BerandaAdab dan AkhlakTips Menguatkan Ukhuwah Islamiyyah

Tips Menguatkan Ukhuwah Islamiyyah

Terkadang ketika kita mengamati rasa ukhuwah yang sudah terjalin lama dengan saudara-saudara kita sesama kaum muslimin. Kita mendapati adanya rasa kosong dalam diri kita. Tidak adanya motivasi ataupun penggerak dalam diri kita untuk memperhatikan keadaan saudara-saudara kita yang lain. Bahkan ironisnya ketika ada tetangga kita, saudara kita, muslim terkena sebuah musibah sakit. Seolah-olah hati kita tidak terbuka sama sekali. Hati kita tidak terbangunkan dengan ketukan pintu oleh tetangga kita. Jika hal ini kita jumpai di kehidupan kita. Maka perhatikanlah, bahwa rasa ukhuwah di dalam hati kita telah mati. Bagaimana kita bisa menghidupkan kembali Ukhuwah tersebut?

Ukhuwah Diatas Keimanan

Agar rasa ukhuwah ini senantiasa tumbuh subur dan sebagaimana kemanisan ukhuwah bisa kita rasakan perihalnya para sahabat dahulu maka ada beberapa tips yang harus kita amalkan.

Pertama, hendaknya kita tanamkan bahwa dengan ukhuwah ini kita bisa mendapatkan surga-Nya Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dengan ukhuwah persaudaraan yang sudah terjalin di atas keimanan menjadi salah satu jalan yang mengantarkan kepada surga-Nya Allah Subhanahu wa Ta’ala. Hal ini dibuktikan dengan sabda Nabi Shallallahu alaihi wasallam. yang mana beliau bersabda

وَعَنْ أَنَسٍ – رضي الله عنه – عَنْ اَلنَّبِيِّ – صلى الله عليه وسلم – قَالَ: – وَاَلَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَا يُؤْمِنُ عَبْدٌ حَتَّى يُحِبَّ لِجَارِهِ – أَوْ لِأَخِيهِ- مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ – مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

“Demi Rabb yang jiwaku berada di tangan-Nya, tidaklah seorang hamba dikatakan beriman (dengan iman yang sempurna) hingga ia mencintai tetangganya atau saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.” HR. Imam Bukhari dan Muslim.

Tidak mungkin cinta itu tumbuh tanpa ada jalinan persaudaraan. Apabila kita mengatasnamakan diri seorang muslim yang beriman kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Namun kita tidak ada cinta kepada saudara-saudara kita. Maka sesuai dengan sabda Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam,

لَا تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ حَتَّى تُؤْمِنُوا، وَلَا تُؤْمِنُوا حَتَّى تَحَابُّوا

“Tidak akan masuk surga hingga kalian beriman. Dan kalian tidak dikatakan beriman hingga kalian ‎saling mencintai … ” HR. Imam Muslim

Apabila ada diantara kita yang tidak mencintai sesama kaum muslimin. Lalu bagaimana dia akan bisa mendapatkan surga-Nya Allah? Apakah hanya beriman saja? Hendaknya selain mengandalkan keimanan, dia juga harus memperhatikan nilai-nilai ukhuwah dengan menjalin hubungan baik dengan saudara-saudaranya. Inilah yang diinginkan oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam berdasarkan hadits yang telah kita bawakan. Mengumpulkan keimanan dengan kecintaan yang dibungkus dengan ukhuwah islamiyah.

Mengutamakan Ukhuwah dari Diri Sendiri

Kedua, mengutamakan saudara kita daripada diri kita sendiri. Hal ini telah dijelaskan oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala yang merupakan pujian kepada para sahabat radhiallahu ‘anhum. Sebagaimana yang telah difirmankan dalam al-Quranul Karim, bahwasanya Allah Subhanahu Wa Ta’ala memuji kaum Anshor yang lebih mengutamakan keadaan dan urusan saudaranya daripada urusan mereka sendiri. Lebih mengutamakan apa yang diinginkan saudaranya daripada dirinya.

Ada sebuah hadits yang shahih yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari bahwasanya Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam suatu hari kedatangan tamu. Kemudian Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam menawarkan kepada para sahabatnya untuk siapa yang bisa menjamu tamu tersebut. Maka ada sahabat Anshor yang bersedia untuk menjamunya.

Kemudian apa yang terjadi? Sahabat ini mendatangi keluarganya  lalu bertanya apa yang bisa diberikan untuk menjamu kedatangan tamu Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam? Maka seorang istri yang sholehah mengatakan apa adanya, ‘Wahai suamiku, tidaklah kita menjumpai apapun di rumah ini, kecuali makanan yang sedikit, itupun untuk anak-anak. Kemudian suami ini merencanakan sesuatu bersama istrinya agar makanan yang ada bisa diberikan untuk tamu Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam.

Ketika tiba waktu untuk menyambut tamu tersebut, maka suami  dan istri saling membantu dalam menjalankan rencana yang telah dibuat. Di keesokan harinya, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam menyampaikan sebuah sabda yang sangat mulia. Sesungguhnya Allah Subhanahu Wa Ta’ala takjub kepada perbuatan kalian berdua.

Kisah tersebut menunjukkan bahwa seorang sahabat yang penuh dengan kekurangan di dalam banyak hal. Bahkan makanan yang tersisa sedikit yang seharusnya menjadi jatah dari anak mereka. Mereka berikan kepada orang lain atau saudaranya. Apakah dia telah mengenal sebelumnya? Sesungguhnya tidak. Hanya dengan keimanan yang ada di dalam dirinya sudah menjadikan rasa ukhuwah bergejolak untuk memuliakan saudaranya yang lain. Mengutamakan saudaranya daripada dirinya sendiri.

Ukhuwah islamiyyah

Mendoakan Kebaikan untuk Ukhuwah

Ketiga, mendoakan kebaikan bagi saudara sesama muslim. Dengan kita mendoakan kebaikan untuk saudara kita maka kita juga mendoakan kebaikan untuk kita sendiri. Dalam sebuah hadits yang shahih,

دَعْوَةُ الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ لأَخِيْهِ بِظَهْرِ الْغَيْبِ مُسْتَجَابَةٌ عِنْدَ رَأْسِهِ مَلَكٌ مُوَكَّلٌ. كُلَّمَا دَعَا ِلأَخِيْهِ بِخَيْرٍ، قَالَ الْمَلَكُ الْمُوَكَّلُ بِهِ:
 آمِيْنَ. وَلَكَ بِمِثْلٍ

“Do’a seorang muslim untuk saudaranya yang dilakukan tanpa sepengetahuan orang yang dido’akannya adalah do’a yang akan dikabulkan. Pada kepalanya ada Malaikat yang menjadi wakil baginya. Setiap kali dia berdo’a untuk saudaranya dengan sebuah kebaikan, maka Malaikat tersebut berkata: ‘Aamiin dan engkau pun mendapatkan apa yang ia dapatkan.” HR. Imam Muslim

Tidak ada salahnya kita mendoakan kebaikan bagi seorang muslim. Bahkan ketika kita mendoakan kebaikan untuk mereka. Maka ini pertanda kita mencintai mereka. Namun apabila kita tidak mendoakan atau bahkan mendoakan keburukan bagi saudara kita. Maka ini pertanda kita murka dan benci kepada saudara kita dan ini dilarang di dalam agama. Tidak ingatkah kita dengan sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam

Seorang muslim adalah saudara Muslim yang lainnya,

لا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ

“Tidaklah dikatakan seorang muslim itu dengan keimanan yang sempurna sampai ia mencintai saudaranya sebagaimana dia mencintai untuk dirinya sendirinya.” HR. Imam Bukhari dan Muslim

Baca Juga : Kiat Menggapai Istiqomah

Ukhuwah adalan Nikmat yang Agung

Keempat, kita senantiasa menjadi-kan bahwasanya ukhuwah itu merupakan nikmat Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang amat sangat besar. Sehingga dia tidak bisa ditebus dengan sesuatu apapun. Bahkan seandainya harta setumpuk dunia, seluruh apa yang ada di dunia ini diinfakkan hanya untuk mempersaudarakan antara suatu kaum dengan yang lainnya. Maka belum tentu itu akan terwujud. Hal ini yang harus kita tancapkan di dalam hati kita, bahwasa-nya nikmat persaudaraan merupakan nikmat yang sangat besar dan mahal harganya.

Allah Subhanahu Wa Ta'ala telah berfirman dalam QS. Al-Anfal ayat ke 63

وَاَلَّفَ بَيْنَ قُلُوْبِهِمْۗ لَوْاَنْفَقْتَ مَا فِى الْاَرْضِ جَمِيْعًا مَّآ اَلَّفْتَ بَيْنَ قُلُوْبِهِمْ وَلٰكِنَّ اللّٰهَ اَلَّفَ بَيْنَهُمْۗ اِنَّهٗ عَزِيْزٌ حَكِيْمٌ

Artinya: “Dan Dia (Allah) yang mempersatu-kan hati mereka (orang yang beriman). Walaupun kamu menginfakkan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sungguh, Dia Mahaperkasa, Mahabijaksana.”

Ini menunjukkan bahwasanya nikmat persaudaraan merupakan nikmat yang sangat mahal. Bahkan Allah Subhanahu Wa Ta'ala mengingatkan kembali kepada orang-orang yang beriman (pada kala itu), yakni para sahabat akan nikmat tersebut. Dalam QS. Ali Imran ayat ke 103

وَاذْكُرُوْا نِعْمَتَ اللّٰهِ عَلَيْكُمْ اِذْ كُنْتُمْ اَعْدَاۤءً فَاَلَّفَ بَيْنَ قُلُوْبِكُمْ فَاَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهٖٓ اِخْوَانًاۚ وَكُنْتُمْ عَلٰى شَفَا حُفْرَةٍ مِّنَ النَّارِ فَاَنْقَذَكُمْ مِّنْهَا ۗ كَذٰلِكَ يُبَيِّنُ اللّٰهُ لَكُمْ اٰيٰتِهٖ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُوْنَ

Artinya: “Dan ingatlah nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa jahiliah) bermusuhan, lalu Allah mempersatukan hatimu, sehingga dengan karunia-Nya kamu menjadi bersaudara, sedangkan (ketika itu) kamu berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari sana. Demikianlah, Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu agar kamu mendapat petunjuk.”

Apabila kita menghayati bahwasanya persaudaraan merupakan nikmat yang paling besar diantara nikmat-nikmat yang lainnya. Maka niscaya kita akan bisa tergugah perasaan kita untuk tidak mengkufuri nikmat tersebut. Semua muslim diwajibkan untuk mensyukuri seluruh nikmat yang diberikan oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Apakah itu nikmat yang barangkali itu dianggap kita remeh atau kecil atau nikmat yang paling besar. Ketika kita bermuamalah dengan saudara kita dengan muamalah yang baik maka ini pertanda bahwasanya kita bersyukur kepada Allah dari nikmat tersebut.

Semoga rasa ukhuwah rasa Persaudaraan yang sudah mengingat mengikat kita dengan saudara-saudara kita yang lainnya semakin hidup dan lebih bermakna. Wallahu a’lam.

Ustadz Hermawan, Lc., M.Pd

ARTIKEL TERKAIT

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

spot_img