Daftar Isi
Allah subhanahu wa ta’ala memerintahkan kepada kita untuk banyak berzikir kepada-Nya. Allah berfirman,
يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيۡنَ اٰمَنُوا اذۡكُرُوۡا اللّٰهَ ذِكۡرًا كَثِيۡرًا ۙ وَّ سَبِّحُوۡهُ بُكۡرَةً وَّاَصِيۡلًا
Wahai orang-orang yang beriman! Ingatlah kepada Allah, dengan mengingat (nama-Nya) sebanyak-banyaknya, dan bertasbihlah kepada-Nya pada waktu pagi dan petang. (Qs. Al-Ahzab: 41-42)
Allah subhanahu wa ta’ala memuji orang-orang yang berzikir kepada-Nya dengan zikir yang banyak dan menyiapkan bagi mereka ampunan dan pahala yang besar di sisi-Nya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,
وَالذّٰكِرِيۡنَ اللّٰهَ كَثِيۡرًا وَّ الذّٰكِرٰتِ ۙ اَعَدَّ اللّٰهُ لَهُمۡ مَّغۡفِرَةً وَّاَجۡرًا عَظِيۡمًا
“Dan orang-orang yang berzikir kepada Allah subhanahu wa ta’ala dari kalangan orang laki-laki dan kalangan orang perempuan dengan berzikir yang banyak, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.” (Qs. Al-Ahzab: 35)
Allah subhanahu wa ta’ala membandingkan zikir dengan dunia dan seisinya, maka zikir lebih baik daripada dunia dan seisinya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,
اَلۡمَالُ وَ الۡبَـنُوۡنَ زِيۡنَةُ الۡحَيٰوةِ الدُّنۡيَا ۚ وَالۡبٰقِيٰتُ الصّٰلِحٰتُ خَيۡرٌ عِنۡدَ رَبِّكَ ثَوَابًا وَّخَيۡرٌ اَمَلًا
“Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amal kebajikan yang terus menerus adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan.” (Qs. Al-Kahfi: 46)
Abdullah Ibnu Abbas menjelaskan, al-baqiyatus shalihat adalah zikir kepada Allah. Al-Baqiyatus shalihat adalah ucapan kita subhanallah, alhamdulillah, laahaillallah, Allahu akbar. Begitu pula Utsman Ibnu Affan menjelaskan bahwa Al-Baqiyatus shalihat adalah subhanallah, alhamdulillah, laahaillallah, allahu akbar. Tidak cukup di situ saja, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan di dalam sebuah hadist,
سَبَقَ المُفَرِّدُونَ
“Orang-orang mufarridun itu telah mendahului kita”
قالوا : وَمَا المُفَرِّدُونَ يَا رسولَ الله ؟
Lalu para sahabat bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Siapakah yang dimaksud dengan mufarridun itu ya Rasululah?”
قَالَ: الذَّاكِرُونَ اللهَ كثيراً والذَّاكِرَاتِ
Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun menjawab, “Laki-laki dan perempuan yang banyak berzikir kepada Allah.” (HR. Muslim)
Orang-orang yang mufarridun adalah orang-orang yang banyak berzikir kepada Allah subhanahu wa ta’ala, baik laki-laki maupun perempuan. Rasulullahu shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan perumpamaan orang-orang yang berzikir kepada-Nya dengan orang-orang yang tidak berzikir kepada-Nya, dalam sebuah hadist beliau bersabda,
مَثَلُ الَّذِي يَذْكُرُ رَبَّهُ وَالَّذِي لاَ يَذْكُرُهُ مَثَلُ الحَيِّ وَالمَيِّتِ
“Perumpamaan orang yang berzikir (mengingat) Rabbnya dan yang tidak bagaikan orang yang hidup dan orang yang mati.” (HR. Bukhari)
Tidaklah sesuatu itu diperintahkan dan dipuji-puji oleh Allah subhanahu wa ta’ala kecuali hal tersebut bermanfaat bagi orang-orang yang beriman.

Para ulama menyebutkan beberapa keutamaan berzikir kepada Allah, di antaranya adalah:
1. Zikir Sebagai Tameng Seorang Muslim
Diantara keutamaan zikir kepada Allah adalah zikir merupakan Wija’ (Benteng/tameng) seorang hamba dari setan. Di dalam sebuah hadis, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
وَآمُرُكُمْ أَنْ تَذْكُرُوا اللَّهَ فَإِنَّ مَثَلَ ذَلِكَ كَمَثَلِ رَجُلٍ خَرَجَ الْعَدُوُّ فِى أَثَرِهِ سِرَاعًا حَتَّى إِذَا أَتَى عَلَى حِصْنٍ حَصِينٍ فَأَحْرَزَ نَفْسَهُ مِنْهُمْ كَذَلِكَ الْعَبْدُ لاَ يُحْرِزُ نَفْسَهُ مِنَ الشَّيْطَانِ إِلاَّ بِذِكْرِ اللَّهِ
“Aku perintahkan kalian untuk banyak berzikir kepada Allah. Perumpamaan dzikrullah seperti orang yang mendadak diserang musuhnya dari belakang, kemudian orang ini mencari benteng untuk melindungi dirinya dari serangan mereka. Seperti itulah seorang hamba, dia tidak bisa melindungi dirinya dari serangan setan kecuali dengan dzikrullah.” (HR. Tirmidzi)
Ibnul Qoyim menjelaskan hadis ini dalam kitabnya,
فلو لم يكن في الذكر إلا هذه الخصلة الواحدة لكان حقيقا بالعبد أن لا يفتر لسانه من ذكر الله تعالى وأن لا يزال لهجا بذكره فإنه لا يحرز نفسه من عدوه إلا بالذكر ولا يدخل عليه العدو إلا من باب الغفلة فهو يرصده فإذا غفل وثب عليه وافترسه
“Andai tidak ada manfaat zikir selain satu hal ini, maka itu sudah cukup menjadi alasan bagi hamba untuk tidak menghentikan lisannya dari dzikrullah, dan agar selalu basah dengan dzikrullah. Karena hamba tidak bisa melindungi dirinya dari musuh kecuali dengan zikir. Dan musuh tidak punya kesempatan menyerang selain dari pintu kelalaian. Sehingga musuh selalu mengintai, ketika orangnya lalai, musuh akan langsung menyerang.” (Al-Wabil asy-Syayib).
Karena itu, Allah menyebut gangguan setan dalam hati sebagai was-was khannas. Allah berfirman,
مِنْ شَرِّ الْوَسْوَاسِ الْخَنَّاسِ . الَّذِي يُوَسْوِسُ فِي صُدُورِ النَّاسِ
“Dari kejahatan was-was khannas. Yang membisikkan di dada manusia.” (Qs. an-Nas: 4-5)
Disebut khannas karena kata turunannya adalah inkhanasa yang artinya bersembunyi. Karena dia bersembunyi di balik hati manusia. Dia muncul ketika orangnya lalai, kemudian dia membisikkan kejahatan. Ketika sang hamba berzikir, setan bersembunyi.
Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma mengatakan,
الشيطان جاثم على قلب أبن آدم فإذا سها وغفل وسوس فإذا ذكر الله تعالى خنس
“Setan itu menyelinap di hati manusia. Ketika dia lupa dan lalai, setan akan melakukan bisikan was-was. Ketika manusia mengingat Allah – Ta’ala – maka setan akan bersembunyi.” (Tafsir Ibnu Katsir)
Dalam sebuah hadist dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi was sallam bersabda,
مَنْ قَالَ لا إلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَريكَ لَهُ ، لَهُ المُلْكُ وَلَهُ الحَمْدُ ؛ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ ، في يَوْمٍ مِئَةَ مَرَّةٍ كَانَتْ لَهُ عَدْلَ عَشْرِ رِقَابٍ وكُتِبَتْ لَهُ مِئَةُ حَسَنَةٍ ، وَمُحِيَتْ عَنْهُ مِئَةُ سَيِّئَةٍ ، وَكَانَتْ لَهُ حِرْزاً مِنَ الشَّيْطَانِ يَوْمَهُ ذَلِكَ حَتَّى يُمْسِي ، وَلَمْ يَأتِ أَحَدٌ بِأَفْضَلَ مِمَّا جَاءَ بِهِ إِلاَّ رَجُلٌ عَمِلَ أكْثَرَ مِنْهُ
“Barangsiapa mengucapkan ‘Laa Ilaha Illallah Wahdahu Laa Syarika Lah Lahul Mulku Wa Lahul Hamdu Wa Huwa ‘Ala Kulli Syai’in Qodir’ (Tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya, milik-Nya segala kekuasaan dan bagi-Nya segala pujian, dan Dialah Yang Mahakuasa atas segala sesuatunya) dalam sehari seratus kali, itu sama pahalanya dengan membebaskan sepuluh hamba sahaya dan dituliskan untuknya seratus kebaikan, serta dihapuskan dari dirinya seratus kejelekan (dosa). Zikir itu juga penjaga dirinya dari gangguan setan pada hari itu sampai sorenya. Dan tidak ada seorang pun yang datang membawa amal yang lebih baik daripada yang ia bawa, kecuali ada orang yang beramal lebih banyak daripada dirinya.” (HR. An-Nasa’i)
Bagaimana kita merasa aman dari godaan dan tipu daya setan sedangkan mereka telah berjanji kepada Allah subhanahu wa ta’ala,
قَالَ فَبِمَا أَغْوَيْتَنِي لَأَقْعُدَنَّ لَهُمْ صِرَاطَكَ الْمُسْتَقِيمَ﴿١٦﴾ثُمَّ لَآتِيَنَّهُمْ مِنْ بَيْنِ أَيْدِيهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ وَعَنْ أَيْمَانِهِمْ وَعَنْ شَمَائِلِهِمْ وَلَا تَجِدُ أَكْثَرَهُمْ شَاكِرِينَ
“Iblis menjawab, ‘Karena Engkau telah menghukumku tersesat, maka saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan-Mu yang lurus, kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur.” (Qs. Al-A’râf: 16-17)
Tidak ada perlindungan bagi kita dari setan kecuali berzikir kepada Allah subhanahu wa ta’ala.
2. Zikir Untuk Mendapat Ketenangan Hati
Dengan berzikir kepada Allah subhanahu wa ta’ala seseorang akan mendapatkan ketenangan hati, Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,
اَلَّذِيۡنَ اٰمَنُوۡا وَتَطۡمَٮِٕنُّ قُلُوۡبُهُمۡ بِذِكۡرِ اللّٰهِ ؕ اَلَا بِذِكۡرِ اللّٰهِ تَطۡمَٮِٕنُّ الۡقُلُوۡبُ
“(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (Qs. Ar-Ra’d: 28)
Dijelaskan oleh para ulama tafsir bahwa orang yang berzikir kepada Allah hatinya akan merasa tenang dari segala gangguan.
Dari Anas bin Malik, Nabi shallallahu ‘‘alaihi wa sallam bersabda,
إِذَا خَرَجَ الرَّجُلُ مِنْ بَيْتِهِ فَقَالَ بِسْمِ اللَّهِ تَوَكَّلْتُ عَلَى اللَّهِ لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللَّهِ قَالَ يُقَالُ حِينَئِذٍ هُدِيتَ وَكُفِيتَ وَوُقِيتَ فَتَتَنَحَّى لَهُ الشَّيَاطِينُ فَيَقُولُ لَهُ شَيْطَانٌ آخَرُ كَيْفَ لَكَ بِرَجُلٍ قَدْ هُدِىَ وَكُفِىَ وَوُقِىَ
“Jika seseorang keluar rumah, lalu dia mengucapkan “Bismillahi tawakkaltu ‘alallah, laa hawla wa laa quwwata illa billah” (Dengan nama Allah, aku bertawakkal kepada Allah, tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan-Nya), maka dikatakan ketika itu: “Engkau akan diberi petunjuk, dicukupkan dan dijaga”. Setan pun akan menyingkir darinya. Setan yang lain akan mengatakan: “Bagaimana mungkin engkau bisa mengganggu seseorang yang telah mendapatkan petunjuk, kecukupan dan penjagaan?!” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi)
Hendaknya kita menjadi orang-orang yang mufarridun, yaitu orang yang memperbanyak zikir kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

3. Zikir Meringankan Sesuatu yang Terasa Berat
Di antara keutamaan berzikir kepada Allah subhanahu wa ta’ala adalah zikir merupakan bekal kita untuk beribadah kepada Allah. Berzikir kepada Allah subhanahu wa ta’ala membuat kita semangat untuk menjalankan peribadatan kita. Sebanyak apapun syariat yang kita jalankan, seberat apapun syariat itu kita rasakan, ketika kita berzikir kepada Allah subhanahu wa ta’ala, niscaya semua syariat tersebut akan ringan di dalam hati kita tatkala kita melaksanakannya.
Dalam sebuah hadits dari ‘Abdullah bin Busr radhiyallahu ‘anhu bahwa ada seorang lelaki berkata,
يَا رَسُوْلَ اللهِ ، إِنَّ شَرَائِعَ الإِسْلاَمِ قَدْ كَثُرَتْ عَليَّ ، فَأَخْبِرْنِي بِشَيْءٍ أَتَشَبْثُ بِهِ قَالَ: لاَ يَزالُ لِسَانُكَ رَطْباً مِنْ ذِكْرِ اللهِ
“Wahai Rasulullah, sesungguhnya syariat Islam ini telah banyak bagiku, maka beritahulah kepadaku sesuatu yang bisa aku pegang selalu.” Beliau menjawab, “Hendaklah lisanmu selalu basah karena berzikir kepada Allah.” (HR. Tirmidzi)
Maka tatkala ada seseorang yang merasa berat menjalankan syariat Islam yang Paripurna ini, hendaknya dia berzikir kepada Allah, Kenapa??! karena dengan memperbanyak zikir kepada Allah akan menimbulkan kecintaan kepada Allah, dengan berzikir kepada Allah maka akan semakin ia mengagungkan Allah subhanahu wa ta’ala dan apabila orang tersebut mencintai Allah, maka tidak ada sesuatu yang berat pada dirinya dalam menjalankan syariat yang telah dibebankan kepadanya.
Sebagai seorang Muslim, zikir bukan hanya sekadar amalan lisan, tetapi juga bentuk kesadaran hati dalam mengingat Allah di setiap waktu dan keadaan. Dengan berzikir, seorang hamba senantiasa mendapatkan ketenangan, perlindungan dari godaan setan, serta keberkahan dalam hidupnya. Rasulullah telah mencontohkan betapa pentingnya zikir dalam menjaga keimanan dan ketakwaan. Oleh karena itu, sudah sepatutnya kita membiasakan diri untuk selalu berzikir, menjadikannya bagian dari rutinitas harian, dan merasakan manfaat besarnya dalam kehidupan dunia maupun akhirat.
Baca Juga: Mendulang Pahala Di Balik Musibah



