spot_img
BerandaAqidah dan ManhajMetode Ahlussunnah dalam Menetapkan Permasalahan Akidah

Metode Ahlussunnah dalam Menetapkan Permasalahan Akidah

Di tengah zaman yang penuh perdebatan tentang agama dan akidah, banyak manusia kebingungan dalam menentukan jalan yang benar. Sebagian lebih mengedepankan logika, sebagian mengikuti perasaan, bahkan ada yang menjadikan tokoh, mimpi, atau pengalaman pribadi sebagai sumber kebenaran.

Padahal, Ahlussunnah wal Jamaah telah mewariskan metode yang jelas dan lurus berpegang teguh pada Al-Qur’an dan Sunnah, sebagaimana dipahami oleh para sahabat Nabi ﷺ. Inilah manhaj yang menjaga kemurnian iman dari penyimpangan.

Prinsip-Prinsip Ahlussunnah dalam Akidah

Ahlussunnah memiliki landasan yang kokoh dalam menetapkan akidah, yang membedakan mereka dari kelompok bid’ah dan kesesatan.

1. Beriman, Tunduk, dan Mengagungkan Al-Qur’an dan Sunnah

Ahlussunnah meyakini bahwa wahyu adalah sumber utama dalam agama. Seorang mukmin wajib tunduk sepenuhnya kepada keputusan Allah dan Rasul-Nya.

Allah Ta’ala berfirman:

“Tidaklah pantas bagi laki-laki mukmin dan perempuan mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, masih ada pilihan lain bagi mereka.”
(QS. Al-Ahzab: 36)

“Kami mendengar dan kami taat.” (QS. An-Nur: 51)

Prinsip ini berbeda dengan ahlul bid’ah yang menerima sebagian dalil namun menolak sebagian lainnya karena hawa nafsu atau ketidaktahuan.

2. Mengumpulkan Seluruh Dalil dalam Satu Pembahasan

Ahlussunnah tidak memahami agama dengan mengambil satu dalil lalu meninggalkan dalil lainnya. Mereka mengumpulkan seluruh nash dalam satu tema, kemudian memahaminya secara utuh dan selaras.

Berbeda dengan kelompok menyimpang yang:

  • Mengambil satu dalil
  • Mengabaikan dalil lain
  • Lalu menyimpulkan dengan pemahaman yang keliru

Rasulullah ﷺ telah memperingatkan:

“Sesungguhnya Al-Qur’an tidak saling bertentangan, tetapi saling membenarkan. Apa yang kalian pahami, amalkanlah. Dan yang belum kalian pahami, kembalikan kepada ahlinya.” (HR. Ahmad)

Baca Juga: Bersabar di Atas Sunnah

3. Berpegang Teguh pada Al-Qur’an dan Sunnah

Al-Qur’an dan Sunnah adalah petunjuk dan cahaya dalam kehidupan.

Allah Ta’ala berfirman:

“Dengan Al-Qur’an itu Allah memberi petunjuk kepada jalan keselamatan…”
(QS. Al-Ma’idah: 16)

“Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu…”
(QS. Al-Ma’idah: 3)

Rasulullah ﷺ juga bersabda:

“Aku tinggalkan kepada kalian Kitabullah, di dalamnya terdapat petunjuk dan cahaya.” (HR. Muslim)

Ahlussunnah menjadikan wahyu sebagai satu-satunya sumber utama. Tidak seperti sebagian kelompok yang menjadikan mimpi, perasaan, atau ucapan tokoh sebagai dasar agama.

Metode Ahlussunnah dalam Menetapkan Permasalahan Akidah

4. Menetapkan dan Menafikan Sesuai Wahyu

Dalam masalah akidah, Ahlussunnah memiliki kaidah:

  • Menetapkan apa yang Allah dan Rasul-Nya tetapkan
  • Menafikan apa yang Allah dan Rasul-Nya nafikan
  • Diam terhadap apa yang tidak dijelaskan

Allah Ta’ala berfirman:

“Janganlah kamu mengikuti sesuatu yang kamu tidak memiliki ilmu tentangnya.”
(QS. Al-Isra: 36)

5. Tidak Mempertentangkan Akal dengan Wahyu

Ahlussunnah meyakini bahwa tidak mungkin terjadi pertentangan antara dalil yang shahih dengan akal yang sehat.

Jika tampak bertentangan, maka:

  • Bisa jadi dalilnya tidak shahih
  • Atau pemahaman akalnya yang keliru

Akal memiliki keterbatasan, terutama dalam perkara ghaib yang tidak dapat dijangkau oleh indra manusia.

6. Memahami Agama Sesuai Pemahaman Para Sahabat

Ahlussunnah memahami Al-Qur’an dan Sunnah sesuai dengan pemahaman para sahabat رضي الله عنهم, karena merekalah generasi terbaik yang langsung belajar dari Rasulullah ﷺ.

Allah Ta’ala berfirman:

“Jika mereka beriman seperti keimanan kalian, maka mereka telah mendapat petunjuk.” (QS. Al-Baqarah: 137)

Rasulullah ﷺ juga bersabda:

“Berpeganglah pada sunnahku dan sunnah khulafaur rasyidin. Gigitlah dengan kuat.” (HR. Abu Dawud)

Berbeda dengan kelompok menyimpang yang meremehkan bahkan mencela para sahabat, sehingga mereka tidak menjadikan pemahaman sahabat sebagai rujukan.

Penutup

Inilah jalan keselamatan:
beriman tanpa ragu, tunduk kepada wahyu, dan memahami agama sebagaimana para sahabat memahaminya.

Jangan biarkan logika yang liar atau hawa nafsu menjauhkan kita dari kebenaran. Mari kita hidupkan kembali manhaj Ahlussunnah dalam ilmu, amal, dan kehidupan sehari-hari.

Mulai dari diri sendiri, keluarga, hingga masyarakat agar kita tetap teguh di atas Islam yang murni.

Dinukil, diringkas, dan dialihbahasakan dari:
Kitab Akidah Jilid 1 – Zad Academy
Oleh: Catur Baro Hapsako, S.Pd., M.Sos.

ARTIKEL TERKAIT

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

spot_img