Daftar Isi
Mengenal Bulan Al-Muharram
Bulan Al-Muharram merupakan bulan pertama dalam kalender Hijriyah. Urutan bulan-bulan Hijriyah adalah:
- Muharram
- Safar
- Rabiul Awal
- Rabiul Akhir
- Jumadil Ula
- Jumadil Akhirah
- Rajab
- Sya'ban
- Ramadhan
- Syawal
- Dzulqa'dah
- Dzulhijjah
Penetapan dua belas bulan dalam setahun telah disebutkan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala dalam firman-Nya:
(إِنَّ عِدَّةَ ٱلشُّهُورِ عِندَ ٱللَّهِ ٱثۡنَا عَشَرَ شَهۡرٗا فِي كِتَٰبِ ٱللَّهِ يَوۡمَ خَلَقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضَ مِنۡهَآ أَرۡبَعَةٌ حُرُمٞۚ ذَٰلِكَ ٱلدِّينُ ٱلۡقَيِّمُۚ فَلَا تَظۡلِمُواْ فِيهِنَّ أَنفُسَكُمۡ)
“Sesungguhnya jumlah bulan menurut Allah ialah dua belas bulan, sebagaimana ketetapan Allah pada waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya ada empat bulan haram. Itulah agama yang lurus, maka janganlah kamu menzalimi dirimu dalam bulan-bulan itu.” (QS. At-Taubah: 36)
Muharram Termasuk Bulan Haram
Kata haram dalam ayat tersebut bermakna bulan yang memiliki kehormatan dan kemuliaan khusus. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan empat bulan haram dalam hadits Abu Bakrah:
السَّنَةُ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا، مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ، ثَلَاثَةٌ مُتَوَالِيَاتٌ ذُو الْقَعْدَةِ وَذُو الْحِجَّةِ وَالْمُحَرَّمُ، وَرَجَبُ مُضَرَ الَّذِي بَيْنَ جُمَادَى وَشَعْبَانَ
“Setahun terdiri dari dua belas bulan, di antaranya ada empat bulan haram: tiga bulan berurutan yaitu Dzulqa'dah, Dzulhijjah, dan Muharram, serta Rajab Mudhar yang berada antara Jumada dan Sya'ban.” (HR. Bukhari)
Baca Juga: Ada Apa dengan Muharram ?
Mengapa Dinamakan Bulan Al-Muharram?
Para ulama menjelaskan beberapa sebab penamaan bulan ini:
- Sebagai penegasan terhadap kesucian dan kehormatannya.
- Karena masyarakat jahiliyah dahulu sering mengubah status bulan haram, maka Allah menegaskan kehormatan bulan ini dengan nama Al-Muharram.
- Pada bulan ini diharamkan pertumpahan darah dan peperangan, kecuali dalam rangka membela diri dari serangan musuh.
Keutamaan Bulan Al-Muharram
Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata:
“Sesungguhnya Allah membuka awal tahun dengan bulan haram dan menutup akhir tahun dengan bulan haram. Tidak ada bulan yang lebih agung setelah Ramadhan selain Muharram.”
Kemuliaan bulan ini semakin besar karena disandarkan langsung kepada Allah. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ وَأَفْضَلُ الصَّلاَةِ بَعْدَ الْفَرِيضَةِ صَلاَةُ اللَّيْلِ
“Puasa yang paling utama setelah Ramadhan adalah puasa pada Bulan Allah, yaitu Muharram. Sedangkan shalat yang paling utama setelah shalat wajib adalah shalat malam.” (HR. Muslim no. 1163)
Imam Ibnu Rajab Al-Hanbali rahimahullah mengatakan:
“Penyandaran Muharram kepada Allah menunjukkan kemuliaan dan keutamaannya, karena Allah tidak menyandarkan sesuatu kepada-Nya kecuali yang memiliki keistimewaan.”
Hari Asyura: Hari Istimewa di Bulan Muharram
Apa Itu Hari Asyura?
Hari Asyura adalah tanggal 10 Muharram. Hari ini memiliki sejarah penting karena pada hari tersebut Allah menyelamatkan Nabi Musa dan Bani Israil dari kejaran Fir'aun.
Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhuma berkata:
قَدِمَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَدِينَةَ فَرَأَى الْيَهُودَ تَصُومُ يَوْمَ عَاشُورَاءَ
“Ketika Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tiba di Madinah, beliau melihat orang-orang Yahudi berpuasa pada hari Asyura. Mereka berkata: ‘Ini adalah hari ketika Allah menyelamatkan Bani Israil dari musuh mereka, maka Musa berpuasa sebagai bentuk syukur.' Nabi bersabda: ‘Kami lebih berhak terhadap Musa daripada kalian.'” (HR. Bukhari dan Muslim)
Fase Pensyariatan Puasa Asyura
1. Sebelum Hijrah ke Madinah
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah berpuasa Asyura ketika masih berada di Makkah, namun belum memerintahkan umat untuk melakukannya.
2. Setelah Hijrah ke Madinah
Beliau mengetahui orang-orang Yahudi berpuasa pada hari tersebut, lalu beliau berpuasa dan memerintahkan para sahabat untuk berpuasa.
3. Setelah Diwajibkannya Puasa Ramadhan
Status puasa Asyura berubah menjadi sunnah, bukan lagi kewajiban.
4. Menyelisihi Yahudi dengan Berpuasa Tanggal 9
Menjelang wafatnya, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bertekad untuk berpuasa pada tanggal 9 Muharram bersamaan dengan tanggal 10.
Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhuma meriwayatkan:
فَإِذَا كَانَ الْعَامُ الْمُقْبِلُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ صُمْنَا الْيَوْمَ التَّاسِعَ
“Jika aku masih hidup hingga tahun depan, sungguh aku akan berpuasa pada hari kesembilan.” (HR. Muslim)

Keutamaan Puasa Asyura
1. Menghapus Dosa Setahun yang Lalu
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
صِيَامُ يَوْمِ عَاشُورَاءَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ
“Puasa pada hari Asyura, aku berharap kepada Allah agar menghapus dosa setahun sebelumnya.” (HR. Muslim)
2. Puasa yang Sangat Diperhatikan Rasulullah
Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhuma berkata:
مَا رَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَتَحَرَّى صِيَامَ يَوْمٍ فَضَّلَهُ عَلَى غَيْرِهِ إِلَّا هَذَا الْيَوْمَ
“Aku tidak pernah melihat Nabi begitu bersemangat berpuasa pada suatu hari yang beliau utamakan dibanding hari lainnya selain hari Asyura dan bulan Ramadhan.” (HR. Bukhari dan Muslim)
3. Hari Diselamatkannya Nabi Musa dan Bani Israil
Hari Asyura adalah hari kemenangan tauhid atas kebatilan ketika Allah menyelamatkan Nabi Musa dan pengikutnya dari Fir'aun.
4. Pernah Menjadi Puasa Wajib
Sebelum diwajibkannya puasa Ramadhan, puasa Asyura pernah diwajibkan kepada kaum muslimin.
5. Bertepatan dengan Bulan Haram
Keutamaan puasa Asyura semakin besar karena berada di dalam bulan Muharram yang termasuk bulan haram.
Penyimpangan yang Terjadi di Bulan Muharram
Sebagian masyarakat melakukan amalan-amalan yang tidak memiliki landasan syariat, di antaranya:
1. Menganggap Muharram sebagai Bulan Sial
Sebagian orang menganggap tidak boleh menikah, mengadakan hajatan, atau memulai usaha pada bulan Muharram karena khawatir tertimpa musibah.
Padahal Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
الطِّيَرَةُ شِرْكٌ
“Tathayyur (anggapan sial) adalah kesyirikan.” (HR. Abu Dawud)
2. Menjadikan Asyura Sebagai Hari Ratapan
Sebagian kelompok menjadikan hari Asyura sebagai hari berkabung dan meratapi wafatnya Husain bin Ali Radhiyallahu ‘anhuma dengan memukul-mukul diri dan berbagai ritual bid'ah.
3. Mengkhususkan Doa Awal dan Akhir Tahun
Tidak terdapat dalil shahih yang menetapkan doa khusus awal tahun maupun akhir tahun.
4. Mengkhususkan Puasa Awal Tahun Hijriyah
Tidak ada dalil yang mengkhususkan puasa pada tanggal 1 Muharram.
5. Perayaan Tahun Baru Hijriyah
Tidak terdapat contoh dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam maupun para sahabat untuk merayakannya secara khusus.
6. Menghidupkan Malam Asyura dengan Ibadah Tertentu
Tidak ada dalil shahih yang mengkhususkan malam Asyura dengan ibadah tertentu.
7. Shalat Asyura
Shalat khusus Asyura yang tersebar di sebagian masyarakat bersumber dari hadits-hadits palsu dan tidak boleh diamalkan.
8. Doa Khusus Hari Asyura
Tidak ada doa khusus yang shahih untuk hari Asyura.
Amalan yang Disyariatkan di Bulan Muharram
1. Memperbanyak Puasa Sunnah
Karena Muharram adalah bulan haram dan bulan yang paling utama untuk berpuasa setelah Ramadhan.
2. Melaksanakan Puasa Asyura
Tata cara yang paling utama:
- Puasa tanggal 9 dan 10 Muharram.
- Puasa tanggal 10 dan 11 Muharram.
- Puasa tanggal 9, 10, dan 11 Muharram.
- Jika hanya mampu tanggal 10 saja, maka tetap diperbolehkan.
3. Memperbanyak Amal Shalih
Para ulama menjelaskan bahwa amal shalih pada bulan-bulan haram memiliki keutamaan yang lebih besar.
4. Memperbanyak Taubat
Bulan Muharram adalah momentum terbaik untuk memperbaiki diri, memperbanyak istighfar, dan kembali kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Penutup
Bulan Al-Muharram adalah salah satu bulan yang dimuliakan Allah Ta'ala. Di dalamnya terdapat berbagai keutamaan, terutama puasa Asyura yang dapat menghapus dosa setahun yang lalu. Seorang muslim hendaknya menghidupkan bulan ini dengan amal-amal yang disyariatkan, memperbanyak puasa, taubat, dan amal shalih, serta menjauhi berbagai bentuk bid'ah dan keyakinan yang tidak memiliki landasan dalam Al-Qur'an dan As-Sunnah.
Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala memberikan taufik kepada kita untuk mengagungkan syiar-Nya dan menghidupkan bulan Muharram sesuai tuntunan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.



