Allah subhanahu wa Ta'ala menciptakan hamba-hambanya untuk beribadah kepada Allah, Allah berfirman,
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونَ
“Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (Qs. Adz-Dzariyat: 56)
Maksud ayat tersebut adalah Allah Subhanahu wa Ta’ala mengutus para rasul menyampaikan berita ini, hikmah diciptakannya manusia, dan terakhir Allah mengutus nabi kita Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam untuk menjelaskan kepada umat manusia akan hikmah dari diciptakannya mereka oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Kemudian orang-orang yang taat pada Allah dan rasulnya, Allah janjikan bagi mereka ada surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal didalam didalamnya. Sebaliknya orang-orang yang kafir, yang tidak beriman kepada Allah dan rasul-nya maka mereka diancam dengan ancaman api neraka, mereka kekal di dalamnya.
Maka kita bersyukur pada Allah Subhanahu wa Ta’ala, kita masih diberi hidayah oleh Allah dan dilahirkan dari orangtua muslim dan muslimah, sehingga kita memeluk Islam dan lahir di dalam rahim seorang ibu yang muslimah. Maka semoga iman dan Islam yang kita miliki ini, yang merupakan nikmat terbesar yang Allah anugerahkan kepada kita benar-benar kita pelihara, kita jaga, dan kita berupaya untuk Istiqamah di atasnya sampai akhir dari kehidupan kita di dunia ini.

Ada satu hal yang mungkin jarang dan langka disampaikan dalam khutbah-khutbah jumat, yaitu sebab-sebab terjerumusnya seorang ke dalam adzab Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Ada dua poin penting dalam masalah ini,
Pertama, seorang dimasukkan ke neraka yang dia kekal dalamnya adzab Allah Subhanahu wa Ta’ala selama-lamanya.
Kedua, Ada sebagian hamba-hamba Allah yang beriman, karena bermaksiat pada Allah Azza wa Jalla, maka dengan hikmah Allah dia dikeluarkan dari neraka setelah dimasukkan kedalam api neraka karena mereka masih memiliki Iman pada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Adapun hal-hal yang menjadikan seseorang itu kekal di dalam api neraka adalah seorang hamba yang dia mati di dalam kekufuran, kesyirikan, dan di dalam kemunafikan. Di dalam ayat-ayat al-qur'an dengan tegas disebutkan tentang tempat kembalinya orang-orang yang mati di dunia ini dalam keadaan kufur dan tidak kembali pada keimanan. sehingga dia dalam kesyirikan, menyembah kepada selain Allah dan dia dalam kemunafikan, yaitu menampakkan islam tetapi menyembunyikan kekufuran dalam dirinya.
Allah azza wa Jalla berfirman,
اِنَّ اللّٰهَ لَعَنَ الۡكٰفِرِيۡنَ وَاَعَدَّ لَهُمۡ سَعِيۡرًا ۙ خٰلِدِيۡنَ فِيۡهَاۤ اَبَدًا ۚ لَا يَجِدُوۡنَ وَلِيًّا وَّلَا نَصِيۡرًا ۚ
“Sungguh, Allah melaknat orang-orang kafir dan menyediakan bagi mereka api yang menyala-nyala (neraka), mereka kekal di dalamnya selama-lamanya; mereka tidak akan mendapatkan pelindung dan penolong.” (Qs. Al-Ahzab 64-65)
Kemudian Allah Azza wa Jalla berfirman dalam ayat yang lain,
وَمَنۡ يَّرۡتَدِدۡ مِنۡكُمۡ عَنۡ دِيۡـنِهٖ فَيَمُتۡ وَهُوَ کَافِرٌ فَاُولٰٓٮِٕكَ حَبِطَتۡ اَعۡمَالُهُمۡ فِى الدُّنۡيَا وَالۡاٰخِرَةِ ۚ وَاُولٰٓٮِٕكَ اَصۡحٰبُ النَّارِۚ هُمۡ فِيۡهَا خٰلِدُوۡنَ
“Barang siapa yang murtad di antara kamu dari agamanya, lalu dia mati dalam kekafiran, maka mereka itu sia-sia amalnya di dunia dan di akhirat, dan mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.” (Qs. Al-Baqarah: 217)
Adapun tentang kesyirikan, ancaman Allah bagi orang-orang musyrikin yang menyekutukan Allah dengan sesuatu dan mereka mati dalam kesyirikan, tidak mentauhidkan Allah Subhanahu wa Ta’ala maka Allah ta'ala berfirman,
اِنَّ اللّٰهَ لَا يَغۡفِرُ اَنۡ يُّشۡرَكَ بِهٖ وَيَغۡفِرُ مَا دُوۡنَ ذٰ لِكَ لِمَنۡ يَّشَآءُ ۚ وَمَنۡ يُّشۡرِكۡ بِاللّٰهِ فَقَدِ افۡتَـرٰۤى اِثۡمًا عَظِيۡمًا
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni (dosa) karena mempersekutukan-Nya (syirik), dan Dia mengampuni apa (dosa) yang selain (syirik) itu bagi siapa yang Dia kehendaki. Barang siapa mempersekutukan Allah, maka sungguh, dia telah berbuat dosa yang besar.” (Qs. An-Nisa: 48)
Demikian pula Allah Azza wa Jalla berfirman,
اِنَّهٗ مَنۡ يُّشۡرِكۡ بِاللّٰهِ فَقَدۡ حَرَّمَ اللّٰهُ عَلَيۡهِ الۡجَـنَّةَ وَمَاۡوٰٮهُ النَّارُ ؕ وَمَا لِلظّٰلِمِيۡنَ مِنۡ اَنۡصَارٍ
“Sesungguhnya barang siapa mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka sungguh, Allah mengharamkan surga baginya, dan tempatnya ialah neraka. Dan tidak ada seorang penolong pun bagi orang-orang zalim itu.” (Qs. Al-Maidah: 72)
Maka, merupakan kewajiban kita sebagai orang yang telah dianugerahkan Allah nikmat yang besar, nikmat iman, nikmat Islam, nikmat tauhid, dan nikmat sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam adalah hendaknya kita senantiasa menjaga dan memelihara iman-iman kita dan Allah menjanjikan orang-orang yang istiqomah bahwa tidak ada rasa takut pada mereka,
اِنَّ الَّذِيۡنَ قَالُوۡا رَبُّنَا اللّٰهُ ثُمَّ اسۡتَقَامُوۡا فَلَا خَوۡفٌ عَلَيۡهِمۡ وَلَا هُمۡ يَحۡزَنُوۡنَۚ
“Sesungguhnya orang-orang yang berkata, “Tuhan kami adalah Allah,” kemudian mereka tetap istikamah, tidak ada rasa khawatir pada mereka, dan mereka tidak (pula) bersedih hati.” (Qs. Al-ahqaf:13)
Adapun tentang orang-orang munafik yang mana dia menampakkan islam tetapi dia menyembunyikan kekufuran dalam dirinya. dia menampakkan kecintaannya kepada Islam namun dia menyembunyikkan kebencian dalam dirinya kepada Islam dan ajaran-ajaran Islam, maka Allah menyebutkan tentang orang-orang seperti ini yang tidak bertaubat sampai mati dalam kemunafikan. Allah berfirman,
اِنَّ الۡمُنٰفِقِيۡنَ فِى الدَّرۡكِ الۡاَسۡفَلِ مِنَ النَّارِ ۚ وَلَنۡ تَجِدَ لَهُمۡ نَصِيۡرًا ۙ
“Sungguh, orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. Dan kamu tidak akan mendapat seorang penolong pun bagi mereka,” (Qs. An-Nisa: 145)
Itu tentang orang-orang yang mati dalam kekufuran, kesyirikan, dan kemunafikan dan mereka kekal didalam adzab Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Kemudian yang kedua, ada perbuatan-perbuatan yang diharamkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, barangsiapa mengerjakannya dan dia tidak bertobat pada Allah ta'ala maka dia terancam oleh api neraka dan itu dalam jumlah yang banyak.
Baca juga: Mengenal Tauhid Uluhiyyah: Definisi, Dalil, dan Urgensinya (Bagian 1)

Daftar Isi
Beberapa kemaksiatan-kemaksiatan yang dengannya seorang terancam akan api neraka, diantaranya:
Orang yang Makan Riba
Orang yang makan riba dari keringat orang lain. dia meminjamkan uang atau modal kepada orang lain kemudian dia hanya mengambil bunganya setiap bulan. Setiap kali terlambat ditambah bunganya, sehingga dia menjadi lintah darat yang tidak mempunyai perikemanusiaan, yang dia adalah orang yang makan dari riba, hidup dengan riba diatas penderitaan orang lain. Makanya Allah mengancam mereka apabila tidak bertobat pada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan ancaman api neraka, dibangkitkan di hari kiamat kelak dalam keadaan seperti seorang yang kesurupan, yang kemasukan syaiton. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
اَلَّذِيۡنَ يَاۡكُلُوۡنَ الرِّبٰوا لَا يَقُوۡمُوۡنَ اِلَّا كَمَا يَقُوۡمُ الَّذِىۡ يَتَخَبَّطُهُ الشَّيۡطٰنُ مِنَ الۡمَسِّؕ ذٰ لِكَ بِاَنَّهُمۡ قَالُوۡۤا اِنَّمَا الۡبَيۡعُ مِثۡلُ الرِّبٰوا ۘ وَاَحَلَّ اللّٰهُ الۡبَيۡعَ وَحَرَّمَ الرِّبٰوا ؕ فَمَنۡ جَآءَهٗ مَوۡعِظَةٌ مِّنۡ رَّبِّهٖ فَانۡتَهٰى فَلَهٗ مَا سَلَفَؕ وَاَمۡرُهٗۤ اِلَى اللّٰهِؕ وَمَنۡ عَادَ فَاُولٰٓٮِٕكَ اَصۡحٰبُ النَّارِۚ هُمۡ فِيۡهَا خٰلِدُوۡنَ
“Orang-orang yang memakan riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kesurupan setan karena gila. Yang demikian itu karena mereka berkata bahwa jual beli itu sama dengan riba. Padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Barang siapa mendapat peringatan dari Tuhannya, lalu dia berhenti, maka apa yang telah diperolehnya dahulu menjadi miliknya dan urusannya (terserah) kepada Allah. Barang siapa mengulangi, maka mereka itu penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.” (Qs. Al-Baqarah: 275)
Anak yang Durhaka
Uququl walidain yaitu seorang anak yang durhaka kepada kedua orang tuanya. Padahal Allah telah memerintahkan untuk berbuat baik kepada orang tuanya dan hikmah dari Allah memerintahkan kita untuk berbuat baik kepada kedua orang tua kita adalah agar kita menjadi orang-orang dan hamba-hamba Allah yang pandai berterima kasih dan orang yang mengetahui kebaikan orang yang pernah berbuat baik kepada kita.
Demikian pula ketika Allah Ta'ala memerintahkan kita untuk mentauhidkan Allah dan tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu agar kita mengetahui kebaikan Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada kita. Dia yang telah menciptakan kita, Dia yang telah memberikan kepada kita berbagai macam nikmat, bahkan nikmat petunjuk dan hidayah semua dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, lalu kita menyembah selain Allah, maka ini sebuah perilaku yang sangat buruk dari seorang hamba terhadap Tuhannya.
Maka dari itu kepada orangtua pun demikian, bahwa Allah memerintahkan kepada anak untuk berbakti kepada kedua orangtuanya, berbaik kepada kedua orangtuanya, allah berfirman,
وَقَضٰى رَبُّكَ اَلَّا تَعۡبُدُوۡۤا اِلَّاۤ اِيَّاهُ وَبِالۡوَالِدَيۡنِ اِحۡسَانًا ؕ اِمَّا يَـبۡلُغَنَّ عِنۡدَكَ الۡكِبَرَ اَحَدُهُمَاۤ اَوۡ كِلٰهُمَا فَلَا تَقُلْ لَّهُمَاۤ اُفٍّ وَّلَا تَنۡهَرۡهُمَا وَقُلْ لَّهُمَا قَوۡلًا كَرِيۡمًا
“Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik” (Qs. Al-Isra’: 23)
Maka dari itu, orang yang durhaka kepada kedua orang tuanya dan dia tidak bertaubat dengan meminta ampun kepada Allah dan minta maaf kepada kedua orang tuanya, maka terancam oleh api neraka, sebagaimana disabdakan oleh Nabi Shallallahu Alaihi Wa Alaihi Wasallam,
ثَلَاثَةٌ قَدْ حَرَّمَ اللهُ عَلَيْهِمُ الْجَنَّةَ: مُدْمِنُ الْخَمْرِ، وَالْعَاقُّ، وَالدَّيُّوثُ “، الَّذِي يُقِرُّ فِي أَهْلِهِ الْخَبَثَ
“Tiga orang yang Allâh haramkan surga untuk mereka: pecandu khmar (minuman keras), anak yang durhaka, dan dayûts, orang yang membenarkan keburukan di keluarganya” (HR. Ahmad dan An-Nasa’i)

Orang yang Memutus Silaturahim
Orang yang memutus silaturahim dengan kerabatnya, dia memutuskan rahim, padahal Allah memerintahkan untuk menjaganya. Maka dia diancam oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam , sebagaimana beliau bersabda,
لاَ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ قَاطِعٌ
“Tidak akan masuk sorga orang yang memutuskan silaturahim.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Kemudian diantara makna dari silaturahim adalah seorang itu tidak menunggu kalau keluarganya dan kerabatnya bersilaturahmi dengannya baru dibalas. Kalau tidak dia tidak memulai silaturahim, bukan itu yang dimaksud dengan silaturahim. sebagaimana yang disabdakan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam , kata beliau,
لَيْسَ الْوَاصِلُ بِالْمُكَافِئِ، وَلَكِنِ الْوَاصِلُ الَّذِي إِذَا قُطِعَتْ رَحِمُهُ وَصَلَهَا
“Orang yang menyambung silaturahmi bukanlah yang membalas orang yang menyambungnya. Tetapi, orang yang menyambung silaturahmi sesungguhnya adalah yang menyambung kerabat yang memutusnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Maka dia menyambungnya bukan menunggu dia didatangi dan disambung baru dia menyambung, tapi ketika mereka memutuskan silaturahimnya, dia kemudian yang menyambung silaturrahimnya.
Orang yang Bersaksi Palsu
Amalan lain yang juga mendapat ancaman api neraka adalah persepsi dan persaksian yang palsu, karena dia dibayar karena dia diberikan janji, maka dia mengetahui sesuatu tetapi dia menyaksikan sesuatu yang lain, karena janji-janji duniawi tersebut. Makanya kata Nabi ‘Alaihi salatu Wassalam
لَنْ تَزُولَ قَدَمُ الشَّاهِدِ الزُّورِ حَتَّى يُوجِبَ اللَّهُ لَهُ النَّارَ
“Tidak beranjak dari tempat berdirinya sampai Allah pastikan dia untuk diazab dalam api neraka”. (HR. Ibnu Majah dan Al-Hakim)
Orang yang Bersumpah Palsu
Di antara amalan yang dengannya seseorang mendapatkan ancaman Allah adalah sumpah yang palsu yang digunakan untuk mendapatkan hal-hal duniawi. Sesuatu yang baik dibilang jelek, sesuatu yang jelek dan bersumpah dikatakan baik dan yang lainnya dari contoh-contoh tentang sumpah yang palsu. Disebutkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam,
مَنْ اقْتَطَعَ مَالَ أَخِيهِ بِيمِينِهِ فَقَدْ أَوْجَبَ اللَّهُ لَهُ النَّارَ، وَحَرَّمَ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ
“Siapa yang mengambil harta saudaranya dengan sumpahnya, maka Allah telah mewajibkan baginya neraka dan mengharamkan baginya surga.” (HR. Muslim)
Kemudian di hadis yang lain,
لِيُبَلِّغْ شَاهِدُكُمْ غَائِبَكُمْ
“Hendaknya orang yang hadir menyampaikan kepada orang yang tidak hadir” (HR. Imam Ahmad dan Al-Hakim)
Orang yang Keras, Kikir, dan Sombong
Diantara penyebab-penyebab seorang masuk neraka adalah sebagaimana yang disabdakan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam dari hadits Haritsah ibn Wahab,
أَلاَ أُخْبِرُكُمْ بِأَهْلِ النَّارِ كُلُّ عُتُلٍّ جَوَّاظٍ مُسْتَكْبِرٍ
“Maukah kuberitahu pada kalian siapakah ahli neraka itu? Mereka itu adalah setiap orang yang keras, kikir dan gemar mengumpulkan harta lagi sombong” (HR. Bukhari dan Muslim)
Pertama adalah al-‘utul yaitu orang yang keras bukan pada tempatnya, dia kaku dan tidak lunak kepada kebenaran ketika disampaikan kebenaran kepadanya, dia juga tidak lemah lembut kepada hamba-hamba Allah.
Yang kedua adalah al-jawwadz yaitu orang yang selalu mengumpilkan harta tapi dia tidak pernah memberikan pada orang lain, dia mau dari orang lain, tapi dia tidak mau memberikan kepada orang kepada orang lain dari hartanya. Seorang yang tamak pada harta dan dia pelit untuk memberi sedekah kepad manusia dari harta-hartanya.
Yang ketiga al-mustakbir yaitu orang yang takabur, orang yang menolak kebenaran setelah datang kebenaran kepadanya dan dia tidak pernah rendah hati kepada hamba-hamba Allah, lalu kemudian dia melihat bahwa dirinya paling mulia dan paling tinggi diantara hamba-hamba Allah dan dia melihat bahwa pendapatnya lebih benar daripada kebenaran. Wal iyadzubillah…
Semoga kita dapat mengambil pelajaran dari apa yang disampaikan ini.
Ustadz Mubarak Bamualim, Lc., M.H.I.
Baca juga: Tauhid Rububiyah Saja Tidak Cukup Menyelamatkan dari Neraka



