Nabi kita yang mulia Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda,
إِنَّ عِظَمَ الْجَزَاءِ مَعَ عِظَمِ الْبَلَاءِ وَإِنَّ اللَّهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلَاهُمْ فَمَنْ رَضِيَ فَلَهُ الرِّضَا وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السُّخْطُ
“Sesungguhnya besarnya pahala itu sesuai dengan besarnya cobaan. Dan sesungguhnya apabila Allah mencintai sebuah kaum niscaya Allah akan memberikan cobaan kepada mereka. Maka barangsiapa yang ridha (dengan ketetapan Allah –pent), maka Allah akan ridha kepadanya. Dan barangsiapa yang tidak ridha, maka Allahpun tidak akan ridha kepadanya.” [HR. At-Turmudzi, no. 2320 dan Ibnu Majah, no. 4021 dengan sanad yang hasan].
Hadis ini menunjukkan kepada kita bahwasannya ujian ataupun bala’ merupakan salah satu tanda Allah mencintai hamba-Nya. Sebagai seorang hamba yang beriman, maka kita harus mengubah cara pandang kita tentang musibah, jangan sampai kita menganggap bahwasannya ujian yang menimpa kita adalah tanda kesialan atau perkara yang buruk dan jelek bagi bagi kita. Karena jika Allah Ta’ala mencintai seorang hamba, maka Allah akan mengujinya, yang dengan ujian ini Allah Ta’ala akan mengangkat derajat hamba tersebut lebih tinggi di akhirat kelak. Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda,
إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا سَبَقَتْ لَهُ مِنْ اللَّهِ مَنْزِلَةٌ لَمْ يَبْلُغْهَا بِعَمَلِهِ ابْتَلَاهُ اللَّهُ فِي جَسَدِهِ أَوْ فِي مَالِهِ أَوْ فِي وَلَدِهِ قَالَ أَبُو دَاوُد زَادَ ابْنُ نُفَيْلٍ ثُمَّ صَبَّرَهُ عَلَى ذَلِكَ ثُمَّ اتَّفَقَا حَتَّى يُبْلِغَهُ الْمَنْزِلَةَ الَّتِي سَبَقَتْ لَهُ مِنْ اللَّهِ تَعَالَى
“Sesungguhnya seorang hamba, apabila pernah memiliki kedudukan dari Allah, yang tidak ia peroleh dengan amalannya maka Allah mengujinya pada jasadnya, harta, atau pada anaknya.” Abu Daud berkata; kemudian Ibnu Nufail menambahkan; kemudian Allah memberikan kesabaran atas hal tersebut. -kemudian keduanya lafazhnya sama-: “Hingga Allah menyampaikannya kepada kedudukan yang dahulu ia peroleh dari Allah ta'ala.” [HR Abu Daud]

Hadis yang kita sampaikan di awal membuktikan kepada kita bahwa besarnya ganjaran sesuai dengan ujian dan bala’ dan yang diminta dari kita adalah bersabar atas ujian dan bala’ tersebut. Seorang ulama salaf pernah berkata,
أن المرء لا يؤجر على المصيبة لأنها ليست من صنعه، وإنما يؤجر على حسن تثبته وجميل صبره
“Seseorang tidak akan diganjar karena musibah yang menimpanya karena musibah itu bukan perbuatannya, akan tetapi ia akan diganjar karena ketabahannya dan keelokan rasa sabarnya”
Oleh karena itu, sebagai seorang hamba yang tidak terlepas dari yang namanya ujian, hendaknya kita jadikan sebagai ladang bercocok tanam pahala untuk kita tuai di akhirat. Maka siapa yang yang ridho dengan musibah Allah Ta’ala maka Allah akan ridho padanya. Tidaklah musibah itu menimpa seorang hamba ditimpa sebuah musibah, maka yakinlah bahwa musibah tersebut sudah tercatat di buku takdirnya Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
Dan yang terakhir kaum muslimin, jangan sampai kita menjadi orang yang apabila ditimpa musibah justru berprasangka buruk kepada Allah Ta’ala, karena musibah tersebut akan mengangkat derajat kita di akhirat.
Ustadz Hermawan, Lc., M.Pd
Baca Juga : ADAB KETIKA TERTIMPA MUSIBAH DAN KESEDIHAN



