spot_img
BerandaKhutbah Jumat7 Tips Agar Tetap Istiqamah Menghadapi Fitnah Zaman Modern

7 Tips Agar Tetap Istiqamah Menghadapi Fitnah Zaman Modern

Kita sekarang hidup di zaman yang penuh dengan fitnah, godaan, dan ujian. Fitnah syubhat membuat seorang mukmin ragu terhadap agamanya, bahkan bisa sampai keluar dari Islam. Sementara fitnah syahwat menjerumuskan ke dalam perbuatan keji yang diharamkan Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā.

Ujian Allah berupa bala, cobaan, fitnah syubhat, dan syahwat merupakan sunnatullāh, hukum alam yang Allah tetapkan di bumi ini. Allah Ta‘ālā berfirman:

الَّذِيْ خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيٰوةَ لِيَبْلُوَكُمْ اَيُّكُمْ اَحْسَنُ عَمَلًاۗ وَهُوَ الْعَزِيْزُ الْغَفُوْرُۙ

“Dia-lah yang menciptakan mati dan hidup, untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya.” (QS. Al-Mulk: 2)

Allah menguji baik individu maupun suatu kaum untuk memisahkan antara yang baik dan yang buruk. Sebagaimana firman-Nya:

لِيَمِيْزَ اللّٰهُ الْخَبِيْثَ مِنَ الطَّيِّبِ

“Agar Allah memisahkan yang buruk dari yang baik.” (QS. Al-Anfāl: 37)

Allah juga berfirman:

وَلِيُمَحِّصَ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَيَمْحَقَ الْكٰفِرِيْنَ

“Dan agar Allah membersihkan orang-orang yang beriman (dari dosa mereka) serta membinasakan orang-orang kafir.” (QS. Āli ‘Imrān: 141)

Menghadapi Fitnah Zaman Modern: Tips Agar Tetap Istiqamah

Dengan ujian, Allah hendak membersihkan dosa-dosa kaum mukminin. Karena itu, seorang hamba yang beriman harus mampu membentengi diri dari fitnah, terutama di zaman media sosial, di mana fitnah ada di genggaman, di rumah, bahkan di kamar-kamar kita. Maka para ulama telah menyebutkan di antara upaya-upaya agar seorang dapat terhindar dari berbagai macam fitnah adalah:

1. Bersandar Hanya kepada Allah (Al-Iltijā’ Ilallāh)

Upaya pertama menghadapi fitnah adalah bersandar dan bertawakal hanya kepada Allah. Dialah Pelindung bagi orang-orang bertakwa.

Kisah Nabi Yusuf ‘Alaihissalām menjadi teladan. Ketika digoda istri penguasa Mesir, beliau berkata:

قَالَ مَعَاذَ اللّٰهِ اِنَّهٗ رَبِّيْٓ اَحْسَنَ مَثْوَايَۗ اِنَّهٗ لَا يُفْلِحُ الظّٰلِمُوْنَ

Yusuf berkata, “Aku berlindung kepada Allah. Sesungguhnya dia (suamimu) adalah tuanku. Dia telah memperlakukanku dengan baik. Sesungguhnya orang-orang zalim tidak akan beruntung.” (QS. Yusuf: 23)

Beliau ingat kepada tuan beliau, suami dari wanita tersebut yang telah mengangkat beliau sebagai anak, menempatkan beliau di rumahnya, menghormati beliau. Maka seakan-akan beliau mengatakan, “Aku tidak mungkin khianat kepada suamimu lantaran permintaanmu.” Maka dari itu, pertama kali seorang tatkala dia diuji oleh Allah Subhanahu wa taala hendaknya aliltijau ilallah, bersandar kepada Allah, berpegang teguh kepada Allah subhanahu wa taala. Dialah zat yang menyelamatkan seorang hamba dari godaan, dari fitnah, dari syubhat, dan dari syahwat.

2. Memperbanyak Doa

Upaya kedua adalah berdoa memohon perlindungan dari fitnah. Nabi ﷺ mengajarkan doa:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْفِتَنِ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ

“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari segala fitnah, yang tampak maupun yang tersembunyi.” (HR. Muslim)

Memperbanyak doa, memohon pada Allah azza wa jalla adalah suatu perbuatan yang mulia, suatu perbuatan yang sangat dicintai oleh Allah Subhanahu wa taala. Semakin banyak seorang hamba memohon pada Allah azza wa jalla, maka Allah pun semakin cinta kepada seorang hamba. Apalagi di zaman yang penuh dengan fitnah maka hendaknya kita selalu memohon perlindungan pada Allah Taala dari berbagai macam fitnah yang kita hadapi di dunia ini dengan memohon kepada Allah Taala agar Allah menjauhkan, melindungi kita dari fitnah-fitnah tersebut.

Allah juga menurunkan dua surat perlindungan terbaik, yaitu:

  • QS. Al-Falaq

قُلْ اَعُوْذُ بِرَبِّ الْفَلَقِۙ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَۙ وَمِنْ شَرِّ غَاسِقٍ اِذَا وَقَبَۙ وَمِنْ شَرِّ النَّفّٰثٰتِ فِى الْعُقَدِۙ وَمِنْ شَرِّ حَاسِدٍ اِذَا حَسَدَ ࣖ

1.  Katakanlah (Nabi Muhammad), “Aku berlindung kepada Tuhan yang (menjaga) fajar (subuh)

2.  dari kejahatan (makhluk yang) Dia ciptakan,

3.  dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita,

4.  dari kejahatan perempuan-perempuan (penyihir) yang meniup pada buhul-buhul (talinya),

5.  dan dari kejahatan orang yang dengki apabila dia dengki.”

  • QS. An-Nās

قُلْ اَعُوْذُ بِرَبِّ النَّاسِۙ مَلِكِ النَّاسِۙ اِلٰهِ النَّاسِۙ مِنْ شَرِّ الْوَسْوَاسِ ەۙ الْخَنَّاسِۖ الَّذِيْ يُوَسْوِسُ فِيْ صُدُوْرِ النَّاسِۙ مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ ࣖ

1.  Katakanlah (Nabi Muhammad), “Aku berlindung kepada Tuhan manusia,

2.  raja manusia,

3.  sembahan manusia

4.  dari kejahatan (setan) pembisik yang bersembunyi

5.  yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia,

6.  dari (golongan) jin dan manusia.”

Keduanya adalah benteng dari segala fitnah yang tampak maupun yang tersembunyi.

3. Memperbanyak Ibadah di Zaman Fitnah

Upaya ketiga agar seorang hamba terlindung dari berbagai macam fitnah adalah memperbanyak beribadah kepada Allah. Rasulullah ﷺ bersabda:

الْعِبَادَةُ فِي الْهَرْجِ كَهِجْرَةٍ إِلَيَّ

“Ibadah di masa harj (fitnah) sama seperti berhijrah kepadaku.” (HR. Muslim)

Berhijrah kepada Nabi g merupakan suatu kemuliaan yang besar. Dia mengisi waktunya disaat penuh fitnah dengan mendekatkan diri pada Allah dengan memperbanyak ibadah, baik itu salat, puasa, zikir, doa dan yang lainnya dari amal-amal ibadah yang dianjurkan dan disyariatkan oleh Allah dan rasul-Nya.

Ini menunjukkan keutamaan orang yang beribadah di zaman fitnah, memperbanyaknya dan meningkatkan amal-amal ibadah. Jika ada orang mengisi waktunya dengan amal saleh dengan amal ibadah di zaman fitnah, maka dia akan terhindar dan terjauhi dari fitnah-fitnah itu. Justru yang berbahaya adalah orang-orang yang menjerumuskan dirinya dalam fitnah. Setiap ada suara fitnah dia mendengarnya, mengikutinya, menyelidikinya sehingga disadari atau tidak dia telah terjerumus dalam fitnah tersebut.

4. Husnudzan kepada Allah

Seorang hamba harus selalu berprasangka baik kepada Allah. Allah melindungi hambanya, memelihara hambanya, menjaganya selama hamba tersebut berprasangka baik dan berpegang teguh kepada Allah. Kalaupun ada yang menimpa dirinya dari ujian-ujian itu, hendaknya dijadikan sebagai pelajaran baginya, untuk mendekatkan diri kepada Allah, untuk introspeksi diri dari apa yang telah dia lalaikan atau dia gampangkan dari ibadah-ibadah kepada Allah.

Allah melarang kita berburuk sangka kepada sesama manusia:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اجْتَنِبُوْا كَثِيْرًا مِّنَ الظَّنِّۖ اِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ اِثْمٌ

“Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan prasangka. Sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa.” (QS. Al-Ḥujurāt: 12)

Jika kepada manusia saja dilarang berprasangka buruk, apalagi kepada Allah. Maka seorang mukmin wajib yakin bahwa apa pun ketetapan-Nya adalah yang terbaik.

Cara Menghadapi Fitnah Zaman Modern: Tips Agar Tetap Istiqamah

5. Optimis

Di antara upaya agar seorang hamba terhindar dari fitnah adalah dengan dia senantiasa optimis dalam kehidupannya. Dia senantiasa optimis karena dengan seorang optimis kepada Allah dan optimis dengan apa yang dia lakukan, maka dia akan ditolong oleh Allah. Allah mengabadikan sikap kaum mukmin ketika menghadapi pasukan sekutu:

وَلَمَّا رَاَ الْمُؤْمِنُوْنَ الْاَحْزَابَۙ قَالُوْا هٰذَا مَا وَعَدَنَا اللّٰهُ وَرَسُوْلُهٗ وَصَدَقَ اللّٰهُ وَرَسُوْلُهٗ ۖوَمَا زَادَهُمْ اِلَّآ اِيْمَانًا وَّتَسْلِيْمًاۗ

“Dan tatkala orang-orang mukmin melihat golongan-golongan (yang bersekutu itu), mereka berkata: ‘Inilah yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya kepada kita. Dan benarlah Allah dan Rasul-Nya.’ Dan yang demikian itu tidaklah menambah kepada mereka kecuali iman dan ketundukan.” (QS. Al-Aḥzāb: 22)

6. Memperbanyak Dzikir

Dzikir menjadi benteng utama dari fitnah. Allah berfirman:

فَاذْكُرُوْنِيْٓ اَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْا لِيْ وَلَا تَكْفُرُوْنِ ࣖ

“Ingatlah kepada-Ku, niscaya Aku ingat kepadamu. Bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu ingkar kepada-Ku.” (QS. Al-Baqarah: 152)

Maka orang yang selalu berzikir, Allah tidak akan biarkan dia bergelimang dalam fitnah karena dia senantiasa mengingat Allah. Oleh karena itu, memperbanyak berzikir pada Allah akan menjadi benteng bagi seorang hamba di dalam menghadapi berbagai macam fitnah, godaan, dan ujian-ujian yang ada di dunia ini.

7. Membekali Diri dengan Ilmu Syar‘i

Hal penting lainnya dalam menghadapi kehidupan yang penuh dengan fitnah adalah hendaknya kita membekali diri kita dengan ilmu syari, ilmu-ilmu agama yang melembutkan hati, yang mendorong seorang untuk memperbanyak amal-amal kebaikan, bertaubat pada Allah. Ilmu ibarat cahaya yang menerangi seorang mukmin di saat dunia dalam keadaan gelap dan gulita. Oleh karena itu, ilmu adalah bagian dari penyebab seorang diselamatkan dari fitnah-fitnah yang dihadapinya dalam kehidupan ini. Nabi ﷺ bersabda:

بادِروا بالأعْمالِ الصَّالِحةِ ، فستكونُ فِتَنٌ كقطَعِ اللَّيلِ الْمُظْلمِ يُصبحُ الرجُلُ مُؤمناً ويُمْسِي كافراً ، ويُمسِي مُؤْمناً ويُصبحُ كافراً ، يبيع دينه بعَرَضٍ من الدُّنْيا

“Bersegeralah beramal shaleh sebelum datang fitnah (musibah dan cobaan) seperti potongan malam yang gelap. Yaitu seseorang pada waktu pagi dalam keadaan beriman dan di sore hari dalam keadaan kafir. Ada pula yang sore hari dalam keadaan beriman dan di pagi hari dalam keadaan kafir. Ia menjual agamanya karena sedikit dari keuntungan dunia” (HR. Muslim)

beliau memerintahkan untuk kita segera dalam beramal, segera dalam berbuat, manfaatkan waktu untuk beramal kebaikan. Karena akan muncul fitnah yang bertubi-tubi, ibarat potongan-potongan kegelapan malam hari.

Maka amal tanpa ilmu adalah sia-sia. Oleh karena itu, ketika beliau memerintahkan untuk bersegera dalam beramal, artinya adalah bersegera dalam mengerjakan amal-amal yang sesuai dengan ilmu dan ajaran dan tuntunan Rasulullah g.

Maka menuntut ilmu, menghadiri majelis-majelis ilmu, mengikuti jalannya para salafus saleh, yaitu sahabat, tabiin, dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, adalah jalan untuk menghindarkan diri kita dari berbagai macam fitnah dan ujian dalam kehidupan di dunia ini.

Di tengah derasnya fitnah zaman modern, seorang Muslim harus senantiasa kembali kepada Al-Qur’an dan Sunnah sebagai pedoman utama. Dengan bersandar kepada Allah, memperbanyak doa, memperbanyak ibadah, husnudzon kepada Allah, optimis, memperbanyak dzikir, serta membekali diri dengan ilmu syar'i, seorang hamba dapat tetap istiqamah meski godaan datang dari berbagai arah. Dunia hanyalah tempat ujian sementara, sedangkan kebahagiaan abadi ada di akhirat. Karena itu, marilah kita menjaga diri, keluarga, dan generasi kita dengan nilai-nilai Islam, agar tetap kokoh menghadapi berbagai fitnah hingga Allah memanggil kita dalam keadaan husnul khatimah.

Baca juga: Kiat Menggapai Istiqomah

ARTIKEL TERKAIT

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

spot_img