spot_img
BerandaAdab dan AkhlakSifat dan Sikap Mulia Para Pendidik Sukses

Sifat dan Sikap Mulia Para Pendidik Sukses

Terdapat beberapa sifat atau perangai yang hendaknya setiap pendidik berusaha menjadikan dirinya memiliki sifat tersebut, yang in syaa Allah dengan sifat ini akan membantu dan menolong dalam suksesnya sebuah aktivitas pendidikan yang dilakukan karena sifat pendidik itu sangat penting dan berpengaruh untuk menyampaikan sebuah materi yang akan dimiliki oleh seorang anak didik terutama anak-anak kita.

Pendidik yang mulia yang memiliki sifat yang sempurna adalah nabi kita Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka kita sebagai umat nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam hendaknya kita berusaha untuk meniru, mencontoh, dan melihat sifat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam secara umum dalam hal muamalah dan secara khusus tatkala beliau berdakwah atau melakukan proses pendidikan kepada orang-orang di sekelilingnya maupun kepada umatnya secara umum.

Sifat Tenang dan Tidak Terburu-Buru

Tenang dan tidak terburu-buru adalah hal yang hendaknya menjadi sifat dasar bagi kita sebagai orang tua, karena yang akan kita hadapi adalah anak-anak yang secara psikologis masih belum matang dan dari sisi umur mereka yang masih belum bisa menimbang mana yang baik dan mana yang buruk, maka kita orang tua hendaknya membekali diri kita dengan sifat yang pertama ini yaitu tenang dan tidak terburu-buru, sehingga dalam mualamah kita tehadap anak kita, kita bisa lebih baik dalam menyikapi tingkah laku anak kita dan akan memberikan dampak tatkala kita memberikan mereka sebuah materi ataupun nasehat.

Dalam sebuah riwayat imam Muslim dari Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salllam berkata kepada Asyajj Abdil Qais,

إنَّ فيكَ خَصْلَتَيْنِ يُحِبُّهُمَا اللهُ: الْحِلْمُ وَالأنَاةُ

“Sesungguhnya pada dirimu terdapat dua perangai yang Allah mencintainya, yaitu sifat tenang dan tidak terburu-buru.” (HR. Muslim no. 26)

Dalam riwayat yang lainnya dari Ibnu Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَلَا أُخْبِرُكُمْ بِمَنْ يَحْرُمُ عَلَى النَّارِ وَمَنْ تَحْرُمُ النَّارُ عَلَيْهِ؟ كُلُّ هَيِّنٍ لَيِّنٍ قَرِيبٍ سَهْلٍ

“Maukah engkau aku kabarkan tentang orang yang haram masuk neraka, dan neraka haram atas orang tersebut, yaitu orang yang memiliki sifat hayyin, layyin, qariib, dan sahlin.” (HR. Ahmad dan Tirmidzi).

Dalam hadits ini terdapat beberapa sifat yang menjadikan seseorang diharamkan atasnya neraka dan sekaligus merupakan sifat yang bisa membantu aktivitas orang tua ataupun pendidik dalam melakukan proses mendidik anak-anaknya, yaitu:

  1. HAYYIN

Hayyin adalah orang yang tidak suka mengumpat, orang yang tidak suka mencaci maki, dan juga makna dari hayyin yaitu orang yang tidak tergesa-gesa. Apa hubungan dari beberapa makna hayyin ini?, jika seseorang tidak tergesa-gesa maka akan menjadikan dirinya lebih mudah untuk menyampaikan sesuatu kepada anak didiknya, menjadikan ia mudah untuk mnegatur emosinya, menjadikan ia mudah untuk mengatur tutur kata ataupun lisannya, terlebih tatkala menyikapi sikap anak peserta didik yang mungkin rewel, sehingga ia tidak mudah untuk mencaci dan melaknat, dan juga sifat ini menjadikan orang yang memilikinya berwibawa di mata peserta didik ataupun anak-anaknya.    

  1. LAYYIN

Layyin adalah seseorang yang senantiasa menginginkan kebaikan antar sesamanya, ia senantiasa lemah lembut dalam bersikap, senantiasa santun dalam tutur kata dan prilakunya, dan juga layyin juga identik dengan tidak suka memaksa. Ketika orang tua berusaha menghiasi dirinya dengan sifat layyin ini, maka tatkala ia memiliki anak dua atau lebih, ia menginginkan kebaikan dari seluruh anak-anaknya yang ada, seperti tatkala mereka bertengkar, atau mungkin rebutan makanan atau mainan. Dengan sifat layyin ini orang tua berusaha agar tidak memaksakan dan juga bersikap lembut terhadap anaknya, tidak memihak kepada  yang kecil atau yang lainnya, berusaha membesarkan hati dan memberikan pengertian kepada semuanya.

  1. QARIIB

Qariib secara bahasa berarti dekat, namun maknanya disini adalah akrab tanpa melampaui batas-batas. Pada poin yang pertama tadi menjadikan seorang berwibawa, namun di samping itu juga harus ada poin ketiga ini yang mengharuskan ia memiliki sifat akrab, ramah, nyaman dalam bermuamalah dan diajak bicara, dan juga senantiasa tersenyum. Sisi baik dari sifat ini adalah menghasilkan sifat-sifat lainnya, contohnya seperti senyum, menebarkan salam, atau hal-hal yang lainnya yang bisa menjadikan seseorang memiliki sifat qariib.

Kita sebagai orang tua jangan menjadi orang tua yang sangat ingin berwibawa sehingga memiliki jarak dengan anak kita, terutama tatkala memiliki anak yang sudah berusia remaja, maka jangan sampai mereka dalam usia-usia itu kita malah jauh dari mereka, terlebih bagi seorang ayah yang mana ia banyak menghabiskan waktu di luar rumah, karena sejatinya orang tua itu hendaknya menjadi akrab dengan anak-anaknya, sehingga menjadikan komunikasi lebih mudah, dan menjadikan nasehat lebih dapat diterima, dan kita bisa memberikan masukan-masukan tatkala mereka mengalami suatu hal dalam kehidupannya.

4. SAHLIN

Sifat yang terakhir yang disebutkan dalam hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yaitu, sahlin. Sahlin adalah orang yang tidak suka mempersulit, contohnya dalam muamalah, atau dalam proses mendidik anak-anak kita. Jika ada suatu hal yang tidak melanggar syariat Allah Subhanahu wa Ta’ala yang tidak ada unsur dosa di dalamnya, maka sesekali kita beri kelonggaran kepada anak-anak kita, jangan mengharapkan pendidikan itu sukses jika kita masih mempersulit, baik mempersulit dalam hubungan, atau mempersulit dalam hal lain sehingga nasehat atau materi yang ingin disampaikan itu tidak diterima.

Sifat dan Sikap Mulia Para Pendidik Sukses

Sifat Lemah Lembut dan Tidak Kasar

Dalam sebuah riwayat yang diriwayatkan oleh imam Muslim dari Aisyah Radhiyallahu ‘anha, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ اللَّهَ رَفِيقٌ يُحِبُّ الرِّفقَ، وَيُعْطِي على الرِّفق ما لا يُعطي عَلى العُنفِ، وَما لا يُعْطِي عَلى مَا سِوَاهُ

“Sesunguhnya Allah itu Maha Lembut dan Allah menyukai kelemahlembutan, dan Allah memberi atas kelemahlembutan apa yang tidak diberi atas sebuah kekerasan, dan Allah tidak memberi apa yang ada atas kelemahlembutan itu kepada selainnya.” (HR. Muslim)

Dan juga dalam sebuah hadits dari Aisyah Radhiyallahu ‘anha, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ اللَّهَ رَفِيقٌ يُحِبُّ الرِّفقَ  فِيْ الأَمْرِ كُلِّهِ

“Sesunguhnya Allah itu Maha Lembut dan Allah menyukai kelemahlembutan dalam segala perkara.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dalam riwayat lainnya, masih dari Aisyah Radhiyallahu ‘anha, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ الرِّفْقَ لَا يَكُوْنُ فِيْ شَيْءٍ إِلَّا زَانَهُ وَلَا يُنْزِعُ مِنْ شَيْءٍ إِلَّا شَانَهُ

“Sesungguhnya kelembutan itu tidaklah terdapat pada sesuatu melainkan akan menghiasinya, dan tidaklah kelembutan itu dicabut dari sesuatu melainkan akan menjadikannya buruk.” (HR. Muslim)

Dari hadits-hadits di atas dapat disimpulkan bahwa lemah lembut, kasih sayang, dan tidak kasar itu hendaknya menjadi penghias bagi orang tua, menjadi sifat dan karakter yang senantiasa harus dihidupkan oleh orang tua, begitu juga para pendidik karena sebagaimana yang disabdakan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tadi, bahwasanya Allah Subhanahu wa Ta’ala itu Maha Lembut dan Allah mencintai kelembutan, sehingga tatkala kita ingin dicintai oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala maka hendaknya kita hiasi diri kita dengan hal tersebut. Bukankah sifat ini yang juga kita inginkan terhadap anak kita?, kita ingin anak kita bertutur kata yang baik, sikapnya tidak keras, mudah diatur, maka sebagai orang tua hendaknya kita memiliki sifat itu terlebih dahulu.

Orang tua yang memiliki sifat lembut akan menjadikannya orang tua yang baik, lembut dan tidak kasar, dan ini sesuai sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tatkala kita menjadikan Nabi sebagai qudwah, maka hendaknya kita dengarkan sabda Nabi ini dan kita lihat bagaimana perangai beliau, dan ketika kita menjadikan diri kita seorang yang penuh dengan kelembutan dengan niat mengikuti Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam maka Allah Subhanahu wa Ta’ala akan mancatatnya sebagai pahala bagi kita.

Ketika kita melakukan proses pendidikan sebagai seorang ayah ataupun ibu dengan cara-cara yang lembut, baik, tidak kasar, maka ini pun akan dicatat kebaikan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, sehingga menghasilkan anak-anak yang lembut juga, dan jangan sampai kita menjadi orang yang buruk yang  mencemari dampak buruk bagi diri kita dan anak kita karena sifat lembut yang tidak ada pada diri kita, sebagaimana sabda Nabi pada hadits di atas tadi.

Baca Juga : Pendidikan Tauhid untuk Anak

Dalam riwayat Muslim dari Jarir bin Abdillah Radhiyallahu ‘anhu dia berkata: “Aku pernah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:”

مَنْ يُحْرَمُ الرِّفْقُ يُحْرَمُ الخَيْرُ كُلُّهُ

“Barang siapa yang tidak dikaruniai kelembutan berarti dia tidak dikaruniai seluruh kebaikan.” (HR. Muslim)

Hadits yang diriwayatkan oleh Jabir ini berkaitan dengan hadits yang diriwayatkan oleh Aisyah, yaitu kelembutan jika tidak ada pada sesuatu maka akan menjadi buruk, karena yang ada hanya sifat kasar, dan sifat kasar ini akan sangat berdampak pada karakter anak didik kita terutama anak-anak kita, maka butuh kelemahlembutan sehingga menjadikan anak kita terbiasa tatkala sudah dewasa.

Dalam riwayat imam Ahmad dari Aisyah Radhiyallahu ‘anha bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepadanya,

 يَا عَائِشَةُ اُرْفُقِيْ ، فَإِنَّ اللهَ إِذَا أَرَادَ بِأَهْلِ بَيْتٍ خَيْرًا دَلَّهُمْ عَلَى الرِّفْقِ

“Wahai Aisyah! Bersikaplah lembut, karena sesungguhnya Allah jika menghendaki kebaikan pada suatu keluarga Allah akan memberikan petunjuk kepada mereka untuk bersikap lemah lembut.” (HR. Ahmad)

Sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ini umum, berlaku juga untuk kaum muslimin dan muslimat, berlaku untuk kita orang tua tatakala menjalankan proses tarbiyah kepada anak-anak kita. Mengapa kita harus bersikap lembut? Karena Allah Subhanahu wa Ta’ala jika menginginkan kebaikan ada dalam suatu keluarga maka Allah akan memberikan petunjuk kepada mereka agar mereka memiliki sifat lemah lembut, selaras dengan apa yang disampaikan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pada hadits diatas, maka sifat lemah lembut adalah salah satu tanda Allah Subhanahu wa Ta’ala menghendaki kebaikan kepada keluarga tersebut.

Disebutkan dalam riwayat yang lain,

إِذَا أَرَادَ اللهُ بِأَهْلِ بَيْتٍ خَيْرًا أَدْخَلَ عَلَيْهِمُ الرِّفْقَ

“Jika Allah menghendaki kebaikan pada suatu keluarga maka Allah akan memasukkan kelembutan dalam hati-hati mereka.” (HR. Ahmad)

Maka marilah kita senantiasa berdoa kepada Allah dan memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar Allah mengkaruniai kita sifat-sifat yang baik ini, agar Allah secara khusus memberikan kelembutan pada hati kita, istri kita, keluarga kita, karena dengan kelembutan tersebut Allah Subhanahu wa Ta’ala akan memberikan kebaikan pada diri kita, istri kita, anak kita, dan keluarga kita.

Pecinta Al Iman di mana pun anda berada rahimani wa rahimakumullah, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah panutan kita, disebutkan dalam surat Al-Fath ayat ke 29, Allah Subhanahu wa Ta’ala menjelaskan bagaimana sifat lembut atau kasih sayang yang ada pada diri Rasulullah dan juga orang-orang yang bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

مُّحَمَّدٞ رَّسُولُ ٱللَّهِۚ وَٱلَّذِينَ مَعَهُۥٓ أَشِدَّآءُ عَلَى ٱلۡكُفَّارِ رُحَمَآءُ بَيۡنَهُمۡۖ

“Muhammad adalah utusan Allah, dan orang-orang yang bersama dengan dia bersikap keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang dengan sesama mereka.” (QS. Al-Fath: 29)

Sifat lemah lembut atau kasih sayang adalah sifat dasar yang dimiliki Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan juga para sahabat yang mengikuti beliau.

Hati yang Penyayang

Pecinta Al Iman di mana pun anda berada rahimani wa rahimakumullah, selanjutnya sifat ke-3 yaitu hati yang penyayang. Tatkala seseorang memiliki sifat lembut maka akan menjadikan hatinya penyayang pula, berkaitan dengan hati yang penyayang terdapat hadits dari Abu Sulaiman Radhiyallahu ‘anhu ia berkata,

أَتَيْنَا رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَنَحْنُ شَبَبَةٌ مُتَقَارِبُونَ، فَأَقَمْنَا عِنْدَهُ عِشْرِينَ لَيْلَةً، وَكَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَحِيمًا رَفِيقًا، فَظَنَّ أَنَّنَا قَدِ اشْتَقْنَا إِلَى أَهْلِنَا، فَسَأَلَنَا عَمَّنْ تَرَكْنَاهُ فِي أَهْلِنَا، فَأَخْبَرْنَاهُ فَقَالَ: ارْجِعُوا إِلَى أَهْلِيكُمْ، فَأَقِيمُوا فِيْهُمْ، وَعَلِّمُوهُمْ، وَبِرٌّوْهُمْ، وَصَلُّوْا صَلَاةَ كَذَا فِي حِيْنَ كَذَا وصَلَاةَ كَذَا فِي حِيْنَ كذا، فإِذَا حَضَرَتِ الصَّلَاةُ، فَلْيُؤَذِّنْ أَحَدُكُمْ، وَلْيَؤُمَّكُمْ أَكْبَرُكُمْ.

“Kami mendatangi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan saat itu kami masih berusia muda yang sebaya, kemudian kami tinggal bersama beliau selama dua puluh malam, dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam itu adalah seorang yang penyayang lagi lemah lembut, maka beliau menyangka bahwa kami rindu kepada keluarga kami dan beliau bertanya kepada kami tentang keluarga yang kami tinggalkan,

maka kami pun mengabarkan kepadanya, lantas beliau pun berkata: “Pulanglah kalian kepada keluarga kalian dan menetaplah bersama mereka, ajarilah mereka, berbuat baiklah kepada mereka, dan sholatlah kalian sebagaimana sholat di waktu ini, dan sholat pada waktu yang sudah ada, dan apabila waktu sholat telah tiba maka hendaknya kumandangkanlah azan dan jadikanlah orang yang lebih tua diantara kalian sebagai imam.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dari hadits di atas terlihat bagaimana Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memiliki perhatian kepada anak-anak yang datang kepada beliau setelah 20 malam mereka belajar dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang hal yang berkaitan dengan syariat-syariat Islam dan sekaligus belajar bagaimana sikap perhatian dan kasih sayang Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

InsyaaAllah kita akan melanjutkan pada pertemuan berikutnya.

Wallahu Ta’ala a’lam.

Ustadz Dr. Maryono., M.Pd.I

ARTIKEL TERKAIT

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

spot_img