spot_img
BerandaKhutbah JumatKasih Sayang Rasulullah Meliputi Seluruh Alam Semesta

Kasih Sayang Rasulullah Meliputi Seluruh Alam Semesta

Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā berfirman:

وَمَآ أَرْسَلْنَـٰكَ إِلَّا رَحْمَةًۭ لِّلْعَـٰلَمِينَ

“Dan tidaklah Kami mengutus engkau (wahai Muhammad), melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam.”
(QS. Al-Anbiyā’ : 107)

Para ulama menafsirkan kata ٱلْعَـٰلَمِينَ  mencakup kullu mā siwallāh (segala sesuatu selain Allah), yaitu seluruh makhluk, baik manusia, jin, hewan, maupun makhluk lainnya. Maka misi kasih sayang Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bukan hanya untuk manusia, tetapi untuk seluruh ciptaan Allah.

Bukti besarnya kasih sayang Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam tidak hanya tercermin dalam akhlaknya kepada manusia, tetapi juga kepada hewan, bahkan kepada para pelaku dosa dari umatnya.

Kasih Sayang Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam terhadap Hewan

Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

« إِنَّ اللَّهَ كَتَبَ الإِحْسَانَ عَلَى كُلِّ شَىْءٍ، فَإِذَا قَتَلْتُمْ فَأَحْسِنُوا القِتْلَةَ، وَإِذَا ذَبَحْتُمْ فَأَحْسِنُوا الذِّبْحَةَ »

“Sesungguhnya Allah telah mewajibkan berbuat baik dalam segala hal. Jika kalian membunuh, maka bunuhlah dengan cara yang baik. Jika kalian menyembelih, maka sembelihlah dengan cara yang baik.”
(HR. Muslim)

Hewan itu ada yang halal dimakan dan ada yang tidak halal dimakan. Yang halal dimakan, disembelihlah dengan baik. Yang tidak halal dimakan namun harus dibunuh, tetap diperintahkan untuk dibunuh dengan cara yang baik.

Ada seorang sahabat berkata:

« يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنَّ لِي شَاةً أَنَا أُذَبِّحُهَا، وَإِنِّي أَرْحَمُهَا »

“Wahai Rasulullah, aku memiliki seekor kambing, dan aku ingin menyembelihnya, namun aku merasa iba kepadanya.”
Maka Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam menjawab:

« الشَّاةُ إِذَا رَحِمْتَهَا رَحِمَكَ اللَّهُ »

“Jika engkau menyayanginya, maka Allah akan merahmatimu.”
(HR. Al-Baihaqi)

Dikisahkan dalam sebuah hadis

دَخَلَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلمبُسْتَانًا لِرَجُلٍ مِنَ الأَنْصَارِ، فَإِذَا فِيهِ جَمَلٌ، فَلَمَّا رَأَى الْجَمَلُ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم ذَرَفَتْ عَيْنَاهُ، فَأَتَاهُ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم فَمَسَحَهُ حَتَّى سَكَنَ

“Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam masuk ke kebun milik seorang Anshār. Di sana ada seekor unta. Ketika unta itu melihat Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam, ia menangis. Lalu Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam mendatanginya dan mengusapnya hingga ia tenang.”

Kemudian Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bertanya:« لِمَنِ الْجَمَلُ؟ »
“Unta ini milik siapa?”
Seorang pemuda Anshar menjawab: « لِي يَا رَسُولَ اللَّهِ »
“Milikku, wahai Rasulullah.”
Maka Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam menegur:

« أَفَلَا تَتَّقِي اللَّهَ فِي هَذِهِ الْبَهِيمَةِ الَّتِي مَلَّكَكَ اللَّهُ إِيَّاهَا؟ فَإِنَّهُ شَكَا إِلَيَّ أَنَّكَ تُجِيعُهُ »

“Tidakkah engkau bertakwa kepada Allah terhadap hewan yang Allah kuasakan kepadamu? Ia mengadu kepadaku bahwa engkau membuatnya kelaparan.”
(HR. Abu Dawud)

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda bahwa ada seorang wanita yang diazab karena seekor kucing:

« دَخَلَتِ امْرَأَةٌ النَّارَ فِي هِرَّةٍ، لا هِيَ أَطْعَمَتْهَا وَلَا سَقَتْهَا، وَلَا هِيَ تَرَكَتْهَا تَأْكُلُ مِنْ خَشَاشِ الْأَرْضِ »

“Seorang wanita masuk neraka gara-gara seekor kucing; ia tidak memberinya makan, tidak memberinya minum, dan tidak membiarkannya mencari makan sendiri.”
(HR. Bukhari & Muslim)

Ini menunjukkan, kasih sayang termasuk akhlak yang sangat besar kedudukannya dalam Islam bahkan terhadap hewan.

Kasih Sayang Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam kepada Para Pelaku Dosa

Kasih sayang Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam tidak hanya untuk orang saleh. Justru beliau sangat memikirkan keadaan para pendosa dari umatnya.

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

« خُيِّرْتُ بَيْنَ الشَّفَاعَةِ وَبَيْنَ أَنْ يَدْخُلَ نِصْفُ أُمَّتِي الْجَنَّةَ، فَاخْتَرْتُ الشَّفَاعَةَ، فَإِنَّهَا أَعَمُّ وَأَكْفَى »

“Aku diberi pilihan: syafaat atau separuh umatku masuk surga. Aku memilih syafaat, karena ia lebih luas jangkauannya.”
(HR. At-Tirmidzi, hasan ṣaḥīḥ)

Kemudian beliau bertanya kepada para sahabat:

« أَتُرَوْنَهَا لِلْمُتَّقِينَ؟ »

“Apakah kalian mengira syafaatku itu hanya untuk orang-orang bertakwa?”
Beliau melanjutkan:

« بَلْ لِلْمُذْنِبِينَ الْخَطَّائِينَ الْمُتَلَوِّثِينَ »

“Bahkan syafaatku itu untuk orang-orang yang berdosa, yang berbuat salah, yang bergelimang maksiat.”
(HR. Ibn Hibban)

Maka jika para pendosa saja masih diperhatikan oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam, bagaimana mungkin kita tidak menyayangi umatnya?

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

« لِكُلِّ نَبِيٍّ دَعْوَةٌ مُسْتَجَابَةٌ، فَتَعَجَّلَ كُلُّ نَبِيٍّ دَعْوَتَهُ، وَإِنِّي اخْتَبَأْتُ دَعْوَتِي شَفَاعَةً لِأُمَّتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ »

“Setiap nabi memiliki satu doa mustajab, dan seluruh nabi telah menggunakan doa mereka, sedangkan aku menyimpan doaku sebagai syafaat bagi umatku pada hari kiamat.”
(HR. Bukhari & Muslim)

Inilah bukti kasih sayang Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam kepada umatnya, beliau menunda kesempatan doa emasnya, demi menyelamatkan umatnya pada hari kiamat.

Kasih Sayang Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam kepada Umatnya pada Hari Kiamat

Ketika kelak para nabi di Padang Mahsyar diminta memberi syafaat, tidak ada satu pun yang sanggup memberikan asy-syafā‘ah al-‘uzmā. Nabi Ādam ‘alaihis salām tidak mampu, begitu juga Nabi Nūh, Nabi Ibrāhīm, Nabi Mūsā, dan Nabi ‘Īsā ‘alaihimus salām. Mereka semua berkata, “Pergilah kepada Muhammad, beliau adalah Rasul terakhir.”

Maka para manusia, termasuk para pelaku maksiat dan orang-orang yang bergelimang dosa, datang menemui Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam. Saat itu, Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam sedang bersujud di bawah ‘Arsy. Lalu Allah berfirman kepada beliau:

يَا مُحَمَّدُ، ارْفَعْ رَأْسَكَ، سَلْ تُعْطَ، وَاشْفَعْ تُشَفَّعْ

“Wahai Muhammad, angkatlah kepalamu. Mintalah, pasti Aku kabulkan. Berilah syafaat, pasti Aku perkenankan.”

Pada saat itu, apa yang diucapkan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam?

Beliau tidak berkata, “Diriku, selamatkan diriku.” Tetapi beliau berkata:

أُمَّتِي أُمَّتِي، يَا رَبِّ أُمَّتِي

“Umatku, ya Allah… umatku, ya Allah…”

Permohonan terbaik Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bukan untuk dirinya, tetapi untuk umatnya.

Bahkan ketika jembatan shirāth dibentangkan di atas neraka Jahannam, seluruh umat Islam harus melewatinya. Ada yang melewatinya secepat kedipan mata, ada yang seperti kilat, seperti angin berhembus, ada yang berlari, ada yang berjalan, ada yang merangkak, ada yang terseok-seok, tertatih-tatih, bahkan ada yang disambar kalālīb (kait neraka).

Lalu di mana Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam saat itu?
Apakah beliau sudah berada di surga, menikmati kenikmatan surga?
Tidak. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam gelisah melihat keadaan umatnya.

Beliau terus berdoa:

اللَّهُمَّ سَلِّمْ سَلِّمْ

“Ya Allah, selamatkan umatku… Ya Allah, selamatkan umatku…”

Kasih Sayang Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam yang Meliputi Seluruh Alam Semesta

Terkadang, kita terlalu mengedepankan dalil. Padahal, hidayah tidak selalu datang melalui dalil. Kadang, hidayah datang melalui doa. Lidah kita bisa sangat fasih mengutip dalil, tetapi tidak fasih mendoakan umat Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam.

Apakah Anda mengira yang disayangi Rasul itu hanya orang yang rajin shalat?
Apakah Anda mengira orang yang ditangisi Rasul adalah mereka yang sudah baik?
Bukan.

Yang membuat Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam gelisah adalah umatnya yang berdosa, yang keliru, yang bermaksiat. Maka di antara sunnah Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam adalah menyayangi umatnya.

Di antara sunnah Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam adalah mendoakan umatnya, bukan hanya mencela kesalahannya.

Contohnya adalah kisah Abu Hurairah radhiyallāhu ‘anhu. Ia terus mengajak ibunya masuk Islam, namun ibunya menolak, bahkan mencela Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam. Abu Hurairah pun menangis dan mengadu kepada Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam:

“Wahai Rasulullah, aku telah mengajak ibuku masuk Islam, aku jelaskan dalil, aku nasihati, tapi ia tidak mau. Bahkan ia mencela dirimu. Wahai Rasulullah, tolong doakan ibuku.”

Maka Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam berdoa:

اللَّهُمَّ اهْدِ أُمَّ أَبِي هُرَيْرَةَ

“Ya Allah, berikan hidayah kepada ibunya Abu Hurairah.”

Abu Hurairah pun pulang. Sesampainya di rumah, ia mendengar suara air. Ibunya berkata, “Jangan masuk dulu.” Setelah ia selesai mandi dan berpakaian, ibunya memanggil:

“Masuklah.”
Lalu sang ibu berkata:

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللّٰهِ

Terkadang, seseorang mendapat hidayah bukan karena dalilmu, tetapi karena doamu.

Kasih Sayang Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam yang Meliputi Seluruh Alam Semesta

Salah satu bentuk nyata kasih sayang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah perhatian beliau kepada anak-anak. Tidak hanya anak-anak beliau sendiri, tetapi juga seluruh anak kaum muslimin.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mencium cucunya, Al-Hasan bin ‘Ali, lalu ada seorang lelaki yang berkata, “Saya punya sepuluh anak, tetapi saya tidak pernah mencium satu pun dari mereka.” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ لاَ يَرْحَمْ لاَ يُرْحَمْ

“Barangsiapa tidak menyayangi, maka ia tidak akan disayangi.”
(HR. Al-Bukhari

Hadits ini menunjukkan bahwa kasih sayang bukan sekadar perasaan, tetapi sikap nyata yang harus ditunjukkan dalam bentuk perhatian dan kelembutan kepada anak-anak.

Setelah mengetahui betapa besar kasih sayang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada umatnya, bahkan kepada para pendosa dan mereka yang jauh dari kebaikan, kita terdorong untuk meneladani sikap beliau dengan mendoakan, menyayangi, dan mengharapkan hidayah bagi sesama muslim, bukan sekadar menghakimi atau mencela. Semoga kita menjadi bagian dari umat yang layak mendapatkan syafaat beliau pada hari yang sangat dahsyat itu.

Baca juga: Inti Dakwah Seluruh Nabi dan Rasul

ARTIKEL TERKAIT

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

spot_img