spot_img
BerandaKhutbah JumatBertaubat Sebelum Masuk Ramadan

Bertaubat Sebelum Masuk Ramadan

Tidak terasa kita telah berada di penghujung bulan sya’ban dan sebentar lagi kita akan menyambut tamu yang agung yaitu datangnya bulan Ramadan. Diantara hal yang perlu kita persiapkan agar bulan Ramadan kita bisa bersemangat dalam beribadah dan bermunajat kepada Allah subhanahu wa ta’ala, maka salah satu hal yang harus kita persiapkan adalah hendaknya kita bertaubat dari dosa-dosa dan kemaksiatan.

Kenapa kita harus bertaubat dari dosa-dosa dan maksiat yang selama ini kita kerjakan?

Maka jawabannya adalah karena dosa dan kemaksiatan yang kita kerjakan itu berpengaruh terhadap semangat kita dalam beribadah. Dosa-dosa yang kita perbuat itu membekas di dalam jiwa kita, fisik kita, dan juga berpengaruh pada semangat kita dalam beribadah.

Imam Ibnu Rajab Al-Hanbali rahimahullah mengatakan di dalam kitab beliau Lathoiful Ma'arif, pernah ditanyakan kepada Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu,

يا ابن مسعود ما نستطيع قيام الليل

“Wahai Ibnu Mas’ud, kenapa kita tidak bisa bangun di malah hari (Sholat malam)?”

Maka beliau menjawab,

أقعدتكم ذنوبكم

“Dosa-dosa kalian lah yang membebani kalian!”

Ditanyakan kepada Al-Imam Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah,

يا إمام  قد عجزنا قيام الليل

“Wahai Imam Kenapa kita tidak sanggup untuk bangun di malam hari?”

Maka dijawab,

كابلتكم خطاياكم

“Dosa-dosa kalian lah yang membelenggu kalian”

Di antara para Salaf dahulu ada yang mengatakan,

حُرِمْتُ قِيَامَ اللَّيْلِ سِتَّةَ أَشْهُرٍ بِذَنْبٍ أَذْنَبْتُهُ

“Aku terhalang dari salat malam selama enam bulan disebabkan satu dosa yang aku lakukan.”

Maka dosa-dosa yang dilakukan oleh seorang hamba bisa mempengaruhi semangat seseorang dalam menjalankan ibadah, bisa membuat dia malas bangun di malam hari, berat untuk bisa bangun di malam hari. Padahal Ramadan sudah di depan mata kita. Sedangkan di Ramadan, malam-malamnya lah terdapat inti dari ibadah-ibadah yang mana nanti di 10 malam terakhir di bulan Ramadan terdapat Lailatul Qadar, malam yang mulia.

Maka bagaimana nasib seseorang ketika dia justru bermaksiat kepada Allah? Sehingga hal itu menjadikan dia merasa berat untuk beribadah.

Dia ingin bisa membaca Al-Qur’an, mengkhatamkannya berkali-kali, tapi matanya terasa berat karena dosa-dosa yang menumpuk.

Dia ingin bisa salat tarawih…

Dia ingin bisa qiyamul lail…

Dia ingin bisa mendapatkan lailatul qadar…

Tapi karena dosa-dosanya, tubuhnya pun menjadi berat untuk menjalankan itu semua. Maka Allah memerintahkan kepada kita,

يٰۤاَيُّهَا الَّذِيۡنَ اٰمَنُوۡا تُوۡبُوۡۤا اِلَى اللّٰهِ تَوۡبَةً نَّصُوۡحًا

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya” (Qs. At-Tahrim: 8)

Taubat nasuha adalah taubat yang sungguh-sungguh, tulus, dan ikhlas. Kenapa kita harus bertaubat? Karena puasa kita di bulan Ramadan itu tidak serta-merta bisa menghapuskan dan menggugurkan dosa-dosa kita. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda,

الصَّلَوَاتُ الخَمْسُ ، وَالجُمُعَةُ إِلَى الجُمُعَةِ ، وَرَمَضَانُ إِلَى رَمَضَانَ ، مُكَفِّراتٌ مَا بَيْنَهُنَّ إِذَا اجْتُنِبَتِ الكَبَائِرُ

“Shalat lima waktu, Jumat ke Jumat, dan Ramadan ke Ramadan adalah penghapus dosa-dosa yang di antara semua itu, jika dosa-dosa besar dijauhi.” (HR. Muslim)

Maka diantara penjelasan para ulama, dosa-dosa besar tidak bisa hilang begitu saja dengan kita salat subuh, salat dzuhur, salat ashar, salat magrib, dan salat isya. Begitu pula dengan salat Jumat. Maka tidak serta-merta bisa menghapuskan dan menggugurkan dosa-dosa kita semua. Ramadan ke Ramadan selanjutnya pun juga sama. Semua itu tidak bisa menggugurkan dosa, kecuali dengan syarat menjauhi dosa-dosa besar. Maka dosa-dosa kecil bisa digugurkan dan dihapuskan.

Adapun dosa-dosa besar tidak bisa terhapuskan hanya dengan salat dan berpuasa di bulan Ramadan. Maka dosa besar tersebut memiliki penghapus khusus, yaitu dengan cara bertaubat kepada Allah Subhanahu wa ta'ala.

Bertaubat Sebelum Masuk Ramadan

Imam An-Nawawi rahimahullah menyabutkan, ada tiga syarat agar taubat seseorang itu diterima oleh Allah subhanahu wa ta'ala. 3 syarat tersebut adalah:

1. Meninggalkan Maksiat

Syarat yang pertama adalah meninggalkan maksiat tersebut dengan segera. Apabila seseorang tersebut masih bergelut dengan maksiat yang dilakukannya, maka orang itu harus segera berhenti dan meninggalkan maksiat tersebut. Tidak bisa seseorang bertaubat sedangkan maksiatnya terus berjalan, harus dia berhenti dari perbuatan maksiat tersebut.

2. Menyesali Perbuatannya

Kemudian syarat yang kedua, agar taubat seseorang diterima oleh Allah subhanahu wa ta'ala hendaknya seseorang yang telah melakukan kemaksiatan tersebut menyesali perbuatan maksiat yang telah ia lakukan. Dia minta ampun kepada Allah Subhanahu wa ta'ala, dia tangisi maksiat tersebut. Adapun apabila seseorang sudah berhenti dari kemaksiatan, akan tetapi tidak ada rasa penyesalan, maka itu bukanlah taubat.

Penyesalan adalah bagian penting dari taubat, karena ada seseorang yang sudah berhenti dari kemaksiatan, tapi tidak ada penyesalan. Ia tetap merasa bangga dengan apa yang telah diperbuatnya, maka ini adalah sesuatu yang sangat penting bagi siapa yang ingin bertaubat kepada Allah dengan taubatan nasuha.

3. Bertekad untuk Tidak Mengulangi

Kemudian yang ketiga dia harus bertekad dan berjuang agar jangan sampai terjatuh kepada maksiat tersebut selama-lamanya. Maka ini adalah tiga syarat agar Taubat seseorang diterima oleh Allah subhanahu wa ta'ala.

Hal ini adalah jika maksiat tersebut tidak ada sangkut pautnya dengan hak orang lain, yaitu antara dia dengan Allah Subhanahu wa ta'ala. Apabila maksiat tersebut ada kaitannya dengan orang lain, baik itu harta darah, nyawa, kehormatan, dan lain sebagainya, maka ada syarat keempat yang harus dia penuhi, yaitu dia harus mengembalikan, berlepas diri, meminta kehalalan, dari orang yang pernah dia dzolimi tersebut.

Maka dari itu, hendaknya kita persiapkan taubat kita agar nanti di bulan Ramadan dosa-dosa kita berguguran seperti bergugurannya daun pepohonan sampai habis. Puasa bisa menggugurkan dosa, qiyamul lail bisa menggugurkan dosa, qiyamul lail di malam lailatul qadar bisa menghapuskan dosa. Tapi ingat! Sertailah dengan taubat nasuha, agar seluruh dosa-dosa kita benar-benar dibersihkan oleh Allah subhanahu wa ta'ala, khususnya dosa-dosa besar, apalagi sampai pada kekufuran dan kesyirikan.

Hendaknya kita benar-benar menjauhinya karena Allah Subhanahu wa ta'ala tidak akan mengampuni apabila seseorang berbuat syirik dan kufur, kemudian meninggal dalam keadaan belum bertaubat darinya.

Mudah-mudahan Allah Subhanahu wa ta'ala mengampuni dosa-dosa kita memberikan kepada kita ampunannya di bulan Ramadan ini dan mudah-mudahan kita semua masuk ke dalam pintu Ar-Royyan bersama ayah, ibu, pasangan kita, dan anak keturunan kita.

Oleh: Ustadz Askar Wardana, S.T.P., Lc., M.Pd.

Baca juga: Puasa Ramadhan dan Tauhid

ARTIKEL TERKAIT

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

spot_img