Pada artikel sebelumnya telah dibahas bahwa salah satu keutamaan agama Islam adalah tauhid, yaitu memurnikan ibadah hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Islam tidak hanya mengajarkan bahwa Allah adalah Pencipta alam semesta. Lebih dari itu, Islam mengajarkan bahwa hanya Allah yang berhak menerima seluruh bentuk ibadah.
Inilah inti ajaran tauhid yang menjadi dakwah seluruh rasul.
Daftar Isi
Hanya Allah yang Berhak Disembah
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
قُلْ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنْ كُنْتُمْ فِي شَكٍّ مِنْ دِينِي فَلَا أَعْبُدُ الَّذِينَ تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ وَلَٰكِنْ أَعْبُدُ اللَّهَ الَّذِي يَتَوَفَّاكُمْ وَأُمِرْتُ أَنْ أَكُونَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ
“Katakanlah (Muhammad), ‘Wahai manusia! Jika kamu masih dalam keraguan tentang agamaku, maka aku tidak menyembah yang kamu sembah selain Allah, tetapi aku menyembah Allah yang akan mematikan kamu, dan aku telah diperintahkan agar termasuk orang-orang yang beriman.'” (QS. Yunus: 104).
Ayat ini menunjukkan dengan jelas bahwa Nabi Muhammad ﷺ tidak menyembah apa yang disembah oleh orang-orang musyrik. Beliau hanya menyembah Allah Subhanahu wa Ta'ala. Inilah keistimewaan agama Islam: sesembahan yang benar dan berhak diibadahi bagi seorang muslim hanyalah Allah. Maka doa, istighatsah, nadzar, penyembelihan, rasa takut dalam ibadah, berharap dalam ibadah, tawakal dalam ibadah, dan seluruh bentuk ibadah lainnya wajib ditujukan hanya kepada Allah.
Tauhid Merupakan Dakwah Seluruh Rasul
Tauhid bukan ajaran yang hanya dibawa oleh Nabi Muhammad ﷺ. Seluruh rasul membawa ajaran yang sama, yaitu memerintahkan manusia agar beribadah hanya kepada Allah dan menjauhi segala bentuk kesyirikan.
Allah Ta'ala berfirman:
وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَّسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ
“Dan sungguh, Kami telah mengutus seorang rasul untuk setiap umat (untuk menyerukan), ‘Sembahlah Allah dan jauhilah thaghut.'” (QS. An-Nahl: 36).
Ayat ini menunjukkan bahwa tujuan utama dakwah para rasul adalah mengajak manusia kepada tauhid dan menjauhkan mereka dari syirik. Karena itu, semakin seseorang memahami Islam dengan benar, semakin ia memahami pentingnya mengesakan Allah dalam ibadah.
Apa Makna Rabb?
Dalam materi kajian ini dijelaskan bahwa ketika Allah memerintahkan manusia untuk beribadah kepada-Nya, Allah menggunakan lafaz Rabb.
Allah Ta'ala berfirman:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ
“Wahai manusia! Sembahlah Rabbmu yang telah menciptakan kamu dan orang-orang yang sebelum kamu.” (QS. Al-Baqarah: 21).
Perhatikan bagaimana Allah menyebut diri-Nya sebagai Rabb sebelum memerintahkan manusia untuk beribadah.
Allah kemudian menyebutkan salah satu alasan mengapa hanya Dia yang berhak disembah:
الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ
“Yang telah menciptakan kamu dan orang-orang yang sebelum kamu.”
Allah adalah Pencipta manusia dan seluruh makhluk. Karena itu, hanya Allah yang berhak menerima ibadah.

Allah Adalah Pencipta, Pemberi Rezeki, dan Pengatur
Di antara perkara yang menunjukkan kesempurnaan Rububiyyah Allah adalah bahwa Dia menciptakan makhluk, memberikan rezeki kepada mereka, mengatur urusan mereka, dan memiliki seluruh kerajaan.
Allah Ta'ala berfirman:
قُلْ مَنْ يَرْزُقُكُم مِّنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ أَمَّن يَمْلِكُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَمَن يُخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ وَيُخْرِجُ الْمَيِّتَ مِنَ الْحَيِّ وَمَن يُدَبِّرُ الْأَمْرَ فَسَيَقُولُونَ اللَّهُ فَقُلْ أَفَلَا تَتَّقُونَ
“Katakanlah, ‘Siapakah yang memberi rezeki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa menciptakan pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup, dan siapakah yang mengatur segala urusan?' Maka mereka akan menjawab, ‘Allah.' Maka katakanlah, ‘Mengapa kamu tidak bertakwa?'” (QS. Yunus: 31).
Orang-orang musyrik pada masa Rasulullah ﷺ mengakui bahwa Allah adalah Pencipta dan Pengatur. Namun pengakuan terhadap Rububiyyah saja belum menjadikan seseorang sebagai muslim. Mereka tetap melakukan kesyirikan dalam ibadah. Karena itu, seorang muslim harus mewujudkan tauhid uluhiyyah, yaitu memurnikan seluruh ibadah hanya untuk Allah.
Empat Hal yang Menunjukkan Kesempurnaan Rububiyyah Allah
Ketika kita mengenali siapa yang benar-benar berhak disembah, kita dapat memperhatikan kesempurnaan Rububiyyah-Nya.
Di antaranya:
1. Allah adalah Pencipta
Allah menciptakan seluruh makhluk dari tidak ada menjadi ada.
Allah berfirman:
اللَّهُ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ
“Allah adalah Pencipta segala sesuatu.” (QS. Az-Zumar: 62).
Tidak ada satu pun makhluk yang mampu menciptakan seperti Allah.
2. Allah yang Memberikan Rezeki
Allah bukan hanya menciptakan makhluk, tetapi juga menjamin rezeki mereka sesuai dengan kehendak-Nya.
Allah Ta'ala berfirman:
وَمَا مِن دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ إِلَّا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا
“Dan tidak ada suatu makhluk bergerak pun di bumi melainkan semuanya dijamin rezekinya oleh Allah.” (QS. Hud: 6).
Maka seorang hamba hendaknya menggantungkan hatinya kepada Allah dalam urusan rezeki, sembari mengambil sebab-sebab yang dibenarkan syariat.
3. Allah yang Mengatur Seluruh Urusan
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
يُدَبِّرُ الْأَمْرَ
“Dia mengatur segala urusan.” (QS. Yunus: 31).
Tidak ada satu pun kejadian yang keluar dari ilmu, kehendak, dan pengaturan Allah.
4. Allah adalah Raja dan Pemilik Seluruh Alam
Allah Ta'ala berfirman:
مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ
“Pemilik hari pembalasan.” (QS. Al-Fatihah: 4).
Allah adalah Raja dan Pemilik seluruh alam. Kekuasaan manusia terbatas, sedangkan kekuasaan Allah sempurna dan mutlak.
Pengakuan Bahwa Allah Pencipta Belum Cukup
Salah satu perkara penting yang perlu dipahami adalah bahwa sekadar mengakui Allah sebagai Pencipta belum cukup untuk mewujudkan tauhid.
Allah Ta'ala berfirman tentang orang-orang musyrik:
وَلَئِن سَأَلْتَهُم مَّنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَسَخَّرَ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ
“Dan jika engkau bertanya kepada mereka, ‘Siapakah yang menciptakan langit dan bumi serta menundukkan matahari dan bulan?' Niscaya mereka akan menjawab, ‘Allah.'” (QS. Al-‘Ankabut: 61).
Meskipun mereka mengakui Allah sebagai Pencipta, mereka tetap melakukan kesyirikan dalam ibadah. Maka tauhid yang benar menuntut seorang hamba tidak hanya mengakui bahwa Allah adalah Rabb, tetapi juga memurnikan seluruh ibadah hanya kepada-Nya.
Jangan Memalingkan Ibadah kepada Selain Allah
Inilah perkara yang harus benar-benar diperhatikan oleh setiap muslim.
Allah berfirman:
وَأَنَّ الْمَسَاجِدَ لِلَّهِ فَلَا تَدْعُوا مَعَ اللَّهِ أَحَدًا
“Dan sesungguhnya masjid-masjid itu adalah milik Allah. Maka janganlah kamu menyembah siapa pun di samping Allah.” (QS. Al-Jinn: 18).
Doa merupakan ibadah. Karena itu doa harus ditujukan kepada Allah. Demikian pula penyembelihan, nadzar dan bentuk ibadah lainnya tidak boleh dipersembahkan kepada selain Allah.
Rasulullah ﷺ bersabda:
حَقُّ اللَّهِ عَلَى الْعِبَادِ أَنْ يَعْبُدُوهُ وَلَا يُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا
“Hak Allah atas para hamba adalah mereka beribadah kepada-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Hadits ini menunjukkan besarnya kedudukan tauhid. Hak Allah yang paling besar atas hamba adalah agar mereka beribadah hanya kepada-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun.
Kesimpulan
Keutamaan agama Islam yang sangat agung adalah bahwa Islam mengajarkan tauhid yang murni. Allah adalah satu-satunya Rabb, Pencipta, Pemberi rezeki, Pengatur, dan Raja seluruh alam. Karena itu hanya Allah yang berhak mendapatkan seluruh bentuk ibadah.
Seorang muslim hendaknya tidak hanya mengakui bahwa Allah adalah Pencipta, tetapi juga memurnikan ibadah hanya kepada-Nya. Inilah hakikat tauhid yang menjadi inti dakwah seluruh rasul: beribadah hanya kepada Allah dan menjauhi segala bentuk kesyirikan.
Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala memberikan kepada kita ilmu yang bermanfaat, mengokohkan kita di atas tauhid, dan menjaga kita dari segala bentuk kesyirikan hingga akhir hayat. Wallahu a'lam.



