spot_img
BerandaAdab dan AkhlakPelajaran-Pelajaran Berharga dari Syariat Ibadah Haji

Pelajaran-Pelajaran Berharga dari Syariat Ibadah Haji

Kita akan membahas pelajaran-pelajaran berharga yang terkandung dalam syariat ibadah haji. Di antara nama Allah adalah Al-Hakim, yaitu Yang Maha Bijaksana. Allah memiliki hikmah yang luar biasa dalam setiap syariat-Nya. Ketika Allah memerintahkan sesuatu, pasti terdapat hikmah agung di dalamnya, terlebih lagi dalam ibadah-ibadah besar seperti dua kalimat syahadat, salat, zakat, puasa, dan haji, yang merupakan rukun Islam yang kelima.

Allah Ta’ala berfirman:

وَلِلّٰهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ اِلَيْهِ سَبِيْلًا

“Dan (di antara) kewajiban manusia terhadap Allah adalah melaksanakan ibadah haji ke Baitullah, (yaitu bagi) orang yang mampu mengadakan perjalanan ke sana.” QS. Ali ‘Imran: 97).

Setiap muslim wajib mengimani kewajiban haji, meskipun belum memiliki kemampuan untuk melaksanakannya. Selain itu, penting bagi kita memahami hikmah dan pelajaran yang terkandung di balik pensyariatan ibadah haji.

1. Memurnikan Ibadah Hanya Kepada Allah (Tauhidullah)

Haji mengajarkan kita untuk mentauhidkan Allah, yakni memurnikan ibadah hanya kepada-Nya. Saat memulai haji atau umrah, seorang muslim bertalbiyah:

لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ لَبَّيْكَ، لَبَّيْكَ لَا شَرِيكَ لَكَ لَبَّيْكَ، إِنَّ الْحَمْدَ وَالنِّعْمَةَ لَكَ وَالْمُلْكَ، لَا شَرِيكَ لَكَ

Talbiyah ini adalah bentuk ketundukan dan pengakuan bahwa tidak ada sekutu bagi Allah. Ini adalah pelajaran tauhid yang sangat dalam.

Allah berfirman dalam hadits Qudsi:

“Aku adalah Zat yang paling tidak membutuhkan sekutu. Barangsiapa yang melakukan suatu amalan yang di dalamnya ia mempersekutukan Aku, maka Aku tinggalkan ia dan syiriknya itu.” (HR. Muslim).

Oleh karena itu, hendaknya setiap muslim menjauhi segala bentuk kesyirikan, seperti menyembelih untuk selain Allah, memberikan sesajen, atau meyakini jimat. Jangan sampai talbiyah yang kita ucapkan bertentangan dengan amal perbuatan kita.

2. Mengikuti Tuntunan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam

Ibadah haji mengajarkan kepada kita untuk mengikuti tuntunan dan sunnah Baginda Nabi shallallahu alaihi wasallam, agar ibadah sesuai jalan/cara yang diajarkan oleh Allah dan Rasulnya Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam. Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda,

خُذُوا عَنِّى مَنَاسِكَكُمْ

“Ambillah dariku manasik-manasik kalian.” (HR. Muslim)

Ini adalah sebuah prinsip dalam beragama, agar seorang muslim ketika beramal, amalnya diterima oleh Allah subhanahu wa ta'ala. Agar terwujudnya ibadah kita diterima oleh Allah subhanahu wa ta’ala, maka kita harus memurnikan hati kita dalam beribadah murni hanya untuk-Nya, dan menjalankan semua ibadah sesuai yang dicontohkan oleh Rasulullah shalalllahu ’alaihi wa sallam.

Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam senantiasa menanamkan prinsip dasar ini dan mengajarkannya kepada para sahabat. Contohnya dalam berwudhu Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ تَوَضَّأَ نَحْوَ وُضُوئِي هَذَا، ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ لَا يُحَدِّثُ فِيهِمَا نَفْسَهُ غَفَرَ اللهُ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Barangsiapa yang berwudhu seperti wudhuku ini kemudian ia shalat dua rakaat, tidak membicarakan pada dirinya (yang dimaksud dengan “tidak berbicara dalam dirinya” yaitu tentang urusan dunia) maka Allah akan ampuni dosa-dosanya yang telah berlalu.” (HR. Muslim).

Contoh dalam ibadah salat Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda,

صَلُّوا كَمَا رَأَيْتُمُونِي أُصَلِّي

“Shalatlah kalian (dengan cara) sebagaimana kalian melihatku shalat.” (HR. Bukhari)

Dalam perkara ibadah yakni hal-hal yang dapat mendekatkan diri seorang hamba kepada Allah subhanahu wa ta’ala maka tidak ada jalan lain kecuali hanya mengikuti tuntunan yang diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam dan tidak boleh berinovasi dalam ibadah. Berbeda halnya dalam perkara dunina maka hal tersebut dikembalikan kepada setiap manusia untuk bebas berinovasi.

3. Mendidik Seorang Muslim Agar Senantiasa Berhias Dengan Akhlak Yang Mulia

Ibadah haji mengajarkan kepada kita akhlak yang baik dan mulia, Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

اَلْحَجُّ اَشْهُرٌ مَّعْلُوْمٰتٌ ۚ فَمَنْ فَرَضَ فِيْهِنَّ الْحَجَّ فَلَا رَفَثَ وَلَا فُسُوْقَ وَلَا جِدَالَ فِى الْحَجِّ ۗ وَمَا تَفْعَلُوْا مِنْ خَيْرٍ يَّعْلَمْهُ اللّٰهُ

”Siapa yang mengerjakan (ibadah) haji dalam (bulan-bulan) itu, janganlah berbuat rafaṡ, berbuat maksiat, dan bertengkar dalam (melakukan ibadah) haji. Segala kebaikan yang kamu kerjakan (pasti) Allah mengetahuinya.” (QS. Al-Baqarah : 197)

Pada ayat diatas terdapat kata yang mengandung muroqobatullah (pengawasan Allah), maknanya adalah Allah senantiasa mengawasi kita dan Dia akan membalas semua kebaikan yang telah kita lakukan, ini merupakan motivasi bagi kita agar senantiasa semangat dan memperbanyak amal salih.

Khususnya amal salih di 10 hari pertama bulan Dzulhijjah, sebagian ulama mengatakan bahwasanya amal salih di 10 hari pertama bulan Dzulhijjah dapat mengalahkan kemuliaan Romadhon kecuali lalilatul qodr, Baginda Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda,

مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيهَا أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ هَذِهِ الأَيَّامِ. يَعْنِى أَيَّامَ الْعَشْرِ. قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَلاَ الْجِهَادُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ قَالَ : وَلاَ الْجِهَادُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ إِلاَّ رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ فَلَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذَلِكَ بِشَىْءٍ

“Tidak ada hari-hari yang pada waktu itu amal shaleh lebih dicintai oleh Allah melebihi sepuluh hari pertama (di bulan Dzulhijjah).” Para sahabat radhiyallahu ‘anhum bertanya, “Wahai Rasulullah, juga (melebihi keutamaan) jihad di jalan Allah?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “(Ya, melebihi) jihad di jalan Allah, kecuali seorang yang keluar (berjihad di jalan Allah) dengan jiwa dan hartanya kemudian tidak ada yang kembali sedikitpun.” (HR. Bukhari).

Para pecinta Al-Iman rahimakumullah, di dalam pelaksanaan ibadah haji seseorang diperintahkan untuk bersikap saling mengasihi dan tidak berbuat dzalim kepada orang lain. Contohnya dalam pelaksanaan tawaf terdapat sunnah untuk mencium hajar aswad, namun ketika melaksanakan sunnah tersebut dapat mengganggu orang lain maka lebih utama sunnah tersebut ditinggalkan. Di dalam ibadah haji pun seseorang dilarang berkata kasar, berkata kotor, dan berdebat, karena hal hal tersebut merupakan larangan ihrom. Inilah pelajaran ibadah haji yang memotivasi kita untuk berhias dengan akhlak yang baik.

Baca Juga : Keutamaan Haji dan Umrah

4. Ukhuwah Islamiyyah dan Kesetaraan Derajat Dalam Islam

Diantara pelajaran yang bisa kita ambil dari ibadah haji adalah bahwasannya ibadah haji mengajarkan kita arti kebersamaan dan ukhuwah islamiyah, semua jenis bangsa, suku, negara dari seluruh dunia berkumpul pada satu tempat, inilah salah satu bentuk dari ukhuwah islamiyyah.

Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam menyebutkan dalam haditsnya,

يا أيُّها الناسُ إنَّ ربَّكمْ واحِدٌ ألا لا فضلَ لِعربِيٍّ على عجَمِيٍّ ولا لِعجَمِيٍّ على عربيٍّ ولا لأحمرَ على أسْودَ ولا لأسودَ على أحمرَ إلَّا بالتَّقوَى إنَّ أكرَمكمْ عند اللهِ أتْقاكُمْ

“Wahai manusia, sesungguhnya Tuhanmu adalah satu, sesungguhnya tiada kemuliaan bagi orang arab ke atas orang bukan arab, dan tiada kemuliaan orang bukan arab ke atas arab, dan tiada kemuliaan orang yang berkulit putih ke atas orang yang berkulit hitam, dan tiada kemuliaan orang yang berkulit hitam ke atas orang yang berkulita putih kecuali dengan takwa, sesungguhnya yang paling mulia dalam kalangan kamu ialah yang paling bertakwa.” (HR. Baihaqi).

Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ اللَّهَ لاَ يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ

“Sesungguhnya Allah tidak melihat pada bentuk rupa dan harta kalian. Akan tetapi, Allah hanyalah melihat pada hati dan amalan kalian.” (HR. Muslim no. 2564).

Dua hal yang dilihat oleh Allah adalah hati dan amal kita, maka hendaknya kita berusaha membersihkan serta memperbaiki hati kita dan senantiasa berusaha melaksanakan amal sholeh. Hati yang bersih dan amal salih yang dilakukan oleh seorang hamba merupakan cerminan dari ketakwaannya. Di hadapan Allah semua manusia sama yang membedakan mereka hanyalah ketakwaan.

Ukhuwah islamiyah diatas ketakwaan kepada Allah memiliki pengaruh besar bagi seorang hamba, karena Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

اَلْاَخِلَّاۤءُ يَوْمَىِٕذٍۢ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ اِلَّا الْمُتَّقِيْنَ

”Teman-teman akrab pada hari itu saling bermusuhan satu sama lain, kecuali orang-orang yang bertakwa.” (QS.Az-Zukhruf : 67)

Pelajaran-Pelajaran Berharga dari Syariat Ibadah Haji

5. Islam Adalah Agama Yang Mudah

Diantara pelajaran yang diajarkan oleh Allah dari ibadah haji kepada kita adalah kemudahan dalam agama Islam. Ketika seseorang mendapati sebab yang membuatnya sulit atau sebab lain yang menjadikan baginya mengambil kemudahan yang diatur oleh syariat islam, seperti seseorang hendak berwudhu namun tidak mendapati air maka muncullah kemudahan baginya yaitu dengan bertayammum, dalam contoh ibadah salat, ketika seseorang tidak mampu berdiri maka kemudahan baginya untuk dapat melaksanakan salat dalam keadaan duduk. Begitu pula dalam ibadah haji terdapat banyak kemudahan yang diantaranya adalah diwajibkannya ibadah haji hanya satu kali dalam seumur hidup, Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam pernah bersabda dalam khutbahnya,

خَطَبَنَا رَسُولُ اَللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – فَقَالَ: – ” إِنَّ اَللَّهَ كَتَبَ عَلَيْكُمُ اَلْحَجَّ ” فَقَامَ اَلْأَقْرَعُ بْنُ حَابِسٍ فَقَالَ: أَفِي كَلِّ عَامٍ يَا رَسُولَ اَللَّهِ؟ قَالَ: ” لَوْ قُلْتُهَا لَوَجَبَتْ, اَلْحَجُّ مَرَّةٌ, فَمَا زَادَ فَهُوَ تَطَوُّعٌ ” – رَوَاهُ اَلْخَمْسَةُ, غَيْرَ اَلتِّرْمِذِيِّ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berkhutbah di hadapan kami dan berkata, “Allah telah mewajibkan haji pada kalian.” Lantas Al Aqro’ bin Habis, ia berkata, “Apakah haji tersebut wajib setiap tahun?” Beliau berkata, “Seandainya iya, maka akan kukatakan wajib (setiap tahun). Namun haji cuma wajib sekali. Siapa yang lebih dari sekali, maka itu hanyalah haji yang sunnah.” Dikeluarkan oleh yang lima selain Imam Tirmidzi. (HR. Abu Daud no. 1721, Ibnu Majah no. 2886, An Nasai no. 2621, Ahmad 5: 331. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa hadits ini shahih).

Jika ibadah haji menjadi wajib setiap tahun pastinya tidak akan mampu, bahkan kewajiban setahun sekali seumur hidup saja sulit untuk menunaikannya ketika Allah Subhanahu Wa Ta'ala telah memudahkannya. Terlebih lagi yang jauh dari tanah suci tentu memerlukan biaya yang lebih besar dan kesehatan fisik yang dalam keadaan prima.

Allah tidak mewajibkan ibadah haji kepada setiap orang, karena syaratnya adalah harus mampu fisiknya, kendaraannya, hartanya, aman untuk menjalankan safar menuju baitullah, dan tambahan bagi Wanita harus mampu mendatangkan mahramnya. Sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala,

وَلِلّٰهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ اِلَيْهِ سَبِيْلًا

”…dan engkau menunaikan haji ke Baitullah, jika engkau telah mampu melakukannya,” (HR. Muslim).

Sebuah kemudahan yang Allah berikan kepada kita, karena salah satu karakteristik agama islam adalah mudah dan memudahkan, ketika datang suatu sebab yang mendatangkan kemudahan. Kemudahan yang ada dalam islam merupakan ketetapan Allah subhanahu wa ta’ala, bukanlah kemudahan yang dibuat buat sendiri oleh manusia, ketika ada kewajiban ditinggalkan atau ada larangan diterjang dengan alasan agama mudah bukan seperti itu. Namun Allah yang meletakkan kemudahan itu dan Allah memberikan rukhsah ketika ada sebab Allah berikan keringanan.

Kemudahan tidak diukur dengan hawa nafsu kita sebagai manusia, atau diukur dengan keinginan orang-orang sehingga cara beragama ini kita ikutkan seperti yang mereka inginkan, tapi beragama adalah kita ikutkan seperti yang Allah inginkan dan yang dijelaskan oleh Baginda Nabi shallallahu alaihi wasallam itulah kemudahan yang sesungguhnya dalam merealisasikan agama islam.

6. Pengingat Seorang Muslim Akan Hari Akhir

Diantara pelajaran penting dalam Ibadah Haji adalah mengajarkan kepada kita iman kepada hari akhir, mengingatkan kita kepada akhirat. Karena hakikat kehidupan kita ini adalah amal dan ma'al, yaitu amal-amal dan tempat kembali di akhirat. Siapa yang amalnya baik maka tempat kembalinya akan baik, Siapa yang buruk amalnya maka tempat kembalinya pun buruk.

Allah Subhanahu Wa Ta'ala bahkan Allah berfirman dalam surat Al Hajj pada ayat 1 dan 2 mengenai kiamat, Allah berfirman,

يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمْۚ اِنَّ زَلْزَلَةَ السَّاعَةِ شَيْءٌ عَظِيْمٌ يَوْمَ تَرَوْنَهَا تَذْهَلُ كُلُّ مُرْضِعَةٍ عَمَّآ اَرْضَعَتْ وَتَضَعُ كُلُّ ذَاتِ حَمْلٍ حَمْلَهَا وَتَرَى النَّاسَ سُكٰرٰى وَمَا هُمْ بِسُكٰرٰى وَلٰكِنَّ عَذَابَ اللّٰهِ شَدِيْدٌ

”Wahai manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu. Sesungguhnya guncangan hari Kiamat itu adalah sesuatu yang sangat besar. Pada hari kamu melihatnya (guncangan itu), semua perempuan yang menyusui melupakan anak yang disusuinya, setiap perempuan yang hamil akan keguguran kandungannya dan kamu melihat manusia mabuk, padahal sebenarnya mereka tidak mabuk. Akan tetapi, azab Allah itu sangat keras.” (QS. Al-Hajj : 1-2).

Maka hendaknya kita berusaha untuk memahami pelajaran-pelajaran yang terkandung di dalam ibadah haji. Tentunya masih banyak lagi pelajaran lain yang bisa diambil di dalam pelaksanaan ibadah haji dan tidak kalah penting adalah apa yang disampaikan oleh Nabi Shallallahu alaihi wasallam di dalam khutbahnya ketika haji wada’, dan pelajaran pelajaran tersebut telah dirangkum oleh Syaikh Abdurrozzzaq Al-Badr hafidzohullah ta’ala.

Semoga pelajaran-pelajaran dari ibadah haji ini memperkuat keimanan kita, menambah pemahaman tentang pentingnya tauhid, mengikuti sunnah Nabi, membentuk akhlak mulia, mempererat ukhuwah, serta menyadari kemudahan yang ada dalam agama ini.

Semoga Allah Ta’ala memberikan kita taufik dan kemudahan untuk dapat melaksanakan ibadah haji dengan ikhlas dan sesuai dengan tuntunan Rasulullah ﷺ.

ARTIKEL TERKAIT

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

spot_img