati sebagai seorang raja yang sangat kuat diikuti oleh seluruh anggota badannya.

Baca Juga: Amal Tergantung pada Niat di Hati

Hakikat Hati yang Selamat

Sesungguhnya hakikat hati yang selamat ialah ketika hati tersebut terhindar atau selamat dari segala macam penyakit yang dapat merusak hati dan segala perkara yang dilarang serta tidak ada kecintaan terhadap sesuatu hal melainkan seluruhnya diliputi kecintaan kepada Allah ﷻ, tidak dia mencintai kecuali kecintaannya dilandasi atas keridhoan Allah ﷻ, ketakutannya hanya disandarkan kepada Allah ﷻ. Selain itu, dia takut kepada segala macam cara dan tindakan yang dapat menjauhkannya dari keridhoan Allah ﷻ.

Dengan demikian, maka seseorang yang memiliki hati yang selamat dia akan mengedepankan kecintaannya kepada Allah ﷻ daripada yang lainnya. Bahkan dia akan mengesampingkan keinginannya apabila itu bertentangan dengan ketetapan Allah ﷻ atasnya. Inilah hal yang dapat menjadi bukti, apakah di hati kita hanyalah Allah ﷻ semata yang kita utamakan atas segala macam hal. Meskipun keinginan itu merupakan keinginan dari seluruh manusia di muka bumi ini.

Dalam firman-Nya QS. Asy-Syu’ara ayat ke 88-89,

يَوْمَ لاَ يَنْفَعُ مَالٌ وَّلاَ بَنُوْنَ  اِلاَّ مَنْ اَتَى اللّٰهَ بِقَلْبٍ سَلِيْمٍ

Artinya: “(yaitu) pada hari (ketika) harta dan anak-anak tidak berguna. kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang selamat.”

Maka jagalah hati kita dengan benar. Meluangkan waktu dan upaya untuk menghindarkan perusak hati melebihi usaha kita dalam menjaga anggota tubuh yang lainnya. Banyak masyarakat di zaman sekarang memperhatikan dan mempercantik fisiknya, kesehatannya, kecantikkannya. Namun mereka terlalaikan dalam menjaga hati. Memang menjaga kesehatan dan kebugaran badan penting bagi manusia akan tetapi kesehatan dan kebersihan hati lebih penting dari semuanya. Dengan begitu, ketika seseorang memiliki perhatian terhadap fisiknya maka hendaknya dia melebihkan perhatiannya kepada hatinya karena perkara inilah yang lebih penting dan baik baginya.

Kumpulan Hadits tentang Hati

Hati adalah Tempat yang Dilihat Allah

Sesungguhnya Allah ﷻ melihat hati para hamba-Nya. Dalam sebuah hadits, Rasulullah ﷺ bersabda

عَنْ أبي هُريْرة عَبْدِ الرَّحْمن بْنِ صخْرٍ رضي الله عنه  قَالَ: قالَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم : إِنَّ الله لا يَنْظُرُ إِلى أَجْسامِكْم، وَلا إِلى صُوَرِكُمْ، وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وأعْمَالِكُمْ

“Sesungguhnya Allah ﷻ tidak melihat kepada keadaan badan-badan kalian, ataupun kepada wajah-wajah kalian. Melainkan Allah ﷻ melihat kepada hati-hati dan seluruh amalan kalian.” HR. Imam Muslim.

Dengan begitu, walaupun seseorang berasal dari ras kulit putih ataupun hitam. Sesungguhnya bukanlah hal itu yang menjadi tolak ukur kebaikan seseorang disisi Allah ﷻ. Akan tetapi Allah ﷻ melihat kepada isi di dalam hati kita. Apakah hati kita diselimuti oleh keimanan atau kekufuran. Apakah terisi dengan perbuatan ketaatan atau kemaksiatan. Sehingga segala macam penyakit hati tidak bisa menjangkiti, mulai dari kesyirikan, kebid’ahan, kesombongan, dan penyakit hati lainnya. Atau bahkan hati kita terpenuhi dan tertutupi oleh perkara-perkara yang dibenci oleh Allah ﷻ sehingga segala macam penyakit hati ada di dalamnya.

Berkata Syaikh ‘Abdul Aziz bin Baz menjelaskan tentang hadits ini, bahwasanya hadits ini berkaitan dengan keagungan perkara niat dan menjadi timbangan maupun takaran amalan atas niat yang baik atau rusak, bahkan diterima atau ditolak. Maka barang siapa yang niatnya dalam segala amal Allah ﷻ benarkan maka akan menjadi sempurna kebahagiaan dan bermanfaatlah bagi dirinya.

Sedangkan barangsiapa yang merusak nitnya maka tidaklah bermanfaat sedikitpun segala amalannya bagi dirinya. Sehingga bukanlah menjadi tolak ukur kebaikan seseorang dengan melihat kebagusan raga, ketampanan wajah, bahkan kekayaan hartanya, akan tetapi tolak ukur yang sesungguhnya adalah kebaikan hatinya. Maka dari itu, hatinya akan bersih dan tenang atas ketetapan Allah sehingga dia mengikhlaskan dan mengagungkan Allah ﷻ kemudian istiqomah di atas syari’at-Nya. Wallahu a’lam.

Ustadz Musta’in Syahri, Lc., M.Pd.

Baca Juga: Mengapa Hati Kita Selalu Rindu Ka’bah?

ARTIKEL TERKAIT

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

spot_img