Daftar Isi
Di antara nikmat dari sekian banyak nikmat yang Allah berikan kepada kita adalah nikmat ilmu. Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:
وَمِنْهُمْ مَّنْ يَّقُوْلُ رَبَّنَاۤ اٰتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً
“Dan di antara mereka ada yang berdoa, ‘Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia …'” (QS. Al-Baqarah: 201)
Hasan Al-Bashri mengatakan, termasuk kebaikan di dunia adalah ilmu yang bermanfaat atau ilmu syar’i. Kemudian juga disebutkan oleh nabi kita Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Beliau menyampaikan:
وَمَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ
“Siapa yang menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim)
Kemudian Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam juga mengabarkan:
وَإِنَّ الْمَلاَئِكَةَ لَتَضَعُ أَجْنِحَتَهَا رِضًا لِطَالِبِ الْعِلْمِ
“Sesungguhnya malaikat meletakkan sayapnya sebagai tanda ridha pada penuntut ilmu.” (HR. Abu Daud dan Ibnu Majah)
Dengan ilmu syar’i, ilmu yang bersumber dari Al-Qur'an dan Sunnah sesuai dengan pemahaman para salaf atau para sahabat, kita bisa membedakan mana yang tauhid dan mana yang syirik. Dengan ilmu syar’i kita bisa membedakan mana yang sunnah dan mana yang bid’ah. Dengan ilmu syar’i kita bisa membedakan mana yang halal dan mana yang haram. Maka merupakan nikmat yang sangat agung yang wajib kita ingat dan wajib kita syukuri adalah nikmat ilmu yang Allah berikan dan ajarkan kepada kita.
Setelah kita mengingat dan kita mengetahui tentang keutamaan-keutamaan ilmu syar’i, maka tentunya kita juga perlu mengingat bahwasanya ilmu terbagi menjadi dua macam, yaitu ilmu yang bermanfaat dan ilmu yang tidak bermanfaat. Dalam hal ini ada sebuah hadis dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Beliau bersabda:
سَلوا اللهَ علمًا نافعًا وتعوَّذوا باللهِ من علمٍ لا ينفَعُ
“Mintalah kalian kepada Allah ilmu yang bermanfaat dan berlindunglah kalian kepada Allah dari ilmu yang tidak bermanfaat.” (HR. Ibnu Majah)
Ini merupakan perintah dari beliau Shallallahu ‘Alaihi Wasallam agar kita selalu memohon dan berdoa kepada Allah ilmu yang bermanfaat, dan hendaknya kita juga berlindung kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala dari ilmu-ilmu yang tidak bermanfaat.
Ketika Nabi perintahkan kita semuanya minta kepada Allah ilmu yang bermanfaat dan Nabi perintahkan agar kita berlindung kepada Allah dari ilmu yang tidak bermanfaat, maka Nabi juga memberikan contoh, yaitu beliau pernah berdoa:
اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ عِلْمٍ لاَ يَنْفَعُ
“Ya Allah, sungguh aku memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat dan aku meminta perlindungan pada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat.” (HR. Ibnu Majah dan Ahmad)
Jadi Nabi perintahkan dan juga Nabi berikan contoh dan teladan bagi kita semuanya. Oleh karena itu, hendaknya kita menyediakan waktu, khususnya di waktu-waktu yang mustajab. Kita meminta kepada Allah dengan serius dan penuh kesungguhan agar Allah memberikan kita tambahan ilmu yang bermanfaat, dan kita juga berdoa meminta perlindungan kepada Allah dari ilmu yang tidak bermanfaat.
Baca juga : Adab-adab Berdoa
Di dalam hadis yang lain Rasul Shallallahu ‘Alaihi Wasallam juga menyampaikan:
وَالقُرْاَنُ حُجَّةٌ لَكَ أَوْ عَلَيْكَ
“Al-Qur’an itu bisa menjadi pembelamu atau musuh bagimu.” (HR. Muslim)
Kalau Al-Qur’an ini kita baca, pelajari, dan kita amalkan, maka Al-Qur’an akan menjadi pembela kita di hari kiamat. Namun kalau Al-Qur’an ini kita sekedar baca dan kita tidak mau memahaminya dan mengamalkannya, maka Al-Qur’an akan menjadi bumerang bagi kita di hari kiamat kelak.

Yang menjadi pertanyaannya sekarang adalah apa tanda-tanda dari ilmu yang bermanfaat? Disebutkan dalam sebuah buku Fadlu Ilmi Salaf ‘Ala Khalaf, yaitu keutamaan ilmu para salaf terhadap para pembelakangnya. Di antara tanda-tanda ilmu yang bermanfaat adalah:
1. Tidak menganggap dirinya mempunyai kedudukan yang tinggi
Orang yang bermanfaat ilmunya, tidak menganggap dirinya mempunyai keadaan atau kedudukan yang tinggi, hati mereka membenci pujian dari manusia. Orang-orang yang diberikan oleh Allah ilmu yang bermanfaat, maka mereka menganggap dirinya tidak merasa tinggi di hadapan orang lain. Dia memiliki sifat rendah hati dan dia menjauhi pujian-pujian tersebut. Dia lari dari pujian dan ketenaran.
2. Tidak menganggap dirinya suci
Dalam hal ini Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan:
فَلَا تُزَكُّوٓا۟ أَنفُسَكُمْ ۖ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ ٱتَّقَىٰٓ
“Maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci, Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa.” (QS. An-Najm: 32)
Maka ketika kita belajar ilmu, kita datang ke pengajian, kita baca kitab, kita menyimak muhadhoroh, maka jangan merasa diri kita sudah bersih dari dosa. Kita menganggap diri kita suci, jangan demikian. Justru kita semakin sadar dengan tambahnya ilmu dan usia, maka dosa-dosa itu masih kita punya. Dan hendaknya kita berbenah diri dengan terus bertobat memohon ampun kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
3. Senantiasa bertambah sifat rendah hati, tawadhu, dan rasa takutnya kepada Allah
Orang-orang yang ilmunya bermanfaat, apabila ilmunya bertambah maka bertambah pula sifat rendah hatinya, tawadhu-nya, dan juga rasa takutnya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ini ciri-ciri orang yang diberikan oleh Allah ilmu yang bermanfaat: semakin bertambah ilmunya, semakin dia memiliki rasa takut dan pengagungan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
اِنَّمَا يَخۡشَى اللّٰهَ مِنۡ عِبَادِهِ الۡعُلَمٰٓؤُا
“Sesungguhnya orang-orang yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya adalah para ahli ilmu.” (QS. Fathir: 28)
Oleh karenanya, ketika kita menuntut ilmu syar’i dari kecil, pertanyaannya adalah sudahkah kita semakin bertambah rasa takut kita kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala? Sudahkah ilmu yang kita pelajari mengantarkan kita untuk mengamalkan ibadah-ibadah yang wajib? kemudian ibadah-ibadah yang sunnah? Sudahkah ilmu yang kita pelajari mengantarkan kita untuk meninggalkan perkara-perkara yang haram dan juga perkara-perkara yang makruh? Karena apa manfaatnya kalau kita belajar ilmu, kemudian kita tahu ini diwajibkan oleh Allah, ini diwajibkan oleh Rasul, kemudian kita meninggalkan kewajiban tersebut? Apa manfaatnya kita belajar?
Kemudian, apa manfaatnya kalau kita belajar dan memiliki banyak ilmu juga punya gelar, ternyata kita tahu ini haram dan masih kita langgar, maka ilmu akan menjadi bumerang bagi kita di hari kiamat.
4. Ilmu yang bermanfaat mengajak pemiliknya lari dari dunia
Kemudian kata para ulama, di antara ciri-ciri orang yang diberikan ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang bermanfaat mengajak pemiliknya lari dari dunia. Yang paling besar adalah fitnah kedudukan, ketenaran, dan pujian. Orang-orang yang diberikan oleh Allah ilmu yang bermanfaat, maka orang ini akan berusaha lari dari kedudukan, ketenaran, ataupun pujian. Seandainya orang ini diberikan kedudukan atau ketenaran, maka itu bukan keinginan dari dirinya. Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan hal itu bukan dari keinginan dari si hamba ini, tapi murni Allah berikan kepada si hamba ini pujian-pujian dari makhluk-makhluk-Nya.
5. Tidak mengaku memiliki ilmu
Orang yang memiliki ilmu yang bermanfaat, dia tidak mengaku memiliki ilmu dan tidak berbangga dengannya terhadap seseorang pun. Ia tidak menisbatkan kebodohan kepada seorang pun kecuali seseorang yang jelas-jelas menyelisihi sunnah Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam atau menyelisihi pokok-pokok ajaran ahlussunnah wal jamaah. Ia marah kepada orang-orang yang menyelisihi sunnah bukan karena pribadinya, tapi dia marah karena Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Inilah beberapa hal yang termasuk di antara ciri-ciri seseorang yang diberikan ilmu yang bermanfaat sebagaimana disebutkan oleh para ulama di dalam kitab Fadlu Ilm Salaf ‘Ala Ilmi Khalaf. Marilah kita lihat diri kita masing-masing, sudahkah tanda-tanda ilmu yang bermanfaat itu ada pada diri kita atau belum. Seandainya belum, maka kita introspeksi dan evaluasi diri kita. Mudah-mudahan ilmu yang kita pelajari selama ini, khususnya ilmu syar’i, adalah betul-betul ilmu yang bermanfaat, yang mendatangkan pahala di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Di antara bentuk kemuliaan ilmu syar’i adalah bahwasannya Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam untuk meminta tambahan, yaitu tambahan ilmu:
وَقُلْ رَّبِّ زِدۡنِىۡ عِلۡمًا
“Dan katakan, ‘Wahai Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu.’” (QS. Taha: 112)
Dan begitulah, ketika kita setiap pagi setelah selesai salat Subuh, kita juga diajarkan oleh Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam:
اللَّهُمَّ إنِّي أَسْأَلُكَ عِلْماً نَافِعاً وَرِزْقاً طَيِّباً وعَمَلاً مُتَقَبَّلاً
“Ya Allah, aku memohon kepada Engkau ilmu yang bermanfaat, rezeki yang halal, dan amal saleh yang diterima.”
Sebelum Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam meminta kepada Allah rezeki dan amalan yang diterima, beliau meminta ilmu. Karena ilmu adalah landasan, ilmu adalah pondasi. Dengan ilmu, kita tahu rezeki yang haram dan rezeki yang halal. Dengan ilmu, kita tahu mana amalan-amalan yang dicontohkan oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan mana amalan yang tidak pernah dicontohkan oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.
Maka, ilmu adalah segala sumber kebaikan. Oleh karenanya, kita semangati diri kita, kita semangati istri kita, dan anak-anak kita untuk terus belajar agama, terus menuntut ilmu syar’i, apalagi di zaman kita yang sangat dimudahkan untuk menimba ilmu dengan cara online atau dengan cara offline, mana yang mudah bagi kita. Maka, jangan kita pernah meninggalkan majelis ilmu, majelis zikir yang disampaikan oleh asatidzah sesuai dengan pemahaman para sahabat atau para salaf.
Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala mengaruniakan kepada kita ilmu yang bermanfaat, dan semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala melindungi kita serta menjauhkan kita dari segala macam ilmu yang tidak bermanfaat.
Ustadz Budi Santoso, Lc., M.Pd.
Baca Juga : Ilmu Sebelum Beramal



