Daftar Isi
Sesungguhnya merupakan suatu kenikmatan dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang diberikan kepada seseorang muslim terutama mereka orang-orang yang beriman adalah teman atau persahabatan yang memiki visi misi yang sama dalam beragama, disebutkan didalam Firman Allah Ta’ala,
وَاذْكُرُوْا نِعْمَتَ اللّٰهِ عَلَيْكُمْ اِذْ كُنْتُمْ اَعْدَاۤءً فَاَلَّفَ بَيْنَ قُلُوْبِكُمْ فَاَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِه اِخْوَانًاۚ وَكُنْتُمْ عَلٰى شَفَا حُفْرَةٍ مِّنَ النَّارِ فَاَنْقَذَكُمْ مِّنْهَا ۗ كَذٰلِكَ يُبَيِّنُ اللّٰهُ لَكُمْ اٰيٰتِه لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُوْنَ
“Dan ingatlah nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu bermusuhan, lalu Allah mempersatukan hatimu sehingga dengan karunia-Nya kamu menjadi bersaudara. (Ingatlah pula ketika itu) kamu berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari sana. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu agar kamu mendapat petunjuk.” (QS. Ali-Imran:103)
Dalam ayat ini Allah Subhanahu Wa Ta’ala menjelaskan tentang kenikmatan dan karunia berupa hadirnya seorang teman yang baik bagi seorang muslim. Sudah sepantasnya seseorang untuk mensyukuri nikmat tersebut. Selain itu Allah Ta’ala juga menerangkan bagaimana seharusnya seorang yang beriman bermuamalah dengan saudaranya serta Allah Ta’ala menggambarkan hakikat sejati dari orang-orang yang beriman,
اِنَّمَا الْمُؤْمِنُوْنَ اِخْوَةٌ فَاَصْلِحُوْا بَيْنَ اَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللّٰهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَ
“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah kedua saudaramu (yang bertikai) dan bertakwalah kepada Allah agar kamu dirahmati.” (QS. Al-Hujurat:10)
Dan didalam ayat ini Allah Ta’ala menegaskan bahwa sesama muslim terutama orang beriman dan takwa kepada-Nya tidaklah saling dengki, membenci, atau merendahkan satu sama lain dalam urusan duniawi. Perlu dipahami bersama bahwa persaudaraan dan persahabatan di antara kaum muslimin adalah anugerah yang sangat mulia yang hanya Allah berikan kepada hamba-hamba yang Dia kehendaki. Oleh karena itu seorang muslim hendaknya menjaga hubungan baik ini dengan saudara-saudaranya seiman. Namun Tentunya semua ini telah diatur dalam syariat Allah Ta’ala. Dan ini termasuk adab-adab yang harus diperhatikan dalam berinteraksi sesama kaum muslimin.
Diantara adab yang perhatikan oleh muslim yang beriman adalah untuk senantiasa ikhlas didalam menjalin hubungan persaudaraan agar ditujukan hanya untuk menggapai ridha Allah semata. Justru bukan sebaliknya seseorang berteman hanya karna urusan dunia saja. Ada beberapa hal yang sudah seharusnya diperhatikan diantarnya adalah,
Senantiasa Berniat Ikhlas
Dalam menjalin pertemanan hanya untuk mencari ridha Allah semata. Sebagaimana disebutkan didalam hadits,
وَرَجُلَانِ تَحَابَّا فِي اللهِ اِجْتَمَعَا عَلَيْهِ وَتَفَرَّقَا عَلَيْهِ
“Dua orang yang saling mencintai di jalan Allah, keduanya berkumpul karena-Nya dan berpisah karena-Nya”. (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadist ini mengajarkan bahwa dalam menjalin persahabatan seseorang hendaknya melandasinya dengan keikhlasan semata-mata untuk mengharap ridha Allah Ta’ala tanpa disertai tujuan atau niat lain. Selain itu hendaknya juga mencintai saudara muslim lainnya karena Allah Ta’ala sebagaimana ini dijelaskan oleh Nabi Shalallahu Alaihi Wasallam,
ثَلَاثٌ مَنْ كُنَّ فِيْهِ وَجَدَ بِهِنَّ حَلَاوَةَ الْإِيْمَانِ، مَنْ كَانَ اللهُ وَرَسُوْلُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا وَأَنْ يُـحِبَّ الْمَرْءَ لَا يُحِبُّهُ إِلَّا لِلهِ، وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُوْدَ فِـي الْكُفْرِ بَعْدَ أَنْ أَنْقَذَهُ اللهُ مِنْهُ، كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِـي النَّارِ.
“Ada tiga perkara yang apabila perkara tersebut ada pada seseorang, maka dia akan mendapatkan manisnya iman, yaitu barangsiapa yang Allah dan Rasul-Nya lebih dia cintai dari selain keduanya, apabila ia mencintai seseorang, dia hanya mencintainya karena Allah. Dia benci untuk kembali kepada kekufuran setelah Allah menyelamatkannya sebagaimana dia benci untuk dilemparkan ke dalam Neraka.” (HR. Bukhari Dan Muslim)
Dan sudah sesogyanya seorang saling mencintai sesama muslim bukan karena orang tersebut memiliki harta yang banyak, jabatan yang lebih tinggi darinya dan yang lainnya namun saling mencintailah karena Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan bukan berteman dikarenakan ingin mencari keuntungan duniwai.
Selektif Dalam Memilih Teman Atau Sahabat
Sebagaimana ini dijelaskan dalam hadist Nabi Shalallahu Alaihi Wasallam yang memberikan contoh seorang yang berteman dengan penjual minyak wangi dan pandai besi,
مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالسَّوْءِ كَحَامِلِ الْمِسْكِ وَنَافِخِ الْكِيرِ ، فَحَامِلُ الْمِسْكِ إِمَّا أَنْ يُحْذِيَكَ ، وَإِمَّا أَنْ تَبْتَاعَ مِنْهُ ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيحًا طَيِّبَةً ، وَنَافِخُ الْكِيرِ إِمَّا أَنْ يُحْرِقَ ثِيَابَكَ ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ رِيحًا خَبِيثَة
“Permisalan teman yang baik dan teman yang buruk ibarat seorang penjual minyak wangi dan seorang pandai besi. Penjual minyak wangi mungkin akan memberimu minyak wangi, atau engkau bisa membeli minyak wangi darinya, dan kalaupun tidak, engkau tetap mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, bisa jadi (percikan apinya) mengenai pakaianmu, dan kalaupun tidak engkau tetap mendapatkan bau asapnya yang tak sedap.” (HR. Bukhari dan Muslim)
selain itu disebutkan dalam hadist yang lainnya yang mana agama seseorang itu tergantungan agama temannya,
المرء على دين خليله فلينظر أحدكم من يخالل
“Agama Seseorang sesuai dengan agama teman dekatnya. Hendaklah kalian melihat siapakah yang menjadi teman dekatnya.” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi)
Maka dari itu hendaknya sesoerang benar-benar selektif dalam dia mencari teman dekat bahkan dihadits yang lain,
لاَ تُصَاحِبْ إِلاَّ مُؤْمِنًا وَلاَ يَأْكُلْ طَعَامَكَ إِلاَّ تَقِيٌّ
“Janganlah engkau berteman kecuali dengan orang mukmin, dan janganlah memakan makananmu kecuali orang yang bertakwa.” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi)
Dan juga dijelaskan didalam firman Allah Ta’ala,
اَلْاَخِلَّاۤءُ يَوْمَىِٕذٍۢ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ اِلَّا الْمُتَّقِيْنَ
“Teman-teman akrab pada hari itu saling bermusuhan satu sama lain, kecuali orang-orang yang bertakwa.” (Az-Zukhruf:67)
Dan jika direnuningi bersama yang mana ini terjadi dikarenakan ketika di Dunia orang tersebut tidak saling menasehati didalam berteman, selalu cuek akan kesalahan yang dibuat oleh temannya maka hal inilah yang mejadi penyebab dari seseorang saling bermusuhan di Akhirat. Dan diakhirat yang tersisa hanyalah penyesalan akan apa kesalahan didalam memilih teman,
يٰوَيْلَتٰى لَيْتَنِيْ لَمْ اَتَّخِذْ فُلَانًا خَلِيْلًا
“Aduhai, celaka aku! Sekiranya (dahulu) aku tidak menjadikan si fulan sebagai teman setia.” (Al-Furqon:28)
Mengucapkan Salam Atau Menjawab Salam
Sebagaimana ini telah dijelaskan sebelumnya akan kewajiban menjawab salam sebagaimana firman Allah Ta’ala,
وَاِذَا حُيِّيْتُمْ بِتَحِيَّةٍ فَحَيُّوْا بِاَحْسَنَ مِنْهَآ اَوْ رُدُّوْهَا ۗ اِنَّ اللّٰهَ كَانَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ حَسِيْبًا
“Apabila kamu dihormati dengan suatu penghormatan (salam), balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik daripadanya atau balaslah dengan yang sepadan. Sesungguhnya Allah Maha Memperhitungkan segala sesuatu.” (An-Nisa:86)
Karena banyak dizaman sekarang yang mana saudaranya mengucapkan salam kepadanya namun dia tidak menjawabnya atau bahkan membelakanginya seakan-akan ada permusuhan diantara keduanya maka tentunya ini bukan termasuk didalam bagian akhlak seorang muslim yang diajarkan oleh Rasulallah. Dan mengucapkan salam merupakan hak dari hak-hak muslim terhadap muslim lainnya sebagaimana sabda Nabi shalallahu Alaihi Wasallam,
حَقُّ اَلْمُسْلِمِ عَلَى اَلْمُسْلِمِ سِتٌّ: إِذَا لَقِيتَهُ فَسَلِّمْ عَلَيْهِ, وَإِذَا دَعَاكَ فَأَجِبْهُ, وَإِذَا اِسْتَنْصَحَكَ فَانْصَحْهُ, وَإِذَا عَطَسَ فَحَمِدَ اَللَّهَ فَسَمِّتْهُ وَإِذَا مَرِضَ فَعُدْهُ, وَإِذَا مَاتَ فَاتْبَعْهُ
“Hak muslim kepada muslim yang lain ada enam.”Apabila engkau bertemu, ucapkanlah salam kepadanya; apabila engkau diundang, penuhilah undangannya; apabila engkau dimintai nasihat, berilah nasihat kepadanya; apabila dia bersin lalu dia memuji Allah (mengucapkan ’alhamdulillah’), doakanlah dia (dengan mengucapkan ’yarhamukallah’); apabila dia sakit, jenguklah dia; dan apabila dia meninggal dunia, iringilah jenazahnya (sampai ke pemakaman).” (HR. Muslim)

Mendoakan Seorang Muslim Ketika Bersin dan selain itu
Termasuk dari adab didalam bersahabat adalah ketika seseorang yang bersin maka hendaknya orang yang mendengarkan dia mengucapkan hamdalah maka dianjurkan untuk mengucapkan sebagaimana yang dijelskan oleh Nabi Shalallahu Alaihi Wasallam,
إِذَا عَطَسَ أَحَدُكُمْ فَحَمِدَ اللهَ: فَشَمِّتُوْهُ فِإِنْ لَمْ يَحْمَدِ اللهَ فَلاَ تُشَمِّتُوْهُ
“Jika salah seorang dari kalian bersin lalu mengucapkan alhamdulillah, maka hendaklah kalian mengucapkan tasymit (ucapan yarhamukallah) baginya, namun jika tidak, maka janganlah mengucapkan tasymit baginya.” (HR. Muslim)
Dan dianjurkan juga bagi seornag muslim mendoakan muslim yang lainnya tanpa sepengetahuannya yang mana ini dianjurkan Nabi Shalallahu Alaihi Wasallam,
مَا مِنْ عَبْدٍ مُسْلِمٍ يَدْعُو لِأَخِيهِ بِظَهْرِ الْغَيْبِ إِلَّا قَالَ الْمَلَكُ وَلَكَ بِمِثْلٍ
“Tidak ada seorang muslim pun yang mendoakan kebaikan bagi saudaranya (sesama muslim) tanpa sepengetahuannya, melainkan malaikat akan berkata, ‘Dan bagimu juga kebaikan yang sama.” (HR. Muslim)
Baca Juga : Adab Seorang Muslim dalam Berpakaian
Menjenguk Teman Yang Sakit Serta Menasehatinya
Ini merupakan sunnah Nabi Shalallahu Alaihi Wasallam yang banyak ditinggalkan oleh kaum muslimin, disebutkan didalam hadist Nabi,
إِذَا دَخَلَ عَلَى مَنْ يَعُوْدُ قَالَ: لاَ بَأْسَ طَهُوْرٌ إِنْ شَاءَ اللهُ
“Apabila seseorang mengunjungi orang yang sakit, maka berkata : Laa Ba’-sa Thahurun In Syaa Allah (tidak mengapa semoga sakitmu ini membuat dosamu bersih, insya Allah.” (HR. Bukhari)
Selain menjenguk, seorang Muslim juga dianjurkan untuk mendoakan kesembuhan bagi orang yang sedang sakit. Selain itu, termasuk adab dalam berteman adalah saling menasihati. Sayangnya, kedua hal ini sering dianggap remeh oleh sebagian masyarakat.
Tidak Menolak Pemberian Dari Seseorang Berupa Hadiah
sebagaimana sabda Nabi Shalallahu Alaihi Wasallam,
وَلاَ تَرُدُّوْاالْهَدِيَّةَ
“Janganlah engkau menolak hadiah” (Shahihul Adab: 117)
yang mana hal ini dapat melembutkan hati satu dengan yang lainnya dan ini juga termasuk perintah Nabi Shalallahu Alaihi Wasallam kepada para umatnya terutama bagi mereka yang sudah menikah,
تَهَادُوا تَحَابُّوا
“Hendaklah kalian saling memberi hadiah, Niscaya kalian akan saling mencintai” (HR. Bukhari)
Hadir Dan Menguatkan Teman Di Saat-Saat Sulitnya
Sebagaimana disebutkan didalam hadist Nabi Shalallahu Alaihi Wasallam,
الْمُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا
“Orang yang beriman dengan orang beriman yang lain seperti sebuah bangunan, sebagian menguatkan sebagian yang lain.” (HR Muslim)
Dan selain itu orang-orang yang beriman juga diibaratkan seperti anggota tubuh yang lainnya jika ada satu anggota tubuh yang merasakan sakit maka tentunya anggota tubuh yang lainnya juga merasakan sakitnya. Maka seperti inilah hendak seseorang menjalin persahabatan dengan muslim yang lainnya serta ikut serta jika teman atau sahabat kita mendapatkan hal yang membahagiakannya.
Tidak Merasa Iri Saat Melihat Saudaranya Mendapatkan Kebaikan Atau Rezeki
Sebagaimana sabda Nabi Shalallahu Alaihi Wasallam,
لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيْهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ
“Salah seorang di antara kalian tidaklah beriman (dengan iman sempurna) sampai dia mencintai saudaranya sebagaimana dia mencintai dirinya sendiri.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Inilah sifat orang yang beriman jika dia mendapat suatu hal yang membuatnya bahagia maka dia juga menginginkan kebaikan tersebut juga dimiliki oleh saudara lainnya, jika seseorang justru merasa iri terhadap kebaikan yang diperoleh orang lain, maka itu adalah tanda hasad, sebuah sifat yang dilarang oleh Nabi Shalallahu Alaihi Wasallam,
لا تحاسدوا ولا تَناجَشُوا ولا تباغضوا ولا تدابروا ولا يَبِعْ بَعْضُكُمْ عَلَى بَيْعِ بَعْضٍ,وكونوا عباد الله إخواناً. اَلْمُسْلِمُ أَخُو المسلمِ: لا يَظْلِمُهُ ولا يَخْذُلُهُ ولا يَكْذِبُهُ ولا يَحْقِرُهُ
“Janganlah kalian saling hasad, jangan saling melakukan najasy, jangan kalian saling membenci, jangan kalian saling membelakangi, jangan sebagian kalian membeli barang yang telah dibeli orang lain, dan jadilah kalian sebagai hamba-hamba Allah yang bersaudara. Seorang muslim adalah saudara muslim bagi lainnya. Karenanya, jangan dia menzaliminya, jangan menghinanya, jangan berdusta kepadanya, dan jangan merendahkannya.” (HR. Muslim)
Menutup Aib Yang Dimiliki Saudaranya
Selain menutup aib sendiri, hendaknya seseorang juga memiliki sifat agar tidak membuka dan membeberkan aib orang lain. Nabi Shalallahu Alaihi Wasallam bersabda,
لَا يَسْتُرُ عَبْدٌ عَبْدًا فِي الدُّنْيَا إِلَّا سَتَرَهُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
“Tidaklah seorang hamba menutupi aib orang lain di dunia, melainkan Allah akan menutupi aibnya di hari kiamat nanti.” (HR. Muslim)
Dan dihadits lainnya menjelaskan akan hal ini,
وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللَّهُ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ
“Barangsiapa menutupi aib seorang muslim, maka Allah akan menutup aibnya di dunia dan di akhirat.” (HR Muslim)
Dan yang dimaksud dengan Allah Ta’ala menutup Aibnya di Akhirat adalah orang tersebut telah mendapatkan ampunan dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
Saling Menolong Dalam Kebaikan
Nabi Shalallahu Alaihi Wasallam bersabda,
فَقَالَ رَجُلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَنْصُرُهُ إِذَا كَانَ مَظْلُومًا ، أَفَرَأَيْتَ إِذَا كَانَ ظَالِمًا كَيْفَ أَنْصُرُهُ قَالَ تَحْجُزُهُ أَوْ تَمْنَعُهُ مِنَ الظُّلْمِ ، فَإِنَّ ذَلِكَ نَصْرُهُ
“Kemudian ada seseorang bertanya tentang bagaimana cara menolong orang yang berbuat zalim? Beliau menjawab, “Kamu cegah dia dari berbuat zalim, maka sesungguhnya engkau telah menolongnya.” (HR. Bukhari Dan Muslim)
Senantiasa Jujur Dan Tidak Berdusta
عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِى إِلَى الْبِرِّ وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِى إِلَى الْجَنَّةِ وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَصْدُقُ وَيَتَحَرَّى الصِّدْقَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ صِدِّيقًا وَإِيَّاكُمْ وَالْكَذِبَ فَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِى إِلَى الْفُجُورِ وَإِنَّ الْفُجُورَ يَهْدِى إِلَى النَّارِ وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَكْذِبُ وَيَتَحَرَّى الْكَذِبَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ كَذَّابًا
“Hendaklah kalian senantiasa berlaku jujur, karena sesungguhnya kejujuran akan mengantarkan pada kebaikan dan sesungguhnya kebaikan akan mengantarkan pada surga. Jika seseorang senantiasa berlaku jujur dan berusaha untuk jujur, maka dia akan dicatat di sisi Allah sebagai orang yang jujur. Hati-hatilah kalian dari berbuat dusta, karena sesungguhnya dusta akan mengantarkan kepada kejahatan dan kejahatan akan mengantarkan pada neraka. Jika seseorang sukanya berdusta dan berupaya untuk berdusta, maka ia akan dicatat di sisi Allah sebagai pendusta.” (HR. Muslim)
Dan termasuk dari adab dalam berteman yang lainnya adalah senantiasa saling memaafkan jika terjadi kesalahan-kesalahan pada saudaranya. Dikarenakan manusia merupakan tempatnya salah sebagaimana sabda Nabi Shalallahu Alaihi Wasallam,
كُلُّ بَنِي آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ
“Semua anak Adam melakukan kesalahan dan sebaik-baik yang berbuat salah adalah yang bertaubat.” (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah dan Darimi)
Inilah beberapa adab yang sebaiknya dijaga dan diamalkan oleh seorang Muslim terhadap sesama Muslim, dengan tujuan untuk mempererat hubungan dan rasa keterikatan di antara mereka. Wallahu A’lam.



