BerandaAdab dan AkhlakKiat Menggapai Istiqomah

Kiat Menggapai Istiqomah

Kiat Menggapainya

Istiqomah dapat dicapai dengan melaksanakan perintah-perintah Allah dan menjahui larangan-larangan-Nya, bersungguh-sungguh dengan hal tersebut, mencari keridhaan Allah dengan melakukan amal-amal shalih dan mejahui amalan-amalan yang buruk, melaksanakan shalat lima waktu secara berjama’ah dengan kaum muslimin di masjid, tidak meninggalkannya ataupun terlambat dalam menghadirinya.

Diantara kiat istiqomah lainnya adalah sering membaca Al-Qur’an, mentadaburi, mengamalkan, dan mendakwahkan, serta bersabar ketika berdakwah. Juga dengan memperbanyak berdzikir kepada Allah, berperilaku dengan akhlak yang baik, mempergunakan kenikmatan-kenikmatan yang Allah berikan kepada kita hanya untuk ketaatan kepada-Nya semata, tidak untuk berbuat durhaka kepada Allah atau menolong orang yang hendak berbuat maksiat, dan tidak membelanjakan harta kepada sesuatu yang Allah benci.

Selain itu, istiqomah dapat diwujudkan dengan berbakti kepada kedua orangtua, menyambung tali persaudaraan, berbuat baik kepada tetangga. Juga dapat digapai dengan mengkonsumsi makanan yang halal, meninggalkan yang haran beserta jalan-jalannya, seperti memakan riba, uang suap, mencuri, dan menipu saat jual beli. Istiqomah juga bisa dicapai dengan berkata baik, memberi nasehat dalam kebenaran, tidak menggunjing dan mengadu domba. Tidak berbohong atau berdusta, mencela, mencaci maki, ataupun melaknat, dan menjahui semua perkataan yan diharamkan.

Begitu pula tidak iri, dengki, atapun benci dengan sanak saudara dan teman, tidak cuek dengan mereka hanya karena perkara ringan dan remeh. Istiqomah juga dapat kita capai dengan mengontrol anggota badan seperti lidah, pendengaran, dan penglihatan dan kaki untuk berbuat taat kepada Allah. Jadikanlah pada setiap kondisi, pagi maupun petang, keinginan terbesar dan tujuan tertinggi seta kemauan terpujimu hanya tertuju kepada ketaatan kepada Allah semata dan mengharap kenikmatan yang Allah persiapkan bagi hamba-hamba-Nya yang beriman.

Allah berfirman :

قُلۡ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحۡيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ  ١٦٢ لَا شَرِيكَ لَهُۥۖ وَبِذَٰلِكَ أُمِرۡتُ وَأَنَا۠ أَوَّلُ ٱلۡمُسۡلِمِينَ 

“Katakanlah: sesungguhnya sembahyangku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. Tiada sekutu bagi-Nya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah)”. (QS. Al-An’am : 162-163)

Kiat Menggapai Istiqomah Mencapai 100 Persen

Tatkala Hati Istiqomah

Ibnu Rajab berkata:

“Tatkata hati dapat beristiqomah untuk lebih mengetahui tentang hakikat Allah, berusaha takut kepada-Nya, memuliakan-Nya, merasakan keagungan-Nya, mencintai-Nya, memahami kehendak-Nya, berhadap dari-Nya, berdo’a dan berserah diri hanya kepada-Nya semata, serta berpaling dari selain-Nya maka seluruh angota tubuhpun akan beristiqomah pada ketaatan-Nya pula. Sesungguhnya hati merupakan raja sedangkan anggota tubuh adalah bala tentaranya. Apabila sang raja mampu beristiqomah niscaya pasukan dan rakyatnya akan beristiqomah pula. Oleh karenanya Allah berfirman:

فَأَقِمۡ وَجۡهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفٗاۚ

“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah)”. (QS. Ar-Ruum: 30)

Ditafsirkan ayat di atas dengan mengikhlaskan tujuan hanya untuk Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya.

Selain hati, anggota tubuh yang memiliki pengaruh yang cukup besar dalam membatu istiqomah ialah lidah, karena lidah merupakan penerjemah hati dan pengungkap baginya. Dalam kitab Musnad Imam Ahmad dari sahabat Anas, beliau meriwatkan bahwasanya Rasulullah shalallahu'alaihi wasallam bersabda :

لَا يَسْتَقِيْمُ إِيْمَانُ عَبْدٍ حَتَّى يَسْتَقِيْمَ قَلْبَهُ، وَلاَ يَسْتَقِيْمُ قَلْبُهُ حَتَّى يَسْتَقِيْمَ لِسَانُهُ.

“Keimanan seorang hamba tidak akan bisa lurus sebelum lurus hatinya, dan hatinya tidak akan bisa lurus sebelum lurus lidahnya”.

Dalam riwayat Tirmidzi dari sahabat Abu Sa’id diriwayatkan secara “marfu’” (sampai kepada Nabi shalallahu'alaihi wasallam) dan “mauquf” (tidak sampai kepada Nabi shalallahu'alaihi wasallam, hanya terhenti pada sahabat) :

إِذَا أَصْبَحَ ابْنُ آدَمَ فَإِنَّ الأَعْضَاءَ كُلَّهَا تُفَكِّرُ اللِّسَانَ فَيَقُوْلُ : اتَّقِ اللَّهَ فِيْنَا فَإِنَّمَا نَحْنُ بِكَ، فَإِنْ اسْتَقَمْتَ اسْتِقَمْنَا، وَإِنْ اعْوَجَجْتَ اعْوَجَجْنَا.

“Apabila waktu subuh dilalui anak Adam, seluruh anggota tubuhnya memikirkan lidah dan berkata: “Takutklah kepada Allah perihal kita, karena kita hanya mengikutimu saja, apabila engkau lurus pasti kami lurus, dan apabila engkau bengkok (menyimpang) kitapun akan mengikuti bengkok (menyimpang).

Semoga Allah subhanahu wata'ala memberikan kita keistiqomahan sehingga dapat mengakhiri kehidupan ini dengan khusnul khatimah, Amiin.

Dilansir dari Majalah Adz-Dzakhirah Al-Islamiyah Vol. 6 No. 2 Edisi 34 ha. 31-34. Buah Istiqomah oleh Syaikh Abu Abdirrahamn Ali bin Ahmad Jilan dialihbahasakan oleh Muammad Sulhan Jauhari, Lc, Penerbit Mahad Ali Al-Irsyad As-Salafy Surabaya.

ARTIKEL TERKAIT

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

spot_img