BerandaAqidah dan ManhajDasar Ilmu Agama adalah Wahyu

Dasar Ilmu Agama adalah Wahyu

Wahyu Sebagai Dasar Ilmu

Wahyu adalah dasar dari ilmu agama atau istilah lainya Atsar. Hal itu karena Allah telah mengutus Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam untuk menyampaikan agama ini kepada para Sahabat, kemudian para sahabat mengajarkannya kepada para tabi’in, dan seterusnya sampai kepada kita semua.

Dalam al-Qur’an Allah banyak memberikan penjelasan, bahwa dasar agama ini adalah wahyu yang berasal dari-Nya. Barangsiapa yang tidak mendasari agamanya dengan wahyu itu, maka ia akan sesat dan menyesatkan serta akhirnya akan mendapatkan kesengsaraan dan kebinasaan di dunia dan akhirat. Na’ûdzubillâhi min dzâlik.

Allah berfirman:

وَنَادَوۡاْ يَٰمَٰلِكُ لِيَقۡضِ عَلَيۡنَا رَبُّكَۖ قَالَ إِنَّكُم مَّٰكِثُونَ  ٧٧ لَقَدۡ جِئۡنَٰكُم بِٱلۡحَقِّ وَلَٰكِنَّ أَكۡثَرَكُمۡ لِلۡحَقِّ كَٰرِهُونَ  ٧٨

“Mereka berseru: “Hai Malik biarlah Tuhanmu membunuh kami saja”. Dia menjawab: “Kamu akan tetap tinggal (di neraka ini)”. Sesungguhnya Kami benar-benar telah memhawa kebenaran kepada kamu tetapi kebanyakan di antara kamu benci pada kebenaran itu. (QS. Az-Zukhruf: 77-78)

Ibnul Qayyim menjelaskan: “Al-Haq dalam ayat ini adalah apa yang dibawa oleh para rasul dengan kesepakatan para ahli tafsir”.1

Di antara ayat yang menunjukkan dasar tersebut, bahwa tatkala orang-orang yang tidak mentaati Rasul-Nya disiksa di neraka, mereka akan menyesal dengan penyesalan yang luar biasa. Adapun sebab penyesalan itu, karena mereka tidak mengikuti wahyu dan ajaran yang dibawa oleh para utusan Allah subhanahu wata’ala.Allah menjelaskan hal itu dalam firman-Nya:

يَوۡمَ تُقَلَّبُ وُجُوهُهُمۡ فِي ٱلنَّارِ يَقُولُونَ يَٰلَيۡتَنَآ أَطَعۡنَا ٱللَّهَ وَأَطَعۡنَا ٱلرَّسُولَا۠  ٦٦ وَقَالُواْ رَبَّنَآ إِنَّآ أَطَعۡنَا سَادَتَنَا وَكُبَرَآءَنَا فَأَضَلُّونَا ٱلسَّبِيلَا۠  ٦٧ رَبَّنَآ ءَاتِهِمۡ ضِعۡفَيۡنِ مِنَ ٱلۡعَذَابِ وَٱلۡعَنۡهُمۡ لَعۡنٗا كَبِيرٗا  ٦٨

“Pada hari ketika muka mereka dibolak-balikan dalam neraka, mereka berkata: “Alangkah baiknya, andaikata kami taat kepada Allah dan taat (pula) kepada Rasul”.Dan mereka berkata: “Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah mentaati pemimpin-pemimpin dan pembesar-pembesar kami, lalu mereka menyesatkan kami dari jalan (yang benar). Ya Tuhan kami, timpakanlah kepada mereka azab dua kali lipat dan kutuklah mereka dengan kutukan yang besar”. (Qs. Al-Ahzab: 66-68).

Wahyu Adalah Dasar Ilmu Agama

Baca Juga : Semangat Menuntut Ilmu

Rasulullah Tidak Memutuskan Suatu Hukum Kecuali Berdasarkan Wahyu

Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam sebagai utusan Allah yang menerima wahyu dari-Nya pun tidak menjelaskan dan memutuskan suatu permasalahan kepada umat melainkan setelah benar-benar diberi wahyu oleh Allah melalui malaikat Jibril.

وَمَا يَنطِقُ عَنِ ٱلۡهَوَىٰٓ  ٣ إِنۡ هُوَ إِلَّا وَحۡيٞ يُوحَىٰ  ٤

“dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Quran) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).” (Qs. An-Najm : 3-4)

Misalnya dalam hal ini adalah tentang keshalihan Tubba’. Beliau pernah tawaqquf (tidak berpendapat) tentang keadaannya sebagai orang shalih atau bukan sebagaimana sebutkan dalam hadits berikut:

مَا أَدْرِي تُبَّعٌ، أَلَعِيْنَا أَمْ لاَ

“Aku tidak tahu apakah Tubba’ itu terlaknat atau tidak.”2

Berkaitan dengan dasar ini, telah banyak dinukilkan dari para ulama. Di antaranya adalah dari al-Atsram rahimahullah. Beliau telah menukilkan dari Imam Ahmad, bahwa ia bertanya kepada beliau tentang suatu permasalahan, al-Atsram berkata: “Aku bertanya: Bagaimana masalah ini menurutmu?” Beliau menjawab: “Apa yang aku miliki?”, dan aku telah mendengar beliau mengatakan: “Sesungguhnya ilmu itu hanyalah sesuatu yang berasal dari atas (wahyu Allah)”. 3

Baca Juga : Jalan Kebenaran Hanya Satu

Perkataan Ulama Hakikat Ilmu

Sufyan ats-Tsauri digelari oleh Syu’bah rahimahullah yang sebagai Amirul Mu’minîn fil Hadits4 pernah mengatakan: “Sesungguhnya ilmu itu semuanya berdasarkan atsar-atsar”.5

Imam al-Auza’i rahimahullah juga telah menyatakan: “Ilmu itu adalah apa yang datang dari sahabat-sahabat Muhammad shalallahu’alaihi wasallam, segala sesuatu yang tidak demikian, maka bukanlah ilmu”.6

Dari Salamah bin Syu’aib rahimahullah dia berkata: aku telah mendengar Imam Ahmad berkata: “Pendapat Syafi’i, pendapat Malik, pendapat Abu Hanifah semuanya menurutku hanyalah pendapat (bukanlah hujjah), semuanya bagiku sama, sedangkan hujjah itu hanyalah terdapat dalam atsar-atsar“.7

Seorang penyair berkata:

ُدينُ النَّبِيِّ مُحَمَّدٍ آثَارُ # نعْمَ الْمَطِيَّةُ لِلْفَتَى الأَخْبِار

لا تُخْدَعَنَّ عَنِ الْحَدِيث وَأَهْله # فالرَّأْي لَيْلٌ وَ الْحَدِيثُ نَهَارُ

Agama Nabi Muhammad adalah berupa atsar-atsar # Sebaik-baik kendaraan bagi seseorang adalah hadits-hadits

Janganlah engkau tertipu sehingga meninggalkan hadits dan para ahlinya # Karena pendapat itu adalah ibarat malam sedangkan hadits itu laksana siang.

الْعِلْمُ قَالَ اللَّهُ قَالَ رَسُوْلُهُ # قالَ الصَّحَابَةُ لَيْسَ خُلْفٌ فِيهِ

الْعِلْمُ نَصْبَكَ لِلْخَلافَ سَفَاهَةً # بَيْنَ النُّصُوصِ وَبَيْنَ رَأَي سَفَيْهِ

كلاً وَلَا نَصْبَ الْخَلاف جَهَالَةً # بيْنَ الرَّسُولِ وَبَيْنَ رَأي فقيه

Ilmu itu adalah berupa Firman Allah, sabda Rasul-Nya # dan perkataan para sahabat, tidak ada yang dapat menggantikannya.

Ilmu itu bukanlah mempertentangkan antara nash-nash wahyu dan pendapat orang yang bodoh

Sekali-kali tidak, ilmu bukan pula mempertentangkan antara rasul dan pendapat seorang ahli Fiqih.8

Dilansirkan dari Majalah Adzakirah Al-Islamiyah Vol. 8 No. 2 edisi 44 – 1429 H, Sub bab Dasar Ilmu Agama Adalah Wahyu hal 7-9 oleh Abu Ashim Muhtar Arifin bin Marzuqi, Lc., Penerbit Sekolah Tinggi Agama Islam Surabaya.

Baca Juga Artikel lain :

  1. Miftah Dar Sa’adah, karya Ibnul Qayyim jilid II, hal 426. ↩︎
  2. HR. Abu Dawud. No. 4674 dan al-Baihaqi, juz 8, him 329. Dan dishahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam Silsilah al-Ahadits ash-Shahinah, No 2217. ↩︎
  3. Al-Adab asy-Syariyyah wa al-Minah al-Mariyyah, Ibnu Mufih al-Maqdisi, juz. 2, hìm 62. ↩︎
  4. Thabaqaatul Huffadh, hlm 95. ↩︎
  5. Al-Madkhal liå as-Sunan al-Kubrá, karya al-Baihaqi, No. 235, hlm 200. ↩︎
  6. Fadhl ‘Imi as-Salaf ala al-Khalaf, karya Ibnu Rajab al-Hambali, hlm 148. ↩︎
  7. I’lam al-Muwaqqiin, Ibnul Qayyim, juz 1, him 65. ↩︎
  8. Lihat kedua syair tersebut dalam kitab I’lam al-Muwaqqiin, juz 1. hlm 65. ↩︎
ARTIKEL TERKAIT

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

spot_img