BerandaKajianAqidahMuharram Adakah Yang Spesial

Muharram Adakah Yang Spesial

Segala Puji hanya milik Allah تعالى dengan banyak kenikmatan-Nya. Kenikmatan mata bisa membaca kitab-Nya. Kenikmatan hati yang ditetapkan dengan keimanan. Shalawat serta salam pun tercurah kepada nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم beserta keluarganya, sahabatnya dan para pengikutnya. Sehingga manusia di muka bumi ini merasakan keindahan Islam saat ini.

Bulan Muharram atau yang masyarakat Indonesia kenal dengan bulan Suro, merupakan bulan yang sering dianggap sakral ataupun kramat, sehingga terkadang dari mereka takut atau enggan mengadakan acara-acara hajatan di bulan ini seperti pernikahan, khitanan atau semisalnya karena bisa terkena kesialan.

Bulan Muharram adakah hal yang spesial ketika dilihat dari kacamata Islam. Apakah ada yang melarang atau bala’ ketika masyarakat mengadakan acara hajatan di bulan ini.

Sebab Dinamakan Muharram

Muharram adalah salah satu dari empat bulan yang agung dan diberkahi. Firman Allah Ta’ala

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ۚ ذَٰلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ ۚ فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ

“Sesungguhnya jumlah bulan menurut Allah ialah dua belas bulan, (sebagaimana) dalam ketetapan Allah pada waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya ada empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menzalimi dirimu dalam (bulan yang empat) itu.” At-Taubah 36

Dinamakan Muharram karena bulan ini suci dan bulan yang diharamkan untuk melakukan dosa. Qatadah rahimahullah menjelaskan ayat ini bahwa perbuatan dzalim pada bulan-bulan haram lebih besar dosanya daripada bulan-bulan lain. (Tafsir Ibnu Katsir)

Syahrullah Bulannya Allah

Rasulullah shallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ

“Sebaik-baik puasa setelah puasa Ramadhan adalah pada bulannya Allah yang dinamakan Muharram.” HR. Muslim 1982

Al Izz bin Abdul Salam rahimahullah berkata,

“Mengutamakan tempat dan waktu ada dua macam, yang pertama karena duniawi dan diini atau agama. Allah memberi karunia kepada hamba-hambaNya dengan memberikan keutamaan pahala siapa saja yang mengamalkannya, seperti ketika Allah mengutamakan bulan Ramadhan dengan puasa, demikian juga puasa pada bulan Muharram, dimana itu adalah bentuk dari kasih sayang dan kebaikanNya kepada hamba-hambaNya.” (Qawaid al-Ahkam : 1/38)

Puasa di bulan Muharram

Seperti yang disabdakan nabi shallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau menganjurkan puasa di bulan Muharram dan itu adalah puasa yang terbaik setelah puasa di bulan Ramadhan. Namun demikian, dalam riwayat belum pernah ditemukan bahwa Rasulullah shallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa penuh di bulan ini. Dan hadits ini bisa dipahami sebagai anjuran untuk memperbanyak puasa di bulan ini.

Bulan Muharram memiliki hari yang disebut dengan hari Asyura. Hari ini adalah hari ke sepuluh dari bulan Muharram. Asyura merupakan hari di mana Allah menyelematkan nabi Musa beserta kaumnya dari Fir’aun. Maka dari itu orang-orang Yahudi menjadikan hari tersebut hari ied sebagai rasa syukur. Dan semenjak nabi Muhammad shallahu ‘alaihi wa sallam tahu perihal ini, beliau memerintahkan para shahabat untuk berpuasa di hari Asyura karena kaum muslim yang lebih berhak akan rasa syukur tersebut.

Puasa Asyura dapat menghapus dosa tahun lalu

Sabda nabi shallahu ‘alaihi wa sallam.

صيام يوم عرفة أَحتسب على اللَّه أَن يكفر السنة الّتي قبله والسنة الّتي بعده وصِيام يوم اشوراء أَحتسب على اللَّه أَن يكفر السنة الّتي قبل

Puasa hari Arafah saya berharap kepada Allah dapat menghapuskan (dosa) tahun sebelum dan tahun sesudahnya. Dan puasa hari Asyura saya berharap kepada Allah dapat menghapus (dosa) tahun sebelumnya.” HR. Muslim 1162

Selain itu nabi shallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa Asyura karena kedudukannya. Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu menjelaskan,

ما رأيت النبي صلى الله عليه وسلّم يتحرى صيام يوم فضله على غيره إِلا هذا اليوم يوم عاشوراء وهذا الشهر يعني شهر رمضان

“Tidak aku saksikan ada hari dan bulan diniatkan untuk berpuasa  dan diutamakan Nabi sallallahu alaihi wa sallam untuk berpuasa dibanding hari lainnya selain hari Asyura dan bulannya adalah bulan Ramadan.” HR. Bukhori 1867

Adapun penghapusan dosa ketika berpuasa Asyura ialah dosa-dosa kecil. Karena dosa-dosa besar membutuhkan taubat nasuha.

Syaikhul Iskan Ibnu Taimiyah rahimahullah menjelaskan,

“Terhapusnya dosa karena bersuci, sholat, puasa Ramadhan, puasa Arafah, Asyura ialah kepada dosa-dosa kecil.” al-Fatawa al-Kubro : 5

Puasa Sebelum dan Sesudah Asyura

Rasulullah shallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan umatnya untuk menyelisihi kaum lainnya dan tidak menyerupai mereka. Beliau bersabda,

صُومُوا يَوْمَ عَاشُورَاءَ ، وَخَالِفُوا فِيهِ الْيَهُودَ ، صُومُوا قَبْلَهُ يَوْمًا أَوْ بَعْدَهُ يَوْمًا

“Berpuasalah kalian pada hari kesepuluh, dan selisihilah orang-orang Yahudi, berpuasalah kalian sebelumnya atau sesudahnya.” HR Ahmad 2155

Para ulama berbeda pendapat akan keshahihan hadits ini. Akan tetapi sebagian ulama telah menyebutkan sebab lain untuk puasa pada tanggal sebelas, sebagai bentuk jaga-jaga dari tanggal sepuluh.

Imam Ahmad berkata,

“Barang siapa yang ingin berpuasa Asyura, maka hendaklah berpuasa pada tanggal sembilan, sepuluh kecuali jika penentuan bulan bermasalah maka hendaknya berpuasa tiga hari.” Al-Mughni : 4/441

Suro Bulan Sial

Sebagian dari kepercayaan masyarakat ialah bulan Suro yang mengandung hal klenik. Orang yang menikah di bulan Muharram, pernikahannya tidak akan langgeng atau akan tertimpa musibah.

Dalam sudut Islam tentunya memerlukan dalil untuk menanggapi hal ini. Dan tidak ada bukti yang benar akan fenomena bulan Sura bulan sial.

Dalam kaidah ushul fiqh

أن الأصل في العادات والأفعال الإباحة

“Hukum asal dalam kebiasaan dan perbuatan ialah boleh.”

Selama tidak ditemukan dalil atas keharamannya. Maka tidak boleh menganggap atau melarang seseorang untuk menikah di bulan Muharram.

Sebagaimana yang disabdakan nabi shallahu ‘alaihi wa sallam bahwa bulan Muharram adalah bulan yang terbaik setelah bulan Ramadhan. Maka sebaliknya seseorang lebih selayaknya berlomba-lomba dalam kebaikan di dalam bulan ini.

Larangan Mencela Waktu

Menganggap Suro atau Muharram sebagai bulan sial, merupakan bentuk dari mencela waktu. Sedangkan Islam telah melarang hambanya untuk mencela waktu.

Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Janganlah kalian mencela dahr (waktu), karena Allah itu adalah dahr. HR Muslim

Dengan mencela waktu, sama saja seseorang telah mencela Allah yang Mengatur waktu. Beliau juga bersabda,

قال الله عز وجل: يؤذيني ابن آدم يسب الدهر، وأنا الدهر، يبدي الأمرأقلب الليل والنهار

“Allah ‘azza wa jalla berfirman, “anak Adam telah menyakiti-Ku, ia mencela dahr (waktu), padahal Aku adalah pencipta dahr. Di tanganKu segala perkara, Aku memutar malam dan siang.” HR Muttafaqun ‘alaihi

Thiyaroh

Dalam perihal aqidah, percaya akan kesialan karena melihat peristiwa atau hari tertentu merupakan thiyarah atau tathayur. Rasulullah shallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الطياة شرك، الطيارة شرك، ثلاثا

“Thiyarah adalah syirik, thiyarah adalah syirik diulang hingga tiga kali.” HR. Ahmad, Abu Daud, Ibnu Majah dan sanadnya shahih

Wallahu ta’la a’lam

ARTIKEL TERKAIT

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

spot_img