spot_img
BerandaAdab dan AkhlakLandasan Aqidah Islamiyyah

Landasan Aqidah Islamiyyah

Landasan Aqidah Islamiyyah merupakan hal yang sangat penting, karena landasan ibarat pondasi sebuah bagunan, jika pondasi tersebut kuat, walaupun diterpa angin dan hujan maka bangunan tersebut akan tetap kokoh karena pondasinya kuat, demikian juga dengan aqidah, jikalau aqidah ini kuat landasannya maka meskipun diterpa fitnah dan ujian maka akan tetap tegak.

Kemudian urgensi kita membahas landasan aqidah Islamiyah adalah karena ini merupakan pokoknya Islam, dan juga karena hal ini merupakan syarat diterimanya semua amalan, contoh seperti sholat dan infak, jika landasannya tidak benar maka tidak diterima. Adapun Sebab kita membahas tema ini adalah karena banyaknya aqidah-aqidah yang bathil, inilah pentingnya kita membahas masalah aqidah terlebih dahulu.

Aqidah Islamiyyah

Aqidah berasal dari bahasa Arab yang berarti kalung sebagaimana kalung pada hewan ternak yang ditarik oleh peternaknya, maka aqidah adalah ikatan yang kuat, erat, dan tidak lepas. Sedangkan makna umum aqidah adalah keyakinan yang kokoh pada sesuatu.

Pokok dari aqidah Islamiyah ada enam yaitu, Beriman kepada Allah, kepada Malaikat-Malaikat, Kitab-Kitab, Rasul-Rasul, Hari Kiamat, dan Takdir, dan jika kita memiliki aqidah ini maka ujian apa pun yang menimpa, kita akan kuat menghadapinya, dan ibadah apa pun yang kita kerjakan, kita akan kuat menjalaninya. Aqidah ini hanya bisa kita peroleh dengan belajar dan merupakan sebuah kenikmatan tatkala seseorang memiliki aqidah Islamiyah berupa keyakinan kokoh yang tidak bisa dirubah.

Kemudian aqidah ini memiliki istilah lain yang disebutkan oleh para ulama yaitu Fikhul Akbar, disebut demikian kerena pembahasan aqidah itu luas, istilah ini disampaikan oleh imam Abu Hanifa di dalam kitabnya “Aqidah Ath Thahawiyah”. Kemudian ada juga istilah Al Iman yang maknanya aqidah juga, sebagaimana nama kitab yang ditulis oleh imam Bukhari yaitu “Kitabul Iman” yang di dalamnya membahas masalah aqidah, dinamakan demikian karena iman itu menyangkut masalah aqidah, dan karena iman dan aqidah sama-sama keyakinan di dalam hati, dan juga nama pada kitab imam Ibnu Taimiyah yang juga berjudul “Kitabul Iman”.

Ada juga yang menyebutnya dengan As-Sunnah, makna As-Sunnah disini bukan seperti makna menurut ahli fiqih, tapi yang dimaksud dengan As-Sunnah di sini adalah aqidah, dan disebutkan di dalam hadits “عَلَيْكُم بِسُنَّتي”, Sunnah di sini maknanya aqidah, dan juga “As-Sunnah” nama kitab yang ditulis oleh imam Barbahari yang membahas aqidah, begitu juga “Ushulus Sunnah” oleh Imam Ahmad.

Ada juga istilah At Tauhid, At Tauhid memang memiliki arti lebih khusus tapi ini juga menyangkut aqidah dan hal ini disampaikan juga oleh imam Ibnu Khuzaimah di dalam kitabnya yaitu “Kitabut Tauhid wa Itsbatu Shifatur Rabbi Azza wa Jalla”, dan ada lagi istilah lainnya yaitu asy Syariah, Asy Syariah di sini bukan tentang fikih akan tetapi aqidah, sebagaimana yang dikatakan imam Al Aajuri, dan istilah yang terakhir adalah Ushulud Diin (pokok-pokok agama) sebagaimana yang ditulis oleh para ulama.

Landasan Aqidah

Selanjutnya kita membahas masalah pokok yakni landasan aqidah kita, syeikh Ibnu ‘Utsaimin mengatakan bahwasannya landasan aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah kembali kepada Kitabullah dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, jika kita kembali kepada kedua hal tersebut maka kita tidak akan berselisih,

Allah Ta’ala menjelaskan dalam surat Ali Imran ayat 31,

قُلۡ إِن كُنتُمۡ تُحِبُّونَ ٱللَّهَ فَٱتَّبِعُونِي يُحۡبِبۡكُمُ ٱللَّهُ وَيَغۡفِرۡ لَكُمۡ ذُنُوبَكُمۡۚ وَٱللَّهُ غَفُورٞ رَّحِيمٞ٣١

“Katakanlah (Muhammad), “Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (QS. Ali Imran: 31)

Yang dimaksud dengan “ikutilah Aku” adalah ikutilah aqidahku yang sumbernya adalah Al-Qur’an dan Hadits. Jadi Allah memberitahukan kepada kita bahwasannya landasan lain untuk mengetahui aqidah selain Al-Qur’an adalah Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang mana sunnah beliau itu juga kembali kepada Al-Qur’an. Kemudian jika landasan aqidahmu kembali kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah maka Allah akan mencintaimu, sebagaimana Allah mencintai para sahabat yang mana mereka berpegang terhadap landasan ini, dan tidak hanya dicintai oleh Allah akan tetapi Allah akan menghapuskan dosanya, dosa kita itu banyak akan tetapi dengan kita berpegang dengan landasan yang benar, maka itu menjadi sebab diampuninya dosa, ini merupakan rahmat Allah kepada orang-orang yang berpegang kepada agama-Nya.

Kemudian Allah Ta’ala juga berfirman di surat An-Nisa’ ayat 80

مَّن يُطِعِ ٱلرَّسُولَ فَقَدۡ أَطَاعَ ٱللَّهَۖ وَمَن تَوَلَّىٰ فَمَآ أَرۡسَلۡنَٰكَ عَلَيۡهِمۡ حَفِيظٗا٨٠

“Barang siapa menaati Rasul (Muhammad), maka sesungguhnya dia telah menaati Allah. Dan barang siapa berpaling (dari ketaatan itu), maka (ketahuilah) Kami tidak mengutusmu (Muhammad) untuk menjadi pemelihara mereka.” (QS. An-Nisa’: 80)

Pada ayat di atas Allah Ta’ala menyebutkan bahwa ketaatan kepada Rasulullah merupakan bentuk ketaatan kepada Allah, maka ketaatan kita kepada Allah Ta’ala tergantung ketaatan kita kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah memerintahkan ini agar kita tidak meremehkan beliau yang merupakan manusia seperti kita, berapa banyak orang kafir Quraisy menolak apa yang disampaikan Rasulullah karena beliau dari kalangan manusia. Allah menjelaskan alasan mengapa utusan di bumi dari kalangan manusia adalah supaya mudah dalam berhubungan satu sama yang lain, dan supaya mereka tahu bahwa apa yang disampaikan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam itu tidak ada satu pun ahli sastra Arab yang bisa menandingi, menunjukkan bahwa memang benar beliau manusia akan tetapi risalahnya dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Lalu Allah menyebutkan setelahnya “dan barang siapa berpaling, maka Kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara mereka”, inilah mudahnya dakwah, kita hanya disuruh menyampaikan, jika dia menerima maka Allah yang menakdirkannya menerima, dan jika dia menolak maka kita jangan sakit hati, karena ketika kita berdakwah dan tidak diterima maka kita telah mendapat satu pahala, dan apabila diterima maka dua pahala yang kita dapatkan, dan bisa jadi sekarang tidak diterima, akan tetapi mungkin nanti akan diterima.

Kemudian Allah berfirman di dalam surat Al-Hasyr ayat 7,

وَمَآ ءَاتَىٰكُمُ ٱلرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَىٰكُمۡ عَنۡهُ فَٱنتَهُواْۚ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَۖ إِنَّ ٱللَّهَ شَدِيدُ ٱلۡعِقَابِ ٧

“Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah sangat keras hukuman-Nya.” (QS Al-Hasyr: 7)

Ayat ini diturunkan tatkala pembagian ghanimah, ayat tersebut mengabarkan bahwa apa yang Nabi berikan kepada kalian maka ambillah, dan apa yang kalian tidak diberi atasnya maka janganlah kalian meminta, akan tetapi oleh para ulama ayat ini juga dijadikan dalil tentang aqidah dan ilmu, hal tersebut disampaikan oleh syeikh ‘Utsaimin rahimahullahu, ini menunjukkan pentingnya kita memahami ayat melalui orang yang memiliki ilmu.

Baca Juga : Urgensi Dari Aqidah As-Shahihah

Landasan yang harus kita pahami juga adalah bahwa cabang itu mengikuti pokok, ibarat pokok jika sudah kuat akan menumbuhkan cabang-cabangnya maka begitu pula agama jika aqidahnya sudah kuat maka untuk mengamalkan ibadah yang lain akan lebih mudah karena pokoknya sudah kuat.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tatkala berkhutbah selalu memulai dengan khutbatul hajah dan kemudian berkata,

فإن أحسن الحديث كتاب الله  وخير الهدي هدي محمد صلى الله عليه وسلم، وشر الأمور محدثاتها، وكل محدثة بدعة، وكل بدعة ضلالة، وكل ضلالة في النار

“Sesungguhnya pembicaraan yang paling baik adalah Kitabullah dan petunjuk yang paling baik adalah petunjuk Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan perkara yang paling buruk adalah hal baru yang diada-adakan, setiap hal baru yang diadakan merupakan bid’ah, dan setiap bid’ah itu sesat, dan setiap kesesatan itu di neraka.”

Beliau menyampaikan ini berulang-ulang karena ini adalah pokok. Kemudian beliau menjelaskan sebab-sebab goyangnya aqidah yang harus disingkirkan adalah hal yang paling buruk yaitu hal yang diada-adakan di dalam agama, ibarat orang yang bercocok tanam maka semua penghambat suburnya tanaman harus disingkirkan dan dibersihkan, dan tanaman tersebut harus selalu diawasi agar tidak ada hal yang merusak atau memperlambat tumbuhnya tanaman tersebut, ini hanya tanaman yang cuma 3 bulan sudah panen, bagaimana dengan aqidah kita yang seumur hidup ini tentu membutuhkan perhatian yang lebih, makanya perlu bagi kita untuk istiqomah, dan agar kita bisa istiqomah berpegang teguh dengan aqidah ini maka landasannya jangan dicampur dengan hal yang merusak landasan tersebut.

Rasulullah juga bersabda,  

فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِيْ فَسَيَرَى اخْتِلَافًا كَثِيرًا، فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الْمَهْدِيِّينَ الرَّاشِدِينَ، تَمَسَّكُوا بِهَا وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ، وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الْأُمُورِ، فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ

“Karena sesungguhnya orang yang hidup di antara kamu sesudahkau akan melihat perselisihan yang banyak, maka berpegang teguhlah kamu kepada sunnahku dan sunnah para Khulafa’ (pengikutku) yang mendapat petunjuk, berpegang teguhlah kamu padanya dan gigitlah dengan geraham-geraham (mu), dan jauhilah hal-hal yang diada-adakan (dalam agama) karena setiap yang baru itu adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah kesesatan.” (HR. Abu Dawud)

Beliau menjelaskan tentang kondisi umat sekarang yang banyak berselisih, dan hal yang membuat orang itu berselisih di sini adalah dalam perkara aqidah, ketika seseorang memiliki keyakinan sendiri dan orang lain memiliki keyakinan sendiri juga maka akan bentrok, oleh karena itu kita disuruh kembali kepada Al-Qur’an dan Sunnah. Dan Allah menjadikan umat ini berpecah belah adalah sebagai bentuk ujian bagi kita.

Tatkala Rasulullah menjelaskan perselihan umat ini karena urusan aqidah maka yang berhak menyelesaikan perkara ini hanya Allah, makanya beliau mengatakan “maka wajib bagi kalian mengikuti sunnahku”, sunnah yang dimaksud disini adalah aqidah.

            Kemudian yang kedua adalah sunnah Khulafaur Rasyidin, kita diperintahkan untuk kembali kepada Al-Qur’an dan Sunnah, dan agar kita tidak keliru dalam memahami Al-Qur’an dan Sunnah maka kita disuruh untuk kembali kepada pemahaman para sahabat, karena merekalah yang hidup bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan juga karena mereka hidup pada zaman dimana turunnya wahyu, dan sebab yang lain adalah karena mereka telah selamat dari fitnah dan kembali ke Rahmatullah, dan Allah juga memuji mereka dan ridho terhadap mereka.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

أَمۡ حَسِبۡتُمۡ أَن تَدۡخُلُواْ ٱلۡجَنَّةَ وَلَمَّا يَأۡتِكُم مَّثَلُ ٱلَّذِينَ خَلَوۡاْ مِن قَبۡلِكُمۖ مَّسَّتۡهُمُ ٱلۡبَأۡسَآءُ وَٱلضَّرَّآءُ وَزُلۡزِلُواْ حَتَّىٰ يَقُولَ ٱلرَّسُولُ وَٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ مَعَهُۥ مَتَىٰ نَصۡرُ ٱللَّهِۗ أَلَآ إِنَّ نَصۡرَ ٱللَّهِ قَرِيبٞ٢١٤

“Ataukah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) seperti (yang dialami) orang-orang terdahulu sebelum kamu. Mereka ditimpa kemelaratan, penderitaan dan diguncang (dengan berbagai cobaan), sehingga Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya berkata, “Kapankah datang pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu dekat.” (QS. Al Baqarah: 214)

Ujian yang kita hadapi masih ringan, hanya sebatas masalah keluarga atau harta, sedangkan para sahabat ujian mereka adalah diusir dari tanah air mereka, bukan hanya diusir akan tetapi juga diazab dan disiksa oleh orang-orang kafir Quraisy, mereka hijrah 400 km dengan berjalan. Akan tetapi karena landasan aqidah mereka teguh dan mereka yang sabar dalam menghadapi ujian tersebut maka Allah tolong mereka.

Aqidah Islamiyyah

Allah menyebutkan bahwa kunci kemenangan itu ada dua yaitu sabar dan takwa, Allah Ta’ala berfirman,

وَإِن تَصۡبِرُواْ وَتَتَّقُواْ لَا يَضُرُّكُمۡ كَيۡدُهُمۡ شَيۡـًٔاۗ

“Jika kamu bersabar dan bertakwa, tipu daya mereka tidak akan menyusahkan kamu sedikit pun.” (QS. Ali Imron: 120)

            Bukan hanya kita yang dimusuhi oleh orang-orang yang membenci sunnah akan tetapi Rasululllah dahulu juga telah dimusuhi oleh orang yang membencinya, akan tetapi Allah telah berjanji untuk menolong hamba-Nya yang beriman,

ذَٰلِكَ بِأَنَّ ٱللَّهَ مَوۡلَى ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَأَنَّ ٱلۡكَٰفِرِينَ لَا مَوۡلَىٰ لَهُمۡ ١١

“Yang demikian itu karena Allah pelindung bagi orang-orang yang beriman; sedang orang-orang kafir tidak ada pelindung bagi mereka.    Landasan aqidah yang kuat adalah dengan kembali kepada Al-Qur’an dan Sunnah sesuai pemahaman para sahabat, dan ini semua butuh ilmu.” (QS. Muhammad: 11)

Kemudian ketika telah berpegang kepada Al-Qur’an dan Sunnah, maka beliau memerintahkan untuk senantiasa memegang erat landasan tersebut, dan penyebutan dhomir Ha’ pada hadits menunjukkan bahwa sunnah para sahabat juga merupakan sunnah Rasulullah. Jadi para sahabat tidak membawa hal yang baru, dan jika mereka tidak membawa hal baru maka kita juga jangan membuat hal yang baru, inilah yang harus kita pegang terus sampai kita meninggal dunia.

Kita disuruh untuk bersabar oleh Allah Ta’ala, bersabar tatkala melaksanakan perintah Allah, bersabar tatkala meninggalkan larangan Allah, dan bersabar tatkala tertimpa musibah, karena Allah itu menolong orang yang sabar, dan Allah itu menolong seseorang setelah dia bersabar, dan juga Allah memberi petunjuk setelah ada kesungguhan, jadi jangan pernah berharap keberhasilan sebelum ada usaha. Allah menjanjikan kemudahan setelah kesulitan sebagaimana firman Allah yang artinya “Sesungguhnya setelah kesulitan itu ada kemudahan”, dengan syarat berusaha terlebih dahulu, maka kesulitan apapun, rintangan apapun,  akan menjadi mudah jika dengan landasan kembali kepada Al-Qur’an dan Sunnah.

Lalu beliau mengatakan “gigitlah dia dengan gigi gerahammu”, disebutkan demikian karena setelah memegang erat landasan tadi masih ada orang yang ingin melepasnya, maka daripada itu Rasulullah menyuruh kita untuk menggigitnya dengan gigi geraham, karena gigi geraham adalah gigi yang paling kuat.

Kemudian berikutnya Rasulullah menjelaskan pula agar kita menjauhi perkara yang membuat persatuan ini retak, beliau mengatakan “jauhkan dirimu dari perkara-perkara yang baru”, ini menunjukkan bahwa perkara yang baru itu ada banyak dan jalan yang lurus itu cuma satu, sebagaimana dahulu Rasulullah pernah menggambar garis lurus dan juga menggambar garis-garis di samping kiri dan kanan, garis lurus adalah jalannya Allah dan Rasul-Nya, sedangkan garis-garis di kiri dan kanan adalah jalan yang menyimpang.

Allah menjadikan jalan-jalan yang lain itu untuk menguji kita, jika seandainya jalannya hanya satu dan tidak ada yang lain maka untuk apa kita dakwah?, untuk apa amar ma’ruf jika semuanya sudah ma’ruf?. Kemudian Allah menjelaskan bahwa kita tidak boleh mengikuti jalan-jalan yang lain karena nanti akan membuat kita lepas dari jalan yang lurus ini.

Baik itu yang dapat disampaikan, mudah-mudahan dengan kita sering menuntut ilmu dan juga bersabar atas kekurangan diri kita, semua musuh yang ingin merusak kita Allah kalahkan, dan jangan lupa untuk memohon kepada Allah,

Wallahu a'lam

Ustadz Ainurofiq Ghufron, Lc

ARTIKEL TERKAIT

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

spot_img