BerandaFiqih dan MuamalahSerba-Serbi Qurban

Serba-Serbi Qurban

Perlu untuk dipahami terlebih dahulu ilmu yang berkaitan dengan qurban, agar kita melakukan amalan qurban berlandaskan ilmu yang benar. Al-Udhiyah dinamakan qurban, yaitu apa yang disembelih dari hewan-hewan ternak pada waktu Idul Adha. Ibadah qurban ini dilaksanakan 4 hari, di hari raya Idul Adha dan 3 hari tasyriq berikutnya.

Jika kita memiliki keluasan rezeki maka usahakanlah berqurban, karena momentum ini hanya setahun sekali. Harta yang banyak tidak akan bermanfaat tatkala hanya disimpan saja, sementara kebutuhan kita terhadap harta sangatlah sedikit, sementara amalan-amalan ibadah yang menjadi bekal kita.

Dalil-dalil Syariat Qurban

            Banyak dalil-dalil yang menganjurkan seorang muslim untuk berqurban, bagi siapa yang Allah berikan kelapangan rezeki. Allah Ta’ala berfirman,

فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَٱنۡحَرۡ 

“Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berqurbanlah. [Al-kautsar 108:2]

Hal ini menunjukkan mulianya ibadah qurban karena Allah menyandingkan antara shalat dengan ibadah qurban. Kemudian Allah Ta’ala berfirman,

وَلِكُلِّ أُمَّةٖ جَعَلۡنَا مَنسَكٗا لِّيَذۡكُرُواْ ٱسۡمَ ٱللَّهِ عَلَىٰ مَا رَزَقَهُم مِّنۢ بَهِيمَةِ ٱلۡأَنۡعَٰمِۗ فَإِلَٰهُكُمۡ إِلَٰهٞ وَٰحِدٞ فَلَهُۥٓ أَسۡلِمُواْۗ وَبَشِّرِ ٱلۡمُخۡبِتِينَ 

“Dan bagi tiap-tiap umat telah Kami syariatkan penyembelihan (kurban), supaya mereka menyebut nama Allah terhadap binatang ternak yang telah direzekikan Allah kepada mereka, maka Tuhanmu ialah Tuhan Yang Maha Esa, karena itu berserah dirilah kamu kepada-Nya. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang tunduk patuh (kepada Allah),” [Al-Hajj 22:34]

Dalil-dalil ini menunjukkan bahwa qurban itu dalam mendekatkan diri kepada Allah, bukan untuk dipuji karena telah melakukan qurban dengan mengeluarkan harta. Adapun dalil tentang qurban dari hadis-hadis Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam sangatlah banyak dan shahih. Di antaranya adalah,

مَنْ ذَبَحَ بَعْدَ الصَّلَاةِ فَقَدْ تَمَّ نُسُكُهُ وَأَصَابَ سُنَّةَ الْمُسْلِمِينَ

“Barangsiapa menyembelih setelah shalat (Iedul Adlha), maka sempurnalah ibadahnya dan dia telah melaksanakan sunnah kaum Muslimin dengan tepat” [HR. Muslim]

Maka waktu yang tepat adalah setelah melaksanakan shalat idul adha. Ketika penyembelihan dilakukan sebelum shalat idul adha maka tidak dinamakan sebagai hewan qurban. Kemudian diriwayatkan dari sahabat Anas bin Malik radhiyallahu’anhu, beliau berkata,

ضَحَّى النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِكَبْشَيْنِ أَمْلَحَيْنِ أَقْرَنَيْنِ ذَبَحَهُمَا بِيَدِهِ وَسَمَّى وَكَبَّرَ وَوَضَعَ رِجْلَهُ عَلَى صِفَاحِهِمَا

“Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkurban dengan dua ekor kambing kibas yang bertanduk, beliau menyembelihnya dengan tangannya, mengucapkan bismillah dan bertakbir serta meletakkan kakinya pada samping leher.” [HR. An-Nasai]

Hal ini jika dimampui untuk menyembelih sendiri, jika tidak mampu maka tidak mengapa meminta orang lain untuk membantu menyembelih akan tetapi dengan orang yang paham tata cara qurban, karena ini merupakan ibadah. Kemudian dari salah seorang sahabat bernama Jundub bin Sufyan, beliau berkata,

شَهِدْتُ الْأَضْحَى مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمْ يَعْدُ أَنْ صَلَّى وَفَرَغَ مِنْ صَلَاتِهِ سَلَّمَ فَإِذَا هُوَ يَرَى لَحْمَ أَضَاحِيَّ قَدْ ذُبِحَتْ قَبْلَ أَنْ يَفْرُغَ مِنْ صَلَاتِهِ فَقَالَ مَنْ كَانَ ذَبَحَ أُضْحِيَّتَهُ قَبْلَ أَنْ يُصَلِّيَ أَوْ نُصَلِّيَ فَلْيَذْبَحْ مَكَانَهَا أُخْرَى وَمَنْ كَانَ لَمْ يَذْبَحْ فَلْيَذْبَحْ بِاسْمِ اللَّهِ

“Saya pernah ikut hadir shalat Idul Adlha bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, tidak lama setelah selesai shalat, beliau melihat daging kurban yang telah disembelih, maka beliau bersabda: “Siapa yang menyembelih hewan kurban sebelum shalat, hendaknya ia mengulanginya sebagai gantinya. Dan siapa yang belum menyembelih hendaknya menyembelih dengan menyebut nama Allah.” [HR. Muslim]

Adapun pendapat para ulama terkait dengan syariat qurban adalah ijma’ dan tidak ada perselisihan tentang syariat qurban.

Baca Juga : Ibadah Qurban (Bagian 1)

Hukum Berqurban

Para ulama berselisih pendapat apakah qurban ini wajib atau sunnah yang ditekankan. Maka lepas dari pendapat ini, jika kita mampu untuk membeli, maka selayaknya melaksanakan qurban. Dalil tentang pendapat yang mengatakan wajib adalah firman Allah Ta’ala,

فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَٱنۡحَرۡ 

“Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berqurbanlah. [Al-kautsar 108:2]

Dalil yang berikutnya adalah hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

 مَنْ كَانَ لَهُ سَعَةٌ، وَلَمْ يُضَحِّ، فَلَا يَقْرَبَنَّ مُصَلَّانَا

“Barang siapa yang mempunyai keluasan rizeki dan tidak berkurban, maka jangan pernah mendekati tempat shalat kami”. [HR. Ibnu Majah]

Adapun dalil yang mengatakan tentang qurban bukanlah sebuah kewajiban adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

ثَلاثٌ هُنَّ عَلَيَّ فَرَائِضُ وَهُنَّ لَكُمْ تَطَوُّعٌ : النَّحْرُ ، وَالْوِتْرُ ، وَرَكْعَتَا الضُّحَى

“Tiga hal yang wajib bagiku dan bagi kalian sunah, yaitu berkurban, salat Witir dan dua rakaat salat Dhuha.” [HR. Al-Baihaqi]               

Serba-Serbi Ibadah Qurban

Larangan Bagi Orang Yang Ingin Berqurban

Kemudian ada beberapa larangan bagi orang yang ingin berkurban, sebagaimana yang disabdakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

إذا رأيتم هلال ذي الحجة، وأراد أحدكم أن يضحي، فليمسك عن شعره وأظفاره

            “Jika sudah masuk sepuluh hari pada bulan Dzulhijjah dan salah satu diantara kalian ada yang ingin berqurban, maka janganlah dia sekali-kali mengambil (memotong) rambutnya dan jangan pula dia sekali-kali memotong kukunya” [HR. Muslim]

Hal ini jika dia sudah niat untuk berkurban, maka dilarang melakukan hal-hal tersebut.

Antara Berqurban atau Bersedekah?

Melaksanakan qurban lebih afdhol daripada kita membagikan atau bersedekah dengan uang senilai harga hewan qurban tersebut, hal ini sebagaimana yang diterangkan oleh Syaikhul islam Ibnu Taimiyyah. Hal ini karena manusia pada zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah dalam keadaan lapar pada waktu qurban tersebut, akan tetapi tidak ada perintah untuk memberikan makan kepada orang-orang yang kelaparan saat itu. Para ulama juga berselisih tentang wajibnya berqurban ini, sehingga hal ini menunjukkan lebih afdhol dibadingkan bersedekah dengan nilai yang sama.            

Bolehnya berqurban untuk orang yang telah meninggal, semisal seorang anak yang berqurban untuk ayahnya yang telah meninggal.

Hukum Shalat Idul Adha

Para ulama berkata terkait hukum shalat idul adha, maka di antara ulama seperti Ibnu Taimiyyah dan Ibnul Qoyyim mengatakan bahwa hukumnya wajib, karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyuruh wanita-wanita untuk mengenakan jilbab dan menuju lapangan untuk melaksanakan shalat Ied, padahal wanita tidak wajib shalat berjamaah di masjid.

Ustadz Aunurrofiq, Lc.

ARTIKEL TERKAIT

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

spot_img