BerandaFiqih dan MuamalahPuasa Arafah Ikut Pemerintah Atau Ikut-Ikutan

Puasa Arafah Ikut Pemerintah Atau Ikut-Ikutan

Segala Puji hanya milik Allah تعالى dengan banyak kenikmatan-Nya. Kenikmatan mata bisa membaca kitab-Nya. Kenikmatan hati yang ditetapkan dengan keimanan. Shalawat serta salam pun tercurah kepada nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم beserta keluarganya, sahabatnya dan para pengikutnya. Sehingga manusia di muka bumi ini merasakan keindahan Islam saat ini.

Selisih satu hari antara Indonesia dan Arab Saudi sering terjadi ketika penentuan bulan baru dalam Hijriyah. Banyak dari kaum muslim yang merasa kebingungan dalam bersikap terhadap pelaksanaan ibadah tertentu yang ditentukan oleh batasan waktu.

Sebagaimana mana puasa Arafah yang rutin dikerjakan kaum muslimin di setiap tanggal 9 Dzulhijjah.

Ketika madzhab atau metode adalah berbeda. Maka pelaksanaan puasa Arafah bisa terjadi perbedaan kapan saja. Namun terkadang terjadi perbedaan walaupun menggunakan metode yang sama. Lantas manakah yang digunakan sebagai patokan untuk menunaikan ibadah puasa. Apakah puasa Arafah terikat dengan momentum wuquf. Ataukah hanya terbatas kapan masuknya waktu Arafah?

Puasa Sebab Melihat Bulan

Kita ketahui bahwasanya Islam menggunakan kalender Qamariyah atau penetapannya menggunakan fase bulan. Maka cara mengetahui bulan baru menggunakan rukyat hilal atau melihat bulan baru dengan menggunakan indra penglihatan.

Allah Ta’ala berfirman

فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ

“Maka barangsiapa di antara kamu menyaksikan bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan tersebut.” QS Al-Baqarah 185

Dari ayat ini didapatkan acuan penentuan tanggal satu dari setiap bulan ialah persaksian seseorang ketika melihat hilal atau bulan baru yang tipis. Dan inilah fakta bahwa ketika acuannya ialah bulan. Maka tidak di semua tempat memiliki intensitas atau nilai dari hilal sudah terbit. Faktor geografis Indonesia yang juga berada di timur memungkinkan mendapatkan hilal yang masih muda sehingga sulit untuk terlihat mata bahkan tidaklah terbit sama sekali. Dan ketika semakin ke barat maka hilal semakin tua yang berpotensi besar untuk terlihat.

Definisi Puasa Arafah

Apakah puasa Arafah ialah puasa di hari jemaah haji sedang berwuquf di Arafah atau hanya terbatas puasa pada tanggal 9 Dzulhijjah saja. Dari dua pengertian ini, banyak dari ulama yang memilih yang atau puasa Arafah ialah puasa yang dilaksanakan pada tanggal 9 Dzulhijjah terlepas apakah itu ada wuquf ataupun tidak. Sehingga ketika Arab Saudi pada hari Sabtu sudah tidak ada wuquf akan tetapi Indonesia baru masuk tanggal 9 Dzulhijjah maka itulah hari Arafahnya Indonesia.

Pendapat Ulama

Sebagian ulama berpendapat bahwa dalam menentukan tanggal awal bulan, ialah disatukan. Sehingga tidak ada perbedaan tanggal walaupun berbeda tempat terbit hilalnya. Akan tetapi pendapat yang kuat ialah perbedaan terbit hilal mempengaruhi tanggal setiap bulannya. Sebagaimana penjelasan Ikrimah, al-Qasim bin Muhammad hingga Ibnu Abbas dalam Fathul Bari 4/123.

Kisah Kuraib (mantan budak Ibnu Abbas) bahwa ia pernah disuruh menemui Mu’awiyah di Syam. Setibanya di Syam, itu masuk tanggal 1 Ramadhan dengan melihat hilal di malam Jumat. Ketika bertolak ke Madinah di akhir bulan. Ibnu Abbas bertanya perihal hilal. Dimana hilal tampak di malam Jumat sedangkan di Madinah tidaklah nampak. Sehingga penduduk Madinah menyempurnakan 30 hari. Sedangkan penduduk Syam puasa setelah melihat hilal di penghujung 29 Sya’ban.

Negara Selisih 12 Jam Dengan Arab Saudi

Alasan ketika wuquf bukanlah patokan 9 Dzulhijjah di daerah lain. Ketika Arab Saudi sudah memasuki 9 Dzulhijjah di waktu Maghrib dengan negari yang memiliki selisih 12 jam baru subuh tidaklah menemukan waktu tersebut sedang berlangsung wuquf. Dan Islam tidaklah mensyariatkan pemeluknya untuk berpindah tempat agar bertepatan hari ketika orang sedang berwuquf.

Sebelum Ditemukan Alat Komunikasi Modern

Berbicara masa lalu yang tidak terdapat alat yang bisa mengkabarkan informasi dari ribuan mil jarak antar negara seperti saat ini. Masa lalu informasi tentang seseorang sedang melangsungkan wuquf disalurkan melalui surat ke daerah lain membutuhkan waktu berbulan-bulan untuk mendapatkannya. Maka dari ini tidaklah bisa menjadi patokan 9 Dzulhijjah diharuskan pada waktu dilaksanakannya wuquf. Atau kesimpulan tidaklah benar mengartikan tidaklah sempurna tegaknya Islam kecuali di masa teknologi.

Oleh karena itu, yang bisa dijadikan acuan adalah penanggalan. Hari Arafah ialah hari yang bertepatan pada tanggal 9 Dzulhijjah dan bukan hari para jemaah haji berwuquf di Arafah. Sehingga jelaslah kita mengikuti siapa dan bukan asal ikut-ikutan.

Wallahu A’lam

ARTIKEL TERKAIT

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

spot_img