BerandaFiqih dan MuamalahCara Mudah Memakmurkan Masjid

Cara Mudah Memakmurkan Masjid

Masjid adalah tempat berkumpulnya kaum muslimin, dan di dalam masjid memiliki keutamaan-keutamaan seperti akan dijaga oleh malaikat. Oleh karena itu mari kita usahakan untuk menuju masjid, rumah Allah Ta’ala, karena dengan melangkahkan kaki kesana akan mendapatkan pahala yang cukup banyak.

Marilah kita bersyukur kepada Allah Ta’ala, atas nikmat taufik dan hidayah, karena hanya Allah lah yang mampu memberikan hidayah.

Allah akan menghitung langkah kita menuju masjid bahkan tatkala melangkahkan kaki saat pulangnya. Bahkan bumi yang paling dicintai Allah adalah masjid karena masjid adalah tempat dzikrullah dan bermunajat kepada Allah Ta’ala.

Masjid adalah Tempat Dzikrullah

Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam ketika hijrah ke Madinah, maka hal yang pertama kali beliau lakukan adalah mencari tanah untuk membangun masjid. Oleh karena itu Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam pernah bersabda tentang masjid,

أحَبُّ البلاد إلى الله مَساجِدُها

“Tempat/ tanah yang paling dicintai Allah adalah masjid” [HR. Muslim]

Karena masjid adalah tempat beribadah, dan oleh karenanya di masjid tidak boleh adalah gambar-gambar yang dapat mengganggu ketenangan orang yang shalat, sebagaimana yang dijelaskan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam.

Inilah perlunya kita membuat masjid yang sederhana mungkin, maknanya adalah tidak terdapat gambar-gambar di dalamnya. Dan kemudian Rasulullah melanjutkan sabdanya di atas,

وأبغض البلاد إلى الله أسْوَاقُها

“dan tempat atau tanah yang paling Allah benci adalah pasar-pasar”

Karena pasar banyak penipuan, campur laki-laki dan perempuan, banyak orang yang membuka aurat. Bukan berarti kita tidak boleh ke pasar, akan tetapi jika kita masuk ke pasar dalam waktu yang lama, sejam, dua jam, tiga jam, sudahkah kita masuk masjid selama itu?. Padahal kita masuk masjid hanya ketika shalat 5 waktu, dan jika dikumpulkan waktunya tidak sampai 2 jam.

Imam An Nawawi mengatakan alasan masjid lebih dicintai karena masjid merupakan rumah ketaatan, tempat berdzikir dan berdoa. Dan alasan mengapa Allah membenci pasar karena pasar adalah tempatnya curang dan penipuan, serta tempat melakukan riba dan sumpah-sumpah palsu dan yang lainnya dari kesalahan-kesalahan yang ada di pasar.

Siapakah Yang Memakmurkan Masjid?

Masjid tidak mungkin dimakmurkan oleh orang kafir, pun demikian dengan orang yang munafik, orang yang menampakkan islam akan tetapi menyembunyikan permusuhan terhadap islam, Allah Ta’ala berfirman,

مَا كَانَ لِلۡمُشۡرِكِينَ أَن يَعۡمُرُواْ مَسَٰجِدَ ٱللَّهِ شَٰهِدِينَ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِم بِٱلۡكُفۡرِۚ أُوْلَٰٓئِكَ حَبِطَتۡ أَعۡمَٰلُهُمۡ وَفِي ٱلنَّارِ هُمۡ خَٰلِدُونَ 

“Tidaklah pantas bagi orang-orang musyrik itu memakmurkan masjid-masjid Allah, sedangkan mereka bersaksi bahwa diri mereka kafir. Itulah orang-orang yang sia-sia amal mereka dan di dalam nerakalah mereka kekal.” [At Taubah 9:17]

Dan Allah Ta’ala berfirman tentang orang-orang yang munafik,

وَإِذَا قَامُوٓاْ إِلَى ٱلصَّلَوٰةِ قَامُواْ كُسَالَىٰ يُرَآءُونَ ٱلنَّاسَ وَلَا يَذۡكُرُونَ ٱللَّهَ إِلَّا قَلِيلٗا 

“Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan shalat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali.” [An Nisa 4:142]

Yang memakmurkan masjid adalah orang yang beriman kepada Allah Ta’ala, yang merasa diawasi oleh Allah. Allah Ta’ala berfirman tentang ciri-ciri orang yang memakmurkan masjid-Nya,

اِنَّمَا يَعْمُرُ مَسٰجِدَ اللّٰهِ مَنْ اٰمَنَ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِ وَاَقَامَ الصَّلٰوةَ وَاٰتَى الزَّكٰوةَ وَلَمْ يَخْشَ اِلَّا اللّٰهَ ۗفَعَسٰٓى اُولٰۤىِٕكَ اَنْ يَّكُوْنُوْا مِنَ الْمُهْتَدِيْنَ

“Sesungguhnya yang (pantas) memakmurkan masjid-masjid Allah hanyalah orang yang beriman kepada Allah dan hari Akhir, mendirikan salat, menunaikan zakat, serta tidak takut (kepada siapa pun) selain Allah. Mereka itulah yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk.” [At Taubah 9:18]

Keutamaan Membangun Masjid

Membangun masjid bisa dilakukan oleh satu orang saja, jika memiliki kemampuan atau kaya. Bisa juga dengan bersama-sama, walaupun orang tersebut miskin, yang penting adalah atas dasar ikhlas karena Allah. Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda,

من بنى مسجدًا لله كمَفْحَص قطاة، أو أصغر، بنى الله له بيتا في الجنة

“Siapa yang membangun masjid karena Allah walaupun hanya selubang tempat burung bertelur atau lebih kecil, maka Allah bangunkan baginya (rumah) seperti itu pula di surga.” [HR. Ibnu Majah, no. 738. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih]

Allah selalu melihat hati kita, apakah ikhlas atau tidak. Dalam hadis dikatakan,

إن الله لا ينظر إلى صوركم وأموالكم ولكن ينظر إلى قلوبكم وأعمالكم

“Sesungguhnya Allah tidak melihat pada rupa-rupa kalian dan harta-harta kalian, akan tetapi Allah melihat pada hati-hati kalian dan amalan-amalan kalian” [HR. Muslim]

Maka meluruskan keikhlaskan merupakan hal yang sangat penting, karena dengan inilah Allah melihat amalan seseorang.

Dan sebagaimana hadis keutamaan membangun masjid di atas, termasuk di dalamnya adalah membangun gedung pendidikan dan juga rumah Qur’an. Dan dalam hadis itu juga dijelaskan bahwa dengan sekecil apapun seseorang bisa ikut membangun masjid.

Membangun masjid memiliki pahala yang banyak, karena seseorang itu membangun masjid karena Allah Ta’ala dan karena masjid itu adalah tempat orang beribadah dan sangat ramai yang mengunjungi karena tempat shalat wajib dan juga sunnah. Di samping itu masjid juga menjadi tempat menyampaikan ilmu. Oleh karenanya hendaklah masjid itu dijauhi oleh berbagai kemaksiatan-kemaksiatan.

Baca Juga : Dasar Ilmu Agama adalah Wahyu

Keutamaan Memakmurkan Masjid

Seseorang yang masuk ke dalam masjid dengan keikhlaskan akan mendapatkan ketenagan dan mendapat doa kebaikan dari para malaikat. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda,

مَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِي بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللَّهِ تَعَالَى، يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيْنَهُمْ، إِلاَّ نَزَلَتْ عَلَيْهِمْ السَّكِينَةُ، وَغَشِيَتْهُمْ الرَّحْمَةُ، وَحَفَّتْهُمْ الْمَلاَئِكَةُ، وَذَكَرَهُمْ اللَّهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ

“Tidaklah sekelompok orang berkumpul di sebuah rumah dari rumah-rumah Allah (masjid), mereka membaca al-Qur’an serta mengkajinya, kecuali akan turun kepada mereka kedamaian/ ketenangan, rahmat Allah pun akan menyelimuti mereka, malaikat-malaikat akan mengelilingi mereka, dan Allah akan menyebutkan nama mereka di hadapan mahluk-mahluk yang ada di sisi-Nya.” [HR. Muslim]

Ketenangan kaum muslimin tidak diperoleh dengan harta tetapi dengan iman dan beramal shalih serta dengan berdzikir kepada Allah. Allah Ta’ala berfirman,

ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَتَطۡمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكۡرِ ٱللَّهِۗ أَلَا بِذِكۡرِ ٱللَّهِ تَطۡمَئِنُّ ٱلۡقُلُوبُ  ٢٨

“(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, bahwa hanya dengan mengingat Allah hati akan selalu tenteram.” [Ar Rad 13:28]

Akan tetapi kenyataan yang ada adalah kebanyakan orang masuk masjid dalam keadaan malas, terlebih tatkala hari Jum’at, maka banyak yang seakan bermalas-malasan, bahkan banyak yang berbicara tatkala khutbah jum’at yang mana hal ini tidak boleh.

Semakin jauh rumah seseorang dari masjid maka akan semakin jauh jarak tempunya, dan inilah yang membuat pahalanya semakin banyak dikarenakan usaha menuju masjidnya yang memakan banyak langkah kakinya. Diriwayatkan oleh sahabat Ibnu ‘Abbas,

كانَتِ الْأَنْصَارُ بَعِيدَةً مَنَازِلُهُمْ مِنَ الْمَسْجِدِ ، فَأَرَادُوا أَنْ يَتَحَوَّلُوا إِلَى الْمَسْجِدِ ، فَنَزَلَتْ : { وَنَكْتُبُ مَا قَدَّمُوا وَآثَارَهُمْ } فَثَبَتُوا فِي مَنَازِلِهِمْ

“Dahulu kaum Anshor memiliki rumah yang jauh dari masjid, mereka ingin agar rumah mereka menjadi dekat dengan Masjid. Maka turunlah ayat, { وَنَكْتُبُ مَا قَدَّمُوا وَآثَارَهُمْ }, maka mereka semua menetap di rumah mereka tanpa berpindah” [HR. Ibnu Majah]

Maknanya Allah akan mencatat amalan kita karena langkah kaki kita menuju ke masjid, oleh karenanya para ulama dahulu suka jika rumah mereka berada jauh dari masjid karena pahala yang didapatkan dari melangkahkan kaki menuju ke masjid.

Cara Memakmurkan Masjid

Di samping itu semua, kita juga harus berusaha menjaga masjid agar tetap bersih. Di zaman Rasulullah pernah ada wanita yang suka membersihkan masjid. Kemudian wanita itu suatu saat telah tiada, maka Rasulullah pun mencari beliau karena kebaikan beliau.

Dan di antara keutamaan memakmurkan masjid adalah apa yang disabdakan beliau Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam,

منْ غَدَا إِلَى الْمَسْجِدِ وَرَاحَ أَعَدَّ اللَّهُ لَهُ فِى الْجَنَّةِ نُزُلاً كُلَّمَا غَدَا وَرَاحَ

“Barang siapa yang pergi ke Masjid atau pulang (darinya), maka Allah akan menyiapkan baginya satu tempat di syurga sebagaimana ia pergi atau pulang.“  [HR. al-Bukhari, 662 dan Muslim, 669 ]

Syaikh Utsaimin mengatakan bahwa makna tekstual dari hadis ini adalah umum, untuk menuntut ilmu, beribadah, atau mungkin untuk rapat tentang kebaikan untuk lembaga pendidikan. Maka bagaimana dengan orang yang membersihkan masjid, maka tentu sangat besar pahalanya.

Termasuk kesalahan adalah meletakkan handphone di depan kita saat shalat, karena hal ini akan membuat kita tidak khusyuk dalam shalat, akan membuat kita berpikir apa pesan atau sesuatu yang update di dalam handphone tersebut.

Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda,

وذلك أن أحدهم إذا توضأ فأحسن الوضوء، ثم أتى المسجد لا يَنهَزه إلا الصلاة، لا يريد إلا الصلاة، فلم يخط خطوة إلا رُفع له بها درجة، وحُط عنه بها خطيئة، حتى يدخل المسجد، فإذا دخل المسجد كان في الصلاة ما كانت الصلاة هي تحبسه، والملائكة يصلون على أحدكم ما دام في مجلسه الذي صلى فيه، يقولون: اللهم ارحمه، اللهم اغفر له، اللهم تب عليه، ما لم يُؤذِ فيه، ما لم يُحدث فيه

“Seorang laki-laki yang melakukan shalat berjamaah (di masjid) lebih baik bidh’an wa ‘isyriin (dua puluhan) derajat dibandingkan dengan shalat yang dilakukannya di pasar atau di rumah. Sebab, jika seorang melakukan ahsanal wudhu’ (wudhu dengan baik), kemudian mendatangi masjid hanya untuk shalat, maka derajatnya akan ditinggikan satu tingkatan dan keburukannya diampuni setiap kali ia melangkahkan kakinya hingga ia masuk ke masjid. Bila ia telah masuk masjid, ia diberi pahala sebagaimana orang yang melakukan shalat (sekalipun ia hanya duduk), selama ia menanti shalat (berjamaah).

Para malaikat pun mendoakan seseorang, selama ia di tempat sholatnya (ia belum meninggalkan masjid). Para malaikat itu berdoa, “Yaa Alloh ,berikan rahmat kepadanya. Yaa Alloh ampunilah dia. Yaa Alloh terimalah taubatnya.” (Doa tersebut dibaca oleh para malaikat) selama ia tidak menyakiti (orang) dan tidak berhadast” [Muttafaq Alaih, dan ini adalah lafalnya Imam Muslim]

Demikianlah keutamaan-keutamaan yang ada di masjid yang sangat banyak yang tidak didapatkan seseorang ketika berada di pasar. Wa Shallallahu ‘Ala Nabiyyinia Muhammad Wa ‘Ala Alihi wa Shohbihi Ajma’in.

Ustadz Aunurrofiq Ghufron, Lc

ARTIKEL TERKAIT

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

spot_img