Indonesia saat ini kekurangan guru bimbingan dan konseling (BK) untuk imbangi perubahan perilaku siswa.
Hal ini disampaikan Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) di Jakarta, Senin (19/08/2024).
Deputi Bidang Koordinasi Peningkatan Kualitas Pendidikan dan Moderasi Beragama Kemenko PMK, Warsito mengatakan guru BK berperan vital dalam proses belajar mengajar karena memiliki kepekaan lebih tinggi untuk mendeteksi perubahan perilaku yang dialami peserta didiknya.

“Sesuai kompetensi sesuai substansinya, guru-guru BK memiliki kompetensi sejak awal sehingga memiliki kepekaan untuk mendeteksi perubahan perilaku,” kata Warsito dilansir Antara.
Berdasarkan laporan Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia (PBABKIN) pada tahun 2023, kebutuhan guru BK di Indonesia mencapai 242 ribu orang.
Baca juga: Sebanyak 197.054 Anak di Indonesia Terlibat Judi Online
Sedangkan jumlah guru BK di Indonesia saat ini hanya 58 ribu orang, baik berstatus Pegawai Negeri Sipil (PNS) maupun non-PNS.
Sementara berdasarkan data Kemendikbudristek, jumlah siswa di Indonesia mulai jenjang SD, SMP, SMA, dan SMK mencapai 45 juta orang.
Sebagai alternatif, kata Warsito, pengajar mata pelajaran perlu diberikan pelatihan agar bisa mengerti dan memahami psikologis anak. Langkah ini sekaligus menutup kekurangan BK di sekolah.

Selain itu, pemerintah daerah atau instansi Pendidikan setempat juga bisa bekerja sama dengan organisasi psikologis di daerah masing-masing.
Ia berharap dengan mengerti psikologis peserta didik, anak-anak yang menjadi korban perundungan atau kekerasan bisa berbicara sehingga permasalahannya bisa ditindaklanjuti.
“Kita juga ingin petugas kebersihan dan kantin menjadi keluarga besar di satuan Pendidikan dalam Upaya pencegahan kekerasan dan perundungan. Tanggung jawab pengasuhan adalah mereka yang terlibat dalam keluarga besar di satuan Pendidikan,” tutupnya.
Baca juga: Wali Kota Surabaya Larang Segala Bentuk Pungutan di Sekolah
(frd)



