BerandaAdab dan AkhlakPenggerak-Penggerak Hati

Penggerak-Penggerak Hati

Dari sahabat Anas bin Malik Radhiyallahu ‘Anhu,

وعن أَنسٍ Iأَنَّ أَعرابيًّا قَالَ لرسول اللَّه ﷺ: مَتَى السَّاعَةُ؟ قَالَ رسولُ اللَّه ﷺ: مَا أَعْدَدْتَ لَهَا؟ قَالَ: حُبُّ اللَّهِ ورسولِهِ، قَالَ: أَنْتَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ. متفقٌ عَلَيهِ، وهذا لفظ مسلمٍ.

“Dari Anas bin Malik Radhiyallahu ‘Anhu berkata, seseorang berkata kepada Rasulullahi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam, “Kapan hari kiamat?”. Rasulullah menjawab, “Apa yang sudah engkau persiapkan untuk kiamat?”. Kemudian lelaki itu berkata, “Kecintaan kepada Allah Ta’ala dan Rasul-Nya”. Maka Nabi berkata, “Engkau akan bersama orang yang engkau cintai”. [Muttafaqun ‘Alaih]

Walaupun amalan kita belum bisa sebanding dengan amalan para sahabat dan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam, paling tidak kita bisa berkumpul dengan mereka di Surga nanti dengan rasa cinta kepada mereka dengan ikhlas.

Kemudian hadis yang berikutnya masih dari sahabat yang sama yaitu Anas bin Malik Radhiyallahu ‘Anhu,

أن النبي ﷺ دخل على شاب وهو في الموت فقال كيف تجدك؟ قال : والله يا رسول الله، إني أرجو الله، وإني أخاف ذنوبي . فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم : لا يجتمعان في قلب عبد في مثل هذا الموطن، إلا أعطاه الله ما يرجو، وآمنه مما يخاف

“bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menemui seorang pemuda yang sedang sekaratul maut, beliau bertanya: “Bagaimana keadaanmu?” dia menjawab; “Aku sangat mengharapkan Allah, wahai Rasulullah, dan aku sangat takut akan dosa-dosaku.” maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidaklah berkumpul di dalam hati seorang hamba saat keadaan seperti ini, melainkan Allah akan memberikan kepadanya apa yang di harapkannya, dan akan di berikan rasa aman akan apa yang ia takuti.” [H.R Ibnu Majah]

Tiga Kunci Utama Penggerak Hati

Dua hadis yang dibawakan ini, telah menggambarkan kepada kita tiga kunci utama penggerak hati, yang pertama adalah cinta kepada Alla Ta’ala, yang kedua adalah berharap kepada Allah Ta’ala, dan yang ketgka rasa takut kepada Allah Ta’ala. Ketiga hal ini harus menjadi satu paket yang ada di dalam ibadah seorang hamba kepada Allah Ta’ala. Allah Ta’ala berfirman tentang rasa cinta,

وَٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ أَشَدُّ حُبّٗا لِّلَّهِۗ

“Adapun orang-orang yang beriman sangat kuat cinta mereka kepada Allah.” [Al Baqoroh 2:165]

Allah juga berfirman tentang rasa harap,

قَالَ وَمَنْ يَّقْنَطُ مِنْ رَّحْمَةِ رَبِّهٖٓ اِلَّا الضَّاۤلُّوْنَ

“Dia (Ibrahim) berkata, “Adakah orang yang berputus asa dari rahmat Tuhannya selain orang yang sesat?”” [Al Hijr 15:56]

Lawan kata dari putus asa adalah optimism dan berharap kepada Allah Ta’la. Kemudian Allah berfirman tentang rasa takut,

اَفَاَمِنَ اَهْلُ الْقُرٰٓى اَنْ يَّأْتِيَهُمْ بَأْسُنَا بَيَاتًا وَّهُمْ نَاۤىِٕمُوْنَۗ

“Apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari siksa Kami yang datang pada malam hari ketika mereka sedang tidur?” [Al A’raaf 7:97]

Bahkan Allah Subhanahu Wa Ta’ala menggabungkan tiga hal ini dalam firmannya,

اُولٰۤىِٕكَ الَّذِيْنَ يَدْعُوْنَ يَبْتَغُوْنَ اِلٰى رَبِّهِمُ الْوَسِيْلَةَ اَيُّهُمْ اَقْرَبُ وَيَرْجُوْنَ رَحْمَتَهٗ وَيَخَافُوْنَ عَذَابَهٗۗ اِنَّ عَذَابَ رَبِّكَ كَانَ مَحْذُوْرًا“Orang-orang yang mereka seru itu, mereka (sendiri) mencari jalan kepada Tuhan (masing-masing berharap) siapa di antara mereka yang lebih dekat (kepada Allah). Mereka juga mengharapkan rahmat-Nya dan takut akan azab-Nya. Sesungguhnya, azab Tuhanmu itu adalah yang (harus) ditakuti.” [Al Isra’ 17:57]

Jadi dalam ayat-ayat tadi dapat kita simpulkan bahwa kunci dalam beribadah kepada Allah Ta’ala ada tiga, yaitu rasa cinta yang merupakan ruh dalam penggerak serta pondasi dalam beribada kepada Allah Ta’ala, apa yang menjadikan seseorang bersemangat dalam beribadah karena cinta kepada Allah.

Kemudian yang berikutnya adalah rasa harap, seseorang bersemangat dalam beribadah karena ada yang ia harapkan yaitu mengharap wajah Allah serta pahala-Nya. Dan yang ketiga adalah rasa takut, inilah yang memberhentikan seorang hamba dalam melakukan dosa dan menerjang larangan Allah. Tiga hal ini harus ada dalam diri seorang mukmin ketika beribadah kepada Allah Ta’ala.

Tiga kunci utama penggerak hati, yang pertama adalah cinta kepada Alla Ta’ala, yang kedua adalah berharap kepada Allah Ta’ala, dan yang ketika rasa takut kepada Allah Ta’ala. Ketiga hal ini harus menjadi satu paket yang ada di dalam ibadah seorang hamba kepada Allah Ta’ala.

Kemudian rasa takut dan rasa harap ada pada seorang mukmin agar perjalanan dia dalam beribadah kepada Allah Ta’ala seimbang, jangan sampai seorang hamba hanya berharap saja kepada Allah tanpa adanya rasa takut, atau mungkin hanya takut saja akan tetapi tidak ada rasa harap kepada Allah Ta’ala. Para ulama mengumpakan Al Khouf (rasa takut) dan Al Raja’ (rasa harap) bagaikan dua sayap burung. Jika salah satu dari sayap burung itu rusak maka ia tidak bisa terbang. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam pernah ditanya terkait dosa yang terbesar kemudian beliau bersabda,

الشرك بالله، واليأس من روح الله، والأمن من مكر الله

“Menyekutukan Allah (syirik), putus asa dari rahmat Allah, dan merasa aman dari makar Allah.” (HR. Ath-Thabrani rahimahullah dengan derajat hasan)

Di sini Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam memasukkan pesimis ke dalam dosa besar, karena ketika seseorang putus asa dari rahmat Allah maka ia akan frustasi dalam beribadah dan tidak bersemangat dalam beribadah. Demikian pula merasa aman dari makar Allah Ta’ala akan menggampangkan dosa dan merasa aman dari makar Allah.

Bagaimana cara kita menumbuhkan rasa cinta kita kepada Allah Ta’ala? Maka syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah mengatakan setidaknya ada dua hal itu menumbuhkan rasa cinta kepada Allah Ta’ala. Yaitu yang pertama adalah dengan sering mengingat Allah Ta’ala. Hal ini sebagaimana Allah Ta’ala firmankan,

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱذۡكُرُواْ ٱللَّهَ ذِكۡرٗا كَثِيرٗا 

“Hai orang-orang yang beriman, berzdikirlah (dengan menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya.” [Al Ahzab 33:41]

Demikian pula jika kita perhatikan bahwa Nabi Ta’ala banyak mengajarkan doa dan dzikir kepada kita sebagai bukti dan agar kita ingat kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Yang kedua adalah dengan mengingat nikmat-nikmat yang Allah Subhanahu Wa Ta’ala berikan kepada kita. Allah Ta’ala berfirman,

وَمَا بِكُم مِّن نِّعۡمَةٖ فَمِنَ ٱللَّهِۖ ثُمَّ إِذَا مَسَّكُمُ ٱلضُّرُّ فَإِلَيۡهِ تَجأرُونَ 

“Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah (datangnya), dan bila kamu ditimpa oleh kemudharatan, maka hanya kepada-Nya-lah kamu meminta pertolongan.” [An Nahl 16:53]

Jika kita mengingat kebaikan seseorang kepada kita maka akan menumbuhkan rasa cinta kita kepada orang tersebut, seperti kebaikan kedua orang tua kita. Lantas bagaimana dengan kebaikan Allah Ta’ala berupa nikmat yang tak terhitung jumlahnya.

Kemudian kita tutup dengan perkataan ‘Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘Anhu,

لا يرجون عبد إلا ربه ، ولا يخافن إلا ذنبه

“Janganlah seorang hamba berharap kecuali kepada Rabnya, dan janganlah seorang hamba khawatir kecuali terhadap dosanya”.

Ustad Abu Ubaidah Yusuf As-Sidawi

Baca Juga : Kumpulan Hadits tentang Hati

ARTIKEL TERKAIT

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

spot_img